Thursday, December 25, 2014

  |   No comments   |  

The Giver: Simulacra Dunia Tanpa Konflik

 Ada Jeff Bridges, Meryl Streep, Katie Holmes, dan Taylor Swift. Tapi nama-nama ini tak akan mengalihkan perhatian Anda dari jalur cerita yang unik dan menarik.

Bayangkan sebuah tempat tanpa warna. Tanpa perbedaan. Tanpa kekerasan. Tanpa konflik. Ada manusia, tapi hidup mereka damai. Saling mengerti, saling percaya, dan tak ada yang berbohong sekali pun.
Di sanalah Jonas (Brenton Thwaites) hidup. Ia remaja tujuh belas tahun yang tak punya nama belakang. Sama seperti penduduk di kotanya. Mereka semua hidup dengan segala tetek-bengek aturan yang mewujudkan kedamaian dan kesamaan penduduknya: bijak berdiksi saat bicara, tak keluar lewat dari jam malam, berpakaian sepantasnya, dan jangan lupa “injeksi pagi”-mu.
Peraturan-peraturan ini yang membuat mereka melihat dunia hanya dalam satu warna: abu-abu.
Tapi Jonas berbeda. Ia merasakan perbedaan itu. Kadang, ia melihat pohon yang tak abu-abu, atau rambut Fiona (Odeya Rush), teman kecilnya, juga tak abu-abu. Tapi ia tak mau berbeda. “Lagipula, di dunia yang seluruhnya sama, kenapa harus ada yang berbeda?” kata Jonas di pembuka film.
Meski bisa melihat sesuatu selain abu-abu, sayangnya Jonas belum mengenal warna. Banyak hal dari masa lalu yang telah dihapus untuk menerapkan kedamaian dan kesamaan di kota itu. Selain warna, sejumlah kata juga dihapus.
Semuanya diatur oleh The Elders atau Para Tetua. Merekalah yang menyusun rutinitas kota dan menjaga kestabilan. Rupa-rupanya, untuk mewujudkan dunia yang benar-benar damai dan berdasarkan kesetaraan, ada banyak hal dari masa sekarang yang harus dinamai ulang. Tentu hal ini jadi lebih mudah saat semua memori telah dihapus.
Misalnya istilah ‘pelepasan’ di kota itu yang sebenarnya punya sinonim dengan euthanasia atau suntik mati di masa kini.
Selain menamai ulang banyak hal, mereka juga menciptakan stigma-stigma baru yang berujung membentuk simulacra. Sekali lagi, tentu saja hal ini untuk menciptakan dunia yang damai dan setara.
Simulacra adalah istilah yang ditemukan sosiolog Jean Baudrillard. Artinya, realitas tiruan yang tidak lagi mengacu pada realitas sesungguhnya. Dengan kata lain, realitas sesungguhnya sudah dibelokkan dan kemudian benar-benar ditutup dari acuannya. Tapi, realitas ini belum sepenuhnya sempurna dikatakan sebagai sebuah realitas karena hubungan timbal balik belum terjadi.
Di celah itulah pekerjaan Penerima Kenangan hadir. Dan sialnya, Jonas terlahir untuk pekerjaan itu.
Penerima Kenangan adalah orang yang harus menerima kenangan-kenangan dari masa lalu, yang diterima dari Penerima Kenangan sebelumnya. Para Tetua tetap membutuhkan Penerima Kenangan untuk membuat suatu kebijakan baru, demi menjaga kedamaian dan kesetaraan.
Di saat itulah Jonas dipertemukan dengan The Giver, Penerima Kenangan sebelum Jonas.  Dan ia menemukan fakta-fakta sejarah yang dihapus dari kotanya.
Jonas melihat proses melahirkan, orang-orang beribadah haji, menyembah Tuhan, gajah ditembak mati, perang, kelaparan, salju, dan kebengisan manusia lainnya. Sesuatu yang tak diketahui seorang pun di kotanya bila bukan Penerima Kenangan.

Jonas juga mulai mengerti kenapa Para Tetua menerapkan aturan-aturan tersebut. Tapi karena telah melihat dunia yang sebenarnya tak sesempit kotanya, Jonas mulai mengerti bahwa ‘pelepasan’, salah satu kebijakan yang diciptakan Para Tetua, adalah pembunuhan. Dan membunuh bukanlah hal yang baik.
Alur cerita film ini memang rumit sejak awal. Dunia rekaan Lois Lowry, penulis novelnya yang diadaptasi jadi film ini, memang berbeda sekali dengan dunia kita. Tapi, sutradara Phillip Noyce berhasil membuatnya gampang dicerna.
Pertama, ia menggunakan efek abu-abu di awal film diputar, agar penonton bisa merasakan betapa monotonnya dunia yang sedang dijalani Jonas dan komunitasnya. Lalu, Noyce mendekorasi semua penampakan di filmnya dengan benda-benda yang terlihat futuristik. Sehingga kita sadar, kalau lokasi dalam film itu pastilah terjadi puluhan bahkan mungkin ratusan tahun setelah masa sekarang. Sehingga kita lebih mudah mencerna alur cerita.
Bisa dibilang, Noyce berhasil menerjemahkan dunia utopis rekaan Lowry yang penuh dengan nilai-nilai filosofis. Nilai-nilai yang membuatmu bertanya-tanya tentang dunia kita sekarang, dan mau tak mau membandingkannya dengan simulacra dunia tanpa konflik milik Jonas dan komunitasnya.
Kehadiran aktor-aktor kondang seperti Jeff Bridgess, Meryl Streep, dan Katie Holmes tak lagi jadi fokus Anda saat menonton.
Simulacra dunia tanpa konflik ini akan membuat kita berpikir, haruskah kita mengorbankan satu nyawa atau mungkin satu kata saja untuk dilenyapkan, demi mengejar kehidupan yang sempurna, damai, dan setara?
  |   No comments   |  

Horns: Hubungan Dekat Setan dan Manusia

Daniel Radcliffe membuktikan dirinya sebagai aktor betulan di film ini. Selain total jadi setan, ia juga benar-benar buang jauh aksen british-nya demi jadi pria Amerika asli.


