Friday, April 26, 2013

  |   No comments   |  

Warna Kita Sama



Marina tak mengenal warna sejak lahir. Matanya hanya bisa menangkap gradasi hitam, abu-abu dan putih. Alih-alih mati penasaran dengan warna-warni yg orang-orang di sekitarannya ributkan setiap hari, Marina tak peduli sama sekali. Tapi Sabtu pagi ini mengubah pandangan Marina tentang warna.

Untuk pertama kalinya ia menangkap sebuah warna lain selain hitam, abu-abu dan putih. Sebuah warna yang menyala terang di tengah kebutaan indera penglihatannya terhadap warna. Ia sendiri tak tahu warna apa itu. Karena itu adalah warna pertama yg ia lihat seumur hidup.

Warna itu mendadak menyala dari sepasang mata yang begitu cantik. Sepasang mata bulat, tajam, nan cemerlang. Sepasang mata yang benar-benar sulit Marina abaikan karena warna itu. "Aduh, warna apa sih itu?" batin Marina.
Tiba-tiba mata itu menangkap keganjilan tingkah Marina yg diam-diam memerhatikannya dari kejauhan. Tapi si empunya mata indah itu bukannya ketakutan malah memberikan seulas senyum pada Marina. Senyum yg membuat lutut-lututnya lemas.

"Lania, ayo kita pergi!" seorang gadis, mungkin berusia delapan tahun, bergaun putih keabu-abuan, rambut hitam legam dan kulit abu-abu tua, menghampiri si mata berwarna dan mengajaknya pergi.

Perasaan gundah mendadak menelusup ke benak Marina. Rasa kecewa, entah darimana, turut menggelabukan perasaannya. Ia masih penasaran dengan si mata berwarna; si Lania.

***
Lania tidak tahu kata lain selain rindu, yang bisa mendeskripsikan perasaannya sekarang. Dan perasaan ini muncul saat ia dipaksa Naya untuk pergi dari taman, pagi tadi. Padahal, di taman itu, untuk pertama kalinya di hidup Lania, ia melihat sebuah warna. Warna yang belum ia ketahui namanya. Dan warna itu dilihatnya pada sepasang mata sendu yang begitu teduh ketika dipandang. Kepada mata itu pula rindu yang kini ia rasakan sedang tertuju.

Sejak lahir, mata Lania memang hanya bisa menangkap gradasi hitam, abu-abu dan putih. Mungkin karena hal itulah Lania jadi begitu merindukan si mata berwarna yang tampak terkejut sekali saat Lania melemparkan senyum padanya.
Dalam hati yang dipenuhi rindu, Lania berdoa: "Semoga pagi ini bukan pertemuan terakhirku dengan sepasang mata itu."

***

Marina jadi keranjingan pergi ke taman setiap hari. Pasalnya ia sudah mati penasaran ingin bertemu lagi dengan Lania si mata berwarna.

Rasa penasarannya sudah akut. Bukan hanya karena dari mata Lania lah, Marina bisa melihat satu-satunya warna, tapi karena diam-diam Marina juga punya perasaan aneh pada Lania.

Sejak Sabtu itu, Marina jadi tak bisa bernapas tanpa memikirkan Lania di kepalanya. Ia jadi sering senyum sendiri, bahkan tertawa sendiri saat memikirkan si cantik itu.

Marina tahu ada yang salah dalam keranjingannya memikirkan Lania. Ia sadar kalau mereka punya kelamin yang sama, bokong yang sama-sama molek, yang tentu saja menarik bagi para pejantan. Tapi, Marina tak bisa bohong pada dirinya sendiri, kalau Lania, si mata berwarna, telah membuatnya jatuh hati.

Lagipula, cinta sesama jenis bukan hal baru baginya. Dulu, Marina ingat betul, saat usianya masih beberapa hari, ibunya pernah bermesraan dengan gadis lain di depan matanya dan ketiga adiknya. Beberapa tahun setelah itu, ia juga melihat Dina, adik kandungnya dari ayah yang berbeda juga bermesraan dengan sesama jenis. Jadi, Marina masih merasa tak ada yang terlalu salah dengan perasaannya pada Lania. Kecuali, perasaan rindunya yang makin menjadi-jadi setiap detiknya.

