Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Friday, June 26, 2015

  |   1 comment   |  

Sepotong Pagi Kita




Aku terbangun dengan keringat dan muka kusut bekas jiplakan seprai. Sedetik sebelumnya, aku terlarut dalam sebuah mimpi buruk. Buruk sekali... hingga aku gelapan mencari-cari udara ketika sadar kalau semuanya mimpi.

"Mimpi buruk?" katamu, yang juga jadi harus terbangun karena suara gelapanku.

Aku hanya mengangguk, kemudian memelukmu. Membaui lehermu. Bau yang selalu membuat saraf-sarafku tenang.

Kemudian yang terjadi, api menjalar di mana-mana. Membakar epidermis kita berdua. Sebabnya? Kulitku bersentuhan dengan kulitmu. Aku masih sering heran, kenapa denganmu gairah itu tak pernah hilang? Lima belas tahun menikah denganmu tak membuat gairahku hilang setiap kali mencium bau tubuhmu, merasakan nafasmu meniup lembut bibir atasku. Dan kita selalu saja bisa terbakar.

***

Pagi itu kau memasak telur dadar untuk sarapan. "Tumben masak?" kataku, meledekmu. Seraya mengalungkan lenganku ke pinggul kecilmu, yang tetap saja kecil setelah bertahun-tahun kau menumpuk umur. Seolah tubuhmu memang tak bisa memproduksi lemak.

"Kau telat bangun karena mimpi buruk tadi pagi. Jadi, daripada membangunkanmu, lebih baik aku melatih bakat hebatku, kan," katamu, kemudian mengecup pipiku.

"Denting sudah bangun?" tanyaku.

"Sepertinya belum. Hari ini kan sekolah libur," sahutmu.

Lalu kita berdua sarapan di meja kecil di dapur kecil kita. Wajah tirusmu masih memesona. Membuat telur dadarmu yang biasa-biasa saja semakin tak menarik. Kau belum punya keriput di usia kepala tiga ini. Hanya saja, beberapa rambut perak mulai muncul di rambut pendekmu. Tapi, dari pertama kali kita berjumpa dulu, aku juga sering memperhatikan satu-satu rambut perak sudah berani muncul di kepalamu. Padahal waktu itu kau belum dua puluh tahun.

"Hari ini jadi ikut denganku?" mendadak kau berkata, membuyarkan lamunanku.

"Oh ya, seminar buku keempatmu, ya? Tentu, tentu. Tapi kau yang menyetir, kan?"

Kau merengut. "Kau ini. Laki-laki mana yang malas sekali menyetir sepertimu," kau meledekku. Tapi kita berdua tertawa setelahnya.

Aku benar-benar suka tawamu. Kau sangat manis saat memasangnya. Ya, Tuhan, kenapa aku hari ini? Kurasa aku jatuh cinta lagi padamu hari ini. Tapi aku malu mengatakannya. Rasanya, aku sudah terlalu tua untuk bilang, aku cinta kamu, lalu mengecup keningmu. Kita memang tak pernah begitu. Kau pemalu, begitu juga aku. Sudah sifat alamiah. Dan beginilah kalau dua orang pemalu jatuh cinta lalu menikah. Kedua-duanya akan jadi sangat canggung dengan hal-hal romantis yang seharusnya wajar saja di hubungan orang lain di luar rumah kita.

Aku tak bisa menahan tawa karena pikiran aneh barusan. Kita memang pasangan yang aneh. Tapi selalu asyik untuk jadi aneh berdua denganmu.

Mendadak mimpi tadi pagi terlintas lagi di kepalaku. Mimpinya tentang kita berdua, lima belas tahun lalu, saat kita masih sangat muda.

Aku bermimpi tentang Ibu yang pingsan berkali-kali saat aku pertama kali membawamu ke rumah orangtuaku, memperkenalkan kau sebagai kekasihku. Ia menjerit histeris, menyumpah-serapahi kita berdua. Kau hampir menangis, tapi aku udah lebih dahulu dibanjiri air mata. Tangan kita bergenggaman. Erat sekali, hingga aku merasa ada tenaga tambahan yang mengalir dari sana. Tenaga tambahan yang membuatku kuat menghadapi histerisnya Ibu.

Sebenarnya itu bukan mimpi. Itu adalah kenangan yang terus melekat di kepalaku. Kenangan yang tak mungkin bisa hilang.

"Ah ya, kau mimpi apa tadi pagi?"

Aku tertawa dengan pertanyaan pemecah keheningan darimu. "Kau membaca pikiranku ya?"

"Ha?" wajahmu melongo bingung.

"Aku baru saja memikirkannya." Aku masih selalu heran betapa kita berdua begitu terkoneksi. Ini bukan kali pertamanya kau benar-benar bisa membaca pikiranku. Sejak kita belum saling mengenal dan tak berani mengungkapan perasaan karena banyak hal, kita juga sering saling membaca pikiran. Sebenarnya ini sebab mengapa aku tahu kau adalah masa depanku. "Aku mimpi tentang Ibu," tambahku.

"Hai, Dads..." Denting muncul dari pintu dapur. Wajahnya kusut, rambutnya masai. Putri kita baru bangun. "Ini ada telepon dari nenek," katanya sambil menyerahkan selulernya kepadaku.

"Oh," kataku. Lalu aku menerima telepon Ibu. Suaranya riang sekali. Katanya Farid, anak pertama adikku, cucu pertamanya, dapat beasiswa di Amerika. Jadi dia ingin aku dan kau menyambut ponakan kita itu nanti setibanya dia di sini. Ibu juga cerita panjang lebar tentang kabarnya, sekaligus mencecarku pertanyaan tentang kabar kita di sini. Dia juga bilang sesuatu yang mengejutkanku. "Kata Denting, dia sedang naksir orang. Kau pasti belum tahu. Coba tanya sana, selidiki, nanti anakmu suka pada preman Amerika," katanya.

Atas secuil informasi itu, aku langsung mengajakmu main ke kamar Denting. Membangunkannya, lalu bertanya tentang hal itu.

"Ya ampun, seperti tidak bisa nanti-nanti saja bertanyanya," anak gadismu itu merajuk, pasang muka sangar.

"Kan kami cuma mau tahu, Dens. Masa nenek yang di Indonesia lebih dulu tahu daripada ayahmu sendiri," kataku membujuknya.

"Okay. Well, aku sebenarnya masih bingung, Dad," katanya. "There's a girl I like, and there's this boy I like. And I dont know which one I like more. I still dont know  what to do."

