Sunday, August 12, 2012

  |   1 comment   |  

Alterego Favorit

#Cameo
Cameo memang susah ditebak

Sekarang masuk ke Alterego favorit saya. (ssstt... jangan beritahu Alterego yang lain).

Namanya Cameo King Hutabarat. Biasa dipanggil Cameo atau Kemi. umurnya masih 16 tahun, yang paling muda di antara yang lain. Tapi justru Cameo lah yang paling tua. Physically, dia memang masih imut-imut selayaknya anak baru gede normal. Bulu ketiaknya saja baru beberapa helai dan masih halus-halus. Tapi ada yang sedikit tidak beres dengan otaknya; cara berpikirnya.

Cara berpikirnya lebih dulu dewasa daripada umur dan tubuhnya. Maksud saya, jika ada yang berani membelah kepalanya, maka tahulah kita kalau otak bocah ini sudah usang, keriput, kisut, kering dan mungkin sedikit ditumbuhi rambut-rambut putih saking seringnya dipakai berpikir. Anehnya, yang selalu dihasilkan dari proses-proses pemikirannya adalah hal-hal yang gila.

Sebut saja: mati muda di usia 36 tahun, tidak percaya pada intitusi pernikahan, dan beberapa hal lainnya yang ekstrim bila terlontar dari mulut bocah 16 tahun.

Terkadang saya merasa begitu tolol saat berdiskusi dengan Kemi. "Kenapa gue ga mikir gitu pas umur gue se-elo ya, Kem." Kalimat itu adalah kalimat yang paling sering terlontar saat saya mengobrol dengannya. Itu karena Cameo begitu bijak dalam berkeputusan. Seolah-olah semua hal di dunia ini telah dipikirkannya dengan matang-matang. Ndak heran sih, toh bocah ini memang cerdas sejak kecil, sejak dia sudah mulai bisa bicara. Maka kata tanya yang (dahulu) paling sering ia lontarkan adalah "kenapa?". Ibu bilang sih dia sudah bisa bicara dengan lancar saat berusia 11 bulan. Jadi, hitung sendiri saja sudah berapa pertanyaan yang ia tanyakan dan temukan jawabannya.

Hobi utama Cameo adalah membaca. Tak terhitung jumlah buku yang telah ia lahap. Sialnya, buku-buku itu terdiri dari berbagai genre. Jadi tak heran (lagi) ia cukup tahu banyak hal. Kenapa saya bilang cukup? Karena si Aneh Cameo ini tak suka mendalami satu hal hingga begitu dalam. Ia hanya akan mengupas kulit luarnya saja untuk kemudian direnungkan dalam ubun-ubun sendiri. "Mencegah terpengaruh pemikiran-pemikiran orang lain," katanya saat saya tanyai mengapa. Tapi belakangan saya baru sadar kalau Cameo lebih tertarik dengan bacaan yang berbau sejarah. Namun jawaban 'mengapa' dari pertanyaan ini belum saya ketahui jawabannya. Mungkin nanti kalau teringat akan saya tanyakan. Soalnya sekarang Cameo sedang pergi. Dan kalau sudah pergi begini, hanya Yang Maha Kuasa lah yang tahu ia berada di mana.

Cameo memang sangat suka menghilang tiba-tiba utnuk menyendiri. Dia bilang hal itu dilakukannya demi kualitas spiritual yang tetap stabil. Oh ya, dia juga yang paling religius di antara yang lain. Dan jujur saja saya tak pernah bertemu orang sereligius bocah ini seumur hidup. Tapi... ah, semoga Cameo tak marah bila saya beritahu yang satu ini; Tapi sesungguhnya Cameo adalah seorang penganut paham Agnotisme. Paham yang dianut mereka yang beriman kalau Tuhan itu ada tapi tak percaya pada aturan-aturan agama. Salah satu pemikiran ekstrimnya yang ia dapatkan entah dari mana. Selama ini ia merahasiakan hal tersebut karena menganggap tak ada yang lebih siap tentang hal-hal ektrim yang ia pikirkan selain dirinya sendiri. "Kebanyakan orang bakal nganggap gue aneh, dan lo tau gue paling benci deskriminasi," ungkapnya di sepotong senja saat kami berbincang ditemani bubur jagung muda, makanan favoritnya.

Dan memang benar, Cameo benci deskriminasi. Ia tak suka teman-teman sebayanya (baca: remaja pria normal) saat sedang berkumpul dan membicarakan wanita bak barang pameran di rumah lelang. Cameo tak suka saat mereka bicara seolah-olah merendahkan kaum Hawa karena punya tubuh yang superindah. Padahal, saat saya tanya beberapa teman wanita, kata-kata yang dianggap Cameo merendahkan (misalnya: "si Ranum bagus juga barangnya" atau yang lebih sederhana "Si Ranum senyum terus ke elo tuh, apalagi? embat gih!") adalah kata-kata biasa yang tidak diambil hati oleh kaum wanita itu sendiri. Tapi ya mau bagaimana lagi. Kalau katanya dia benci, maka Cameo akan benci. Titik.

Dia juga benci makhluk-makhluk fanatik. Misalnya mereka yang terlalu setia pada agamanya sehingga sudi merendahkan agama lain. Atau mereka yang terlalu bangga akan etnisnya sehingga mendeskreditkan etnis lain.

Cameo sendiri terlahir dari berbagai etnis dan berbagai agama. Ayahnya Melayu dengan setengah darah Arab, sedang ibunya Karo dengan separuh darah Tiong Hoa. Keluarga Ibunya Protestan taat, sedang keluarga ayahnya muslim fanatik. Jadi jika ada yang bertanya siapa yang paling mengerti keberagaman, maka Cameo akan tersinggung bila ada yang mengaku lebih paham dari dirinya.