Sialnya, hari ini adalah minggu kedua Marina menanti Lania dalam kehampaan di taman ini. Dan rindu di dadanya sudah penuh sesak. Di dua minggu ini pula hari-hari Marina kembali monoton tanpa warna. Hanya hitam, abu-abu dan putih.

"Hai, kau!" mendadak terdengar suara yang asing di telinga Marina, memanggilnya.

Spontan, ia menoleh ke sumber suara. Lantas terkejut, karena untuk kedua kalinya ia melihat sebuah warna dalam hidupnya. Dan rasanya masih sama seperti kali pertama: takjub.

"Hai..." lidah Marina mendadak kelu. Ia dibuat gagap oleh perasaan gugup yang mendadak menelusup.

"Siapa namamu?" Lania tersenyum. Senyum yang membuat lutut-lutut Marina kembali lemas.

"Ma-ri-na.."

"Aku Lania,"

"Aku tahu," kali ini Marina yang tersenyum.

Lantas, seperti telah saling mengetahui perasaan masing-masing, Marina dan Lania langsung mendekatkan kepala mereka dan saling menjilat wajah.

"Lania... Hei, di sini kau rupanya. Eh! Kau dapat teman baru ya? Wah... Wah... Mata kalian sama-sama hijau. Cantik sekali dia..."

Naya mendadak merapat ke arah dia sejoli yang tengah memadu kasih itu. Dan dengan paksa menggendong Marina. "Kucing lucu... Siapa pemilikmu, sayang?" tanya Naya pada Marina, sambil mengusap-usap kepala kucing itu.

*Cerpen ini dimuat pada Kover MAGAZINE Edisi April 2013

Monday, April 1, 2013

  |   No comments   |  

Rahasia Bulan dan Mentari



Latte menyengat dari cangkir bundar di depan hidungku
Si Panjang dan Pendek masih saja berkejar-kejaran
Begitu pula Bulan yang tak lelah menggapai Mentari
Atau Mentari yang selama ini berusaha mendekap Bulan
Entahlah...
Mereka pintar menyimpan rahasia dalam diam
Tapi aku jadi berpikir sejenak
Tak ada benda bersinar lain di langit kecuali mereka
Ada tapi jauh...
Lantas kenapa mereka tak bisa bersatu
Keduanya menahan sepi dalam kesendirian
Saling kejar, entah saling lari
Tak ada yang tahu yang terjadi sebenarnya
Itu hanya terjadi antara mereka saja
Rasa itu... entah sepi, entah benci
Tapi Mentari dan Bulan tak pernah bersama
Nyaris, selalu saja nyaris
Bukan selalu berusaha lebih keras untuk menggapai Mentari..
Tapi selalu nihil, seolah keindahan mentari meredupkan semangatnya
Lantas aku teringat kita
Aku si Bulan dan kau Mentarinya..
Hah...
Saat ini latte ini malam ini
Sebaiknya hanya aku dan Bulan saja
#di sebuah bon dari kedai kopi

Thursday, March 7, 2013

  |   2 comments   |  

Bertemu Hantu

Aku sedang berenang bersama Rian saat mendadak kakiku keram. Sialnya, rasa sakit yang mendadak mencekik separuh badanku ini membuat mulutku tak bisa menjerit mencari pertolongan. Rian yang berenang tak jauh dariku pun tak tau kalau aku sedang sakaratul maut.

Napasku mulai disumbat air asin yang masuk melalui mulut dan hidung. Sedang dadaku mulai terasa sesak dan panas. Begitu panasnya hingga aku merasa ada sesuatu yang pecah di paru-paruku. Di saat itu juga penglihatanku memburam dan membawa kegelapan yang kekal.

 “Aaaaa!!!”

Seseorang menjerit!

Ibu? Ibu kah itu?

Mataku kembali terbuka, disertai sengatan pusing akibat disorientasi singkat.

“Aaaa!!” sekali lagi suara teriakan terdengar.

Aku, yang masih disorientasi karena baru bangun tidur, pontang-panting turun dari kamarku di lantai dua dan berlari mencari sumber suara. Berlari ke lantai satu, tempat Ibu menjerit histeris barusan.

Tapi di tengah tangga, langkahku terhenti. Seseorang berdiri di sana... seseorang? Benarkah itu seseorang? Karena yang kulihat adalah... Roy? Benarkah itu Roy?

