Tuesday, September 10, 2013

,   |   No comments   |  

Dia Punya Rahasia





Dia punya rahasia. Namanya Rahasia. Maksudku, pacarku yang bernama Rahasia punya rahasia.

Sebenarnya tak heran kalau seseorang punya rahasia. Toh semua orang punya rahasia. Pun aku juga punya rahasia. Jadi tak apa kalau Rahasia punya rahasia.

Tapi yang membuatku kesal adalah dia tak ingin aku tahu rahasianya. Padahal aku tak punya rahasia yang kusembunyikan darinya. Semua rahasia yang kumiliki sudah kubagi dengannya. Bahkan sesuatu yang kurencanakan akan jadi rahasiaku kuberitahukan terlebih dahulu pada Rahasia.

Sebenarnya dia juga melakukan hal yang sama. Banyak rahasianya yang ia bagikan padaku. Katanya, suatu waktu, sudah semua. Tak ada yang ia rahasiakan lagi.

Rasanya menyenangkan mengetahui rahasia pasanganmu. Hal tersebut membuatmu merasa dipercaya. Merasa istimewa dan diistimewakan oleh pasanganmu. Meski kadang yang ia anggap rahasia adalah hal sederhana yang tak kau sangka. Seperti punya tahi lalat besar di tengkuk kepalanya.

Intinya, tak penting apa yang dirahasiakan pasanganmu darimu. Karena meskipun ia punya rahasia kalau dia sebenarnya adalah makhluk gaib yang dikutuk Tuhan dari neraka sekalipun, kau akan tetap mencintainya selamanya. Berulang-ulang kali jatuh hati saat melihat matanya yang tengah memandangmu. Atau meleleh-leleh saat melihat senyum paling indah yang hanya dimilikinya. Itu semua karena kau telah jatuh cinta padanya. Telah memilih untuk menghabiskan seluruh eksistensi hidupmu bersamanya.

Karena tak ada hal indah lain di dunia ini selain hidup bersamanya. Karena tak ada lagi yang kau inginkan selain bersamanya. Jadi rahasia apa pun yang ia punya, sadar atau tidak disadarinya sudah kau terima sejak memilih dia sebagai pasanganmu.

Yang membuatku bahagia sekali adalah kesukarelaan Rahasia membagikan rahasianya padaku. Dahulu aku tak pernah meminta. Ia dengan sangat girang akan bercerita tentang segala hal mengenai dirinya. Tentangnya yang selama ini tak pernah ia ceritakan pada orang lain. Tentang hubungannya dengan ayah, ibu, kakak dan adiknya. Pun tentang perasaannya pada beberapa orang sebelum ia bertemu denganku.

Meski sedikit sakit hati di beberapa bagian, terutama saat dia bercerita tentang perasaannya terhadap beberapa pria, aku tetap senang bukan main. Karena Rahasia telah membuatku menjadi istimewa karena bisa mendengarkan rahasia-rahasianya.

Tapi itu dahulu.

Beberapa bulan lalu, tiba-tiba Rahasia bilang ia masih punya satu rahasia lagi dariku dan seluruh dunia. Aku sumringah karena siap diistimewakan lagi olehnya. Merasa siap mendengar satu lagi rahasia dari orang yang paling kucintai.

Tapi prediksiku salah. Rahasia bilang dia memang punya rahasia, tapi dia tak bilang akan memberitahuku saat itu juga. Jadilah aku kecewa.

Aku kecewa karena tak bisa merasa istimewa lagi. Tapi kututupi kekecewaanku. Aku dijanjikan Rahasia akan diceritakan tentang rahasia satu itu, suatu waktu nanti. Jadi aku bersabar saja. Toh kami punya selamanya.

Tapi meskipun selamanya ada di genggaman tangan, tapi ia tak sembarang diberi nama selamanya. Ada alasan untuk nama itu. Selamanya dibuat untuk menggambarkan waktu yang sangat lama. Dan berbulan-bulan setelah Rahasia menjanjikan hal tersebut padaku, niatnya untuk menepati tak kunjung terjadi.

Aku tetap menutupi kekecewaan. Pasalnya aku lebih senang kalau Rahasia yang ingat sendiri tentang janjinya dan langsung menjelaskannya padaku. Tapi hal itu tak pernah terjadi.

Lama kelamaan aku merasa tak istimewa lagi bagi Rahasia. Ia merahasiakan sesuatu dariku dan seluruh dunia. Lantas apa bedanya aku dengan seluruh dunia? Karena bagiku Rahasia-ku berbeda dari orang-orang lain di dunia ini. Setidaknya di mataku dialah yang paling istimewa.

Maka aku mulai menduga-duga rahasianya. Rahasia apa yang ia punya, yang membuatnya begitu merahasiakannya. Bahkan dariku yang sudah sangat mengenalnya luar dalam. Dariku yang sangat ia cintai.

Aku tak punya pikiran lain selain, bahwa rahasianya Rahasia adalah sesuatu yang membuatku akan lebih bahagia. Misalnya catatan pribadinya tentang segala sesuatu yang ia puja dariku. Biarlah sedikit narsis.

Itu jauh lebih baik daripada berpikiran buruk tentang rahasia itu. Memikirkan Rahasia punya rahasia saja sudah membuat kepalaku sempoyongan selalu, belum lagi sakit hati yang muncul kalau pikiran dia tidak lagi percaya padaku muncul.

Hah!

Ah ya, Rahasia pernah bilang alasan kenapa rahasia tersebut belum dia beritahukan padaku. Katanya, "Aku takut kamu marah. Aku belum siap kamu tahu. Cuma itu kok alasannya. Jadi tenang saja ya, pasti bakal aku beritahu nanti."

Bisa bayangkan apa yang kurasakan? Tak perlu kau bilang, aku sudah merasakannya. Aku kesal. Kecewa, sangat, sangat kecewa. Terutama pada diri sendiri. Ternyata aku terlalu naif kalau berpikiran dia sengaja mengistimewakan diriku dengan sejuta rahasianya. Bukankah aku baru istimewa jika dia memberitahuku satu -satu saja- rahasia yang paling dirahasiakannya itu?

Jadi kupaksa ia untuk memberitahuku. Untuk membuktikan bahwa aku memang seistimewa itu.
"Enam hari lagi!" kataku
"Aku belum siap."
"Enam hari lagi."
"Nanti saja kalau kita sudah punya rumah sendiri. Aku janji," tambahnya.
"Kau bukan Tuhan! Bagaimana kalau aku mati besok?"
"Ndak boleh."
"Kau bukan Tuhan! Enam hari lagi..." aku memutuskan hubungan jarak jauh kami.
Sialnya, sebelum enam hari yang paling kutunggu datang, ajalku mendahului semuanya. Ia datang mendahului hari di mana aku akan melihat Rahasia melunturkan egoisnya untukku atau membuatku merasa tidak istimewa selamanya.

Sekarang aku hanya bisa melihatnya menangis menyesal dari atas langit. Sebentar lagi dia pasti akan membisikkan rahasianya ke telinga mayatku. Lagi pula sudah kubilang dia bukan Tuhan!


______________
 Lagi, saya menemukan sesuatu tentang Rahasia di jurnal pribadi Oktober.
,   |   No comments   |  

Dosa Terindah

 
 
Sayapku lemah. Tubuhku terpaku. Entah karena lelah terbang seharian, atau memang makhluk di depanku pintar menghipnosis. Yang jelas aku membatu menatapnya.
Matanya! Matanya sangat memikat. Shit! Mana mungkin malaikat sepertiku bisa punya hati! Tapi kalaupun punya, pasti gadis itu telah mencurinya dariku. Sialan! Aku benar-benar jatuh cinta sekarang.
Dan bila Tuhan ingin memotong sayapku karena telah berbuat  dosa paling besar ini, aku rela karena dia. Karena dia adalah dosa terindah bagiku.
***
Tengah malam tadi, seseorang mem-pos sesuatu di statusnya dan menandai nama saya. Isinya kurang lebih seperti tiga paragraf yang saya tuliskan di atas. Katanya sih itu isi sms saya tiga tahun lalu padanya. Padahal seingat saya sudah enam tahun lebih kami tidak bertemu. Selama itu pula saya tidak punya nomor selulernya. Hahaha... kira-kira apa yang saya pikirkan saat mengirim sms tersebut ya. 
- Oktober

Friday, August 23, 2013

  |   No comments   |  

Senandika 37 Surat



Judul                : Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya
Pengarang        : Dewi Kharisma Michellia
Penerbit            : Gramedia Pustaka Utama
Tahun               : 2013, Juni
Tebal                : 236 hal

Tanpa satu nama pun, tanpa dialog, hanya narasi sepanjang 37 surat panjang, Michell, saya kira mencoba berfilosofi. Atau dia memang begitu.