Kita berdua langsung bertukar pandangan. Ada dua reaksi yang terjadi, mata kita sama-sama hampir keluar, kemudian detik berikutnya kita sama-sama tersenyum.

Kau kemudian duduk di samping Denting dan berkata, "Which one is good person? Which one make you laugh more?"

"I think this boy, Dad," sahut denting padamu.

Sunday, January 4, 2015

  |   No comments   |  

Hari Ini dan 16 Tahun Lalu






AKU DULU persis bocah di depanku ini. Tinggi, ceking, punya tatapan dungu, irit sekali bicara, tapi punya daftar bacaan bagus, meski wajahnya masih gamblang menggambarkan usia yang belia, namun pikirannya sudah menua lima sampai enam tahun dari usianya. Tergambar dari kata-kata yang keluar dari mulutnya, yang sepertinya memang diatur keluar satu kalimat per dua jam saja.

Dia juga pegiat pers mahasiswa, sama seperti aku dulu. Tapi bocah ini lebih hebat, dia masih 19 tahun dan sudah jadi pemimpin redaksi di medianya. Aku dulu hanya reporter selama 3 tahun, baru jadi redaktur di tahun terakhir. Mungkin bisa juga jadi pemred kalau aku masih mau tambah setahun lagi saja tinggal di pers mahasiswa-ku, alih-alih bertindak bodoh menyelesaikan skripsi. Kalau tidak kan aku bisa sedikit menyombong, pura-pura pintar memberi saran pada bocah ini tentang bagaimana jadi pemred pers mahasiswa yang baik.

Tapi, begitulah Takdir. Dia bukan tipikal karib baik yang mengingatkanmu  akan ada apa di detik berikutnya hidupmu. Dia tipikal teman yang selalu hadir dan menemanimu dalam keheningan. Anehnya, teman bernama Takdir tadi dimiliki semua orang dengan rupa berbeda-beda.

Seperti aku dan bocah ini. Aku merasa punya banyak kemiripan dengannya, seolah-olah melihat diriku sewaktu muda, jelas di depan mata, berwujud dalam rupa orang lain. Kemiripan-kemiripan ini juga mengingatkanku kejadian 14 tahun lalu.

Kejadiannya persis seperti hari ini. Aku yang masih berusia 16 tahun, lebih muda dari si bocah beberapa tahun, sedang mengintil seorang teman, persis seperti bocah ini mengintilku pagi ini. Temanku itu juga wartawan, sama seperti aku hari ini. Namanya Prayoga, usianya lebih tua lima tahun dariku.

Bedanya, waktu itu aku hanya ikut-ikut saja ke mana Prayoga pergi, sementara si bocah ini magang di kantorku dan disuruh ikut aku. Aku dan Prayoga semacam karib yang dipersatukan teman bernama Takdir tadi di sebuah panti asuhan. Kala itu, 12 mei 1998, Prayoga baru diterima dua minggu sebuah media bagus yang beritanya melawan Soeharto.

Di hari terik itu, ribuan mahasiswa turun ke jalan, mereka berdemontrasi menuntut banyak hal yang belum sepenuhnya kupahami betul. Saat itu, yang kuketahui semua mahasiswa membenci Soeharto dan ingin menurunkannya dari kursi Presiden. Prayoga adalah salah satu orang yang benci sekali pada Soeharto meski dia bukan anak kuliahan. Katanya, “Soeharto itu diktator yang bakal buat hidup cucumu sama menderitanya sama hidupmu sekarang kalau tidak diberantas dari sekarang.”

Entah darimana pikiran seperti itu bisa muncul dari mulut Prayoga. Mungkin dari teman-temannya yang kuliah di UI dan buku-buku bagus, sumbangan mereka, yang dilahapnya tiap sebelum tidur. Oleh karenanya, semangat Prayoga berapi-api sekali pagi itu. 

Aku ingat betul muka sumringahnya kala mendengar kematian enam orang mahasiswa Trisakti di hari itu. Dia bilang, “Sudah mulai, Bro. Soeharto bakal berakhir hari ini. Dia cuma bakal jadi sejarah kelam!” sambil tertawa girang.

Sementara Jakarta berubah bising, bau keringat, dan mencekam hari itu. Polisi dan mahasiswa saling lempar botol, ada juga yang lempar batu. Sebagian mahasiswa lainnya menyanyikan mars anti Orde Baru saat dua orang kawannya sedang berorasi. Di saat yang sama pula gas air mata disemprotkan ke udara. Aku merasa posisiku hari itu sudah cukup aman dari jangkauan kekisruhan. Tapi gas air mata yang disemprot membabi buta sampai juga ke mataku. Membuatnya perih dan berlinangan air mata. Pandanganku mengabur, dan di saat itulah aku mendengar suara terakhir Prayoga. Katanya, “tunggu di sini, Bro. Jangan ke mana-mana.”
Lantas dia berlari ke arah kerumunan dan tenggelam  di sana. 

Aku menunggu di situ. Menepati janji pada Prayoga sampai kerumunan itu hilang di malam hari, mungkin subuh. Karena tak kunjung dijemput, aku akhirnya beranjak. Pergi ke kantor Prayoga sambil berjalan kaki. Dan pemandangan neraka tak mungkin lebih seram dari pemandangan yang kulihat malam itu.

Api menyala-nyala membakar ruko-ruko sekitar. Dinding-dinding sebagian ruko sudah jebol. Mungkin dijarah. Jalanan sepi, tapi banyak sekali bangkai mobil dan sepeda motor gosong yang berserakan di jalan raya. Aku bahkan melihat dua orang bersimbah darah tergeletak tak bernyawa di sebuah simpang.

Kupikir hari itu adalah hari kiamat, yang orang-orang bilang akan segera datang. Untung, aku bertemu Suci, pacar Prayoga yang adalah wartawan senior di tempatnya bekerja. Olehnya, aku dibawa ke kantor mereka dan dibuat sadar dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Kerusuhan ini karena enam mahasiswa Trisakti yang mati tadi. Prayoga benar. Ternyata tak hanya mahasiswa yang membenci Soeharto. Semua orang benci dia dan pemerintahannya yang korup.

Wartawan-wartawan inilah saksi hidup segalanya yang tiran terjadi di negeri ini. Merekalah yang menyimpan banyak sekali tumpukan arsip pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan pemerintah, yang tak pernah kulihat di TVRI, atau stasiun TV swasta yang mulai menjamur itu. Yang aku dan warga Indonesia lihat hanyalah yang pemerintah ingin kami lihat, ternyata.

Sampai dua hari berikutnya, tepat tanggal 14 Mei, aku masih di sana. Melihat langsung neraka yang belum meninggalkan Jakarta. Makin banyak mayat yang dibiarkan saja tergeletak di pinggir jalan. Ruko, mal, segala tempat yang mungkin menyimpan harta benda dijebol dan dijarah. Demonstrasi masih terjadi. Baku hantam polisi-mahasiswa seolah jadi makanan sehari-hari. Seperti yang kubilang, neraka masih di sini.

Dan di malam itu, aku ingat sekali, kala sekitar dua puluh orang pria bertubuh rupa-rupa: gemuk, ceking, berotot, bertato, muka bekas tersayat parang, datang ke kantor Suci. Mereka mengobrak-abrik semua kabinet yang ada di kantor itu. Menjungkir-balikan meja dan sofa di ruang tamu. Dan sempat menarik kerah kemeja Mas Handy, reporter senior di sana. Salah satunya, yang pegang kerah Mas Handy bilang, “Kalau sampai kita lihat yang enggak-enggak keluar di koran lo, lo pikir baik-baik aja deh!”

Ketegangan itu berlangsung sekitar dua jam. Dan anak bau kencur sepertiku sudah setengah mati ketakutan. Tapi merasa takut di tengah neraka membuatku merasa masih hidup, masih punya harapan, dan mulai terbakar semangat revolusi yang masih bernyala garang di hati semua wartawan ini.

Sampai tanggal 21 Mei, sampai Soeharto menyatakan pemundurannya sebagai Presiden di Kairo sana, neraka masih ada di sini. Bahkan sampai Desember, hal ini jadi makanan sehari-hari. Demonstrasi masih berlangsung. Semuanya kuikuti bersama Suci dan Mas Handy, dan teman-teman mereka yang seolah-olah punya kekuatan lebih menghadapi neraka ini karena profesi mereka sebagai wartawan.

Meski kantor itu seperti kapal pecah, apalagi setelah penyerangan di malam 14 Mei kemarin, dan semua wartawan di sana memang tak punya waktu senggang sedikit saja untuk merapikannya karena dikejar-kejar tenggat, tapi kantor itulah rumah pertama yang kurasakan. Di sanalah aku benar-benar merasakan hidup. Di tengah arus informasi yang keluar-masuk setiap saat ke telinga, menjadikan aku orang pertama yang tahu segalanya.

Meski risikonya ternyata tak main-main: kehidupan orang-orang ini jadi ikut-ikutan tak rapi, karena tekanan pekerjaaannya. 

Seperti Suci yang benar-benar tak punya teman karib lagi setelah menghilangnya Prayoga, atau Mas Handy yang bercerai dengan istrinya karena tak mau diajak eksodus ke Singapura. Maklum saja Mas Handy dan istrinya masih keturunan Tionghoa kental.

Di antara mereka, memang jarang ada yang ingat untuk merapikan hidupnya masing-masing. Tapi, bukankah itu syarat jadi andal seperti mereka? Mengabdi pada apa yang mereka kerjakan. Dengan sangat profesional dan jujur. Mereka hanya tidur empat-lima jam sehari. Itu sudah paling banyak. Malah lebih sering bergadang tiga hari, ditemani literatur pendukung liputan dan sepeda motor ringkih merk Astrea yang disiapkan kantor untuk menemui narasumber, kapan saja. Untung ada beberapa office boy yang disiapkan untuk merawat perut kami—kini aku juga jadi penghuni kantor itu sepeninggal Prayoga.

Kehidupan-beradu-cepat-dengan-waktu begitu ternyata yang akhirnya kuputuskan untuk dipilih. Itulah satu-satunya alasanku berkuliah: ingin jadi wartawan seperti Mas Handy dan Suci, juga Prayoga, temanku yang gagah berani. Jadi, ketika ada kesempatan bisa bergabung dengan pers mahasiswa di universitas, aku tak menyia-nyiakannya.

“Massa sudah ramai, Mas. Katanya yang di Monas sudah kisruh. Ada FPI di sana.” Si bocah menggangu lamunanku. Dia daritadi bersenggama dengan gadget-nya,  mengumpulkan informasi terbaru dari semua media sosialnya. Aku yang suruh.

“Kamu pakai saja helm-ku. Oh ya, pegang kamera ini. Hari ini aku mau ikuti kronologis saja. Kamu yang cari momen. Kita pisah di sini ya,” kataku.

“Loh, kok begitu, Mas?”

“Kamu pernah dengar Tragedi Mei 1998, kan? Pastilah. Pemred pasti tahulah.” Aku tersenyum sambil pegang pundaknya. “Percayalah, Bro. Hari ini, 22 Juli, 16 tahun setelah tragedi itu, bakal jadi hari yang jauh lebih keren. Itu kalau elo masih hidup setelah hari ini.”

Bocah itu malah senyum. Dan aku mendapatkan satu perbedaan di antara kami. Dia, tak bisa dipungkiri, jauh lebih siap daripada aku dulu untuk neraka hari ini.

Thursday, December 25, 2014

,   |   No comments   |  

Sudahkah Kau Memberi Makan Batinmu, Alia?