Tapi seperti manusia lainnya, dibalik segala sifatnya yang saya puja-puja, Cameo juga punya bagian yang tidak saya suka. Yakni, sifat keras kepalanya. Dia yang paling keras kepala di antara yang lain. Cameo memang bukan tipikal orang yang akan sudi menghabiskan waktu dengan bertegang urat leher. Malah dia lebih senang diam-melihat daripada berdebat. Tapi justru di situ titik keegoisan tertingginya. Sikap itu seolah-olah berkata, "Silakan Bicara hingga mulutmu berbuih, tapi aku punya otakku sendiri yang berfungsi jauh lebih baik."

Oh ya, tentang marga Cameo; Dia hanya suka rima dalam kata tersebut. Bukan karena ia benci ayahnya yang Melayu.
  |   1 comment   |  

Si Pemalu Akut

 #October
October juga sering senyum-senyum sendiri

Yang kedua bernama October atau Oktober. Terserah. Toh Alterego yang satu ini sering mengganti-ganti namanya sendiri. Kadang ia bernama Dreamer, Putih, Llama di Tengah Gurun, Hitam dan Hampa (BlackBlank) atau si Tak Berpikir. Hal ini dikarenakan sifatn puitisnya. October memang yang paling puitis; tertarik pada dunia bahasa; mencintai tulis-menulis dan sedikit jurnalisme.

Tapi anehnya ia lebih pemalu daripada Narajata dan Alterego lainnya. Ia pemalu akut. Padahal bisa dibilang October lah yang paling berbakat. Selain pintar menulis dan jago merangkai kata, October juga pandai menggambar. Ia jago menciptakan berbagai bentuk di selembar kertas dengan pensilnya.

Beri saja sedikit waktu, maka kertas itu akan penuh.

Diam-diam, October juga senang bernyanyi. Ia paham nada sedikit-sedikit, meski yang keluar dari pita suaranya tak selalu merdu.

Tapi, memang, di antara semua kebiasaan yang dimilikinya itu, October paling senang dengan kemampuan menulisnya. Kadang saya baru bisa merasakan confidence yang dimiliki Alterego ini ketika membaca tulisannya. Ia begitu lantang, berani dan tak bisa dibilangi. Semua yang ditulisnya biasanya keluar begitu saja. Seolah sifat pemalunya bukan elemen utama yang terlahir bersamanya. Padahal karena sifat pemalu akutnya itu lah maka bakat tersebut terlahir. October memang bukan orang yang ekspresif; lebih sering memendam sendiri. Tapi bakat menulisnya ia jadikan media mengekspresikan diri. Sehingga, entah bagaimana, ia tetap waras dan seimbang dalam segala hal.

Karena sekali-kali saya dibuat gila oleh sifat pemalu October.

Pernah suatu waktu, October hampir pingsan saat disuruh menyanyi di depan kelas. Padahal hal tersebut adalah bagian dari ujian mata pelajaran Kesenian saat SMA. Mau tak mau ia emmang harus maju ke depan kelas dan bernyanyi. Tapi yang terjadi, dia kelihatan seperti idiot karena setengah mati tercekat suaranya sendiri yang (mendadak) tak bisa keluar.

Ada-ada saja memang. Tapi seperti itulah October. Ah ya, secara penampilan October juga tidak jelek. Kaki dan leher jenjang, bahu bidang meski tumbuh dengan bdan kerempeng. Ia juga selalu pakai kacamata; bukan karena ingin terlihat masa kini,tapi memang minus yang sudah sampai angka tiga. Tidak jelek sama sekali. Mirip-mirip style-nya Cameron Mitchell: Nerdy. Meski tak se-cute beliau.

Tapi entah kenapa (bukannya tak tahu kenapa), October selalu minder dengan segala hal yang berkaitan dengan penampilannya. Ia tak pernah betah di keramaian. Selalu gerah di ruang terbuka. Dan parahnya, dia yang paling moody-an.

October mudah tersinggung ; yang paling rapuh dan sering kali melankolis. Mungkin pengaruh sifat puitisnya.

Sama seperti Alterego lainnya, October juga orang yang setia. Bahkan bisa dibilang ia terlalu... setia. Cinta pertama October adalah seorang gadis yang lebih tua setahun dari dirinya. Dan mereka pertama kali bertemu saat umurnya masih tiga tahun. Saking setianya, October tetap menyukai gadis yang sama hingga berusia 16 tahun. Pathetic, huh?

Ya, tapi begitulah October. Sekarang dia juga sedang menyukai orang lain yang baru ditemui setahun belakangan. Tapi mungkin di lain cerita saja saya kisahkan.
  |   No comments   |  

Perkenalkan Narajata, Alterego Pertama Saya

#Narajata
kira-kira, Narajata bisa sekocak ini

Tak mau panjang-panjang bercuap, saya kenalkan saja Alterego yang pertama: namanya Narajata. Narajata yang paling humoris. Dia suka bergurau. Mulai dari hidung tipis karibnya, hasil ujian dari dosen killer, sampai apa saja yang keluar dari mulut lawan bicaranya, ia jadikan bahannya bergurau. Kadang, gurauan Narajata bisa jadi sembilu tajam bagi mereka yang sedang digoda. Tapi Narajata juga punya sifat 'tak enak hati' yang berlebihan. Jadi, selalu saja ia bisa mengembalikan mood seseorang yang (sakit hati) termakan guraunnya.

