Thursday, January 31, 2013

  |   No comments   |  

Pertunjukan Broadway dalam Layar Lebar



Judul                     : Les Misérables



Sutradara            : Tom Hooper



Naskah                 : William Nicholson, Alain Boublil, Claude-Michel Schönberg, Herbert 
                                 Kretzmer (Berdasarkan pertunjukan musikal Les Misérables oleh Alain  
                                 Boublil dan Claude-Michel Schönberg; diadaptasi dari novel Victor Hugo)



Aktor                     : Hugh Jackman, Anne Hathaway, Russel Crowe, Amanda Seyfried



Durasi                   : 158 menit







Yang dibutuhkan sebuah film musikal adalah: aktor yang bisa bernyanyi, bukan penyanyi yang dipaksa jadi aktor. Persis seperti ‘inti’ dari film ini!







Les Misérables sudah mendunia sejak pertama kali kemunculan novelnya pada 1862. Ia pertama kali tercipta dari tangan dingin Victor Hugo, seorang sastrawan Prancis abad 19. Kisah di novel tersebut berotasi pada tokoh Jean Valjean (Hugh Jackman), petani yang menjadi tahanan bernomor 20641 karena mencuri sepotong roti.







Delapan tahun kemudian, Valjean telah menjadi seorang walikota. Padahal, sebelumnya ia adalah narapidana yang kabur dari penjara dan seumur hidup dikejar oleh Javert (Russel Crowe), seorang opsir penjara yang begitu obsesif pada perburuannya terhadap Valjean. Di masa ini pula, Valjean yang digambarkan telah bertobat karena pertolongan seorang pastor, bertemu dengan Fantine (Anne Hathaway), seorang ibu cantik jelita yang sering digoda mandor di pabrik tempatnya mengabdi sebagai buruh.







Saat bertemu Valjean, Fantine telah menjadi seorang lacur karena dipecat dari pabrik. Ia tengah digelandang polisi karena mencakar seorang lelaki—calon penyewanya. Berkat Valjean, Fantine tak jadi masuk penjara dan sempat dirawat di rumah sakit, meski maut tetap menjemput perempuan malang itu. Sebelumnya, Valjean sempat berikrar untuk merawat Cosette kecil (Isabelle Allen), putri semata wayang Fantine.









Kisah dalam novel ini kemudian dipersembahkan Alain Boublil dan Jean-Marc Natel dengan kata-kata nyanyian versi bahasa Inggris yang ditulis oleh Herbert Kretzmer ke dalam sebuah pertunjukan musikal yang mendunia. Tentu dengan judul sama:  Les Misérables.







Film ini pun disajikan tak jauh-jauh dari pertunjukan musikalnya. Seluruh dialog dinyanyikan; seluruh aktor bernyanyi. Lantas, sudah barang tentu pemilihan aktor-aktor dalam film ini menjadi sorotan utama dari hasil garapan sutradara pemenang Oscar kategori Film Terbaik 2010, Tom Hooper. Yang mengejutkan adalah tidak ditemukannya satu pun aktor yang punya latar belakang sebagai penyanyi-beralbum di dunia nyata.







Hooper benar-benar berjudi dengan memilih para aktor-aktor yang bisa bernyanyi, alih-alih semua dialog—atau lebih tepat jika disebut nyanyian—dalam film ini dinyanyikan live tanpa proses rekaman di studio. Sialnya, dia beruntung mendapatkan Anne Hathaway yang benar-benar berperan total sebagai Fantine sang Pelacur. Nona Hathaway, yang rela menguruskan dirinya demi peran ini, berhasil menyanyikan lagu I Dream A Dream, salah satu hits dari Les Misérables musikal yang notasinya tidak sembarangan.







Hebatnya, Hathaway yang memang bukan penyanyi profesional, menyanyikan lagu tersebut sambil sesenggukan dan terisak-isak; menunjukan pada dunia betapa luar biasanya ia dalam mengontrol nada, bahkan saat ia harus beremosi dan meratap. Tak heran jika Hathaway, yang telah sudi merelakan rambut panjang indahnya demi film ini pula, mendapatkan piala Golden Globe 2013 untuk kategori Peran Pembantu Wanita Terbaik.