Adegan film pertama dibuka oleh sepasang muda-mudi yang sedang bermesraan di bawah pohon besar; sepertinya di hutan.Ialah Merrin yang diperankan si seksi Juno Temple, dan Ignatius Perrish yang diperankan mantan bocah sihir, Daniel Radcliffe.
Keduanya memang seperti muda-mudi yang sedang mabuk kepayang satu sama lain.
Ada dialog mesra yang kelewat mesum di antara mereka berdua. Intinya keduanya saling mencinta hingga maut yang memisahkan.
Adegan berganti. Sosok Ig, panggilan Ignatius, terkapar mabuk di lantai rumahnya. Ia mengintip ke luar rumah, dan seperti dugaannya, sekelompok wartawan dan warga sekitar sudah berkumpul di depan sana. Membawa beberapa tulisan mengejek tentang pembunuhan dan pembunuh.
Ig memang jadi tersangka utama tewasnya Merrin. Pacar yang menurutnya sangat ia cintai. Gadis itu ditemukan tewas dengan kepala pecah dihantam benda tumpul, tepat di bawah rumah pohon yang biasa jadi tempatnya pacaran dengan Ig. Mayat Merrin juga sudah divisum, dan ternyata si pembunuh memerkosa Merrin sebelum membunuhnya.
Ig merasa tak mungkin membunuhnya. Tapi semua orang di kota itu, termasuk ibu dan ayahnya yakin kalau ialah si pembunuh. Hanya Lee (Max Minghella), sahabatnya dan Terry Perish (Joe Anderson), abang Ig yang percaya kalau dia bukan pembunuh Merrin.
Tapi hanya dua orang yang mempercayainya? Yang benar saja. Apakah ia memang sebajingan itu?
Ig benar-benar marah pada dirinya sendiri.Sekaligus pada Tuhan.Di suatu malam, dalam keadaan mabuk, Ig mengencingi patung Bunda Maria yang ada di bawah rumah pohon tempat mayat Merrin ditemukan.Keesokan harinya hal aneh terjadi pada Ig. Di kepalanya tumbuh sepasang tanduk. Persis seperti tanduk setan.
Semua orang bisa melihatnya. Tapi merasa biasa-biasa saja. Seolah-olah tanduk itu memang ada sejak Ig lahir.
Ig berkunjung ke rumah sakit untuk menanyakan benda apa yang tumbuh di kepalanya itu. Tapi beberapa kejadian aneh lainnya terjadi. Mendadak semua orang yang berada di dekat Ig terang-terangan bercerita tentang dosa-dosanya pada Ig. Beberapa lainnya bahkan bercerita pada Ig tentang rencana jahat mereka. Seolah-olah Ig memang hadir untuk mendengarkan pikiran-pikiran jahat semua orang-orang itu.
Anehnya lagi, orang-orang ini akan mengikuti saran Ig dengan  sangat sadar. Misalnya ketika dokter yang ingin membedah tanduk di kepala Ig bertanya, “Bolehkah aku bercinta dengan susterku?”
Ig yang dalam keadaan terbius ternyata mengangguk. Dan ketika sadar, ia melihat dokternya sedang bercinta dengan si suster.
Menyadari kekuatan barunya ini, Ig memanfaatkannya untuk mengungkap siapa pembunuh Merrin sebenarnya. Dan kekuatan itu ternyata sangat membantu. Orang-orang jadi lebih terbuka pada Ig. Ia tak hanya semakin dekat dengan pembunuh Merrin yang sebenarnya, tapi karena kekuatan Ig, ia jadi tahu pikiran-pikiran orang sekitarnya tentang dirinya.
Ig jadi tahu kalau ayahnya ternyata tak pernah bangga punya anak sepertinya. Ia jadi tahu kalau ibunya juga malu punya anak seperti ia, dan berharap Ig pergi jauh dari kehidupan keluarganya. Karena status Ig yang merupakan tersangka telah merusak hidup sang ibu.
Tentu hal ini membuat Ig semakin tertekan. Ia sadar kalau tak ada orang di dunia ini yang begitu mencintai dirinya sebagaimana Merrin mencintainya. Kekuatan itu membantunya mengetahui mana orang yang baik padanya dengan tulus, dan mana yang hanya berpura-pura.
Tapi kekuatan Ig tak berlaku pada Lee. Teman sekaligus pengacaranya itu bahkan tak bisa melihat tanduk besar yang tumbuh di kepala Ig. Ig mengambil teori bahwa orang baik seperti Lee memang tak akan bisa melihat tanduk setan di kepalanya. Tapi teori Ig gagal dibuktikannya pada Terry, abangnya yang ia kira juga orang baik.
Terry bahkan akhirnya mengakui bahwa ia adalah orang terakhir yang melihat sosok Merrin. Bahkan batu yang menghantam kepala Merrin sempat singgah di tangannya. Lagi, Ig dikhianati orang yang dikiranya baik padanya.
Alur maju-mundur jadi hidangan utama dalam film ini.Alur begini yang akhirnya membuat kita paham kronologi pembunuhan Merrin.Bahwa ternyata, Lee memakai kalung suci milik Merrin yang melindunginya dari kekuatan Ig. Dan Lee-lah yang ternyata memerkosa Merrin dan kemudian membunuh gadis malang itu.
Film yang diangkat dari novel Joe Hill berjudul sama ini memang bercerita tentang hubungan akrab manusia dan setan.
Sosok Ignatius yang mendadak punya tanduk adalah personifikasi dari setan. Kemampuannya untuk membuat orang-orang bercerita tentang dosa mereka juga metafora dari keakraban manusia dan setan. Menggambarkan betapa dekatnya kita dengan tindakan-tindakan irasional dan ceroboh yang bermula dari nafsu.
Cerita brilian dari Joe Hill ini berhasil diterjemahkan dengan baik ke dalam layar lebar oleh Alexandre Aja, sang sutradara. Para pemain seperti Daniel Radcliffe dan Juno Temple juga berhasil menghidupkan suasana cerita dengan penampilan akting mereka yang penuh emosi. Bahkan setiap karakter pendukung berhasil membangun suasana manusia-manusia hipokrit yang jadi tema utama film ini.
Pantas saja Joe Hill, sang pencipta kisah Horn ini bilang kalau penampilan Radcliffe sebagai Ig Perrish adalah penampilan terbaiknya di layar lebar sejauh ini. “Dialah Ig Perrish yang luar biasa!” kata Joe Hill.
  |   2 comments   |  