Secara fisik, Narajata tak seperti komedian pada umumnya. Wajahnya tidak bisa dimasukan kategori jelek, mesipun tak punya wajah rupawan seperti Nicholas Saputra atau Zayn Malik. Sedang-sedang lah. I juga tak terlalu pintar. Nilai akademisnya standar. Tapi seperti yang saya bilang di awal, dia jeniusnya komedin. Dan sat sedng berguru, mulutnya tak pernah jadi kelu, seperti saat dia disuruh menghapal naskah pidato dan membacakannya di depan umum.

Rasa percaya dirinya hanya sebatas guyonan-guyonan yang ia lontarkan. Bisa dibilang Narajata hanya percaya diri ketika ia sedang mengolah sesuatu menjadi lelucon di otaknya. Semangatnya juga baru akan tumbuh ketika lawn bicaranya tertawa. Mendadak Narajata akan jadi orang yang banyak omong.

Ah, ya. Narajata benci orang-orang tahu masalah pribadinya. Ia tak pernah bercerita tentang 'apa yang terjadi hari ini' atau 'siapa yang sedang dikencaninya sekarang' pada sembarang orang. Narajata mengutamakan privasi. Menurutnya, di jaman ini, di mana semua hal dieksploitasi, terutama kebebasan, privasi adalah barang mahal. Dan... sesungguhnya sifat aneh yang telah lama bercokol di dasar cerebellum-nya ini adalah alasan mengapa Narajta menjadi sosok yang begitu humoris, bahkan konyol.

Ketika ada orang yang begitu peduli (usil, menurut Narajata. Dan dia akan membunuh saya jika kalimat di dalam kurung ini tidak saya tulis) tentang dirinya dan berusaha mengorek sedikit privasi itu, maka Narajata akan bersembunyi di balik sikap humoris yang ia punya. Ia akan (dengan segala cara) mengalihkan tujuan orang tersebut dengan guyonan-guyonan. Sehingga ia berubah jadi sosok jenaka, salah satu sosok favorit dunia.

Friday, August 10, 2012

  |   2 comments   |  

Hemaphrodite

M memutar setir, menginjak gas sedalam-dalamnya lalu meluncur dengan Ford Escape XLT silver kesayangannya menuju rumah sakit. Ia terburu-buru, mengingat pesan yang dua menit lalu dikirimkan Hill kepadanya. M memang selalu terburu-buru kalau menanggapi masalah yang bersangkutan dengan gadis ini.

            Bukan hanya karena persahabatan mereka yang sudah memasuki usia kedelapan tahun, tapi karena Hill memang satu-satunya orang terpenting dalam kehidupan M saat ini. Setelah semua kehilangan yang dirasakannya, mana mungkin M rela kehilangan Hill.

“Halo! Syukurlah, Hill. Akhirnya kauangkat teleponku. Kenapa lama sekali?” semua kekhawatiran yang M rasakan menghambur dalam suaranya.

Tapi Hill tidak menjawab. Ia hanya sesengukan di ujung telepon.
“Astaga, please jangan menangis, Hill. Ceritakan semuanya padaku. Ayolah.” M berusaha menyemangati, walau nada khawatir masih sangat kentara di suaranya.

“Dia sudah keluar dari ruang ICU, M...”

M memotong kata-kata Hill, “Syukurlah. Berarti operasinya berjalan lancar?”

“Bukan,” Hill semakin tersedu, suaranya hampir tidak jelas. “Beni sudah meninggal, M. Dia sudah tidak ada.” Yang terdengar selanjutnya hanyalah tangisan Hill yang semakin tak keruan.

M terdiam, memikirkan nasib sahabatnya setelah ditinggalkan Beni, calon suami Hill. Seharusnya lima hari lagi Hill dan Beni akan bersanding di pelaminan. Tapi semua rencana indah yang telah dirancang sepasang kekasih itu rusak karena kematian Beni.

Siang tadi Beni terkena peluru nyasar ketika sedang latihan menembak di kantornya. Salah seorang rekan polisi Ben menjemput Hill beberapa jam setelah operasi pengangkatan peluru di dada Ben berlangsung. Semalaman suntuk, Hill menunggu kabar Ben dari dokter yang bertugas sambil duduk sendiri di ruang tunggu.

Sekarang, M tengah sibuk mengejar waktu untuk tiba di rumah sakit sesegera mungkin. Hill dan Beni sama-sama tak punya keluarga. Keduanya adalah single survivor di kota besar ini. Jadi, sebagai seorang sahabat, M merasa sangat bertanggungjawab untuk mengurus segala sesuatu hal yang bersangkutan dengan pemakaman Beni, nantinya. Dan jauh di dalam lubuk hatinya, ia juga merasa bertanggungjawab untuk mengembalikan keceriaan Hill, karena kehilangan Ben.

Sesampainya di rumah sakit, M mendapati Hill tengah tak sadarkan diri karena dehidrasi di salah satu ruang inap di rumah sakit itu. Untunglah ia hanya kekurangan ion saja, mungkin karena terlalu kelelahan menunggui Ben.

Memanfaatkan waktu, M segera mengurusi semua administrasi dan registrasi yang dibutuhkan Beni untuk mendapatkan pemakaman yang layak.

Dalam beberapa lembar form yang diisinya, M selalu berhenti dan berpikir sejenak di kolom jenis kelamin. Bukannya ia tak tahu harus mengisi apa di kolom itu, tapi setiap kali melewatinya, sebaris memori tentang masa lalunya berkelabat di kertas itu.


M ingat betul masa kecilnya, ia dibesarkan dan dididik sebagai seorang pria oleh Dikan dan Dewi, kedua orangtuanya. Begitu pula yang tertera di akta kelahirannya, M adalah seorang pria. Tapi Dewi pernah bilang pada M kalau akta kelahirannya yang sekarang adalah akta pengganti yang dibuat karena terdapat kesalahan di akta sebelumnya. Ia terlahir sebagai anak perempuan. Dokter yang menangani kelahirannya sangat yakin akan hal itu.
Tapi beberapa hari setelah kelahirannya, kelamin M berubah menjadi skrotum; dengan kata lain, ia adalah pria.