Mendadak tubuhku bergidik. Merinding hebat. Rasanya temperatur ruangan ini tiba-tiba turun drastis. 
Membuat perasaan bergidik ini mengganda berkali-kali lipat. “Roy?” akhirnya ada yang keluar dari mulutku.
Tapi ‘seseorang’ yang membuat aliran darahku tersendat ini diam saja. Memandangku dengan mata kosong dan bibir penuhnya yang melengkung ke bawah. Membentuk seringai terbalik yang membangkitkan bulu di tengkuk leherku.

“Kau kah itu Roy?”
Ilustrasi: Aulia AdamIlustrasi: Aulia Adam
Pertanyaan retorik itu sebenarnya tak perlu ia jawab. Dari jarak kami saling berhadapan ini tentu saja aku masih bisa mengenali wajah itu. Dia memang Roy. Abangku... yang tiga tahun lalu sudah meninggal.
Roy masih diam.

Tiga tahun lalu, Roy mendadak hilang saat kami sekeluarga berlibur ke Pantai Senggigi. Selama dua hari, dibantu polisi, kami sibuk menyisir kawasan pantai itu untuk mencarinya. Tapi nihil. Dugaan-dugaan menyeramkan mulai muncul. Ada yang mengira abangku yang berumur 14 tahun itu terbawa arus pantai yang memang sedang pasang saat dia menghilang. Ada pula yang menduga Roy diculik oleh orang tak dikenal dan dibawa entah ke mana.

Dugaan pertama terdengar lebih masuk akal, karena hingga kini tak ada seorang pun yang menelepon untuk minta tebusan agar Roy dikembalikan. Sampai hari ini tubuh Roy memang belum ditemukan. Tapi aku tak yakin kalau yang berdiri di depanku sekarang memang lah ‘tubuh’ Roy yang selama ini kami cari?

“Kemana saja kau, Roy?” aku tak tahu kenapa pertanyaan itu keluar dari mulutku. Mungkin karena terlalu merindukan sosoknya yang membuat keluarga ini berkabung terus selama dua tahun terakhir.
Ada hening yang lama sebelum Roy menjawab, “Aku selalu di rumah, Za.”

Bulu-bulu di tengkukku semakin menegang mendengar suaranya. Terlebih karena dia menyebutkan namaku dengan fasih; persis seperti terakhir kali aku mendengarnya menyebut namaku dua tahun lalu.

Dadaku mendadak sesak. Diikuti rasa terbakar yang menandak-nandak di mataku. Rasanya seperti ingin menangis, tapi tak ada air yang jatuh. Aneh. Padahal biasanya aku memang orang yang gampang menangis.
“IBU! BANGUN BU!” tiba-tiba suara bariton ayah mengambil alih perhatianku. Sehingga aku menoleh ke arah bawah tangga. Tepat, tempat ayah sedang merebahkan Ibu yang kelihatannya sedang pingsan.

Tapi saat mataku kembali menoleh ke depan, Roy telah hilang.

Tentu saja tubuhku yang sedari tadi bergidik makin bergidik dibuatnya. Tapi fokusku telah teralihkan ke arah bawah tangga. Ibu sedang pingsan karena menangis sesenggukan. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?
Saat aku telah tiba di bawah dan ingin bertanya, “Ibu kenapa, Yah?”, Merry, kakak sulungku malah telah mendahuluiku dengan pertanyaannya, “Ada apa, Yah?”

 Ayah yang juga menangis melirik Merry dengan tatapan pilu. Tapi ada yang aneh.  Ayah seolah-olah hanya memberikan tatapan itu pada Merry. Padahal aku sedang berdiri di antara mereka berdua.

Ayah sedang memangku Ibu yang tergolek lemah, sementara Merry baru masuk dan berdiri di dekat pintu depan. Tapi keduanya bertingkah seolah-olah hanya mereka berdua yang ada di ruangan itu, ditambah Ibu yang sedang tidak sadar. “Yah?” tanyaku.

Tapi pandangan ayah masih tertumpu pada Merry dan ia mulai menangis sesenggukan. “Reza meninggal, Merry. Rian barusan menelepon, katanya Reza tenggelam,” kata Ayah sambil menangis terisak.