Buah Simalakama Dalam Mockingjay

Katnis lepas dari kandang berbahaya bernama Hunger Games. Tak ada lagi permainan hidup dan mati. Tak ada lagi trik bertahan hidup demi jadi juara. Yang tertinggal hanya semangat memperjuangkan revolusi.

Seperti film berseri Harry Potter atau Twilight, film terakhir dari trilogi The Hunger Games ini juga dibagi jadi dua film. Alasannya? Karena dua film pasti menghasilkan keuntungan lebih banyak, ketimbang satu film saja.
Sejak awal pula, penonton juga sudah diberitahu kalau film pertama Mockingjay ini akan diakhiri dengan pertemuan Katniss (Jennifer Lawrence) dan Peeta (Josh Hutcherson). Sehingga bagi mereka yang telah membaca bukunya, alur cerita dengan sangat mudah akan bisa ditebak. Tentu pemberitahuan ini akan jadi buah simalakama bagi Francis Lawrence, sang sutradara, bila ia tak pandai menyelipkan kejutan-kejutan pada filmnya ini.
Tapi, benarkah begitu? Benarkah The Hunger Games: Mockingjay – Part I ini akan jadi film biasa-biasa saja? Mari kita telaah!
Film ini dibuka dengan kegelapan dan suara ketakutan Katniss. Ia kembali mengigau. Luka batin yang ditinggalkan permainan Quarter Quell di film sebelumnya The Hunger Games: Catching Fire masih kentara terlihat di tampang Katniss. Di film itu, ia kehilangan Peeta Mellark, sahabat yang sadar tak sadar mulai dicintainya.
Katniss terbangun di fasilitas bawah tanah militer milik Distrik 13, sebuah negara bagian yang selama ini eksistensinya bagaikan dongeng. Tak ada yang percaya kalau distrik ini masih ada hingga mereka sendiri berada di dalamnya, termasuk Katniss. Sebab, kehancuran Distrik 13-lah yang menjadi sejarah bermulanya permainan Hunger Games di negeri bernama Panem itu. Sebuah permainan yang akhirnya menjebak Katniss Everdeen menjadi salah satu petarung yang berhasil memenangkannya.
Kemenangan Katniss, yang berasal dari Distrik 12, distrik termiskin di Panem ternyata memercikan api revolusi di seluruh hati rakyat Panem, rakyat yang merasa terjajah oleh presiden mereka, Coriolanus Snow (Donald Sutherland). Inilah yang dimanfaatkan Alma Coin (Julianne Moore), Presiden Distrik 13 yang sekaligus jadi pemimpin revolusi.
Sosok Katniss dibentuk jadi lambang revolusi melawan kediktatoran Presiden Snow. Mereka menyebutnya sebagai Mockingjay, judul asli buku yang diadaptasi jadi film ini.
Presiden Coin, dibantu Plutarch Havensbee yang diperankan dengan sangat brilian oleh mendiang Philip Seymour Hoffman. Plutarch adalah kepala produksi Quarter Quell yang ternyata bagian dari pemberontakan terhadap Snow. Melaluinya, Katniss dibuatkan video-video propaganda yang bisa menyulutkan semangat para pemberontak yang terpisah-pisah di distrik masing-masing.
Hal ini bukan pekerjaan mudah, karena karakter Katniss yang kaku dan tak ramah. Belum lagi luka batinnya karena masih tak tahu kabar Peeta yang ditawan di Capitol, ibukota Panem, bersama sang Presiden Snow.
Dibantu Haymitch (Woody Harrelson) dan Effie Trinket (Elizabeth Banks), tim kemenangan Katniss saat masih hidup di Capitol, akhirnya Plutarch menciptakan video-video propaganda yang sukses. Banyak pemberontak makin bersatu dan mulai melakukan pergerakan melawan tentara-tentara milik Snow.
Seperti yang telah diberitahukan pada penonton, film ini diakhiri dengan pertemuan Katniss dan Peeta; tak ada yang meleset seperti yang dituliskan Suzanne Collins, sang empunya buku. Tapi sutradara Francis Lawrence sedikit membiarkan stafnya di dek penulisan naskah untuk berimprovisasi. Sama seperti film sebelumnya The Hunger Games: Catching Fire.
Kesempatan ini tak dibiarkan begitu saja oleh Danny Strong dan Peter Craig, dua orang dalang di dek penulisan naskah.
Mereka sedikit merombak detail dan menciptakan alur cerita yang lebih menarik daripada di bukunya. Seperti saat segerombolan massa membombardir bendungan yang jadi sumber listrik Capitol, atau adegan Katniss mengobrol santai dengan Presiden Snow melalui sambungan jarak jauh yang berubah horor di akhir.
Beberapa adegan lainnya juga diimprovisasi Strong dan Craig, menjadikan film yang dipotong ini jadi lebih segar dari semestinya.
Mockingjay memang bukan buku terbaik dari trilogi Hunger Games karya Collins. Ceritanya yang terkesan dimolor-molorkan menjadi sebab utama jeleknya buku Mockingjay. Ditambah lagi dengan keputusan memotong buku ini jadi dua film. Tentu saja ini jadi pekerjaan berat untuk menghadirkan film penutup yang apik bagi legenda si Katniss, gadis suci pemantik revolusi.

Tapi, bersyukurlah Lawrence karena bisa bekerja sama dengan Strong dan Craig yang membantunya membuat film ini tetap segar. Sebab percuma saja akting baik Jennifer Lawrence dan seperangkat aktor kawakan lainnya kalau plot film ini begitu molor.
Terima kasih pula patut dipersembahkan kepada Strong dan Craig yang berani menggantikan karakter Falvius, Octavia, dan Venia menjadi Effie Trinket. Ketiga karakter itu harusnya yang membantu Katniss di dalam buku saat ia mempersiapkan diri sebagai Mockingjay di video propaganda. Tapi, peran mereka di film langsung digantikan Effie Trinket yang dimainkan penuh nyawa dan humor oleh Elizabeth Banks.
  |   No comments   |  

Chloë Moretz dan Film Remaja yang Cengeng

Kalau The Fault In Our Stars (TFIOS) (2014) bisa jadi film adaptasi yang manis, sayang If I Stay yang novelnya memborbardir kesedihan dengan linangan air mata gagal diinterpretasikan jadi film bagus. Yang ada hanya si cantik ChloëMoretz dan film remaja yang cengeng.


Chloë Grace Moretz, si aktris cilik berbakat sudah jadi remaja dan mengejutkan orang-orang dengan penampilannya sebagai si gaib Carrietta di film daur ulang: Carrie(2013). Di film itu, Moretz berhasil meyakinkan penontonnya bahwa ia adalah gadis aneh berkekuatan telekinesis yang menyeramkan. Berhasil membuat orang-orang sadar kalau kemampuan aktingnya belum lenyap ditelan pubertas.
Kali ini ia muncul lagi dalam karakter berbeda di sebuah film drama romantis. Berusaha meyakinkan kita lagi bahwa ia akan jadi mega bintang yang akan terus kita lihat di film-film Hollywood berikutnya.
Sang aktris memerankan Mia Hall, seorang pemain selo yang juga gadis kurang populer di sekolahnya. Mia adalah anak dari seorang ayah bekas musisi, dan ibu yang dulunya groupie band rock sang ayah. Kedua orang tuanya begitu rock, sehingga Mia merasa salah terlahir di keluarga itu. Sebab ia adalah penggemar sejati musik klasik. Penggemar sejati Ludwig van Beethoven.
Sebab itu pula, Mia memilih selo sebagai alat musiknya. Ia canggung dalam keramaian, dan nyaman bila memutar album Beethoven di kamarnya sendirian.
Namun ia bertemu dengan Adam (Jamie Blackley), rocker tampan yang diam-diam naksir dirinya. Latar belakang musik Adam yang mirip dengan kedua orang tua Mia, membuat perjalanan cinta kedua remaja ini tak perlu disandung masalah restu orang tua. Keduanya melenggang santai sambil bermesra-mesraan di teras rumah Mia. Bahkan Adam disambut ramah sang ayah saat tahu kalau Adam punya album band-nya. “Youre the one!” kata Denny, ayah Mia yang diperankan Joshua Leonard.
Tapi konflik film ini memang bukan di kisah percintaan Mia dan Adam, setidaknya bukan itu yang awal film ini sajikan.
Di menit kedua belas film diputar, tentu setelah sedikit intro yang mengenalkan Mia dan keluarganya yang keren, adegan pokok film ini disajikan. Mia sekeluarga mengalami kecelakaan mobil di tengah jalanan bersalju.
Ibunya yang diperankan si keren Mireille Enos, tewas di tempat. Ayahnya mengalami pendarahan di kepala. Sementara adiknya sadar, tapi kemudian pingsan. Mia? Ia sendiri siuman jauh dari tubuhnya terbaring kaku. Rohnya keluar dari tubuh. Ia terjebak antara hidup dan mati.
Dan adegan di film kemudian diputar maju-mundur. Kita akan disuguhkan cerita manis hidup Mia Hall dan keluarganya yang keren. Tak lupa, kisah cintanya dengan Adam Wilde yang begitu romantis dan… manis.
Sulit untuk tidak mengaitkan film ini dengan TFIOS, film drama romantis yang baru-baru ini sebentar saja sudah jadi Box Office di Hollywood sana. Diperankan Shaillene Woodley dan Ansel Elgort, film yang juga diadaptasi dari novel laris ini berhasil menarik perhatian penontonnya di tengah sajian film-film bergenre serupa: fiksi fantasi.
Kehadiran If I Stay yang baru muncul setelah TFIOS, bisa saja dinilai sebagai latah baru Hollywood menyajikan film drama romantis remaja. Apalagi, sutradaranya RJ Cutler kurang berhasil menerjemahkan buku adaptasinya, seperti keberhasilan Josh Boone menggarap TFIOS.
Alur maju-mundur di film ini tak rapi dibuat Cutler. Ia juga tak pintar menyisipkan drama di saat yang tepat, misalnya saat Mia tahu kalau kedua orang tuanya meninggal. Atau saat Teddy, adik Mia satu-satunya juga tewas karena pendarahan di otak. Mungkin, latar belakang Cutler yang merupakan sutradara film dokumenter bisa jadi jawaban kekeliruan ini. Walhasil, adegan yang harusnya bisa menghantam penonton dengan drama disajikan datar-datar saja oleh Cutler.
Beda dengan TFIOS yang punya sedikit saja adegan dramatis, tapi semuanya bisa menohok penonton di tempat.
Beruntung, dekat-dekat penghabisan film, ada Stacy Keach yang memerankan kakek Mia. Ada adegan Stacy berdialog dengan tubuh kaku Mia yang koma. Ia meyakinkan Mia bahwa Mia bisa saja meninggalkan dunia ini karena ketika ia bangun, ada banyak hal yang telah meninggalkan Mia: ayahnya, ibunya, dan adiknya. Stacy berdialog sambil menangis. Dan di sanalah penonton dihantam.