 

Surat Panjang Tentang Jarak Kita Yang Jutaan Tahun Cahaya memang sebuah judul yang provokatif. Judul sepanjang itu dan embel-embel Pemenang Unggulan Dewan Kesenian Jakarta 2012 tentu akan menarik minat (sangat) banyak orang. Belum lagi nama Dewi Kharisma Michellia.
Meski ini kali pertamanya nama tersebut tercantum sebagai nama penulis di sebuah novel, tapi gadis ini punya banyak teman seantero Indonesia. Dia berbakat memanfaatkan teknologi untuk meluaskan jaringan dan menyebarkan karya. Di blog pribadinya ia berbagi puluhan cerpennya yang beberapa di antaranya dimuat di media nasional.
Sebenarnya, melalui sebuah kicauannya di media sosial, saya tahu kalau Surat Panjang, kita singkat saja begitu, adalah novel ke-33 Michell. Saya juga heran kenapa judul naskah ini yang ia kirimkan ke Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012. Tapi syukurlah, karena bisa jadi unggulan pada lomba bergengsi tersebut, alih-alih menjadi novel pertama yang ia terbitkan.
Surat Panjang sendiri, seperti namanya adalah senandika 37 surat yang diceritakan oleh seorang wanita berusia 40 tahunan yang tak diberi nama. Surat-surat wanita itu ia tujukan kepada cinta abadi-nya yang tak pernah sampai karena terhalang problema darah. Ia menyebut sepupu yang ia cintai itu sebagai Tuan Alien, karena secuil kisah yang sempat mereka kecap sewaktu kecil.
Meskipun dibangun oleh fondasi ‘kasih tak sampai’ dan rasa patah hati karena ditinggal nikah Tuan Alien, tapi saya mengasumsikan jenis novel ini bukanlah roman. Isinya memang konsisten seperti judulnya, memang kumpulan surat yang ditulisnya bertahun-tahun hingga ia mati karena kanker, atau begitulah pembaca digiring. Tapi melalui surat-surat tersebut, Aku yang merupakan seorang reporter media nasional di Jakarta, menuturkan banyak sekali nilai-nilai filosofi kehidupan.
Tentang kesendirian, patah hati, terbuang, ketidakbahagiaan, patah hati. Tema-tema yang sebenarnya biasa hadir di kehidupan sehari-hari. Namun dikupas secara dalam dan kebanyakan dibedah di dalam alam pikiran.
Sehingga tepat kalau dikatakan sebagai novel yang difilsafatkan. Genre inilah yang hadir pada buku-buku penulis kenamaan Indonesia sekarang yang karya-karyanya diakui sebagai buah sastra modern. Sebut saja nama-nama seperti Dewi Lestari atau Djenar Maesa Ayu.
Diksi Michell begitu memukau. Ia mengumbar pengetahuan-pengetahuannya yang ia dapat dari membaca buku-buku bagus, mendengar simfoni-simfoni gubahan maestro dan film-film sesuai seleranya yang sesekali ia kutip dalam beberapa paragraf.
Namun sesungguhnya saya pribadi tidak terlalu suka dengan para penulis yang bahasanya sungguh indah sedemikian rupa hingga meleleh-leleh pembaca dibuatnya. Masalah selera saja. Saya rasa penulis-penulis demikian terlalu egois dengan diksi-diksi dalam mereka. Tapi dengan Surat Panjang ini, Michell mampu disandingkan dengan nama-nama tersebut.
Dan karena pilihan kata yang disampaikan Michell begitu memukau, ia turut terjebak dalam karakteristik kebanyakan penulis Indonesia, yang hanya menyuguhkan permainan kata nan apik tapi lupa menyajikan akhir yang baik bagi ceritanya sendiri. Seperti Pulang-nya Leila S Chudori, atau seri Supernova-nya Dewi Lestrari, Surat Panjang juga berakhir begitu saja. Seperti hanya memoar Aku hingga ia menjelang ajalnya.
Selain itu, kekurangan buku ini juga terletak pada formatnya. Format surat yang full narasi begini memang akan berisiko membuat pembaca kebosanan meski sebenarnya cukup menarik. Jadilah Aku yang diciptakan Michell bersenandika sepanjang 37 surat, yang meski teruntuk Tuan Alien, namun malah menjadi memoar pribadinya menggerutui hidup.