Baru beberapa tahun yang lalu—tepat saat M berusia tiga belas tahun—ia baru tahu kalau dirinya adalah seorang True Hemaphrodite. Seorang Kelamin Ganda sejati. Rahasia ini disimpannya sendiri, hanya Dede, kakak lelaki satu-satunya M yang tahu tentang hal itu. Karena kedua orangtua mereka meninggal saat M berusia sepuluh tahun.

Tapi hidup harus tetap berlanjut. M yang saat itu adalah seorang remaja rapuh, harus sudah bisa mengontrol emosinya dan berlapang dada dengan kondisi aneh-nya itu. Ia dan Dede sepakat untuk merahasiakan semua masalah itu. Toh, selama ini ia telah diakui semua orang sebagai seorang pria. Tak ada gunjingan ataupun makian dari orang-orang, selama mereka tidak mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.

Rahasia ini harus ditutupi dari semua orang; semuanya, termasuk Hill sekalipun.
Yang terpenting adalah, pilihan M. Dan ia telah memilih untuk menjadi seorang pria; menganggap hormon testosterone-nya lebih mendominasi. Berharap sisi kewanitaannya sama sekali tidak ada. Walaupun ia sadar betul, kalau ia adalah setengah perempuan.


“Bagaimana, Pak? Sudah selesai form-nya?” salah seorang suster membuyarkan lamunan M. Dan dengan senyum manis, sang suster menagih lembaran-lembaran kertas putih di tangan M

“Ah ya. Ini, Sus! Tolong diurus sebaik-baiknya, ya.”

Kemudian M berlalu, menjengguk sebentar jasad Beni yang disimpan di kamar jenazah, dan langsung mendatangi Hill di ruang inapnya.

“Hai.” Sapa M, saat melihat Hill sudah sadar.

“Hai. Terima kasih ya. Kau sangat membantu.” Hill memaksa untuk tersenyum.

“Tak perlu, Sayang. Ini kewajibanku.” Tangan M mengelus lembut rambut Hill yang masih
berbaring di atas kasur. “Bagaimana kabar Barry? Apa dia sudah tahu tentang Beni?”

“Ya. Dia sedang dalam perjalanan ke sini. Aku sudah menyuruhnya untuk tetap di rumah dan  menyiapkan segala sesuatunya, tapi dia bersikeras untuk datang kemari.” Suara Hill terdengar sangat parau.

“Istirahatlah. Biar aku yang menangani semuanya. Termasuk Barry.”

Kemudian Hill mengikuti saran M. Ia lelap hanya dalam beberapa menit saja.


M,
Aku duduk di sofa di sebelah ranjang Hill, sambil menunggu kedatangan Barry. Anak itu pasti sekarang sedang sangat terpukul. Dia sudah kehilangan kedua orangtuanya di usia yang sangat muda. Diam-diam dalam hati, aku berjanji untuk tetap berteman dengannya selama yang kubisa. Menjadi orang pertama yang maju ketika dia dalam kesulitan, seperti yang sekarang kulakukan terhadap Hill.

Di atas ranjang itu, tubuh Hill tampak sangat rapuh. Ia terlihat begitu kelelahan, sendiri, dan sangat sedih—bahkan saat ia terlelap kau bisa melihat kesedihan mengalir deras di garis mukanya.

Shit! Sadar M! Hill baru saja kehilangan Ben, dan sempat-sempatnya kau mengagumi sahabatmu sendiri? Oh, yang benar saja.

“M?”

Kepalaku menoleh ke arah sumber suara. Ternyata Barry sudah berdiri di balik pintu masuk. Tubuhnya yang begitu ramping dan tinggi—sial! Apa yang kaumakan, Barr? Kenapa sudah setinggi ini?—sudah berdiri di samping sofa yang kududuki.

“Barry?” aku terlonjak, dan benar saja, sekarang bocah ini sudah lebih tinggi satu kepala dari tubuhku.

“Bagaimana keadaan Hill?” ekspresinya begitu datar. Khas Barry yang kukenal. Selalu berusaha tak menunjukkan ekspresi yang sedang dirasanya.

“Dia hanya pingsan tadi. Mungkin kelelahan. Kau sudah melihat Ayahmu?” aku memperlambat kata-kataku pada kalimat terakhir.

“Ya. Dia terlihat...” walaupun ditutupi, aku berani sumpah kalau tadi ada garis getir melintas di matanya. “Kautahu-lah, kaku.” Barry tersenyum, dan tulang rusukku sepertinya baru saja disiram dengan air dingin dari kutub. Anak ini bukan sekadar sedih, dia sangat terpukul.

“Tenanglah, Man. Masih ada Hill dan aku. Aku janji kita akan tetap berkawan.” Kuberanikan diri untuk melingkarkan tangan di pundaknya. Dan sayang, tanganku hanya bisa merangkul sejauh tengkuk lehernya.

Di luar dugaan, Barry menangis dan membalas pelukanku. Dia menangis. Menangis sejadi-jadinya.

“Kau mau kopi?” tanyaku bingung untuk menenangkannya.

Beberapa menit kemudian, kami sudah duduk di salah satu bangku di kantin di rumah sakit itu. Barry sudah tak lagi menangis, dan ia tampak sangat malu karena tadi sempat menangis di bahuku.

“Maaf, M. Tadi aku tidak bermaksud...”

“Tenang saja, itu tadi manusiawi. Dan setahuku itu hal paling manusiawi yang pernah kaulakukan.” Aku tersenyum lalu menyeruput kopiku dengan bibir, sebelum kusadari ada yang aneh dengan kalimatku barusan. “Maaf, maaf. Bukan itu maksudku.” Dasar bodoh! Kenapa menebar ranjau, saat suasana sudah mulai membaik, gerutuku dalam hati.

Barry malah tertawa, tawa ringan. “Kau ini lucu.” Ia menenggak cappuccino-nya.

“Apa?” keningku mengernyit. “Apa aku barusan bertingkah bodoh?” tentu saja, tolol.
Barry tertawa lagi, sejenak kulihat ia melepaskan semua kesedihannya bersama tawa terakhir. Syukur jika tindakan tololku barusan bisa mengurangi kesedihan anak ini.

“Apa Hill sudah menyiapkan pemakaman Dad?” matanya kembali datar. Tidak tersirat apa pun di dalamnya.

“Tenang saja. Semuanya sudah kuurus.”

“Kau memang benar-benar baik sekali, M.”

“Kuanggap itu pujian. Terima kasih kembali.”

Dan pemuda ini tertawa lagi. Sepertinya beberapa menit saja denganku sudah berhasil membuatnya menjadi lebih manusiawi.


Hari berlalu secepat kijang berlari.

Keadaan Hill semakin membaik setiap harinya, walau tetap saja ini adalah seminggu terburuk dalam hidupnya. Dia harus kehilangan calon suami di saat hari pernikahannya menjelang. Memangnya ada yang bisa lebih buruk lagi? Ternyata ada. Sekarang seluruh ruangan di pikiran Hill diambil alih oleh masa depan Barry.

Anak itu sebatang kara, sekarang. Walaupun belum resmi sebagai ibu Barry yang sah, Hill tetap merasa bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup anak itu. Usianya baru 17 tahun. Harus ada seseorang yang merawatnya, setidaknya untuk beberapa tahun ke depan, sampai Barry bisa mengurus dirinya sendiri.

Henry memang tidak meninggalkan tangung jawab sebesar itu pada Hill tanpa sedikit pun bantuan. Ternyata almarhum calon suaminya itu telah meninggalkan deposito, asuransi dan segala jenis keperluan lainnya yang diperlukan untuk menjaga kelangsungan hidup anaknya jikalau kejadian yang sekarang telah terjadi, terjadi. Hill tak khawatir dengan masalah itu. Dan sepertinya Barry juga tidak. Yang sedikit mengganggu pikirannya adalah tentang bagaimana berhadapan dengan remaja 17 tahun dengan kemampuan wanita dua puluh tujuh tahun sepertinya?

Hill belum pernah menikah, apalagi punya anak. Tapi M selalu ada di masa-masa membingungkan seperti ini. Dan Hill tak pernah berhenti bersyukur atas hari pertama ia dipertemukan dengan M, oleh Tuhan.

“Ada yang mencarimu, Hill, seorang pria,” ujar M di suatu siang, saat mereka berdua tengah membahas pilihan universitas untuk Barry di rumah Hill.

“Siapa? Oh, hai Garin. Lama tidak bertemu.” Hill bangkit dari sofa dan langsung memeluk tamu yang dibawa M.

“Aku turut berduka, Hill. Aku baru pulang dari tugas dinas, sehingga baru bisa datang sekarang.”

“Oh, tidak apa-apa. Aku bisa mengerti.” Raut kesedihan kembali merasuki wajah Hill.
“Ada yang ingin kubicarakan, Hill, bisakah?” Garin melirik ke arah M. Mungkin ia hanya ingin bicara empat mata dengan Hill.

“Oh, tidak masalah, aku bisa keluar sebentar.” M paham dengan maksud lirikan Garin. “Lagi pula aku harus menjemput Barry dari sekolahnya.”

“Terima kasih, M.” Hill tersenyum, berterimakasih atas pengertian M.


M,
“Bagaimana ujiannya?” tanyaku pada Barry, saat ia telah menutup pintu mobil dari dalam.
“Tidak buruk, sejauh ini lancar-lancar saja,’ jawab Barry.

“Sudah punya pilihan universitas?” aku mennghidupkan mesin mobilnya dan menancap gas.

“Entahlah, aku masih bingung. Sebenarnya aku ingin melanjutkan kuliah di bidang seni, mungkin teaterikal atau musik, tapi ayah dulu tidak setuju dengan pilihanku itu. Dia lebih senang kalau aku mengikuti jejaknya masuk ke akademi polisi.”

“Sulit juga ya.” Aku berkomentar sekenanya. “Bagaimana pendapat Hill?”

“Dia bilang, dia lebih senang jika yang kupilih membuatku senang. Dan sumpah, jawabannya sama sekali tidak membantu. Tapi kautahulah bagaimana Hill, dia hanya ingin aku senang.” Barry tertawa ringan menjawab pertanyaanku.

Ya Barr, aku sangat tahu bagaimana karakter Hill, dan karena itu aku masih tidak bisa memandangnya hanya dengan pandangan sebatas sahabat.

“M?” Barry membuyarkan pikiranku.

“Ya?”

“Apa pendapatmu melihat waria itu?” Barry menunjuk sesuatu di luar jendela mobil dengan pandangannya, saat lampu lalu lintas menyala merah.