Dahulu kala, kata ibuku, miliaran tahun sebelum manusia ada, bahkan jutaan tahun sebelum dinosaurus pertama lahir di dunia, dan sekitar dua ribu tahun sebelum jagat raya ini terbentuk, Tuhan lebih dulu menciptakan sesosok makhluk yang kini masih ada, tapi tak lagi bisa kaulihat bentuknya.
Kala itu, malaikat dan iblis masih hidup di surga bersama-sama. Tapi makhluk ini diasingkan Tuhan dari tanah surga. Ia tak mau malaikat dan iblis menganggu makhluk-makhluk yang ia beri nama Bath ini.
Sebabnya sederhana. Makhluk ini sangat rapuh. Mereka diciptakan dari zat ringan semacam asap bernama Bath. Zat ini hanya bisa kautemukan di atas sebuah sungai cahaya di tanah surga tingkat empat. Mereka sengaja diciptakan Tuhan untuk mengisi sebuah bejana bernama Dunja. Bejana ini letaknya sangat jauh dari surga, kira-kira delapan ratus triliun kali kau mengelilingi setiap inci Bumi.
Kelak, bejana bernama Dunja ini yang akan jadi cikal-bakal jagat raya yang sekarang kautinggali.
Di Dunja, Bath pertama diciptakan Tuhan. Bentuknya seperti ameba yang kaukenal sekarang, namun tidak hijau dan tidak sekecil itu. Ia menggeliat-liat di udara Dunja. Lebih tepatnya melayang. Bath tak punya mata, telinga, atau organ lainnya seperti yang kau dan makhluk lain miliki. Ukuran Bath hanya sebesar jantungmu. Sementara besar Dunja hanya sebesar kepala Spinx di Mesir.
Meskipun kecil, ternyata Dunja terasa sangat luas bagi Bath pertama. Sehingga ia berdialog dengan Tuhan. Jangan tanya bagaimana, karena Tuhan punya cara-cara berdialog yang otak manusia tak bisa jangkau caranya. Jadi, percaya sajalah.
Bath pertama cerita pada Tuhan, bahwa ia merasa benar-benar kesepian hidup sendiri di Bejana Dunja. Kerjanya hanya makan dan melayang seharian di Dunja, sendirian.
Ah ya, aku lupa bilang, kalau Bath bisa makan meski ia tak punya mulut. Tentu kau sudah tahu, meskipun aku belum bilang, kan?
Seperti malaikat yang membutuhkan asupan cahaya setiap hari, serta kasih Tuhan yang jadi makanan utamanya tiap hari, atau iblis yang membutuhkan amarah, dengki, dan kebencian sebagai santapannya, Bath juga butuh makan.
Dan semua makanan malaikat-iblis adalah makanan Bath.
Sebenarnya, kesepian yang dirasakan Bath pertama adalah hasil dari makanannya. Semua yang ia makan menjalari tubuhnya dan berubah jadi bermacam keinginan. Hal inilah yang kemudian, saat manusia sudah menemukan bahasa, disebut sebagai hasrat. Sesuatu yang kelak akan sangat dielu-elukan manusia, sesuatu yang akhirnya dikejar semua manusia untuk diwujudkan. Karena hasrat adalah apa yang dikejar manusia seumur hidupnya.
Malaikat dan iblis tentu saja tak memiliki hasrat, sebab yang ia makan tidak sebanyak yang Bath makan.
Sehingga malaikat dan iblis memang tak banyak minta pada Tuhan. Seperti Bath pertama yang akhirnya meminta satu lagi Bath diciptakan Tuhan untuk menemaninya di Bejana Dunja.
Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang tentu saja mengabulkan permohonan Bath pertama.
Namun, karena sudah ada dua Bath di dalam Bejana Dunja, maka Tuhan memberikan mereka nama. Supaya masing-masing Bath punya identitas. Bath pertama diberi nama Jiwa. Sedangkan Bath kedua diberi nama Roh. Pemberian nama ini ternyata asal mula terjadinya perdebatan tentang pembeda-bedaan di dunia kita sekarang. Inilah cikal-bakal dari kata rasis, nantinya.
Berjuta-juta tahun berlalu. Kehadiran Roh ternyata membuat Jiwa begitu gembira. Hidupnya di Bejana Dunja jadi lebih bersemangat. Roh juga merasakan hal yang sama atas eksistensi Jiwa. Kedekatan keduanya kemudian menimbulkan elemen baru yang kelak dikenal sebagai cinta. Cinta inilah yang kemudian merubah warna kedua Bath ini menjadi lebih terang. Kalau sebelumnya mereka lebih terlihat seperti asap, karena cinta, tubuh mereka lebih mengilat sekaligus lebih transparan. Mirip-mirip cahaya.
Karena cinta pula, Jiwa dan Roh akhirnya beranak-pinak.
Dalam berjuta-juta tahun itu, Bejana Dunja jadi sempit karena kelahiran ribuan Bath lainnya. Tubuh Bath yang terjebak dalam keabadian menjadi alasan penuhnya Bejana Dunja.
Akibat penuhnya Bejana Dunja ini, Jiwa akhirnya kembali mohon kepada Tuhan untuk membinasakan Bath-Bath lainnya. Ia minta Tuhan untuk membuat Bejana Dunja kembali kosong, seperti sedia kala, saat ia hanya hidup berdua dengan Roh.
Permohonan ini diketahui oleh Bath lainnya, termasuk Roh. Meski sangat mencintai Jiwa, tapi Roh tak ingin kehilangan anak-cucunya. Untuk dua ribu tahun selama permohonan Jiwa belum dikabulkan Tuhan, Bejana Dunja jadi tempat paling rusuh. Semua Bath yang memakan kebencian, amarah, dan makanan iblis lebih banyak ketimbang makanan malaikat, mengamuk dahsyat. Akibat kerusuhan ini, di suatu ketika Bejana Dunja pecah.
Ia berantakan jadi sebuah keadaan hampa berwarna hitam. Keadaan ini yang kemudian kita kenal sebagai jagat raya. Tapi waktu pertama kali ada, jagat raya masih kosong tanpa bintang ataupun planet. Yang ada hanya Bath-Bath yang tersesat. Termasuk Jiwa dan Roh.
Selama ribuan tahun, mereka terpisah. Di jagat raya yang begitu luas, kemungkinan satu Bath bertemu dengan Bath lainnya hanya satu berbanding satu juta cahaya. Sehingga Jiwa kembali merasa sepi. Dan ia akhirnya kembali memohon pada Tuhan, kali ini ia tak lupa menambahkan kata “segera” dalam dialognya pada Tuhan. Ia ingin sesegera mungkin dipertemukan kembali dengan Roh.
Sambil menunggu permintaannya dikabulkan, Jiwa mulai mendengar tentang keberadaan surga. Selama ini Jiwa pikir, hanya Bath-lah makhluk yang diciptakan Tuhan. Sambil menunggu bertemu dengan Roh, Jiwa melayang-layang menjauhi jagat raya dan mencari keberadaan surga.
Saat ia tiba di surga, saat itulah permintaan itu dikabulkan Tuhan. Jiwa kembali bertemu dengan Roh. Mereka berdua adalah Bath pertama yang akhirnya bisa sampai ke surga.
Di surga, Jiwa memang tak lagi sendiri. Ada banyak sekali malaikat yang cantik-cantik, juga iblis-iblis buruk rupa yang menyeimbangkan luasnya tanah surga. Tapi Jiwa cemburu. Malaikat dan iblis punya bentuk tubuh yang lebih lengkap daripada ia yang hanya terlihat seperti asap. Oleh karenanya, Jiwa meminta Tuhan menciptakan makhluk yang lebih sempurna bentuknya daripada malaikat dan iblis. Kali ini, Tuhan tak lama-lama mengabulkan permintaan Jiwa. Sebab di saat bersamaan, Tuhan sedang mempersiapkan Bumi, tempat tinggal baru untuk Jiwa dan Roh, makhluk kesayangannya.
Bentuk Bumi yang tak terlalu jauh berbeda dengan surga, memang akan jadi tantangan berat bagi bentuk tubuh Jiwa dan Roh. Sehingga Jiwa dan Roh ditiupkan ke sebuah tubuh yang kemudian dipanggil Adam.
Dalam tubuh itu, Jiwa dan Roh hidup saling melengkapi. Tapi bentuk baru tubuh mereka tak bisa lagi hanya memakan apa yang biasanya mereka makan. Kini, daging dan darah di tubuh itu perlu air dan daging buah serta daging hewan untuk tetap bisa bertahan. Tapi tubuh Adam, yang sebenarnya adalah Bath tetap membutuhkan asupan harapan, kebencian, amarah, kasih, cahaya serta kegelapan untuk tetap hidup.
Itulah mengapa manusia, butuh mengisi batin—nama lain Bath di masa kini—mereka. Sebab kebutuhan asli manusia adalah apa yang dibutuhkan batinnya. Di sanalah letak asal-mula segalanya yang ada di dunia ini. Bumi hanya menyediakan apa yang batin manusia minta.
“Alia!” ibu berteriak dari lantai bawah memanggilku.
“Ya, Bu?”
“Sudahkah kau memberi makan batinmu, Alia?”
,   |   No comments   |  

