Thursday, December 25, 2014

  |   No comments   |  

Chloë Moretz dan Film Remaja yang Cengeng

Kalau The Fault In Our Stars (TFIOS) (2014) bisa jadi film adaptasi yang manis, sayang If I Stay yang novelnya memborbardir kesedihan dengan linangan air mata gagal diinterpretasikan jadi film bagus. Yang ada hanya si cantik ChloëMoretz dan film remaja yang cengeng.


Chloë Grace Moretz, si aktris cilik berbakat sudah jadi remaja dan mengejutkan orang-orang dengan penampilannya sebagai si gaib Carrietta di film daur ulang: Carrie(2013). Di film itu, Moretz berhasil meyakinkan penontonnya bahwa ia adalah gadis aneh berkekuatan telekinesis yang menyeramkan. Berhasil membuat orang-orang sadar kalau kemampuan aktingnya belum lenyap ditelan pubertas.
Kali ini ia muncul lagi dalam karakter berbeda di sebuah film drama romantis. Berusaha meyakinkan kita lagi bahwa ia akan jadi mega bintang yang akan terus kita lihat di film-film Hollywood berikutnya.
Sang aktris memerankan Mia Hall, seorang pemain selo yang juga gadis kurang populer di sekolahnya. Mia adalah anak dari seorang ayah bekas musisi, dan ibu yang dulunya groupie band rock sang ayah. Kedua orang tuanya begitu rock, sehingga Mia merasa salah terlahir di keluarga itu. Sebab ia adalah penggemar sejati musik klasik. Penggemar sejati Ludwig van Beethoven.
Sebab itu pula, Mia memilih selo sebagai alat musiknya. Ia canggung dalam keramaian, dan nyaman bila memutar album Beethoven di kamarnya sendirian.
Namun ia bertemu dengan Adam (Jamie Blackley), rocker tampan yang diam-diam naksir dirinya. Latar belakang musik Adam yang mirip dengan kedua orang tua Mia, membuat perjalanan cinta kedua remaja ini tak perlu disandung masalah restu orang tua. Keduanya melenggang santai sambil bermesra-mesraan di teras rumah Mia. Bahkan Adam disambut ramah sang ayah saat tahu kalau Adam punya album band-nya. “Youre the one!” kata Denny, ayah Mia yang diperankan Joshua Leonard.
Tapi konflik film ini memang bukan di kisah percintaan Mia dan Adam, setidaknya bukan itu yang awal film ini sajikan.
Di menit kedua belas film diputar, tentu setelah sedikit intro yang mengenalkan Mia dan keluarganya yang keren, adegan pokok film ini disajikan. Mia sekeluarga mengalami kecelakaan mobil di tengah jalanan bersalju.
Ibunya yang diperankan si keren Mireille Enos, tewas di tempat. Ayahnya mengalami pendarahan di kepala. Sementara adiknya sadar, tapi kemudian pingsan. Mia? Ia sendiri siuman jauh dari tubuhnya terbaring kaku. Rohnya keluar dari tubuh. Ia terjebak antara hidup dan mati.
Dan adegan di film kemudian diputar maju-mundur. Kita akan disuguhkan cerita manis hidup Mia Hall dan keluarganya yang keren. Tak lupa, kisah cintanya dengan Adam Wilde yang begitu romantis dan… manis.
Sulit untuk tidak mengaitkan film ini dengan TFIOS, film drama romantis yang baru-baru ini sebentar saja sudah jadi Box Office di Hollywood sana. Diperankan Shaillene Woodley dan Ansel Elgort, film yang juga diadaptasi dari novel laris ini berhasil menarik perhatian penontonnya di tengah sajian film-film bergenre serupa: fiksi fantasi.
Kehadiran If I Stay yang baru muncul setelah TFIOS, bisa saja dinilai sebagai latah baru Hollywood menyajikan film drama romantis remaja. Apalagi, sutradaranya RJ Cutler kurang berhasil menerjemahkan buku adaptasinya, seperti keberhasilan Josh Boone menggarap TFIOS.
Alur maju-mundur di film ini tak rapi dibuat Cutler. Ia juga tak pintar menyisipkan drama di saat yang tepat, misalnya saat Mia tahu kalau kedua orang tuanya meninggal. Atau saat Teddy, adik Mia satu-satunya juga tewas karena pendarahan di otak. Mungkin, latar belakang Cutler yang merupakan sutradara film dokumenter bisa jadi jawaban kekeliruan ini. Walhasil, adegan yang harusnya bisa menghantam penonton dengan drama disajikan datar-datar saja oleh Cutler.
Beda dengan TFIOS yang punya sedikit saja adegan dramatis, tapi semuanya bisa menohok penonton di tempat.
Beruntung, dekat-dekat penghabisan film, ada Stacy Keach yang memerankan kakek Mia. Ada adegan Stacy berdialog dengan tubuh kaku Mia yang koma. Ia meyakinkan Mia bahwa Mia bisa saja meninggalkan dunia ini karena ketika ia bangun, ada banyak hal yang telah meninggalkan Mia: ayahnya, ibunya, dan adiknya. Stacy berdialog sambil menangis. Dan di sanalah penonton dihantam.

Tapi, dari begitu banyaknya kesempatan untuk menghantam penonton dengan adegan haru, hanya satu yang berhasil diterjemahkan Cutler.
Keberuntungan Cutler lainnya adalah Chloe Moretz yang ia pilih memerankan Mia Hall. Dan juga Jamie Blackley yang akhirnya klop sekali memerankan Adam Wilde. Seni peran keduanya lumayan menjadi perhatian di sepanjang film diputar. Keberuntungan lainnya lagi, adalah lagu-lagu yang jadi latar musik di film ini. Cutler sangat tertolong oleh Heitor Pereira, sang penata musik.
Tapi sayang, film yang memang berlandaskan musik sebagai salah satu batang primer ceritanya ini hanya bisa jadi film remaja cengeng; yang ada Chloe Moretz di dalamnya.
  |   No comments   |  

Pertanyaan Demi Pertanyaan dari The Maze Runner

Ada bocah dari film Nanny McPheeNarnia, dan serial Teen Wolf yang sudah jadi aktor-aktor tampan di sini. Tapi sayang, dibungkus naskah yang membingungkan, penampilan aktor-aktor ini jadi biasa-biasa saja.

Satu lagi film diangkat 20th Century Fox dari adaptasi novel New York Times Bestseller. Kali ini milik penulis James Dashner. Judulnya sama dengan novel adaptasinya, The Maze Runner.
Bercerita tentang seorang bocah berusia enam belas tahun, diperankan aktor dari serial Teen Wolf, Dylan O’Brien, yang tampak jauh lebih berotot dan tua. Sejak di awal rol berputar, kita tak kenal dengan bocah ini. Bahkan dirinya sendiri tak tahu siapa ia. Ia juga lupa namanya. Yang ia tahu, ia baru saja bangun dari pingsan panjang dan sudah berada dalam sebuah kotak elevator. Kotak yang mengantarkannya pada sebuah tempat asing.
Sama seperti si bocah, penonton juga digiring untuk bertanya-tanya: siapa si bocah itu? Tempat apa itu? Kenapa dia ada di sana? Darimana asal si bocah? Film apa sebenarnya ini? Kenapa saya nonton film ini?
Pertanyan-pertanyaan ini tak sekonyong-konyong langsung dijawab dalam menit-menit awal. Bersama Dylan O’Brien yang tak tahu namanya, penonton juga digiring untuk menyusun cerita. Kita mulai tahu kalau tempat itu bernama The Glade, titik tengah dari sebuah labirin raksasa pemakan siapa pun yang masuk ke dalamnya.
The Glade diisi oleh para pria, berusia sebelas hingga tiga puluh, yang ternyata juga mengalami hal serupa dengan Dylan O’Brien yang akhirnya ingat namanya. Semua pemuda itu baru ingat nama mereka selepas sehari atau dua hari berada di The Glade. Dylan yang ternyata bernama Thomas mulai menyelidiki tempat itu.
Sebenarnya ia dilarang ini-itu oleh Alby (Aml Ameen), pemimpin The Glade. Semisal tak boleh masuk ke labirin, harus bekerja sesuai perintah, dan hidup akur dengan pemuda lainnya di The Glade. Tapi, Thomas tak bisa diam. Seolah disalurkan rasa penasaran penonton, Thomas menggiring cerita untuk menemukan pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benak penonton ketika menonton film ini.
Satu per satu pertanyaan tentang apa sebenarnya tempat itu mulai terkuak.
Di sana, Thomas berteman dengan Newt yang diperankan Thomas Brodie-Sangster dari film Nanny McPhee dan serial televisi Games of Thrones. Sama seperti penampilan Dylan, Thomas Brodie juga sudah jadi pemuda gagah yang bekerja sebagai petani di kebun The Glade. Sekadar mengingatkan, Thomas Brodie sudah sering diganjar berbagai penghargaan saat ia masih bocah. Jadi, tak usah ragu dengan bakat aktingnya.
Melalui Newt, pertanyaan-pertanyaan Thomas mulai terjawab.
Ternyata, labirin itu berisi monster-monster yang mereka namai Griever. Labirin itu juga satu-satunya jalan keluar para pemuda dari The Glade. Sebuah ironi yang menghantui hidup masyarakat The Glade selama tiga tahun mereka hidup di sana. Untuk mengetahui seluk-beluk labirin yang berganti tiap saat, Alby dan pemuda lainnya mengutus Para Pelari, beberapa pemuda yang dinilai cerdas, tangguh, dan cepat, untuk menemukan jalan keluar yang mereka pikir ada.
Singkat cerita, Thomas yang memang pemberontak, direkrut jadi Pelari saat berhasil membunuh seekor Griever yang ternyata adalah robot. Hal itu tak mudah-mudah amat. Thomas harus berkelahi dulu dengan penghuni lama The Glade, si Gally yang diperankan Will Pouter, bocah naga di The Narnia and The Voyage of The Dawn Treader yang juga sudah berotot dan tua. Kelak, Gally ini yang akan jadi rival Thomas.
Tapi sampai separuh rol film diputar, pertanyaan tentang siapa sebenarnya pemuda-pemuda itu, dan apa sebenarnya labirin itu masih belum terjawab. Bahkan sampai rol folm selesai diputar, pertanyaan-pertanyaan ini tak selesai dijawab.
Thomas dan sekutunya memang berhasil menemukan jalan keluar dari labirin setelah seorang gadis datang tiba-tiba ke The Glade. Tentu saja melalui kotak elevator yang membawa Thomas dan pemuda lainnya. Mereka mulai menemukan teka-teki jalan keluar-masuk labirin itu. Dan berhasil menemukan mayat-mayat peneliti yang menempatkan mereka dalam The Glade sebagai kelinci percobaan.
Intinya, sampai film ini selesai, yang Thomas tahu mereka adalah kelinci percobaan. Dari apa? Film ini pun tak bisa menjawabnya. Film prequelnya mungkin yang bisa menjawab.

Dibangun dari pertanyaan-pertanyaan, film ini juga ditutup dengan pertanyaan-pertanyaan baru. Bahkan beberapa pertanyaan di awal cerita, belum selesai dijawab. Siapa yang bisa disalahkan? Mungkin, naskah yang benar-benar berbeda dari novel adaptasinya ini adalah jawabannya. Tim Noah Oppenheim dalam dek penulisan naskah, terlalu banyak berimprovisasi dari novel aslinya dan malah membuat kemenarikan film ini jadi jatuh.
Percuma, aktor-aktor muda yang sudah dipilih Wess Ball. Mereka cuma bisa jadi pemanis, agar penonton dari kalangan remaja putri tertarik beli tiket bioskop untuk nonton The Maze Runner.
  |   11 comments   |  

Kau Baca atau Kaubaca yang Benar?

Pernah temukan kata ‘kau’ yang disambung kata kerja di depannya seperti judul di atas? Misalnya saat Anda membaca novel terbitan Kompas Gramedia? Majalah Tempo? Atau baru melihatnya pertama kali di artikel ini? Maka, ada baiknya kaubacalah tulisan ini sampai habis.

Kata ‘kau’ sendiri adalah kata ganti orang atas ‘engkau’. Sekali lagi,  ia adalah bentuk ringkas dari kata ‘engkau’. Bentuk ringkas begini biasa disebut klitik dalam Bahasa Indonesia.
Di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) revisi termutakhir, klitik berdefinisi: bentuk yang terikat secara fonologis, tetapi berstatus kata karena dapat mengisi gatra pada tingkat frasa atau klausa, misal bentuk {-nya} dalam bukunya.
Contoh klitik ini yang paling sering kita temui adalah ‘ku’ atau ‘nya’. Tapi tak banyak yang tahu kalau ‘kau’ juga merupakan kawanan dari mereka.
Hal ini wajar, karena dalam KBBI sendiri kata ‘ku’ punya makna yang jelas. ‘Ku’ dalam KBBI berdefinisi: bentuk ringkas dari pronomina persona pertama;  bentuk klitik aku sebagai penunjuk pelaku, pemilik, tujuan: kuambil; rumahku; memukulku. Begitu pula dengan ‘nya’, yang meski tak berdiri sebagai kata tunggal di KBBI, tapi sudah jelas keberadaannya sebagai klitik.
‘Kau’ dalam KBBI hanya berarti: pronomina engkau (umumnya digunakan sebagai bentuk terikat di depan kata lain).  Perhatikan kata ‘umumnya’! Posisi kata ‘kau’ yang tak dijelaskan sebagai bentuk klitik semakin dibuyarkan oleh kata umumnya di kalimat tersebut. Kasihan sekali, ya.
Sebenarnya, penggunaan kata ‘umumnya’ di kalimat tersebut tak salah-salah amat.
Sebab sejatinya, ‘kau’ memang tak bisa asal disambungkan dengan kalimat di depan atau di belakangnya seperti kata-kata yang termasuk klitik lainnya.
Prinsipnya sama dengan penggunaan kata ‘ku’. Klitik ‘ku’ dan ‘kau’ harus digunakan dalam kalimat pasif.
Misalnya saja klitik ‘ku’ yang bisa disambung dengan kata kerja: baca, tulis. Jadi ‘kubaca’ atau ‘kutulis’. Tidak tepat jika dituliskan seperti ‘kumembacakan’ atau ‘kumenuliskan’. Perhatikan jika mereka diletakkan dalam sebuah kalimat: yang benar adalah novel itu sudah kubaca dua belas kali, bukan sudah dua belas kali kumembacakan novel itu untuknya.
Mengapa demikian?
Sebab ‘ku’ dalam kalimat novel itu sudah kubaca dua belas kali, berbentuk pasif: aku baca (dibaca oleh aku). Sementara dalam kalimat sudah dua belas kali kumembacakan novel itu, ‘ku’ bersifat aktif. Lagi pula ‘ku’ tidaklah bisa berdiri sendiri. Ia harus diikuti atau mengikuti kata lain. Sebab dalam KBBI, termasuk buku Tesaurus Bahasa Indonesia, tidak ada kata ‘ku’ sebagai sinonim dari ‘aku’, yang bersinonim: ‘aku’, ‘saya’, ‘hamba’, ‘awak’, ‘beta’, ‘ana’, dan ‘gue’.
Berbeda dengan ‘kau’ yang bersinonim dengan ‘sampean’, ‘kamu’, ‘anda’, ‘engkau’, dan ‘saudara’. Maka ia bisa berdiri sendiri sebagai sebuah kata.
Namun, sebagai klitik, ‘kau’ hanya bisa mengikuti kata lain. Misalnya berubah mejadi ‘kaubaca’ bila bertemu kata ‘baca’ seperti dalam kalimat: novel itu sudah kaubaca dua belas kali. Tentu dengan prinsip sama dengan klitik ‘ku’, yakni harus digunakan dalam kalimat pasif.
Klitik sendiri punya dua jenis. Pertama disebut proklitik. Kedua disebut enklitik. Proklitik adalah sebutan klitik yang letaknya di depan sebuah kata kerja, semisal: kubaca, atau kaubaca tadi. Sementara, enklitik adalah klitik yang letaknya di belakang sebuah kata, seperti: jawabku, atau kilahnya.
Dengan kata lain, klitik ‘ku’ punya bentuk luas karena bisa digunakan sebagai proklitik dan enklitik. Berbeda dengan klitik ‘kau’ yang hanya bisa digunakan sebagai proklitik.
Lantas, sekarang mana yang benar? ‘Kaubaca’ atau ‘kau baca’? ‘Kaupikir’ atau ‘kau pikir’?
Ternyata semuanya benar. ‘Kau’ bisa digunakan sesuka hati. ‘Kaubaca’ dan ‘kaupikir’ benar karena ‘kau’ di dalam mereka merupakan klitik dari kata ‘engkau’. Pun benar dalam ‘kau baca’ dan ‘kau pikir’ karena ‘kau’ di dalamnya bersinonim dengan engkau ataupun kamu ataupun dan sebagainya.
Jadi, sekarang kau pilih mau tulis ‘kaubaca’ atau ‘kau baca’?

Sunday, November 30, 2014

  |   No comments   |  

Supernova Gelombang: ‘Ejakulasi Pertama’ Sebelum ‘Orgasme Sesungguhnya’



Karakter baru diperkenalkan lagi. Kali ini Parmalim Batak bermarga Sagala. Lewatnya, jaring laba-laba Supernova makin terang-benderang. Mungkin Dee ingin pembaca ejakulasi sebentar, sebelum disuguhkan orgasme dahsyat tentang apa sebenarnya Supernova.



Dewi ‘Dee’ Lestari hanya butuh dua tahun untuk menyuguhkan Gelombang, keping baru dari heksaloginya, Supernova. Penggemar setia karya ini setidaknya tak menunggu delapan tahun seperti saat menanti kehadiran Partikel (2012) novel keempat, setelah Akar (2004) novel ketiga.

Tak perlu berpuasa lama untuk melanjutkan petualangan yang disajikan Supernova. Kali ini, karakter baru muncul untuk memandu kita. Namanya, Thomas Alfa Edison Sagala. Biasa dipanggil Ichon saat masih di kampungnya di Sianjur Mula-Mula, sebuah kampung yang konon tempat lahir bangsa Batak pertama kali di dunia. