Friday, June 22, 2012

Monday, June 11, 2012

Tuesday, May 29, 2012

  |   No comments   |  

Nephillim

“Umurku sudah 82 tahun, tapi ingatanku tentang hari itu masih sangat jelas, Sayang. Percayalah, tak kan ada yang terlewatkan jika kuceritakan lagi kisah ini padamu,” ujar nenek sambil mengelus-elus rambutku.
“Kalau begitu, ceritakanlah, Nek,” pintaku.
Dan nenek mulai bercerita.

***

Rita muda sedang menyulam di taman belakang rumahnya pagi itu. Ditemani Bruce Springsteen, ia tekun menyatukan tiap benang dengan jarum. Tiba-tiba ia dikejutkan bunyi gemerisik kasar dari semak-semak di taman lily miliknya.

“Siapa di sana?” katanya karena kaget. Ia sebenarnya tidak yakin kalau ada orang di semak-semak  itu, karena halaman belakang rumahnya dipagari kayu mahoni setinggi dua meter. Dan jika benar ada orang di sana, ia pasti akan melihat orang itu memanjat pagarnya.

Sejenak hening, dan Rita sempat berharap kalau suara gemerisik itu adalah suara yang dibuat Serena, kucingnya. Tapi seseorang berjubah hitam yang keluar dari semak-semak itu berhasil membuat Rita menjerit.
“Kumohon jangan menjerit,” kata orang itu. Kepalanya ditutupi jubah sehingga Rita tak bisa melihat wajahnya.

“Siapa kau? Mau apa kau di sini?” Rita hampir menangis saking takut. Tapi ia berusaha tegar dan berani.

“Aku Mlatinhdhra. Kau bisa memanggilku M,” katanya. Sepertinya ia seorang pria. Dan dari tingginya, ia pasti pria dewasa. “Aku sedang terluka, Rita... bisakah kau membantuku?”

Pria itu mendekat, dan Rita semakin takut. “Darimana kau tahu namaku?”

“Aku malaikat. Kami bisa membaca pikiran,” katanya sambil melepaskan jubah hitamnya. Dan ia sedang tersenyum. Meski terlihat jelas ia sedang menahan sakit di saat bersamaan. Yang membuat Rita terkejut adalah sepasang sayap di belakang pria itu. Sayap dengan bulu putih dan paling indah yang pernah Rita lihat.
Rita bahkan hampir menangis karena kagum. Makhluk yang beberapa detik lalu sempat membuatnya begitu ketakutan, ternyata adalah makhluk paling indah yang pernah matanya saksikan. Aku pasti sedang bermimpi, pikirnya.

“Tidak, Cantik. Kau tidak sedang bermimpi,” M sudah berdiri tepat di depan Rita yang masih melotot kaget. Dan wajah M, entah bagaimana, begitu memukau dan indah. Rita tak pernah melihat pria setampan M. Bahkan Rudy, suaminy, yang merupakan aktor opera sabun tertampan di kota kecil mereka tak ada apa-apanya dibandingkan M. Dan bagaimana kau bisa memanggilku cantik saat kau ada di dekatku, pikirnya lagi.

M tertawa membaca pikiran Rita, tapi tak lama malah mengaduh. Luka di lengannya yang membuatnya mengaduh. “Kenapa lenganmu?” tanya Rita. Ia mulai terbiasa dengan keanehan yang sedang dihadapinya. Fokusnya juga sudah dialihkan oleh luka di lengan M.

“Seseorang menembakku di hutan. Ia mungkin kaget karena melihatku,” jawab M.

“Tunggulah sebentar, sku akan mengobatimu,” pinta Rita.

***

“Lalu apa yang terjadi, Nek?”

“Tentu saja aku mengobatinya, Bodoh!” Nenek menepuk lembut kepalaku. “Dan sejak hari itu kami berteman begitu akrab, Celia.” Nenek tersenyum.

Lalu kami berdua diam sejenak.

“Apakah Mlatinhdhra nyata, Nek?”

Nenek memelototiku. “Memangnya kau tidak percaya, Celia?”

“Tentu saja aku percaya.”

“Lalu, kenapa kau bertanya begitu?”