“Apa maksudmu?” entah mengapa, pertanyaannya membuatku gugup. Kenapa dia tiba-tiba bertanya tentang waria itu? Apa dia mulai menyadari sesuatu yang aneh dari penampianku? Apakah dia mulai curiga kalau ada yang salah dengan tubuhku? Aku memang terlalu kecil bila dibandingkan dengan ukuran pria pada umumnya. Kuitku juga jauh lebih halus dari pria normal, belum lagi warnanya yang terang membuatku semakin terlihat lebih seperti pria cantik, ketimbang pria normal. Aku juga punya dada seperti perempuan, walaupun tidak terlalu besar. Tapi dada itu kan sudah kusembunyikan dengan kain pembebat, sehingga kalau dilihat dari luar aku seperti pria biasa yang sewajarnya tidak memiliki dada.

“Tidak ada. Aku hanya merasa senasib dengan mereka. Karena apa yang mereka inginkan bertentangan dengan apa yang orang di sekitarnya inginkan dari mereka.”dia tertawa.

“Pintar juga ya, aku berfilosofi,” tambahnya, bergurau.

Lalu kami berdua hanya tertawa. Aku setengah bersyukur karena ternyata ketakutanku tidak beralasan.


Seminggu lagi berlalu dengan cepat. Hill semakin membaik, begitu pula dengan Barry. M juga semakin sering berkunjung, memastikan keadaan mereka berdua baik-baik saja. Tapi ternyata M tidak sendiri, Garin, teman almarhum Beni itu, belakangan juga semakin sering berkunjung. Tapi sejauh yang M perhatikan, kunjungan pria jangkung itu bukan kunjungan biasa.

            Garin sering membawakan makanan-makanan ringan untuk Hill dan Barry. Terkadang bahkan dia menetap sampai waktu makan malam, dan kalau M tidak salah mengingat, Garin sudah dua kali menginap di rumah Hill. Dan semua itu mulai mengganggu M.

            Apakah mungkin Garin sedang menarik perhatin Hill? Apakah Garin suka dengan Hill sejak Beni masih hidup, hanya saja baru memiliki kesempatan sekarang untuk mendekati Hill? Batin M, dalam pikiran-pikiran paranoia-nya.

            “Hai M, sedang apa?”tiba-tiba saja sosok Garin sudah ada di sofa di ruang tengah rumah Hill, tempat M sedang asyik menonton TV.

            “Nonton,’ jawab M dengan nada kesal yang kentara sekali. M memang bermasalah dengan emosinya yang meluap-luap.

            :Garin malah tertawa mendengar jawaban ketus M. “Ya, aku tahu yang itu. Maksudku, kau selalu di sini, apa kau tidak bekerja?”

            “Hei, kau ini memang selalu blakblakan begitu ya? Lalu kau sendiri? Bukannya kau polisi? Kenapa sekarang tidak di lampu merah?”

            Garin malah tertawa lagi, terlihat lebih geli. “Aku bukan Polantas, dan maaf karena terlalu blakblakan.”

            Suasana hening cukup lama. Mereka berdua berubah semakin kaku di setiap detiknya. Kecanggungan mendadak begitu terasa. “Omong-omong, aku penulis,” kata M di sela kecanggungan itu.

            “Oh.” Garin melenguh cukup panjang. “Kau novelis?”

            Dan yang terjadi selanjutnya adalah perbincangan yang panjang di antara keduanya. Perbincangan yang tidak disangka-sangka M, menjadi jalan keakrabannya dengan Garin, orang yang selama ini dianggapnya sebagai saingan.

            Tapi di lain sisi, kedekatan mereka ternyata mengundang kecemburuan dari Barry. Selama ini, diam-diam Barry menaruh perhatian pada M, sahabat Hill, yang telah dianggapnya ibu sekarang. Barry tahu kalau ada yang salah dengan rasa simpati yang ditaruhnya pada M; mereka sama-sama pria, setidaknya begitu sepengetahuan Barry. Tapi ternyata kharisma M lebih kuat dari yang diduganya selama ini. Dia tetap saja tidak bisa membohongi perasaannya.

            “Ada yang ingin kubicarakan, M, bisa?” tanya Barry di sepotong siang pada M.

            “Tentu, tentu,” jawab M memenuhi permintaan Barry.

            Lalu, keduanya pergi ke halaman belakang rumah Hill. Perawakan Barry tampak sangat tegang dan serius, sedang M menanggapinya dengan senyum geli. “Ada apa, Barr? Serius sekali?”

            “Ada yang ingin kukatakan.”

            “Katakan saja.”

            Ada jeda yang cukup lama, Barry tampak seperti sedang berpikir dan menimbang pikirannya. “Aku… aku… aku menyukaimu, M.”

            Dunia M serasa runtuh. Dia benar-benar terkejut. Dan tak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya. “Kau bercanda kan, Barr?” M berharap perkataannya benar.

            “Aku tidak, M. Aku serius. Aku sudah lama memikirkan ini.” Barry mendekat, berusaha memeluk M. Tapi M, tentu saja, mengelak.

            “Aku tidak bisa, Barr. Tentu kutahu itu.” M mulai kalut. Dia tidak menyangka hal ini bisa terjadi.

            “Kenapa? Karena pria itu?”

            “Pria? Siapa?”

            “Si Garin bodoh itu. Pria yang telah membunuh ayahku!!” Barry berubah gusar. Emosi yang selama ini dipendamnya meledak.

            “Membunuh ayahmu?” dunia M kembali disambar petir. Dia yakin otaknya sebentar lagi korslet karena semua kejutan ini.

            “Seharusnya yang mati saat itu dia, bukan ayah! Ternyata sebelum kejadian itu, dia meminta ayah untuk menukar shift tugas mereka! Dia sendiri yang mengaku pada Hill,” ucapan Barry terdengar sangat dingin.