Tapi, dari begitu banyaknya kesempatan untuk menghantam penonton dengan adegan haru, hanya satu yang berhasil diterjemahkan Cutler.
Keberuntungan Cutler lainnya adalah Chloe Moretz yang ia pilih memerankan Mia Hall. Dan juga Jamie Blackley yang akhirnya klop sekali memerankan Adam Wilde. Seni peran keduanya lumayan menjadi perhatian di sepanjang film diputar. Keberuntungan lainnya lagi, adalah lagu-lagu yang jadi latar musik di film ini. Cutler sangat tertolong oleh Heitor Pereira, sang penata musik.
Tapi sayang, film yang memang berlandaskan musik sebagai salah satu batang primer ceritanya ini hanya bisa jadi film remaja cengeng; yang ada Chloe Moretz di dalamnya.
  |   No comments   |  

Pertanyaan Demi Pertanyaan dari The Maze Runner

Ada bocah dari film Nanny McPheeNarnia, dan serial Teen Wolf yang sudah jadi aktor-aktor tampan di sini. Tapi sayang, dibungkus naskah yang membingungkan, penampilan aktor-aktor ini jadi biasa-biasa saja.

Satu lagi film diangkat 20th Century Fox dari adaptasi novel New York Times Bestseller. Kali ini milik penulis James Dashner. Judulnya sama dengan novel adaptasinya, The Maze Runner.
Bercerita tentang seorang bocah berusia enam belas tahun, diperankan aktor dari serial Teen Wolf, Dylan O’Brien, yang tampak jauh lebih berotot dan tua. Sejak di awal rol berputar, kita tak kenal dengan bocah ini. Bahkan dirinya sendiri tak tahu siapa ia. Ia juga lupa namanya. Yang ia tahu, ia baru saja bangun dari pingsan panjang dan sudah berada dalam sebuah kotak elevator. Kotak yang mengantarkannya pada sebuah tempat asing.
Sama seperti si bocah, penonton juga digiring untuk bertanya-tanya: siapa si bocah itu? Tempat apa itu? Kenapa dia ada di sana? Darimana asal si bocah? Film apa sebenarnya ini? Kenapa saya nonton film ini?
Pertanyan-pertanyaan ini tak sekonyong-konyong langsung dijawab dalam menit-menit awal. Bersama Dylan O’Brien yang tak tahu namanya, penonton juga digiring untuk menyusun cerita. Kita mulai tahu kalau tempat itu bernama The Glade, titik tengah dari sebuah labirin raksasa pemakan siapa pun yang masuk ke dalamnya.
The Glade diisi oleh para pria, berusia sebelas hingga tiga puluh, yang ternyata juga mengalami hal serupa dengan Dylan O’Brien yang akhirnya ingat namanya. Semua pemuda itu baru ingat nama mereka selepas sehari atau dua hari berada di The Glade. Dylan yang ternyata bernama Thomas mulai menyelidiki tempat itu.
Sebenarnya ia dilarang ini-itu oleh Alby (Aml Ameen), pemimpin The Glade. Semisal tak boleh masuk ke labirin, harus bekerja sesuai perintah, dan hidup akur dengan pemuda lainnya di The Glade. Tapi, Thomas tak bisa diam. Seolah disalurkan rasa penasaran penonton, Thomas menggiring cerita untuk menemukan pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benak penonton ketika menonton film ini.
Satu per satu pertanyaan tentang apa sebenarnya tempat itu mulai terkuak.