Aku diam. Tapi sungguh aku percaya cerita nenek tentang Mlatinhdhra. “Kalian masih sering bertemu?”
Nenenk tertawa. “Tidak, Sayang. Tentu saja tidak. Terakhir kali kami bertemu saat aku mengandung ibumu. Sejak itu M menghilang. Tapi belakangan aku sering bermimpi tentangnya.” Tawa nenek berubah jadi senyum pilu. Ia tersenyum, tapi garis mukanya sedih. “Mungkin aku hanya merindukannya,” tambah nenek.

“Hai Celia Sayang! Ayo kita pulang? Suster bilang nenek harus istirahat.” Mendadak Ibu masuk ke kamar nenek dan mengajakku pulang. Tapi sebelum pulang, nenek sempat membisikkan sesuatu padaku. Ia bilang, “Sebenarnya kakekmu bukanlah Rudy.”

Tapi aku tidak mengerti maksudnya. Bagaimana mungkin kakek Rudy bukan kakekku? Ia adalah ayah Ibuku, tentu saja dia adalah kakekku. Nenek terkadang memang suka bergurau.

“Nenek tadi cerita apa saja? Tentang Mlatinhdhra lagi?” tanya ibu saat menyelimutiku sebelum tidur.
Aku mengangguk.

Dasar Ibu! Selalu saja menceritakan imajinasi berlebihannya pada Celia, pikir ibu.

“Tapi nenek tidak berimajinasi, Bu,” celetukku.

“Apa, Celia? Kau bilang apa barusan?”

Sialan! Barusan ibu memang tidak bicara apa pun. Dia hanya berpikir.

“Tidak, Bu. Bukan apa-apa,” kilahku.
  |   2 comments   |  

Monster Kecil Mama

Judul                     : We Need to Talk About Kevin
Sutradara              : Lynne Ramsay
Naskah                 : Aurelia Scheppers
Durasi                   : 112 menit
Aktor                    : Tilda Swinton, John C Reilly, Ezra Millers

“Setelah angka 3, angka apa selanjutnya?” tanya Eva. “9,” jawab Kevin. “Setelah 7, angka apa selanjutnya?” tanya Eva lagi. “71,” jawab Kevin. Eva mendesah. Lantas Kevin mengejek, “1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,13,14,15,16,17,18,19,20,21,22,23,24,25,26,27,28,29,30,31,32,33,34,35,36,37,38,39,40,41,42,43,44,45,46,47,48,49,50. Bisa kita berhenti sekarang?” tanya bocah enam tahun itu.

Eva Katchadourian (Tilda Swinton) bangun karena mendengar sesuatu di depan rumahnya. Sesuatu yang terdengar seperti suara siraman segentong air ke halaman rumah itu. Diiringi sekelabat memori mengerikan tentang hidupnya dua tahun lalu, Eva bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke halaman rumahnya untuk mengecek. Dugaannya benar. Cairan merah kental yang lengket telah menyiprati hampir seluruh bagian muka rumah mungilnya. Termasuk kaca depan mobil kuningnyayang di parkir di situ.

Eva tak tahu siapa pelakunya. Tapi ia yakin, orang itu, siapa pun dia, adalah salah satu dari mereka yang sakit hati padanya karena kejadian 2 tahun lalu.
potongan film We Need to Talk About Kevin

Scene berikutnya berganti ke masa muda Eva dan Franklin (John C Reilly), suaminya. Bak dua muda-mudi lainnya saat kasmaran, mereka berdua selalu bahagia: minum minuman beralkohol dan bercinta. Tapi semua itu tak bertahan lama. Eva hamil dan melahirkan seorang putra. Awalnya mereka berdua bahagia, setidaknya Franklin begitu. Tapi bocah yang diberi nama Kevin itu selalu menangis saat bersama Eva. Menjerit sejadi-jadinya hingga beberapa oktaf. Eva bahkan sempat membawa bayinya ke dekat jalan yang sedang diperbaiki. Hanya supaya suara tangis bayi itu terhalang suara bor yang bising. Tapi hanya berhasil sesaat, tangis Kevin jauh lebih dahsyat.