Syair tentang Nirmala dan Umur Panjangnya

Tak sengaja, kutemukan sebuah syair tentang seorang gadis bernama Nirmala. Dalam syair itu, Nirmala disebut-sebut sebagai gadis paling cantik di dunia ini. Matanya hitam bak jelaga kendi, hidungnya runcing nan mungil bak ujung permata yang diasah oleh ahli batu mulia paling tersohor, sedang bibirnya penuh dan merah bak buah tomat baru matang: betul-betul menggoda. Belum lagi, Nirmala punya tubuh sintal yang kelewat ramping untuk gadis-gadis Melayu pada zamannya. Tapi buah dadanya segar, tak terlalu kecil, pun tak kelewat besar. Diceritakan pula, kalau berjalan, maka semua mata pria akan tertanam ke pinggul montok dan kaki jenjang Nirmala.
Tapi sayang, gadis tercantik di dunia itu sekaligus jadi gadis paling terkutuk di jagat raya ini. Syair itu bilang, Bisalah jadi Nirmala memang gadis tercantik di dunia, tapi tiadalah lagi yang paling dikutuk selain jadi tercantik di jagat raya.
Dan syair itu berakhir di sana. Kertas tempat ia dituliskan memang robek setengah. Jadi, aku tak benar-benar tahu jika bait terakhir memanglah bait terakhir syair itu.
Kertasnya aku dapatkan dari balik bantal nenek saat bangun tadi pagi. Tapi, nenek sedang menyiapkan sarapan bersama Nini, pengasuh nenek yang dibayarnya dari panti jompo, jadi aku tak bisa langsung tanya. Lantas kubaca saja. Dan di sinilah aku sekarang, terjebak penasaran atas kisah si cantik Nirmala.
Saat nenek teriak memanggil namaku dari dapur, aku tahu itu saat yang tepat bertanya padanya tentang Nirmala dan secarik kertas berisi syair tentangnya ini.
“Kau dapat kertas itu dari mana?” muka nenek awalnya sangat terkejut.
“Bawah bantalmu, Nek,” kataku.
Lantas ada hening panjang di antara kami. Nenek menghela napasnya dulu. Kemudian meletakkan wajan berisi omelet yang ia masak di atas kompor. Lalu duduk di kursi di sebelahku. Matanya kemudian menerawang. Tapi kemudian, seulas senyum terpampang di wajahnya, sebelum akhirnya ia bercerita padaku:
***
Dahulu di negeri Melayu, di Tanah Deli, hidup seorang gadis jelita bernama Nirmala. Waktu itu, tepatnya tahun 1672, Nirmala masih gadis belia berusia 16 tahun. Ia memang dianugerahi kecantikan seribu dewi di Bumi dan seribu bidadari di surga. Rambutnya bergelombang dan mengeluarkan wewangian alami yang bisa membuat orang tersenyum saat menciumnya. Mata sehitam jelaga kendi, dengan gigi-geligi seputih kapas. Sangat menawan saat ia tersenyum, karena dibungkus oleh dua belah bibir penuh yang berwarna merah delima, tanpa gincu buatan.
Kakinya jenjang, mirip kaki noni-noni Belanda. Tubuhnya sintal, tak seperti putri-putri Melayu lain yang mulai gendut karena kue-kue impor dari Belanda yang terbuat dari keju dan mentega paling berlemak sedunia.
Tiap pria yang melihatnya, muda-tua, bujang-beristri, renta-belia, selalu mengences tapi hanya bisa membawa Nirmala sebatas fantasi sebelum tidur. Sebab, Nirmala memanglah salah satu putri dari Sultan Tuanku Panglima Gocah, sultan pertama yang membangun Kesultanan Deli. Ia bergelar Putri Nan Beluan, namun punya panggilan kecil bernama Nirmala yang berarti suci atau tanpa cacat, persis dengan kesempurnaan fisik yang dimilikinya sejak lahir.
Namun, di balik kecantikannya yang luar biasa, Nirmala ternyata dikutuk sejak lahir. Kata dukun beranak yang menangani persalinan Sang Permaisuri, putrinya memang akan terlahir cantik jelita, tapi di balik kecantikannya nanti, umur sang putri akan berhenti di usia 17 tahun.
Lepas beberapa detik mengatakan itu, sang dukun malah tewas mendadak tersedak napasnya sendiri.
Meski enggan percaya, tapi Sang Permaisuri menangis sepanjang malam mendengar ucapan si dukun. Seumur hidupnya tak pernah sama lagi, ia akan selalu menangis ketika memandangi putrinya, Nirmala. Bahkan Sang Permaisuri mangkat saat Nirmala berusia tujuh tahun. Ia wafat karena kesedihan yang menggerogoti jantungnya.