Di sana, Thomas berteman dengan Newt yang diperankan Thomas Brodie-Sangster dari film Nanny McPhee dan serial televisi Games of Thrones. Sama seperti penampilan Dylan, Thomas Brodie juga sudah jadi pemuda gagah yang bekerja sebagai petani di kebun The Glade. Sekadar mengingatkan, Thomas Brodie sudah sering diganjar berbagai penghargaan saat ia masih bocah. Jadi, tak usah ragu dengan bakat aktingnya.
Melalui Newt, pertanyaan-pertanyaan Thomas mulai terjawab.
Ternyata, labirin itu berisi monster-monster yang mereka namai Griever. Labirin itu juga satu-satunya jalan keluar para pemuda dari The Glade. Sebuah ironi yang menghantui hidup masyarakat The Glade selama tiga tahun mereka hidup di sana. Untuk mengetahui seluk-beluk labirin yang berganti tiap saat, Alby dan pemuda lainnya mengutus Para Pelari, beberapa pemuda yang dinilai cerdas, tangguh, dan cepat, untuk menemukan jalan keluar yang mereka pikir ada.
Singkat cerita, Thomas yang memang pemberontak, direkrut jadi Pelari saat berhasil membunuh seekor Griever yang ternyata adalah robot. Hal itu tak mudah-mudah amat. Thomas harus berkelahi dulu dengan penghuni lama The Glade, si Gally yang diperankan Will Pouter, bocah naga di The Narnia and The Voyage of The Dawn Treader yang juga sudah berotot dan tua. Kelak, Gally ini yang akan jadi rival Thomas.
Tapi sampai separuh rol film diputar, pertanyaan tentang siapa sebenarnya pemuda-pemuda itu, dan apa sebenarnya labirin itu masih belum terjawab. Bahkan sampai rol folm selesai diputar, pertanyaan-pertanyaan ini tak selesai dijawab.
Thomas dan sekutunya memang berhasil menemukan jalan keluar dari labirin setelah seorang gadis datang tiba-tiba ke The Glade. Tentu saja melalui kotak elevator yang membawa Thomas dan pemuda lainnya. Mereka mulai menemukan teka-teki jalan keluar-masuk labirin itu. Dan berhasil menemukan mayat-mayat peneliti yang menempatkan mereka dalam The Glade sebagai kelinci percobaan.
Intinya, sampai film ini selesai, yang Thomas tahu mereka adalah kelinci percobaan. Dari apa? Film ini pun tak bisa menjawabnya. Film prequelnya mungkin yang bisa menjawab.

Dibangun dari pertanyaan-pertanyaan, film ini juga ditutup dengan pertanyaan-pertanyaan baru. Bahkan beberapa pertanyaan di awal cerita, belum selesai dijawab. Siapa yang bisa disalahkan? Mungkin, naskah yang benar-benar berbeda dari novel adaptasinya ini adalah jawabannya. Tim Noah Oppenheim dalam dek penulisan naskah, terlalu banyak berimprovisasi dari novel aslinya dan malah membuat kemenarikan film ini jadi jatuh.
Percuma, aktor-aktor muda yang sudah dipilih Wess Ball. Mereka cuma bisa jadi pemanis, agar penonton dari kalangan remaja putri tertarik beli tiket bioskop untuk nonton The Maze Runner.
  |   11 comments   |  

Kau Baca atau Kaubaca yang Benar?

Pernah temukan kata ‘kau’ yang disambung kata kerja di depannya seperti judul di atas? Misalnya saat Anda membaca novel terbitan Kompas Gramedia? Majalah Tempo? Atau baru melihatnya pertama kali di artikel ini? Maka, ada baiknya kaubacalah tulisan ini sampai habis.