Sayang, aktor kawakan sekelas Hugh Jackman yang dipaksa bernyanyi sepanjang film sesekali merusak gendang telinga penonton dengan bersenandung keluar not. Membuat keputusan Hooper untuk ‘memaksa’ para aktornya bernyanyi tanpa melalui proses rekaman terkesan sebagai buah simalakama. Kekeliruan Jackman mengambil nada akan sangat terasa pada adegan pernikahan Cosette dengan Marius (Eddie Redamyne); saat mereka bertiga harus berharmonisasi dalam sebuah dialog—nyanyian.





Lagi, wajah ‘alim’ Russel Crowe yang diutus sebagai Javert, terlalu merusak karakternya yang menjadi satu-satunya tokoh antagonis dalam kisah ini. Tapi, untuk sebuah terobosan baru di dunia perfilman, di mana seorang sineas berani mengangkat sebuah pertunjukan layar musikal ke dalam kembangan layar lebar, Hooper harus diacungi jempol. Dan saya angkat topi, untuk mata tajamnya yang memilih Anne Hathaway sebagai pemeran Fantine.

Friday, January 11, 2013

  |   1 comment   |  

31 Desember



31 Desember 2012
Tak ada yang kutakutkan selain kehilangan dirimu. Lagi pula sejak awal aku sudah diperingatkan tentang hari ini, hari di mana aku harus rela melepaskanmu, mau tak mau, sedia tak sedia, siap tak siap. Maka, sebenarnya adalah kesalahanku yang begitu tolol mencintaimu, meski tahu kalau hal itu haram. Aku akan merindukanmu. Selalu.

            Rudi menangis membaca surat itu. Ia tak tahu kenapa, bahkan bingung dari mana dan dari siapa surat itu datang. Yang dia tahu, perasaan sedih muncul karenanya.
***
31 Desember 2005
Besok Rudi akan berulang tahun yang kesepuluh. Dan persis seperti tahun-tahun sebelumnya, seluruh keluarga ini disibukan oleh persiapan pesta ulang tahunnya yang selalu dibuat megah. Alasannya karena ulang tahun Rudi bertepatan dengan Tahun Baru. Jadi anak itu selalu saja dapat jatah kado double yang membuat mulutnya tak berhenti cengengesan.

            “Naomi, aku dapat ini dari ayah!” dengan tampang angkuh, Rudi memamerkan sepeda barunya padaku.

            “Bagus sih, tapi kau kan tidak bisa naik sepeda,” ledekku.

            “Makanya aku bawa ke sini. Supaya kau bisa mengajariku!”

            Aku malah tertawa mendengar permohonan bernada ketusnya.

            Bocah ini memang sedikit arogan dan keras kepala, terkadang etikanya juga tidak terlalu baik untuk bocah seumurannya. Tapi Rudi punya karisma aneh yang membuatku tak pernah bisa menolak permintaannya. Lagipula, dia satu-satunya teman yang kumiliki. Bukankah itu tugas seorang teman? Mengabulkan semua permintaan temannya, toh aku bukan ayahnya yang harus memikirkan apa yang boleh dan yang tidak untuk kebaikannya.

            Jadi, sore itu kami habiskan untuk bermain bersama sepeda baru Rudi. Hingga Ratih, ibu Rudi, memanggilnya masuk untuk mandi dan siap-siap menyambut Malam Buka Tahun.

            Sebenarnya, hari ulang tahun Rudi adalah hari yang paling kubenci setiap tahunnya. Aku benci ketika Waktu menyadarkanku bahwa Rudi akan (dan harus) tumbuh.

31 Desember 2008
Hari ini Rudi merajuk. Dia uring-uringan sepanjang hari. Pasalnya, Rianti, gadis yang selama ini dia sukai malah tak mau diajak jadi pacar. Padahal Rianti adalah cinta pertama Rudi. Gadis itu cantik, ramah dan pintar. Bahkan punya kaki yang kelampau jenjang untuk bocah berusia tiga belas tahun. Tapi Rudi tak kalah tinggi. Tampangnya juga lumayan keren. Jadi, bisa dibilang Rudi punya modal yang bagus untuk diterima, selain punya rasa percaya diri tinggi yang juga ia jadikan modal.

            Tapi, hidup adalah judi. Ujungnya selalu tak tertebak.