            “Tidak, Barr. Bukan karena Garin. Aku hanya berteman dengannya. Lagipula, kami…” perkataan M terhenti. Dia sebenarnya ingin bilang kalau dia dan Garin sama-sama pria, sehingga mereka tidak seharusnya bersama seperti dugaan Barry. Tapi M tahu kalimatnya akan salah dan teredngar seperti kebohongan besar. Dia bukan pria, dia setengah pria dan setengah wanita.

            “Kalian apa?” tuntut Barry.

            M masih diam; berpikir.

            “Kalian apa, M?” Barry mengguncang-guncang bahu M.

            “Kami tidak ada apa-apa! AKU MENYUKAI HILL! HILL! BUKAN GARIN!” M juga meledak. Dia akhirnya mengeluarkan apa yang ia pendam selama ini.

            Kali ini dunia Barry yang tersambar petir. Padahal ia sudah menyiapkan diri untuk jawaban tidak dari M. Tapi bukan dengan alasan seperti ini. “Baiklah.”

            “Baiklah apa?”

            “Kau bisa memiliki Hill.”

            M malah tertawa mendengar pernyataan tanpa nada yang keluar dari mulut Barry barusan. “Kalau aku mau aku bisa mendapatkannya dari dulu. Masalahnya, aku tidak bisa.”

            Wajah Barry berubah heran. Dia memang tidak bertanya, tapi matanya berisyarat begitu, lantas M berkata, “Aku ini bukan pria, Barr, serta bukan pula wanita. Aku setengah dari kedua-duanya. Aku hemaphrodite.”

(MUNGKIN) BERSAMBUNG...

Saturday, August 4, 2012

  |   No comments   |  

Surat Cinta Perak

Tangan Attar gatal ingin membukanya. Padahal surat itu sudah ia masukan ke dalam selembar amplop violet, dan telah ia beri lem rapat-rapat. Dirasanya ada yang kurang dan harus diperbaiki. Kata-kata dalam surat itu masih terasa terlalu sempit untuk menggambarkan apa yang sedang ia rasakan. Dan karenanya tangan Attar semakin gatal ingin merobek amplop itu. Tapi itu amplop kesebelas! Sialnya ia hanya beli selusin dan kini hanya tersisa satu.

Ya Tuhan! Kenapa aku susah sekali dalam hal menulis? batinnya.

Akhirnya amplop itu ia robek dengan tidak sabaran. Kemudian kembali membaca isi kertas itu. Begini isinya:

Kupikir aku sedang jatuh cinta lagi, Nik.

Aku tahu ini akan terdengar aneh dan pasti akan membuatmu terkikik saat membacanya. Tapi kau adalah sahabatku, dan bukankah salah satu tugas sahabat adalah mendengarkan celotehan girang gembira (berlebihan) sahabatnya saat ia sedang jatuh cinta begini; seperti aku sekarang. Hahaha

Aku tahu kau sudah muak mendengar cerita-cerita cintaku selama ini, tapi percayalah yang satu ini benar-benar menakjubkan; membuatku gila; sepanjang malam tidak tidur; senyum-senyum sendiri setiap saat; dan gejala-gejala mengerikan lainnya yang jarang kualami sebelum aku bertemu dengan orang yang akan kuceritakan ini.

Mungkin kau sedang menguap di bagian ini. Jadi kupercepat saja ceritanya. Tapi sesungguhnya aku bingung untuk memulainya dari mana. Bagaimana kalau dari bagian ketika kami pertama kali bertemu? Ya! Dari bagian itu saja.

Kami bertemu di sepotong senja di Khan-el-Khalili. Di sebuah kedai kopi terkenal bernama Fishawy’s. Aku memesan shisa dan teh mint.

Saat aku sedang santai menghirup shisa-ku, seseorang menghampiri. Seorang pria Mesir. Rambut lurus panjangnya sebahu. Mata hitamnya sepekat jelaga, dan entah bagaimana begitu cemerlang dan tajam. Hidungnya, tentu saja, lancip dan mungil, khas pria Mesir lainnya. Dan yang agak membuatku terpana adalah senyum paling manis sedunia yang ia miliki.

“May I?” tanyanya sambil tersenyum; menunjuk kursi kosong di sebelahku dengan pandangannya.

Awalnya aku diam. Terpelongo. Lalu cepat-cepat mengangguk kebingungan.

“Kursinya penuh,” ujarnya dalam bahasa Inggris beraksen aneh. “Nice place, huh?” tambahnya.

Lagi lagi aku hanya menggangguk. Tapi dia tak hanya tampan, dia juga tuan rumah yang ramah. Ia bercerita padaku tentang sejarah kedai kopi itu. Bahkan aku kembali mengangga saat ia beritahu kalau kedai kopi yang buka 24 jam itu sudah berdiri sejak 200 tahun lalu. Hahaha

Sisa malam itu kuhabiskan untuk mengobrol dengannya. Diam-diam dalam hati, aku berdoa itu bukan pertemuan terakhir kami.

Dalam beberapa jam di suatu malam di Mesir, kupikir aku telah bertemu jodohku dan jatuh cinta padanya. Rasanya aneh, tapi aneh yang menggembirakan.

Keesokan harinya, ia mengajakku ke Masr-el-Qadima atau yang lebih sering disebut orang Mesir sebagai Old Cairo. Di sana kau akan menemukan Masjid, Gereja dan Sinagoga dibangun berdampingan. Awalnya ia mengajakku ke Masjid Ibn-al-As untuk salat zuhur berjamaah. Tapi lantas aku tersenyum dan berkata, “I’m Indonesian, but I’m not Muslim. I’m Christian.”