Nirmala memang tumbuh sempurna sebagai gadis cantik jelita.Puja-puji memang tak pernah absen mengisi harinya.Ia senang jadi gadis jelita, tapi di balik itu semua ia juga merasa terbebani atas kematian ibunya. Pun, ketakutan atas kutukan yang lahir bersamanya.
Atas ketakutan itu pula, akhirnya Nirmala diputuskan akan menikah di usia 16 tahun. Ia sebenarnya tak senang, tapi tak baik melawan raja. Lagi pula, sebelum meninggal Nirmala juga ingin mencicipi jadi seorang istri.
Maka ia dipersunting oleh seorang Raja dari Negeri Melayu di Pulau Borneo yang sudah kepala lima, jadi istri ketiga.
Mendekati ulang tahunnya ketujuh belas, Nirmala makin ketakutan. Tapi ia akhirnya mengikhlaskan segalanya pada Tuhan. Di malam terakhir ia berusia enam belas, Nirmala berdoa pada Tuhan. “Ambillah nyawa hamba, wahai Engkau pemilik jagat raya.Tapi hamba mohon, Engkau bersudi kira memberi hamba keturunan. Agar orang-orang pernah ingat, bila sorang subang bertajuk[1] Nirmala pernah hidup.” Lalu ia menangis sejadi-jadinya.
Esok hari tiba, dan akhirnya berakhir. Tapi Nirmala ternyata tak wafat di hari itu. Bahkan setahun lewat, dan ia berulang tahun kedelapan belas, sembilan belas, lalu dua puluh sembilan. Kutukan itu ternyata bukan tentang berakhirnya hidup Nirmala. Ia ternyata tak mati. Tapi, umurnya memang berhenti di angka tujuh belas.
Nirmala dikutuk untuk hidup abadi.
Semua orang mulai menyadarinya ketika ia berulang tahun yang ketiga puluh. Tapi tubuhnya masih cantik bak gadis belas berusia tujuh belas tahun. Padahal ia sudah beranak empat kali. Hamil pertamanya ia ketahui di ulang tahunnya ketujuh belas.
Kecantikan Nirmala ternyata juga abadi seperti tubuhnya. Membuat Raja Negeri Melayu di Pulau Borneo akhirnya menceraikan lima istri lainnya, karena bangga beristrikan Nirmala seorang.
Dan di sanalah kutukan Nirmala mulai terasa. Kelima mantan istri Sang Raja yang ditikam patah hati, akhirnya bersekongkol mencelakai Nirmala. Ia berusaha dilempar ke jurang. Tiga dari empat anaknya tewas karena insiden itu. Tapi Nirmala tetap tak bisa mati. Ia telah dikutuk hidup abadi dengan kecantikan tiada tara sejagat raya.
Kutukan itu kembali terasa seperti kutukan yang sebenarnya, saat orang-orang yang dicintai Nirmala mulai wafat dimakan usia. Ayah, kakak, adik, suami, dan bahkan anak serta menantunya.
Saat anaknya meninggal di usia tujuh puluh, bersama menantunya dalam sebuah perang, Nirmala benar-benar terpukul berat. Ia merasa kecantikan yang abadi di tubuh imortalnya mulai menyiksa. Ia mulai merasakan kesendirian dan kesepian yang akut. Sesuatu yang selalu jadi mimpi buruknya setiap malam. Menjalani hidup sendiri dalam sunyi dan sepi.
***
“Jadi, Nek, Nirmala masih hidup sampai sekarang?”
“Tentu saja,” kata nenek dengan muka yang sumringah, benar-benar beda dengan ekspresinya saat kutanyakan pertanyaan pertamaku tentang Nirmala.
“Wah, keren sekali. Tapi di mana sekarang dia, Nek?” aku juga tersenyum, tapi tiba-tiba sebuah pertanyaan tambahan meloncat dari mulutku yang penasaran alang kepalang. “Eh, memangnya nenek kenal dengan Nirmala?”
Nenek tertawa dulu sebelum menjawab, “Tentu aku kenal dia. Dia nenek buyutku, Sayang. Dan kalau kau mau tahu dia di mana, coba ke kamar Nini sana. Minta foto Nirmala padanya,” kata Nenek.
Foto Nirmala? Wah, aku tak perlu lagi membayangkan kecantikan Nirmala, nenek buyut nenekku itu. Aku bisa melihat fotonya. Aku langsung berlari ke kamar Nini. Meminta foto Nirmala.
Saat Nini tersenyum, kemudian merogoh-rogoh lipatan baju di lemarinya, karena permintaanku, aku menyadari sesuatu.
Bibir Nini penuh, rambutnya wangi dan sehitam jelaga kendi… tubuhnya juga ramping dan sintal. Jangan-jangan dia…