            “Bu, lihat Naomi?” sayup-sayup aku mendengar suara Rudi dari lantai bawah. Tadi dia kutinggalkan di dapur, di tengah kesibukan orang-orang rumah ini yang sibuk menyambut tahun baru.

            “Kau sudah besar, Rud. Berhenti bermain dengan Naomi,” kata Ratih sekenanya; sambil angin lalu.

            Rudi pasti hanya mendengus, karena yang kudengar selanjutnya adalah langkah kakinya di anak tangga. “Di situ kau rupanya!” katanya saat melihatku meringkuk di kasurnya.

            “Kau kenapa, Naomi?” Rudi mengambil tempat di sebelahku; merebahkan setengah badannya, sementara kepalanya mengambil tempat di sandaran kasur.

            “Sama sepertimu. Sedang dalam mood yang buruk,” ucapku sambil mendengus.

            “Kenapa? Kau juga ditolak orang yang kausukai?”

            Aku hanya diam. Tebakan Rudi memang tidak jitu, tapi juga tidak terlalu meleset. Mood-ku hari ini memang akan selalu rusak, karena hari ini tanggal 31 Desember—sehari sebelum Rudi berulang tahun. Ditambah lagi, aku memang merasa seperti dicampakan orang yang kusuka, hari ini.

            “Kenapa diam? Aku masih sahabatmu kan?” Rudi menyundut pinggangku dengan jempolnya sambil tergelak.

            “Iya… iya, aku cerita,” ujarku. “Tapi berhenti menggelitikku.”

            “Oke,” ujarnya buru-buru sambil membetulkan posisi duduk. Seolah-olah dia memang siap mendengarkan celotehanku.

            Sebelumnya aku menarik napas. Mencoba menyusun kata-kata yang lumayan menyesakkan dada bila tak disampaikan. Tpai yang keluar hanya: “Besok ulang tahunmu. Aku kesal karena itu.”

            Tentu saja Rudi malah tertawa, bukannya merasakan apa yang sedang kurasakan. “Kau ini suka sekali bercanda, Naomi. Bisa-bisanya kau murung karena hari ulang tahun kawanmu,” ia menjitak kepalaku dengan bantal.

            “Tapi aku serius, Rud. Kau tahu kan alasannya! Kau semakin dewasa, dan itu berarti waktu kita untuk bersama semakin menipis.” Akhirnya kata-kata itu keluar. Kata-kata yang selama ini kupendam bersama kepedihan dan rasa takut kehilangan.

            “Tapi bukannya kau bilang itu memang harus terjadi, Nao? Kita memang harus berpisah. Kau kan yang mengingatkanku di pertemuan pertama kita?”

            Aku tersentak. Tak menyangka kalimat itu akan keluar dari mulut Rudi. Ternyata hanya aku yang mengganggap serius perpisahan kami. Dan karena rasa sakit yang mendadak membuat dadaku sesak dan mataku panas, akhirnya aku menangis.

            “Nao? Apa aku salah bicara? Kenapa kau menangis?” Rudi mengusap pundakku. Sepertinya memang merasa bersalah.

            “Tidak. Kau benar. Semuanya memang harus terjadi begini.” Aku tersenyum. Tepatnya, memaksa diri untuk tersenyum. Tapi aku bersungguh-sungguh dengan apa yang barusan kuucapkan. Rudi memang benar. Dia semakin dewasa dan tidak membutuhkanku lagi.

31 Desember 2010
Besok ulang tahun Rudi yang kelima belas. Dia sudah tumbuh jadi remaja yang benar-benar tampan. Pipinya menirus, lekuk badannya mulai terlihat, tingginya mengganda berkali-kali lipat, dan kumis, janggut serta cambang tipis mulai menutupi sebagian wajahnya.

            Rudi juga jadi break-dancer yang andal sekarang. Ia bergabung dengan beberapa temannya yang penari jalanan untuk membuat grup. Dan grup mereka benar-benar tenar belakangan ini. Otomatis jadi jarang di rumah. Bahkan, dia tak mau lagi ulang tahunnya dirayakan. Malu, katanya beberapa hari lalu.

            Sialnya, hubungan pertemananku dengan Rudi adalah hubungan yang searah.

Maksudnya, Rudi bisa menemuiku kapan saja, selama apa pun, terserah maunya. Tapi aku tak bisa begitu. Aku tidak bisa mendatangi Rudi kalau dia tidak mau aku mendatanginya, tak peduli seberapa inginnya aku bertemu dia. Aku bahkan tak bisa bicara dengan Rudi kalau temanku itu sedang tak mau bicara denganku.