Saat kepalaku belum sepenuhnya mencerna adegan mengerikan yang barusan kulihat, di saat itulah Roy memilih kembali muncul. Tepat lima sentimeter di depan hidungku.

Kali ini dia tersenyum.

Sambil berkata, “Sekarang aku tidak sendiri lagi terkurung di rumah ini, Za.”

Thursday, January 31, 2013

  |   No comments   |  

Pertunjukan Broadway dalam Layar Lebar



Judul                     : Les Misérables



Sutradara            : Tom Hooper



Naskah                 : William Nicholson, Alain Boublil, Claude-Michel Schönberg, Herbert 
                                 Kretzmer (Berdasarkan pertunjukan musikal Les Misérables oleh Alain  
                                 Boublil dan Claude-Michel Schönberg; diadaptasi dari novel Victor Hugo)



Aktor                     : Hugh Jackman, Anne Hathaway, Russel Crowe, Amanda Seyfried



Durasi                   : 158 menit







Yang dibutuhkan sebuah film musikal adalah: aktor yang bisa bernyanyi, bukan penyanyi yang dipaksa jadi aktor. Persis seperti ‘inti’ dari film ini!







Les Misérables sudah mendunia sejak pertama kali kemunculan novelnya pada 1862. Ia pertama kali tercipta dari tangan dingin Victor Hugo, seorang sastrawan Prancis abad 19. Kisah di novel tersebut berotasi pada tokoh Jean Valjean (Hugh Jackman), petani yang menjadi tahanan bernomor 20641 karena mencuri sepotong roti.







Delapan tahun kemudian, Valjean telah menjadi seorang walikota. Padahal, sebelumnya ia adalah narapidana yang kabur dari penjara dan seumur hidup dikejar oleh Javert (Russel Crowe), seorang opsir penjara yang begitu obsesif pada perburuannya terhadap Valjean. Di masa ini pula, Valjean yang digambarkan telah bertobat karena pertolongan seorang pastor, bertemu dengan Fantine (Anne Hathaway), seorang ibu cantik jelita yang sering digoda mandor di pabrik tempatnya mengabdi sebagai buruh.







Saat bertemu Valjean, Fantine telah menjadi seorang lacur karena dipecat dari pabrik. Ia tengah digelandang polisi karena mencakar seorang lelaki—calon penyewanya. Berkat Valjean, Fantine tak jadi masuk penjara dan sempat dirawat di rumah sakit, meski maut tetap menjemput perempuan malang itu. Sebelumnya, Valjean sempat berikrar untuk merawat Cosette kecil (Isabelle Allen), putri semata wayang Fantine.









Kisah dalam novel ini kemudian dipersembahkan Alain Boublil dan Jean-Marc Natel dengan kata-kata nyanyian versi bahasa Inggris yang ditulis oleh Herbert Kretzmer ke dalam sebuah pertunjukan musikal yang mendunia. Tentu dengan judul sama:  Les Misérables.







Film ini pun disajikan tak jauh-jauh dari pertunjukan musikalnya. Seluruh dialog dinyanyikan; seluruh aktor bernyanyi. Lantas, sudah barang tentu pemilihan aktor-aktor dalam film ini menjadi sorotan utama dari hasil garapan sutradara pemenang Oscar kategori Film Terbaik 2010, Tom Hooper. Yang mengejutkan adalah tidak ditemukannya satu pun aktor yang punya latar belakang sebagai penyanyi-beralbum di dunia nyata.







Hooper benar-benar berjudi dengan memilih para aktor-aktor yang bisa bernyanyi, alih-alih semua dialog—atau lebih tepat jika disebut nyanyian—dalam film ini dinyanyikan live tanpa proses rekaman di studio. Sialnya, dia beruntung mendapatkan Anne Hathaway yang benar-benar berperan total sebagai Fantine sang Pelacur. Nona Hathaway, yang rela menguruskan dirinya demi peran ini, berhasil menyanyikan lagu I Dream A Dream, salah satu hits dari Les Misérables musikal yang notasinya tidak sembarangan.







Hebatnya, Hathaway yang memang bukan penyanyi profesional, menyanyikan lagu tersebut sambil sesenggukan dan terisak-isak; menunjukan pada dunia betapa luar biasanya ia dalam mengontrol nada, bahkan saat ia harus beremosi dan meratap. Tak heran jika Hathaway, yang telah sudi merelakan rambut panjang indahnya demi film ini pula, mendapatkan piala Golden Globe 2013 untuk kategori Peran Pembantu Wanita Terbaik.







Sayang, aktor kawakan sekelas Hugh Jackman yang dipaksa bernyanyi sepanjang film sesekali merusak gendang telinga penonton dengan bersenandung keluar not. Membuat keputusan Hooper untuk ‘memaksa’ para aktornya bernyanyi tanpa melalui proses rekaman terkesan sebagai buah simalakama. Kekeliruan Jackman mengambil nada akan sangat terasa pada adegan pernikahan Cosette dengan Marius (Eddie Redamyne); saat mereka bertiga harus berharmonisasi dalam sebuah dialog—nyanyian.





Lagi, wajah ‘alim’ Russel Crowe yang diutus sebagai Javert, terlalu merusak karakternya yang menjadi satu-satunya tokoh antagonis dalam kisah ini. Tapi, untuk sebuah terobosan baru di dunia perfilman, di mana seorang sineas berani mengangkat sebuah pertunjukan layar musikal ke dalam kembangan layar lebar, Hooper harus diacungi jempol. Dan saya angkat topi, untuk mata tajamnya yang memilih Anne Hathaway sebagai pemeran Fantine.

Friday, January 11, 2013

  |   1 comment   |  

31 Desember



31 Desember 2012
Tak ada yang kutakutkan selain kehilangan dirimu. Lagi pula sejak awal aku sudah diperingatkan tentang hari ini, hari di mana aku harus rela melepaskanmu, mau tak mau, sedia tak sedia, siap tak siap. Maka, sebenarnya adalah kesalahanku yang begitu tolol mencintaimu, meski tahu kalau hal itu haram. Aku akan merindukanmu. Selalu.

            Rudi menangis membaca surat itu. Ia tak tahu kenapa, bahkan bingung dari mana dan dari siapa surat itu datang. Yang dia tahu, perasaan sedih muncul karenanya.
***
31 Desember 2005
Besok Rudi akan berulang tahun yang kesepuluh. Dan persis seperti tahun-tahun sebelumnya, seluruh keluarga ini disibukan oleh persiapan pesta ulang tahunnya yang selalu dibuat megah. Alasannya karena ulang tahun Rudi bertepatan dengan Tahun Baru. Jadi anak itu selalu saja dapat jatah kado double yang membuat mulutnya tak berhenti cengengesan.

            “Naomi, aku dapat ini dari ayah!” dengan tampang angkuh, Rudi memamerkan sepeda barunya padaku.

            “Bagus sih, tapi kau kan tidak bisa naik sepeda,” ledekku.

            “Makanya aku bawa ke sini. Supaya kau bisa mengajariku!”

            Aku malah tertawa mendengar permohonan bernada ketusnya.

            Bocah ini memang sedikit arogan dan keras kepala, terkadang etikanya juga tidak terlalu baik untuk bocah seumurannya. Tapi Rudi punya karisma aneh yang membuatku tak pernah bisa menolak permintaannya. Lagipula, dia satu-satunya teman yang kumiliki. Bukankah itu tugas seorang teman? Mengabulkan semua permintaan temannya, toh aku bukan ayahnya yang harus memikirkan apa yang boleh dan yang tidak untuk kebaikannya.

            Jadi, sore itu kami habiskan untuk bermain bersama sepeda baru Rudi. Hingga Ratih, ibu Rudi, memanggilnya masuk untuk mandi dan siap-siap menyambut Malam Buka Tahun.

            Sebenarnya, hari ulang tahun Rudi adalah hari yang paling kubenci setiap tahunnya. Aku benci ketika Waktu menyadarkanku bahwa Rudi akan (dan harus) tumbuh.

31 Desember 2008
Hari ini Rudi merajuk. Dia uring-uringan sepanjang hari. Pasalnya, Rianti, gadis yang selama ini dia sukai malah tak mau diajak jadi pacar. Padahal Rianti adalah cinta pertama Rudi. Gadis itu cantik, ramah dan pintar. Bahkan punya kaki yang kelampau jenjang untuk bocah berusia tiga belas tahun. Tapi Rudi tak kalah tinggi. Tampangnya juga lumayan keren. Jadi, bisa dibilang Rudi punya modal yang bagus untuk diterima, selain punya rasa percaya diri tinggi yang juga ia jadikan modal.

            Tapi, hidup adalah judi. Ujungnya selalu tak tertebak.

            “Bu, lihat Naomi?” sayup-sayup aku mendengar suara Rudi dari lantai bawah. Tadi dia kutinggalkan di dapur, di tengah kesibukan orang-orang rumah ini yang sibuk menyambut tahun baru.

            “Kau sudah besar, Rud. Berhenti bermain dengan Naomi,” kata Ratih sekenanya; sambil angin lalu.

            Rudi pasti hanya mendengus, karena yang kudengar selanjutnya adalah langkah kakinya di anak tangga. “Di situ kau rupanya!” katanya saat melihatku meringkuk di kasurnya.

            “Kau kenapa, Naomi?” Rudi mengambil tempat di sebelahku; merebahkan setengah badannya, sementara kepalanya mengambil tempat di sandaran kasur.

            “Sama sepertimu. Sedang dalam mood yang buruk,” ucapku sambil mendengus.

            “Kenapa? Kau juga ditolak orang yang kausukai?”

            Aku hanya diam. Tebakan Rudi memang tidak jitu, tapi juga tidak terlalu meleset. Mood-ku hari ini memang akan selalu rusak, karena hari ini tanggal 31 Desember—sehari sebelum Rudi berulang tahun. Ditambah lagi, aku memang merasa seperti dicampakan orang yang kusuka, hari ini.

            “Kenapa diam? Aku masih sahabatmu kan?” Rudi menyundut pinggangku dengan jempolnya sambil tergelak.

            “Iya… iya, aku cerita,” ujarku. “Tapi berhenti menggelitikku.”

            “Oke,” ujarnya buru-buru sambil membetulkan posisi duduk. Seolah-olah dia memang siap mendengarkan celotehanku.

            Sebelumnya aku menarik napas. Mencoba menyusun kata-kata yang lumayan menyesakkan dada bila tak disampaikan. Tpai yang keluar hanya: “Besok ulang tahunmu. Aku kesal karena itu.”

            Tentu saja Rudi malah tertawa, bukannya merasakan apa yang sedang kurasakan. “Kau ini suka sekali bercanda, Naomi. Bisa-bisanya kau murung karena hari ulang tahun kawanmu,” ia menjitak kepalaku dengan bantal.

            “Tapi aku serius, Rud. Kau tahu kan alasannya! Kau semakin dewasa, dan itu berarti waktu kita untuk bersama semakin menipis.” Akhirnya kata-kata itu keluar. Kata-kata yang selama ini kupendam bersama kepedihan dan rasa takut kehilangan.

            “Tapi bukannya kau bilang itu memang harus terjadi, Nao? Kita memang harus berpisah. Kau kan yang mengingatkanku di pertemuan pertama kita?”

            Aku tersentak. Tak menyangka kalimat itu akan keluar dari mulut Rudi. Ternyata hanya aku yang mengganggap serius perpisahan kami. Dan karena rasa sakit yang mendadak membuat dadaku sesak dan mataku panas, akhirnya aku menangis.

            “Nao? Apa aku salah bicara? Kenapa kau menangis?” Rudi mengusap pundakku. Sepertinya memang merasa bersalah.

            “Tidak. Kau benar. Semuanya memang harus terjadi begini.” Aku tersenyum. Tepatnya, memaksa diri untuk tersenyum. Tapi aku bersungguh-sungguh dengan apa yang barusan kuucapkan. Rudi memang benar. Dia semakin dewasa dan tidak membutuhkanku lagi.

31 Desember 2010
Besok ulang tahun Rudi yang kelima belas. Dia sudah tumbuh jadi remaja yang benar-benar tampan. Pipinya menirus, lekuk badannya mulai terlihat, tingginya mengganda berkali-kali lipat, dan kumis, janggut serta cambang tipis mulai menutupi sebagian wajahnya.

            Rudi juga jadi break-dancer yang andal sekarang. Ia bergabung dengan beberapa temannya yang penari jalanan untuk membuat grup. Dan grup mereka benar-benar tenar belakangan ini. Otomatis jadi jarang di rumah. Bahkan, dia tak mau lagi ulang tahunnya dirayakan. Malu, katanya beberapa hari lalu.

            Sialnya, hubungan pertemananku dengan Rudi adalah hubungan yang searah.

Maksudnya, Rudi bisa menemuiku kapan saja, selama apa pun, terserah maunya. Tapi aku tak bisa begitu. Aku tidak bisa mendatangi Rudi kalau dia tidak mau aku mendatanginya, tak peduli seberapa inginnya aku bertemu dia. Aku bahkan tak bisa bicara dengan Rudi kalau temanku itu sedang tak mau bicara denganku.

Dan, tidak ada  lagi yang membuatku frustrasi selain perkara aturan hubungan ini.

31 Desember 1999
“Hai, Rudi!” aku menyapa bocah empat tahun yang sangat lucu. Pipinya tembam, matanya bulat, hidungnya mungil tapi begitu mancung; benar-benar bocah yang menggemaskan.

            “Hai! Kakak siapa?” jawabnya santai. Sama sekali tidak terkejut dengan aku yang merupakan orang asing.

            “Namaku Naomi,” ujarku seraya menjulurkan tangan kanan, berharap sambutan hangat darinya. Dan benar saja, Rudi kecil tanpa ragu-ragu menjabat tanganku.

            “Peringatkan dia, Naomi,” Ayah yang berdiri di sampingku tiba-tiba bersuara.

            “Iya, Yah. Tidak perlu disuruh, aku juga bakal bilang,” sahutku ketus. “Rudi sayang,
 kepalaku kembali beralih ke arah si bocah. “Aku ini teman imajinasimu. Salam kenal ya.”

            “Apa itu teman imajinasi, Kak?” Rudi ternyata anak yang pintar dan kukira aku akan gampang menyukainya.

            “Teman imajinasi adalah kawan yang akan selalu menemani kamu sampai nanti kamu berumur 17 tahun. Saat kamu sudah dewasa,” jelasku singkat.

            “Bagus,” Ayah menimpaliku.

            “Kenapa cuma sampai umur 17 tahun?” Rudi kecil ternyata memang bocah cerdas yang dihantui rasa ingin tahu yang besar.

            “Karena memang harus begitu, Sayang,” jawabku sekenanya.

            “Ohhh,” Rudia malah mendengus panjang, lalu berbalik dan berlari kea rah Ibunya yang sedang duduk di beranda rumah mereka. “Bu! Aku punya teman baru! Namanya Naomi!”

            Aku jadi tertawa dibuatnya. Tentu saja ibunya tak bisa melihatku. Dasar bocah! Batinku sambil berjalan mendatangi Rudi yang tengah asyik bermain. Meninggalkan Ayah yang cerewet sekali tentang pekerjaan pertamaku ini.

            Tapi, sayup-sayup aku mendengar ayah mengucapkan sesuatu untuk terakhir kalinya. Kalau tidak salah, “Jangan pernah jatuh cinta dengan manusia, ingat, kau hanya teman imajinasi baginya…”

Monday, December 10, 2012

,   |   2 comments   |  

Beberapa Menit Bercumbu dengan Lilia

Sebelumnya, saya ingin perkenalkan gadis ini terlebih dulu pada Anda semua.

   Namanya Lilia. Dia adalah salah satu tokoh rekaan saya yang belakangan jarang saya ajak mengobrol. Dahulu, saya dan Lilia begitu akrab. Kami sering menggambar bersama sejak saya berusia tiga tahun. Dan demi Neptunus, Lilia benar-benar jago menggambar. Tapi sketsa yang dibuatnya agak tidak umum. Lilia lebih senang menggambar tengkorak yang dililit duri mawar, ketimbang sketsa indah wajah Katherine Zeta-Jones, atau gambar lucu muka Mickey Mouse atau tokoh Disney dan Nickelodeon lainnya.