Wednesday, November 5, 2014

, ,   |   No comments   |  

Tadi Senja, Saya Mampir ke Gerbang Surga

Saya sedang berpikiran liar. Maksudnya, pikiran liar tentang diri saya sendiri. Bukan tentang buah dada menggiurkan milik Scarlett Johansson; atau bokong bahenol milik Beyonce Knowles (terkutuklah si jelek Jay Z yang sialnya sangat beruntung itu). Kali ini pikiran liar saya berisi semua apa-apa yang baunya negatif. Sedikit magis. Tapi sebenarnya sangat religius, tentang diri saya sendiri.
Pikiran-pikiran itu tentang kematian saya. Saya berpikir tentang bagaimana saya akan mati. Kapankah hal itu terjadi? Atau bagaimana orang-orang akan menyemayamkan jasad saya: akankah dikremasi, dipetikan, atau dibungkus kain kafan. Tapi yang jelas, orang-orang akan membongkar dulu isi dompet saya untuk mencari KTP, dan berakhir kecewa karena mereka hanya akan menemukan tanda garis penghubung di kolom agama. Dan karena pikiran ini saya tertawa.
Tak ada orang yang tahu kalau saya ini seorang agnostik. Orangtua saya juga sudah sejak lama memutuskan hubungan dengan cara mengusir saya, waktu saya masih duduk di bangku sekolah menengah. Sehingga identitas ini hanya diketahui oleh saya seorang. Karena saat memutuskan untuk jadi seorang agnostik, saya sedang sendiri, dan tak merasa punya tanggung jawab moral untuk memberitahu keputusan ini pada orang-orang.
Dan sebenarnya, identitas saya sebagai agnostik inilah yang membawa pikiran-pikiran tadi ke kepala saya. Semua pertanyaan-pertanyaan aneh yang harusnya tuntas di pikiran kita semua saat berusia delapan tahun. Saat pertanyaan tentang eksistensi Tuhan juga selesai kita jawab. Tapi, kita yang saya maksud adalah orang-orang yang meyakini agama. Agnostik seperti saya tak termasuk.
Kami dibuat bingung dengan tradisi-tradisi yang diciptakan agama. Tapi beruntung, abad 21 memberikan kita banyak sekali pilihan hidup. Dan lagi beruntung, karena salah satu pilihan itu adalah ‘memilih untuk tidak peduli dengan segala apa yang tak ingin kita pedulikan’. Tapi sekarang saya jadi mempedulikan satu hal yang selama ini tak saya pedulikan: tentang bagaimana kematian saya nanti? Tepatnya, bagaimana keadaan jasad saya nanti? Akan diapakan dia?
Semua pikiran ini akhirnya saya bawa ke Mas Dhan, flamboyan keparat yang sialnya adalah editor saya. Bujang lapuk-cerewet ini sialnya (lagi) adalah teman diskusi yang asyik. Dia mahatahu. Bukan sekadar serbatahu. Politik, ekonomi, sastra, hukum. Trias politika kacau yang dimiliki Indonesia, redenominasi yang ia sebut sebagai penanda berfungsinya otak manusia Indonesia, prosa-prosa beatnik yang gelap itu, bahkan hingga undang-undang desa termutakhir yang ia bilang sebagai, “undang-undang penipuan”.
“Penipuan?” tanyaku di sepotong sore, di Dunkin Donuts, saat gajiku atas lima artikel baru saja ditransfer bagian keuangan, dan sepertiganya dihabiskan si bujang lapuk keparat, Mas Dhan, sore itu juga.
“Pemerintah bilang di undang-undang itu, setiap desa di Indonesia akan dapat satu miliar. Tapi syaratnya dipersulit. Yang mereka anggap desa di Jawa harus punya enam ribu penduduk, Bali harus punya lima ribu penduduk. Sumatera harus punya empat ribu. Di Papua minimal 500 penduduk. Dari 72 ribu desa di negeri ini, sedikit sekali dong yang bisa dibilang desa,” ia tertawa sambil mengisap lintingan rokoknya.
Dan sialnya (untuk kesekian kali), si bujang lapuk memang selalu benar. Dan sangat rasional.
Begitu rasional pula menanggapi pertanyaan yang kubawa padanya sore tadi. Ia mengawali jawabannya dengan senyuman.
“Kamu maunya disemayamkan gimana?”
“Ha?” aku malah bingung, pertanyaan itu lupa kutanyakan pada diriku sendiri.
“Sudah kutebak, kau lupa pertanyaan satu ini.”
“Dikremasi!” tiba-tiba gagasan untuk tak punya kuburan sebagai tempat bersemayam, terdengar sangat… damai. “Aku tak mau sepuluh atau dua puluh tahun pascakematianku, kuburan yang menyimpan jasadku harus ditimbun bangunan apartemen atau mal. Ruhku pasti bakal sakit hati.”
“Pilihan bagus.”
Lalu, ada jeda. Ia mengisap linting rokoknya. Bujang lapuk ini memang perokok berat. Dalam sehari ia bisa menghabiskan tiga bungkus rokok.
“Lalu bagaimana?” jedanya terlalu lama. Aku butuh jawabannya lagi.
“Bagaimana apa?”
“Apa yang harus saya lakukan? Mayat saya pasti tidak akan bisa menjawab kalau ada yang tanya, hei kamu mau kami apakan? Bakar? Diikat tali pocong? Atau mau dicincang sekalian saja?”
Mas Dhan tertawa mendengar lelucon sarkastik saya. “Aku yang bakal jawab, Bodoh!” tangannya melemparkan kotak rokoknya yang sudah kosong ke kepalaku. Dan jitu!
Tapi lagi-lagi dia benar. Sekarang sudah ada orang yang tahu tentang identitas saya sebagai agnostik. Sudah ada orang yang akan mengkremasi tubuh jelek saya ini. Dan… saya tertawa karena kebodohan saya ini.
***
Saya sedang tidur siang di Kamis Legi saat dikabari kalau Mas Dhan tewas karena kanker paru-paru, dini harinya. Semua orang terkejut dengan kanker itu. Pasalnya tak ada yang tahu kalau tubuh si bujang lapuk sedang memakan dirinya sendiri. Tapi satu-dua orang sudah menduga, kalau Mas Dhan bakal koit digerogoti kanker. Dia kan pecandu akut rokok.
Kematiannya jadi sebuah ironi bagi saya. Sebabnya, perbincangan kami tiga minggu lalu adalah tentang bagaimana saya akan disemayamkan setelah bertemu kematian. Dan Mas Dhan berjanji bakal mengkremasi jasad saya. Sialnya, si bujang lapuk ini mencurangi saya dengan lebih dulu menemui Ezekiel. Betapa beruntungnya dia. Karena orang yang mati muda selalu dianggap keren, setidaknya saat pemakamannya para pelayat akan bicara hal-hal baik tentangnya. Bahwa yang bisa mati muda hanya orang-orang baik; orang-orang yang sangat dicintai Tuhan, orang-orang yang dirindukan-Nya.
Sial! Kenapa selalu saya yang sial dan Mas Dhan ini selalu beruntung! Bahkan saat dia sudah mati.
Di perbincangan itu, kami tak membahas pilihan alternatif kalau-kalau Mas Dhan yang mati lebih dulu. Dan karenanya sekarang saya kembali memikirkan bagaimana nanti saya akan disemayamkan? Siapa yang akan mengurus jasad saya?
Aduh, Mas Dhan. Kenapa kamu mati begitu cepat sih?
“Tidak usah bingung begitu. Mau diapakan pun jasadmu, ternyata itu tidak ada pengaruhnya. Kamu bisa tetap damai, Cameo.” Itu suara Mas Dhan. Dia tiba-tiba muncul di depan saya yang sedang singgah di makamnya, senja tadi.
“Kamu… jadi… hantu…, Mas?” saya memang tidak teriak, tapi Mas Dhan itu hantu pertama yang saya lihat.
“Aku tetap aku, Cameo. Cuma bedanya sekarang aku sudah tidak punya jasad lagi.” Dia tersenyum. “Oh, ya. Kamu harus cepat-cepat ke surga, Cam. Di sana benar-benar… aduh, tidak ada kata yang bisa benar-benar mendeskripsikannya.”
“Kamu editor, Mas. Cari kata yang tepat!” aku jadi penasaran.
Dia tertawa.
“Heh, tapi tunggu dulu. Jadi perokok akut seperti kamu bisa masuk surga? Kamu orang baik, ya, sampai-sampai neraka tidak mau menerima kamu.”
“Siapa bilang neraka ada.” Itu pernyataan bukan pertanyaan.
Aku menganga. Dan perbincangan kami berlanjut. Aku jadi seperti bocah lima tahun yang diajak mamanya belanja ke mal: jadi banyak tanya. Antusias, bising, dan banyak tanya.
Dan sejak hari itu, makam Mas Dhan jadi seperti surga bagiku. Aku akan datang ke sana jika butuh mendiskusikan sesuatu dengannya. Dan dia akan selalu datang saat senja, dan menjawab pertanyaan-pertanyaanku.