Dan, tidak ada  lagi yang membuatku frustrasi selain perkara aturan hubungan ini.

31 Desember 1999
“Hai, Rudi!” aku menyapa bocah empat tahun yang sangat lucu. Pipinya tembam, matanya bulat, hidungnya mungil tapi begitu mancung; benar-benar bocah yang menggemaskan.

            “Hai! Kakak siapa?” jawabnya santai. Sama sekali tidak terkejut dengan aku yang merupakan orang asing.

            “Namaku Naomi,” ujarku seraya menjulurkan tangan kanan, berharap sambutan hangat darinya. Dan benar saja, Rudi kecil tanpa ragu-ragu menjabat tanganku.

            “Peringatkan dia, Naomi,” Ayah yang berdiri di sampingku tiba-tiba bersuara.

            “Iya, Yah. Tidak perlu disuruh, aku juga bakal bilang,” sahutku ketus. “Rudi sayang,
 kepalaku kembali beralih ke arah si bocah. “Aku ini teman imajinasimu. Salam kenal ya.”

            “Apa itu teman imajinasi, Kak?” Rudi ternyata anak yang pintar dan kukira aku akan gampang menyukainya.

            “Teman imajinasi adalah kawan yang akan selalu menemani kamu sampai nanti kamu berumur 17 tahun. Saat kamu sudah dewasa,” jelasku singkat.

            “Bagus,” Ayah menimpaliku.

            “Kenapa cuma sampai umur 17 tahun?” Rudi kecil ternyata memang bocah cerdas yang dihantui rasa ingin tahu yang besar.

            “Karena memang harus begitu, Sayang,” jawabku sekenanya.

            “Ohhh,” Rudia malah mendengus panjang, lalu berbalik dan berlari kea rah Ibunya yang sedang duduk di beranda rumah mereka. “Bu! Aku punya teman baru! Namanya Naomi!”

            Aku jadi tertawa dibuatnya. Tentu saja ibunya tak bisa melihatku. Dasar bocah! Batinku sambil berjalan mendatangi Rudi yang tengah asyik bermain. Meninggalkan Ayah yang cerewet sekali tentang pekerjaan pertamaku ini.

            Tapi, sayup-sayup aku mendengar ayah mengucapkan sesuatu untuk terakhir kalinya. Kalau tidak salah, “Jangan pernah jatuh cinta dengan manusia, ingat, kau hanya teman imajinasi baginya…”

Monday, December 10, 2012

,   |   2 comments   |  

Beberapa Menit Bercumbu dengan Lilia

Sebelumnya, saya ingin perkenalkan gadis ini terlebih dulu pada Anda semua.

   Namanya Lilia. Dia adalah salah satu tokoh rekaan saya yang belakangan jarang saya ajak mengobrol. Dahulu, saya dan Lilia begitu akrab. Kami sering menggambar bersama sejak saya berusia tiga tahun. Dan demi Neptunus, Lilia benar-benar jago menggambar. Tapi sketsa yang dibuatnya agak tidak umum. Lilia lebih senang menggambar tengkorak yang dililit duri mawar, ketimbang sketsa indah wajah Katherine Zeta-Jones, atau gambar lucu muka Mickey Mouse atau tokoh Disney dan Nickelodeon lainnya.

Saya menggambar sketsa wajah Lilia, lima menit sebelum post ini dipublis


  Ah ya, umur Lilia sekarang dua puluh tiga tahun. Sebenarnya sejak kami pertama kali bertemu, hingga sekarang, dia memang selalu dua puluh tiga tahun. Tingginya sekitar 1,68 meter, berambut bob, dengan pipi tirus dan hidung mungil. Bibirnya juga tipis, tapi Lilia punya mata bulat-cokelat yang akan langsung menarik perhatianmu ketika beradu pandang dengannya. Bisa  dibilang, mata Lilia adalah mata favorit saya. Dia juga punya beberapa tato di kulit mulus-kuning-langsatnya. Beberapa di antaranya dia sketsa sendiri: semisal tato batik, tengkorak, dan beberapa sulur berduri di tulung ekornya.

   Lilia juga sangat senang memakai kaus hitam dan hot-pans sepaha, memamerkan tato lain yang dimilikinya di sekitar kaki-bagian-atasnya... saya kira cukup perkenalan singkat tentang Lilia. Yang ingin saya ceritakan adalah, baru-baru ini saya kembali bertemu dengan Lilia, setelah sepuluh tahun lebih tanpa kabar darinya.

   Padahal, kami terakhir bertemu saat saya masih berusia delapan tahun. Lilia bilang saat itu dia sudah bosan bermain dengan saya, dan ingin cari anak kecil lain yang lebih asik. Tentu saja saya terpukul; ditinggal teman sejak kecil yang mendadak marah dan bilang mau pergi cari pengganti saya. Saat itu saya kira, alasan utama Lilia meninggalkan saya adalah karena dia benar-benar ingin mencari teman baru dan bosan dengan saya. Tapi sepeninggalannya, saya baru tahu siapa sebenarnya Lilia. Dia hanyalah salah satu teman imajiner yang saya ciptakan untuk menemani saya bermain.

  Dan, seiring waktu yang menggelinding, memercayai hal itu terasa lebih dan semakin mudah.

  Saya juga jadi percaya kalau kenangan yang saya punya tentang Lilia hanyalah rekaan yang tercipta karena manipulasi otak anak kecil yang kelampau imajinatif. Tapi keyakinan itu hanya bertahan hingga kemarin. Kemarin, saat kami entah sengaja atau tidak, dipertemukan kembali oleh Takdir.

  Lilia, yang saya kira hanya teman imajiner, menyapa saya saat saya sedang menunggu Cameo di sebuah warung kopi.

   "Sudah besar sekarang, ya Dam?" suara alto, khas Lilia tentu saja mengejutkan saya.

   "Lilia?"

   "Masih ingat aku, ternyata." Dia menarik kursi di sebelah saya, lalu duduk. "Apa kabar?" tambahnya.

   "Baik. Baik. Kamu sendiri gimana?"

   "Lumayan lah," ujarnya sambil tersenyum lembut.

  Sesungguhnya kepala saya saat itu masih berputar-putar. Masih dibalik-polaritaskan oleh kenangan, realita dan sebagian kejutan waktu.

   Wajah cantik Lilia, rambut bob-nya, tato ular bersulur duri yang ditikam sebuah belati besar di pahanya, hingga aroma wewangian Lilia yang beraroma lilac membuat saya makin pusing. Karena semua hal itu -semua hal yang tengah saya saksikan langsung dengan mata kepala saya- persis dengan semua hal yang tersisa di kepala saya tentang sosok Lilia.

   Bagaimana bisa, seorang gadis selalu berusia 23 tahun di sepanjang umur hidup saya?

  "Kau kenapa, Dam? Sepertinya sedang berpikir keras," tanya Lilia, membuyarkan lamunan saya. Ia sedikit terkekeh. Dan saya berani bertaruh, dia tahu apa yang sedang saya pikirkan tanpa harus saya beritahu.

   "Kau tahu, rasanya semua ini sangat-sangat tidak masuk akal, Lilia," celoteh saya spontan, jujur.

   Ia malah tergelak.

   "Bisa kau jelaskan padaku, Lilia?"

***
  Lalu Lilia menceritakan semuanya, semua hal yang tak terpikirkan oleh saya (sejujurnya pernah saya pikirkan, tapi hanya saya simpan ke dalam folder 'Khayalan' di otak saya). Semua penjelasan yang benar-benar membalikkan dunia saya. Dunia yang ternyata begitu naif, saya pandang. Tapi sayang, cerita Lilia tak bisa saya ceritakan di sini, mungkin lain kali, saat saya benar-benar sudah siap dengan semuanya -setidaknya untuk diri saya sendiri.

  |   No comments   |  

Jatuh Cinta pada Senja

P.s: biasanya catatan seperti ini berada di akhir tulisan ya? Tapi saya sengaja menulisnya terlebih dahulu agar Anda mengetahui hal ini sejak awal: bahwa seluruh dialog dalam tulisan ini telah saya perhalus (karena {sesungguhnya} saya, October, Narajata, Orion dan Cameo tak pernah bermesra-ria menggunakan panggilan saya-kamu). Saya ubah demi kenyamanan Anda membaca.
                                           ***

Cerita ini dimulai beberapa pagi lalu. Kalau tidak salah, saat itu hari Minggu. Saya dan para alterego memang sudah punya janji untuk bertemu dan mengobrol. Pasalnya, belakangan kami sudah jarang berkumpul. Dan sibuk, adalah alasan utama, setelah alasan kedua: yakni bosan bersama. ._.