Scene kembali ke kehidupan Eva yang sekarang. Ia baru saja mendapat pekerjaan baru saat seseorang yang geram menamparnya di tepi jalan. Eva terkejut, tapi paham perasaan jijik orang tersebut terhadap dirinya. Dan semua itu karena tragedi dua tahun lalu.

Sejak kecil Kevin memang tak bersahabat dengan Eva. Bocah  itu selalu sinis dan acuh pada ibunya. Tapi tak begitu pada Franklin. Kevin akan selalu bersikap manis pada ayahnya. Seperti dua karakter berbeda dalam tubuh yang sama. Tentu saja hal ini membuat Eva khawatir. Ia membawa Kevi n ke dokter dan anehnya dokter bilang tak ada yang aneh dengan Kevin. Dia normal.

Tapi tingkah Kevin tak pernah begitu—tak pernah normal. Ia memakai popok hingga usia 8 tahun, meludahi roti selainya lalu menekannya di atas meja hanya untuk membuat Eva gusar. Ketika adiknya, Celia lahir, Kevin mulai memerhatikan Eva. Ia tampak cemburu pada Celia yang merengut perhatian Eva. Dan ia mulai bersikap baik pada Eva.
Ezra Miller, Pemeran Kevin Katchadourian

Tapi semua tak bertahan lama. Kevin semakin bertingkah, ia menyedot rambut adiknya dengan vacum cleaner dan memasukan hamster peliharaan Celia ke dalam pipa saluran air. Eva juga curiga kalau penyebab kebutaan mata kiri Celia adalah Kevin. Ia sadar ada yang tidak beres dengan putranya. Tapi putranya cerdas dan tidak pernah menunjukkan perilaku anehnya kepada siapa pun kecuali dirinya.

Saat Natal, Franklin membelikan putranya satu set busur dan anak panah. Sesuatu yang kelak akan disesalinya. Karena dengan panah itu pula Kevin membantai teman-teman satu sekolahnya. Ia juga membunuh Franklin dan Celia sebelum melakukan pembunuhan massal itu. Ia menyisakan Eva untuk hidup dalam penderitaan yang ia timbulkan.

Thriller menegangkan ini berhasil memenangkan Ramsay sebagai Best Director pada BAFTA Awards. Melalui alur maju-mundur dan sinematografi apik, Ramsay menyusun ketegangan mencekam pada filmnya. Untuk lima menit pertama, alur maju-mundur itu cukup memusingkan. Apalagi film yang diangkat dari best-selling novel berjudul sama karangan Lionel Shriver ini tak punya make-up artist yang andal. Kasihan Tilda Swinton muda yang tak berhasil diterjemahkan oleh Joy Ashley Geramovich. Sepanjang rol diputar, wajah Eva muda dan tua tak ada bedanya. Tetap saja tua.

Beruntung Ramsay memakai jasa Tilda dan Ezra. Dua aktor senior dan junior ini mampu berkolaborasi dengan baik dan menciptakan hubungan mencekam ibu-anak yang entah bagaimana juga romantis. Ramsay juga pintar menyiasati kelemahan make-up artist-nya dengan persembahan sinematografi klasik oleh Seamus McGarvey.

Sebagai film terjemahan dari novel, Ramsay cukup berhasil. Ia berusaha menerjemahkan segala yang ada di buku ke dalam rol film. Seperti kecurigaan Eva terkait penyebab kebutaan Celia. Sayangnya, Ramsay lupa penonton yang  tak baca novel itu. Bagi mereka pasti sulit menebak apa sebenarnya yang coba Ramsay sampaikan. 

Friday, May 18, 2012

  |   No comments   |  

Berseri-seri karena Bertemu


aku menunggu
sudah puas dengan kesendirian dan penantian,
berharap semua berakhir bahagia


ribuan malam telah merayap, kelabuiku dengan waktu yang terus menggoda
akhirnya dirimu berdiri di sana...
berakhirlah pencarianku
Tuhan memang selalu punya kejutan untukku,
setelah lama menyiksaku karena dipisahkan darimu, kini Ia temukan kita kembali...


aku tak berubah, begitu pun kau. 
bedanya, aku masih dengan ribuan memoriku tentangmu, dan kau, masih segar seperti batita yang manis