Tuesday, June 24, 2014

,   |   1 comment   |  

Kita yang Penulis Lepas Ini



Penulis Lepas! Kepalaku langsung berdenting ketika ekor mata ini menangkap kehadiranmu. Pemuda kusut yang karena takdir Tuhan lewat di depanku beberapa detik lalu. Entah kenapa kepalaku punya kekuatan gaib untuk menandai penulis lepas sepertimu. Mungkin karena perawakanmu yang khas sekali, bak penulis lepas di seluruh dunia ini: kaos berwarna muram, jins belel yang sobek di lutut, cambang-kumis-janggut yang tak dicukur karena tak sempat, bukan karena ikut-ikut tren; serta ransel buluk yang isinya (teramatlah pasti) komputer jinjing yang baterainya sudah soak sehingga ke mana pun kau pergi pasti menginting pengisi daya-nya.

Terlebih lagi kita bertemu di tempat ini, swalayan mini yang buka 24 jam. Tempatnya para penulis lepas bergadang, mengejar tenggat demi transferan di rekening. Kopi botolan dan kudapan ringan yang kau bawa semakin menguatkan tebakanku tentang siapa dirimu.

Eh... Kau melirik, lalu mengangkat sebelah alismu. Sapaan buatku yang lancang menatapmu lebih dari sepuluh detik. Sungguh memalukan.

Bukannya membalas sapaanmu, aku malah tunduk. Pura-pura tak lihat. Sungguh. Aku. Malu.

***

Penulis Lepas! Kepalaku berdenting. Setiap bertemu orang yang memakai kaos berwarna muram, jins belel yang sobek di lutut, dan tampang bantal, kepalaku langsung berdenting seperti sekarang ini. Mungkin juga karena tempat ini. Swalayan mini yang buka 24 jam biasanya adalah tempat tongkrongan mahasiswa semester awal mengerjakan tugas, atau mahasiswa akhir mengerjakan revisi bab dua skripsinya, dan makhluk seperti kita: penulis lepas yang dikejar tenggat.Walaupun yang terlihat di atas mejamu adalah bir dengan nol alkohol, tapi garis hitam di bawah matamu menunjukkan seberapa banyak kafein yang telah kau sedu dengan air hangat. Semakin meyakinkanku tentang siapa dirimu.

Denting di kepalaku semakin kencang saat ekor mata ini menangkap lirikan lancangmu. Dari sepuluh detik lalu, kau tanpa sadar memandangiku.

Iseng, kuangkat saja alis kiriku sambil membalas pandanganmu. Hitung-hitung sapaan buat rekan senasib. Tapi kau malah tunduk, malu, mungkin. Darah naik ke pipimu, membuatnya bersemu merah. Lucu. 

Tampangmu lucu. Apa aku kerjain sekalian saja?

Aku sengaja pindah meja, duduk di kursi kosong di kirimu. Lalu bilang, "Penulis lepas, kan?"

Sengaja pakai 'kan', karena sesungguhnya yang barusan hanya pertanyaan retorik.

***

Eh... Eh... Kau kok malah pindah meja? Kok jadi duduk di kursi kosong di kiriku?

Dan dengan senyum jail kau malah lancang bertanya padaku yang asing ini, "Penulis lepas, kan?" Sengaja pakai 'kan', seolah-olah melemparkan pertanyaan retorik.

Aku mengernyitkan dahi. Pasang muka terganggu. Pura-pura terganggu. Tapi aktingku hanya sebatas ekspresi saja, tak keluar melalui dialog. Sejujurnya aku gugup, mendadak aku sadar kalau kau bukan penulis lepas biasa. Wajahmu terlihat tampan dari jarak segini. Kau penulis lepas yang tampan! Dan mungkin saja kau itu penulis lepas-tampan yang cenayang juga.

"Hei, kau penulis lepas, kan?"

Eh, ternyata itu bukan pertanyaan retorik ya? "Tahu dari mana?"

Kau hanya tersenyum. Lantas menenggak kopi botolanmu.

***

Wajahmu makin merah. Makin lucu saat aku sudah duduk. Kau mengernyitkan dahi. Pasang muka terganggu. Atau pura-pura terganggu? Tapi aktingmu hanya sebatas ekspresi saja, tak ada dialog yang keluar. Kelihatan sekali gugup. Kau kelihatannya sadar sesuatu. Kenapa? Wajahku tampan? Atau kau mulai berpikir kalau aku cenayang?

Daripada kau diam saja, maka kutanyakam sekali lagi pertanyaan retorik tadi, "Hei, kau penulis lepas, kan?"
Kau mulai ragu kalau itu tadi retorik belaka, maka kau sahut dengan, "Tahu dari mana?"

***

Setelah ada jeda sejenak, kau mulai cerita. Kau memulainya dengan sebuah tanya, "Percaya takdir, tidak? Mungkinkah dua orang berbeda, yang tak pernah jumpa bisa punya pikiran yang sama? Seolah-olah pikiran mereka adalah kembar identik?"

Oke, itu tadi bukan satu pertanyaan. Itu tiga. Tapi jawabannya kan cuma satu: bisa saja iya, tidak, atau mungkin. Tapi aku memilih menjawab: tidak. Kau diam, tapi seperti ingin mendengar argumen dari alasanku. Maka aku berargumen. Setelah mendengarnya, kau bilang "Coba kau tuliskan kronologi pertemuan kita tadi. Lengkap dengan seluruh pikiran yang berkecamuk di sana," kau menunjuk kepalaku. "Aku juga tuliskan hal sama di laptop bututku," tambahmu seraya tersenyum. Anehnya, aku merasa ada yang ganjil di senyummu; dan di wajah tampanmu yang kelewat tampan tiap detik berdetak. Sayangnya, kelak baru kusadari alasannya.

Lima belas menit berlalu. Kau sudah selesai duluan menulis. Aku kebanyakan gugup. Tapi saat aku selesai dan kita bertukar laptop untuk membaca tulisan masing-masing, aku kaget kepalang alang. Mungkinkah ada manusia yang pikirannya kembar identik?

Tapi mendadak bulu-bulu di tengkuk leherku meremang hebat. Mungkin karena senyummu. Senyum yang memperlihatkan gigi-gigi taringmu bertumbuh cepat.


Sekarang kau bertanya, "Percaya kalau vampir itu ada?"