Pagi itu kami janji untuk lari pagi bersama. Jadi, dengan terpaksa saya melakukan hal yang paling saya benci, yakni bangun pagi, untuk menepati janji. Rencananya kami akan bertemu di lapangan bola dekat rumah saya. Tapi hingga pukul setengah enam (dan lapangan itu sudah dipenuhi para manula yang akan yoga di sana), hanya ada saya dan Orion.

Tiga keparat lainnya, kemungkinan besar, masih molor di kasur masing-masing.

Tapi quality-time yang saya miliki dengan Orion, tak kami sia-sia kan. Saya dan dia terlibat perbincangan yang cukup menarik. Sesekali tentang politik, karena Orion adalah mahasiswa Hubungan Internasional sedang saya memang mahasiswa Ilmu Politik; sesekali tentang film-film baru, karena kami berdua adalah movie-freaks; tapi yang paling aneh adalah topik mengenai Senja (nama samaran), gadis yang belakangan 'mengambil alih' seluruh perhatian Orion.

Terkejut? Pasti! Sampai sekarang saja saya masih tidak percaya kalau Orion bisa memikirkan orang lain, selain dirinya sendiri. Apalagi ini seorang gadis.

Menurut cerita Orion, Senja adalah orang yang baru dikenalnya di kampus. Salah satu mahasiswa baru yang ia plonco pertengahan tahun ini.

Senja cantik tapi sederhana: rambut lurus sebahu, mata oriental sehitam jelaga, kulit bersih kuning langsat, hidung mungil yang sepertinya punya sinus, dan kaki jenjang yang sering kali sukar dialihkan dari pandangan. (semua deskripsi ini, Orion yang jelaskan. Dan tentu saja membuat saya semakin terkejut)

Ia dan Senja jarang terlibat perbincangan. Menilik watak Orion, saya tak heran. Mana ada yang berani berbincang lama dengan orang sepertinya. Tapi, Orion bilang itu bukan seratus persen kesalahannya sendiri. Ia menyalahkan watak Senja yang dinilainya persis wataknya.

Senja memang cantik, tapi sederhana. Namun justru kesederhanaan itu yang membuatnya jadi pusat perhatian, persis seperti Orion. Senja juga punya watak keras kepala dan gengsian (yang membuat Orion berani bersumpah) persis sama bahkan cenderung melebihi sifatnya sendiri.

"Sebenarnya belum ada alasan yang kuat untuk saya suka dengan orang yang persis menyebalkannya seperti saya ini," ujarnya kemarin.

Tapi Orion mengaku punya perasaan aneh pada gadis itu. Perasaan aneh yang membuatnya selalu memikirkan Senja. Bahkan membawa-bawa gadis itu ke mimpinya.

Demi janggut Merlin! Saya sungguh terkejut dengan cerita Orion. Saya tak pernah melihatnya seserius itu menceritakan masalah pribadinya. Setahu saya, Orion lah alterego yang paling jarang curhat masalah hati begini. Pada siapa pun. Apalagi pada saya. Saat saya tanya, "Kenapa cerita ke saya, Yon?"

Ia malah menjawab, "Tidak tahu juga. Saya cuma tidak tahan menahannya lagi. Gadis menyebalkan itu sudah terlalu sering menjajah pikiran saya. Dan saya mulai gila dibuatnya. Kenapa cerita ke kamu? Karena bastard yang lain pasti akan mengingat-ingat cerita ini terus menerus dan ujung-ujungnya jadi bahan lelucon kalian. Kamu pasti tidak begitu kan, Dam?" sambil mengeluarkan biji matanya, memelototi saya.

Saya tentu saja buru-buru mengangguk.

Lantas saya tanya sekali lagi, "Kenapa tidak bilang saja suka ke dia?"