Kata-kataku ternyata membuat kami berdua tertawa. “Shalat saja dulu. Aku akan berdoa di St. Sergius sambil menunggumu,” tambahku. Dan dia makin terkikik. Katanya, dia merasa sangat bodoh karena langsung mengajakku ke Masjid untuk salat tanpa terlebih dahulu menanyakan keyakinanku.

Saat itu sempat terlintas di pikiranku, bahwa sedikit perbedaan tentang keyakinan ini adalah benih yang akan berkembang jadi masalah besar dalam hubungan kami, kelak. Tapi saat kusampaikan hal itu padanya, ia malah menjawab begini dengan tenang, “Tuhan adalah Tuhan, My Sweetheart Attaria. Hanya keyakinan kita yang berbeda. Dia tidak akan mengutuk kita karena mencintai orang yang punya keyakinan berbeda. Malah, Dia akan mengutuk kita jika kita berhenti mencintai-Nya.”

Dan perasaan yakin muncul begitu saja di hatiku. Believe that he is the one!

Bagaimana? Apa kau sudah bosan mendengarnya, Nik? Aku bahkan belum sampai di bagian terindah! Masih mau membacanya kan? Kuharap kau sedang mengangguk saat ini.

Sampai mana tadi? Ah ya, sampai perasaan yakin itu muncul. Tapi aku langsung saja ke bagian terindahnya: kami menikah! Tentu tidak di hari yang sama saat ia mengajakku salat di Ibn-as-Al. Limit visa-ku habis keesokan harinya, jadi aku harus pulang ke Indonesia. Dan Mesir tidak punya administrasi canggih untuk membantunya mengurus visa dalam semalam. Jadi dia tidak ikut denganku.

Namun beberapa bulan kemudian kami bertemu lagi di Sydney. Kau tahu! Indonesia belum punya aturan yang bisa membantu pasangan berbeda agama untuk menikah dengan tenang. Belum lagi kami berbeda kewarganegaraan. Semua urusan yang melibatkan surat-surat itu memang cukup membuat pusing dan memakan waktu.

Singkat cerita, kami menikah dan bahagia. Tapi tak bertahan lama. Di lima tahun awal pernikahan kami semua hal yang bersangkutan dengan surat-surat itu tak terlalu menganggu. Tapi untuk sepuluh tahun berikutnya, hal itu merumit berkali-kali lipat. Apalagi pernah suatu waktu, ketika ekonomi keluarga kami sedang diuji, suamiku terpaksa harus dideportasi dari Indonesia tercinta ini karena tak mampu membayar iuran kepada pihak Imigrasi.

Karena itu aku harus berpisah selama dua tahun darinya. Saat-saat itu adalah saat-saat paling mencekam dalam hidupku. Aku benar-benar menderita. Terpisah dari dirinya benar-benar menyiksaku. Aku tak punya kata-kata lain selain kalimat-kalimat di atas yang (tampaknya) terus kuputar-putar. Karena aku memang benar-benar menderita.

Perpisahan itu membuatku—kami, tepatnya—semakin menderita karena buah hati yang tak kunjung datang. Aku merasa tak lengkap sebagai istri. Dan di tengah perbincangan kami di saluran jarak jauh, aku selalu saja merasa semakin tak sempurna saat dia mencoba menguatkanku tentang masalah ini.

“Bersabar saja Sayang. Lagipula, kenapa aku harus begitu egois untuk mendapatkan seorang anak untuk membuatku bahagia, ketika Tuhan telah memberikanmu sebagai pendamping hidupku. Benar kan? Or you don’t feel me the way I feel you?” guraunya.

Tahukah kau Nik? Aku menangis di bagian ini. Bukan karena hingga sekarang kami belum dianugerahi seorang putera pun. Tapi karena aku benar-benar bahagia memilikinya sebagai pasangan hidup sekaligus sahabat yang begitu mencintaiku. Tak peduli dengan rahimku yang selalu kosong, tak peduli dengan keriput yang menoda di sekitar pelipis, leher dan dadaku; dia tetap mencintaiku seperti saat pertma kali kami bertemu di Fishawy’s, kedai kopi berumur panjang yang tenar hingga sekarang. Kuharap cinta kami juga lebih panjang umurnya daripada raga kami yang kian melapuk dikikis waktu.

Kini kami tinggal di sebuah rumah kecil di pinggiran Desa Tenganan, Bali. Dan kebetulan hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-25. Seingatku, ini adalah surat cinta pertama yang kukirimkan padanya—padamu. Sebelumnya kami hanya berkomunikasi melalui seluler, email atau pun Skype, terlalu zaman sekarang. Jadi kuputuskan untuk menulis surat ini sebagai hadiah di ulang tahun perak ini.

Kuharap kau senang, Nik. Nik-ku, sahabat sekaligus pasangan hidup terindah yang pernah Tuhan titipkan padaku.

“Indah sekali, My Sweetheart Attaria,” sebuah suara mengejutkan Attar. Suara itu muncul dari seorang pria renta yang ternyata sudah berdiri di belakangnya sejak tadi. Kulit pria itu mengendur karena umur, dipenuhi oleh bintik-bintik hitam khas orang tua. Tapi mata hitam jelaganya masih secemerlang dulu, pikir Attar. Begitu pula senyum paling manis di dunia yang ia miliki. Semuanya masih sama dan melekat pada Nik-ku.

“Sebenarnya aku mau mengulanginya sekali lagi,” ujar Attar menutupi perasaan malu yang mendadak berkabut di hatinya.

“Tak perlu kau ulangi. Aku akan menyimpan yang itu,” sahut Nik, lantas mengambil lembaran surat itu untuk disimpan.

“Tunggu sebentar.” Attar malah mengambil surat itu kembali, kemudian menuliskan sesuatu di amplop violetnya.

Surat Cinta Perak.