Kata ‘kau’ sendiri adalah kata ganti orang atas ‘engkau’. Sekali lagi,  ia adalah bentuk ringkas dari kata ‘engkau’. Bentuk ringkas begini biasa disebut klitik dalam Bahasa Indonesia.
Di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) revisi termutakhir, klitik berdefinisi: bentuk yang terikat secara fonologis, tetapi berstatus kata karena dapat mengisi gatra pada tingkat frasa atau klausa, misal bentuk {-nya} dalam bukunya.
Contoh klitik ini yang paling sering kita temui adalah ‘ku’ atau ‘nya’. Tapi tak banyak yang tahu kalau ‘kau’ juga merupakan kawanan dari mereka.
Hal ini wajar, karena dalam KBBI sendiri kata ‘ku’ punya makna yang jelas. ‘Ku’ dalam KBBI berdefinisi: bentuk ringkas dari pronomina persona pertama;  bentuk klitik aku sebagai penunjuk pelaku, pemilik, tujuan: kuambil; rumahku; memukulku. Begitu pula dengan ‘nya’, yang meski tak berdiri sebagai kata tunggal di KBBI, tapi sudah jelas keberadaannya sebagai klitik.
‘Kau’ dalam KBBI hanya berarti: pronomina engkau (umumnya digunakan sebagai bentuk terikat di depan kata lain).  Perhatikan kata ‘umumnya’! Posisi kata ‘kau’ yang tak dijelaskan sebagai bentuk klitik semakin dibuyarkan oleh kata umumnya di kalimat tersebut. Kasihan sekali, ya.
Sebenarnya, penggunaan kata ‘umumnya’ di kalimat tersebut tak salah-salah amat.
Sebab sejatinya, ‘kau’ memang tak bisa asal disambungkan dengan kalimat di depan atau di belakangnya seperti kata-kata yang termasuk klitik lainnya.
Prinsipnya sama dengan penggunaan kata ‘ku’. Klitik ‘ku’ dan ‘kau’ harus digunakan dalam kalimat pasif.
Misalnya saja klitik ‘ku’ yang bisa disambung dengan kata kerja: baca, tulis. Jadi ‘kubaca’ atau ‘kutulis’. Tidak tepat jika dituliskan seperti ‘kumembacakan’ atau ‘kumenuliskan’. Perhatikan jika mereka diletakkan dalam sebuah kalimat: yang benar adalah novel itu sudah kubaca dua belas kali, bukan sudah dua belas kali kumembacakan novel itu untuknya.
Mengapa demikian?
Sebab ‘ku’ dalam kalimat novel itu sudah kubaca dua belas kali, berbentuk pasif: aku baca (dibaca oleh aku). Sementara dalam kalimat sudah dua belas kali kumembacakan novel itu, ‘ku’ bersifat aktif. Lagi pula ‘ku’ tidaklah bisa berdiri sendiri. Ia harus diikuti atau mengikuti kata lain. Sebab dalam KBBI, termasuk buku Tesaurus Bahasa Indonesia, tidak ada kata ‘ku’ sebagai sinonim dari ‘aku’, yang bersinonim: ‘aku’, ‘saya’, ‘hamba’, ‘awak’, ‘beta’, ‘ana’, dan ‘gue’.
Berbeda dengan ‘kau’ yang bersinonim dengan ‘sampean’, ‘kamu’, ‘anda’, ‘engkau’, dan ‘saudara’. Maka ia bisa berdiri sendiri sebagai sebuah kata.
Namun, sebagai klitik, ‘kau’ hanya bisa mengikuti kata lain. Misalnya berubah mejadi ‘kaubaca’ bila bertemu kata ‘baca’ seperti dalam kalimat: novel itu sudah kaubaca dua belas kali. Tentu dengan prinsip sama dengan klitik ‘ku’, yakni harus digunakan dalam kalimat pasif.
Klitik sendiri punya dua jenis. Pertama disebut proklitik. Kedua disebut enklitik. Proklitik adalah sebutan klitik yang letaknya di depan sebuah kata kerja, semisal: kubaca, atau kaubaca tadi. Sementara, enklitik adalah klitik yang letaknya di belakang sebuah kata, seperti: jawabku, atau kilahnya.
Dengan kata lain, klitik ‘ku’ punya bentuk luas karena bisa digunakan sebagai proklitik dan enklitik. Berbeda dengan klitik ‘kau’ yang hanya bisa digunakan sebagai proklitik.
Lantas, sekarang mana yang benar? ‘Kaubaca’ atau ‘kau baca’? ‘Kaupikir’ atau ‘kau pikir’?
Ternyata semuanya benar. ‘Kau’ bisa digunakan sesuka hati. ‘Kaubaca’ dan ‘kaupikir’ benar karena ‘kau’ di dalam mereka merupakan klitik dari kata ‘engkau’. Pun benar dalam ‘kau baca’ dan ‘kau pikir’ karena ‘kau’ di dalamnya bersinonim dengan engkau ataupun kamu ataupun dan sebagainya.
Jadi, sekarang kau pilih mau tulis ‘kaubaca’ atau ‘kau baca’?

Sunday, November 30, 2014

  |   No comments   |  

Supernova Gelombang: ‘Ejakulasi Pertama’ Sebelum ‘Orgasme Sesungguhnya’



Karakter baru diperkenalkan lagi. Kali ini Parmalim Batak bermarga Sagala. Lewatnya, jaring laba-laba Supernova makin terang-benderang. Mungkin Dee ingin pembaca ejakulasi sebentar, sebelum disuguhkan orgasme dahsyat tentang apa sebenarnya Supernova.



Dewi ‘Dee’ Lestari hanya butuh dua tahun untuk menyuguhkan Gelombang, keping baru dari heksaloginya, Supernova. Penggemar setia karya ini setidaknya tak menunggu delapan tahun seperti saat menanti kehadiran Partikel (2012) novel keempat, setelah Akar (2004) novel ketiga.

Tak perlu berpuasa lama untuk melanjutkan petualangan yang disajikan Supernova. Kali ini, karakter baru muncul untuk memandu kita. Namanya, Thomas Alfa Edison Sagala. Biasa dipanggil Ichon saat masih di kampungnya di Sianjur Mula-Mula, sebuah kampung yang konon tempat lahir bangsa Batak pertama kali di dunia. Letaknya di Pulau Samosir, di tengah-tengah Danau Toba.

Kisah Ichon dimulai saat usianya baru 12 tahun di tahun 1990. Hari itu ia pertama kali mendengar bapaknya bermain gondang secara penuh. Gondang sendiri adalah musik ansambel Batak yang dipadu dengan Tari Tor-Tor, dimainkan pada upacara atau perayaan khusus. Waktu itu, ada seorang warga dari desanya yang mau jadi anggota DPR.

Di hari itu Ichon merasakan sakit kepala pertamanya yang tak biasa. Di gulita kampungnya karena upacara itu, sesosok makhluk gelap bersayap dan bermata kuning runcing masuk ke rumahnya. Berdiri di pojokan dan menatapnya langsung.

Orang-orang bilang itu sosok Raja Uti, salah seorang Raja dari Bangsa Batak.

Tak jelas kemauan si makhluk menampakkan diri pada Ichon seorang. Tapi, sejak itu ia jadi sering bermimpi buruk. Mimpi tentang makhluk itu. Sosok yang kemudian dikenal sebagai Si Jaga Portibi.
Sejak itu pula, orang-orang sakti mendatangi Ichon. Minta ia jadi murid. Ichon diramalkan kelak jadi orang sakti pula. Tapi perebutan itu berbuah pahit. Salah seorang dukun, Ompu Togu Urat, yang meminang Ichon jadi muridnya, justru lenyap dalam upayanya membunuh Ichon di Danau Toba. Oleh dukun lain yang juga ingin dia jadi murid, Ichon justru diberi dua buah batu bersimbolkan sesuatu. Si dukun bilang, batu itu yang akan mempertemukan Ichon dengan teman sekelompoknya, orang-orang yang punya kehebatan serta takdir sama dengannya.

Peringatan itu tak terlalu diambil pusing Ichon, tapi ia tetap menyimpan batu-batunya. Bocah Batak itu justru fokus memperbaiki nasib keluarganya yang tak senang-senang amat. Dari Sianjur Mula-Mula di Pusuk Buhit, keluarganya pindah ke Jakarta.

Di saat-saat itu, Ichon mulai terbiasa dengan kebiasaan bergadangnya. Setelah bertemu Si Jaga Portibi, Ichon jadi tak pernah tidur. Ia akan bergadang semalaman sambil bermain gitar, membaca, atau belajar. Sebab, tiap tidurnya jadi pertaruhan nyawa. Si Jaga Portibi menunggunya di alam mimpi.

Tapi kebiasaan imsonia ini ia rahasiakan. Meski semua orang akhirnya selalu bertanya, “kau tak tidur-tidur ya, Chon?”

Petualangan Ichon di Jakarta tak lama-lama. Nasib membawanya jadi imigran gelap di Hoboken, Amerika Serikat. Di sana ia mulai belajar keras mewujudkan mimpinya, melunasi hutang Bapak yang membiayai tiketnya ke Amerika.

Ichon ternyata memang bocah mujur. Ia dapat beasiswa di SMA Amerika, kemudian lulus di Princeton, Columbia, dan Cornell. Lantas memilih kuliah di Cornell karena ditampung beasiswa penuh. Nasib mujur berikutnya, ia magang di Wall Street dan kaya raya setelah jadi karyawan tetap di sana. Semua hutang, semua mimpi, dibayarnya lunas.

Baru, setelah angka di rekeningnya terus membukit, petualangan sebenarnya ia mulai. Nicky, seorang dokter (hampir) spesialis mimpi, membuka gerbang perjalanan mencari jati diri bagi Alfa Sagala, nama baru Ichon setelah pindah ke Amerika.

Petualangan Alfa bakal mirip petualangan Bodhi di Akar, Elektra di Petir, dan Zarah di Partikel. Ia akan menemukan banyak orang yang membantunya semakin dekat mengingat kembali siapa dirinya. Bedanya, kisah Alfa tak akan menggantung seperti kisah Bodhi, Elektra, dan Zarah. Alfa berhasil menemukan dirinya, yang ternyata bernama Gelombang di suatu dimensi lain.

Sebuah dimensi yang disebutnya Asko. Tempat ia bertemu Bintang Jatuh, atau yang lebih kita kenal sebagai Diva di seri pertama Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh (KPBJ).

Hal ini menjawab mengapa Alfa adalah tokoh yang harus hadir di buku kelima. Sebab di keping inilah, siapa sebenarnya Bodhi, Elektra, dan Zarah mulai terkuak. Mereka disebut Peretas, tapi apa itu Peretas? Sepenuhnya belum dijawab gamblang Dee di sini. 

Pembaca juga mulai bisa menerka siapa Gio Alvaro, pemuda tampan yang selalu jadi cameo di KPBJ, Akar, dan epilog Gelombang sendiri. Ataupun cameo-cameo lainnya, seperti Isthar Summer dan Kell si tukang tato. Tapi hanya batas menerka. Sebab, sama seperti buku-buku sebelumnya dari seri Supernova, Gelombang pun meninggalkan teka-teki. Dahaga baru yang harus kita tunggu di buku terakhirnya, Intelegensi Embun Pagi.

Sukar membahas ekstrensik novel ini, sebab Supernova memang selalu menyajikan plot aneh yang mengusik batin dan logika. Demikian pula buku kelimanya ini. Gelombang hadir dengan alur unik yang hebat, karakter kuat, serta kematangan menulis Dee yang semakin terasa.

Ini pula jawaban kenapa Gelombang jadi begitu penting. Ia hadir sebagai ‘ejakulasi pertama’ sebelum ‘orgasme yang sesungguhnya’ dihadirkan Intelegensi Embun Pagi. Kita tunggu saja.