"Memangnya saya suka dia?" Orion malah tertawa. "Saya juga tidak yakin kalau saya suka dia. Saya hanya sering memikirkannya. Belum tentu suka, kan. Lagipula, saya masih belum bisa lupa dengan Rahasia. Sebagian diri saya yakin kalau saya sudah tidak punya perasaan lagi padanya. Tapi sebagian lainnya, belum bisa rela melepaskannya. Hah, entahlah!" Orion tertawa lagi.

Bertanya-tanya tentang Rahasia? Ya! Ini memang Rahasia yang sama dengan Rahasia yang pernah October ceritakan di post sebelumnya.

Rahasia yang ditaksir October adalah Rahasia yang pernah punya hubungan khusus dengan Orion. Dan, sialnya hanya saya yang tahu hal ini.

October masih belum tahu kalau saya pernah membaca jurnalnya, sedangkan Orion tak tahu kalau October sedang menaksir gadis yang masih dicintainya.

Semoga kelak hal ini tak jadi masalah.

Oh ya, cerita ini berhenti karena kedatangan Bastards lainnya. Mereka baru tiba pukul tujuh dan langsung mengajak sarapan tanpa merasa bersalah sama sekali.

Tentang sarapan bersama ini, lain kali saja saya ceritakan

Wednesday, November 28, 2012

,   |   4 comments   |  

(Masih) Bab I: Manusia Paling Aneh Sejagad Raya


Leo untuk Cameo: Masih Aneh, ha ha ha

Dan di sinilah orang yang dari tadi kami perbincangkan: Cameo.

            Sudah sepuluh tahun lebih aku tidak berjumpa dengannya. Dan dia masih sama. Kacamata persegi, tubuh kurus, gaya berpakaian yang berantakan, senyum aneh khasnya, rambut kusut, semuanya masih seperti Cameo yang dulu. Bisa dibilang dia cukup awet muda. Padahal kami semua sudah mau kepala tiga.

            Aku, Tommy dan Cameo adalah sahabat sejak SMA. Sayangnya, aku harus kuliah ke luar negeri untuk memenuhi tanggung jawabku sebagai anak yang baik pada sang ayah, dan meninggalkan kedua cecunguk ini. Kami jenis sahabat yang selalu menghabiskan waktu bersama hanya untuk melakukan hal-hal tidak penting, semisal menukar susunan novel sastra Indonesia dengan ensiklopedi sains di perpustakaan nasional; atau mengisi matras olahraga sekolah dengan katak-katak hidup; tapi yang paling kusukai adalah saat melihat wajah panik Cameo ketika epilepsi Tommy kumat dan aku menyembunyikan obatnya. Biasanya Cameo akan puasa bicara pada kami, kalau dia tahu Tommy hanya pura-pura.

            “Leo?” tanyanya datar. Khas Cameo. Dia akan selalu menjadi stupid awkward weirdo jika bertemu orang baru, atau bahkan orang yang sudah dikenalnya lama tapi baru dijumpainya kembali setelah bertahun-tahun tidak, seperti aku ini.

            “Leo? Maaf, apa saya mengenal Anda?” kukerjain sekalian saja.

            “Oh, maaf. Saya kira Anda orang yang saya kenal,” tambahnya buru-buru. Kalau saja niat jailku tidak kuat, aku pasti sudah tergelak melihat tampang tololnya. Dan Tommy si bodoh malah sudah tertawa.

            “Jangan jahat begitu padanya, Leo.” Tommy memukul kepala Cameo dengan sikutnya.

            Akhirnya aku tergelak. Tampang tolol Cameo benar-benar lucu. Wajahnya mendadak berubah ungu karena menahan kesal. Ya Tuhan, bocah ini tampaknya benar-benar tidak berubah. Masih aneh.

            “Jadi, apa kabarmu?” tanyaku memecah kekakuannya. Aku paham sekali jalan pikirannya. Ia tidak akan bicara jika tidak ada yang bicara padanya. Terkadang sifatnya yang satu ini cukup mengesalkan.

            “Well,” dia kikuk sekali. Sialan! Dia sepertinya benar-benar menganggapku asing. “Aku masih begini-begini saja. Kau bagaimana?” Ia tersenyum. Senyum canggung.

            “Aku sudah resmi pindah ke sini sekarang. Kebetulan perusahaanku bekerja sama dengan perusahaan Tommy. Dan di sinilah kami.”

            “Jadi ini gawat darurat yang kau maksud, bodoh?” Cameo menyikut kepala Tommy sekali lagi. “Aku kira kau sudah dibuang pelayan di sini ke laut karena tak berhenti kejang-kejang.”

            “Leo yang menyuruhku, dia bilang mau tes sifat altuistikmu yang aneh itu.” Tommy merasa bersalah, dan memandangku untuk minta bantuan.

            “Iya, aku yang suruh. Aku takut kau tidak mau datang kalau Tommy bilang yang sebenarnya. Kau kan sombong!”

            “Hei, kau yang sombong, man!” sekali lagi dia terpancing. Cameo ternyata seratus persen tidak berubah. Aku masih paham hal apa yang disukai atau tidak disukainya, hal apa yang akan memancing emosinya, dan semacamnya. “Aku pasti datang kok kalau kalian bilang yang sebenarnya. Tidak perlu mengolok-olok begini.”

            Kami bertiga lantas tertawa. Tawa yang sudah lama sekali tidak kami keluarkan sejak berpisah. Sesaat aku terjebak nostalgia dan merasa melankolis. Aneh, tapi dengan dua orang ini rasanya dunia terasa lebih lunak. Apalagi Cameo. Teman yang tidak akan kautemui duplikatnya di belahan dunia manapun.

            Yang terjadi selanjutnya adalah perbincangan seru mengenang masa lalu. Semakin aku banyak bicara, semakin banyak bicara pula si canggung Cameo, semakin cair pula suasananya. Kami juga bercerita tentang masa kini, pekerjaan masing-masing dan semacamnya. Aku bertanya tentang epilepsi Tommy yang katanya semakin memarah. Aku juga bertanya tentang Kirana, adik semata wayang Cameo. Dia pasti sudah tumbuh jadi gadis yang cantik sekarang ini. Dan mereka menanyakan apakah aku sudah menikah dan semacamnya. Tentu saja belum.

            “Aku single. Bagaimana kalian?”

            Tommy menghela napas, “Aku gagal menikah. Pacarku tidak siap menikahi orang cacat sepertiku.”

            “Sudahlah, Tomm. Debora hanya gadis murahan. Kan sudah kubilang dari awal kalau dia tidak baik untukmu. Kau yang tak mau dengar,” gerutu Cameo. “Lagipula untuk apa menikah. Kau hanya akan jadi susah dan tambah tua jika menikah. Tanggunganmu akan bertambah, begitu juga tanggungan istrimu. Kalian berdua akan sama-sama disibukan dengan keinginan pasangannya. Belum lagi jika punya anak. Kalian harus ekstra hati-hati dalam membesarkan manusia kecil. Salah sedikit, dampaknya akan besar. Coba anakmu jadi berandal, kau dan istrimu pasti akan stres memikirkannya. Belum lagi dampaknya ke lingkungan. Untuk apa melahirkan anak, kalau tidak sanggup. Jangan hanya memikirkan enaknya saja. Menikah itu sulit. Salah-salah hanya buat semak Bumi ini.”

            Tommy tertunduk, sebal. Aku menganga. “Inilah sebabnya aku menunda menikah, Tomm. Aku tidak mau dikhutbahi oleh bocah cecunguk ini,” kataku pada Tommy.

            Kami berdua tertawa dan Cameo jadi sebal.

            Aku tidak tahu nama ilmiah atau ciri-ciri fobia terhadap pernikahan, tapi untuk sesaat aku yakin kalau Cameo memang takut menikah. Well, dia memang aneh, dan keanehan tentang pernikahan ini memang bukan hal baru. Dulu saat masih sekolah, dia juga selalu berpendapat begini tentang pernikahan.Bahwa yang berhak menikah adalah orang-orang tertentu, bahkan dia sempat punya usulan aneh agar pemerintah menyeleksi orang-orang yang layak untuk menikah. Tapi dulu kukira itu hanya lelucon remaja labil. Dulu aku yakin pikirannya itu akan berubah seiring waktu yang menggelinding. Mana mungkin orang dewasa tidak ingin menikah? Itu sudah ada di gen setiap manusia! Mereka butuh menikah.

            Aku tadi yakin seratus persen kalau Cameo memang tidak berubah sedikitpun. Bahwa dia tetap sama anehnya. Tapi sekarang keyakinanku mengganda berjuta-juta kali lipat. Aku yakin dia masih sama, masih aneh.