Saya menggambar sketsa wajah Lilia, lima menit sebelum post ini dipublis


  Ah ya, umur Lilia sekarang dua puluh tiga tahun. Sebenarnya sejak kami pertama kali bertemu, hingga sekarang, dia memang selalu dua puluh tiga tahun. Tingginya sekitar 1,68 meter, berambut bob, dengan pipi tirus dan hidung mungil. Bibirnya juga tipis, tapi Lilia punya mata bulat-cokelat yang akan langsung menarik perhatianmu ketika beradu pandang dengannya. Bisa  dibilang, mata Lilia adalah mata favorit saya. Dia juga punya beberapa tato di kulit mulus-kuning-langsatnya. Beberapa di antaranya dia sketsa sendiri: semisal tato batik, tengkorak, dan beberapa sulur berduri di tulung ekornya.

   Lilia juga sangat senang memakai kaus hitam dan hot-pans sepaha, memamerkan tato lain yang dimilikinya di sekitar kaki-bagian-atasnya... saya kira cukup perkenalan singkat tentang Lilia. Yang ingin saya ceritakan adalah, baru-baru ini saya kembali bertemu dengan Lilia, setelah sepuluh tahun lebih tanpa kabar darinya.

   Padahal, kami terakhir bertemu saat saya masih berusia delapan tahun. Lilia bilang saat itu dia sudah bosan bermain dengan saya, dan ingin cari anak kecil lain yang lebih asik. Tentu saja saya terpukul; ditinggal teman sejak kecil yang mendadak marah dan bilang mau pergi cari pengganti saya. Saat itu saya kira, alasan utama Lilia meninggalkan saya adalah karena dia benar-benar ingin mencari teman baru dan bosan dengan saya. Tapi sepeninggalannya, saya baru tahu siapa sebenarnya Lilia. Dia hanyalah salah satu teman imajiner yang saya ciptakan untuk menemani saya bermain.

  Dan, seiring waktu yang menggelinding, memercayai hal itu terasa lebih dan semakin mudah.

  Saya juga jadi percaya kalau kenangan yang saya punya tentang Lilia hanyalah rekaan yang tercipta karena manipulasi otak anak kecil yang kelampau imajinatif. Tapi keyakinan itu hanya bertahan hingga kemarin. Kemarin, saat kami entah sengaja atau tidak, dipertemukan kembali oleh Takdir.

  Lilia, yang saya kira hanya teman imajiner, menyapa saya saat saya sedang menunggu Cameo di sebuah warung kopi.

   "Sudah besar sekarang, ya Dam?" suara alto, khas Lilia tentu saja mengejutkan saya.

   "Lilia?"

   "Masih ingat aku, ternyata." Dia menarik kursi di sebelah saya, lalu duduk. "Apa kabar?" tambahnya.

   "Baik. Baik. Kamu sendiri gimana?"

   "Lumayan lah," ujarnya sambil tersenyum lembut.

  Sesungguhnya kepala saya saat itu masih berputar-putar. Masih dibalik-polaritaskan oleh kenangan, realita dan sebagian kejutan waktu.

   Wajah cantik Lilia, rambut bob-nya, tato ular bersulur duri yang ditikam sebuah belati besar di pahanya, hingga aroma wewangian Lilia yang beraroma lilac membuat saya makin pusing. Karena semua hal itu -semua hal yang tengah saya saksikan langsung dengan mata kepala saya- persis dengan semua hal yang tersisa di kepala saya tentang sosok Lilia.

   Bagaimana bisa, seorang gadis selalu berusia 23 tahun di sepanjang umur hidup saya?

  "Kau kenapa, Dam? Sepertinya sedang berpikir keras," tanya Lilia, membuyarkan lamunan saya. Ia sedikit terkekeh. Dan saya berani bertaruh, dia tahu apa yang sedang saya pikirkan tanpa harus saya beritahu.

   "Kau tahu, rasanya semua ini sangat-sangat tidak masuk akal, Lilia," celoteh saya spontan, jujur.

   Ia malah tergelak.

   "Bisa kau jelaskan padaku, Lilia?"

***
  Lalu Lilia menceritakan semuanya, semua hal yang tak terpikirkan oleh saya (sejujurnya pernah saya pikirkan, tapi hanya saya simpan ke dalam folder 'Khayalan' di otak saya). Semua penjelasan yang benar-benar membalikkan dunia saya. Dunia yang ternyata begitu naif, saya pandang. Tapi sayang, cerita Lilia tak bisa saya ceritakan di sini, mungkin lain kali, saat saya benar-benar sudah siap dengan semuanya -setidaknya untuk diri saya sendiri.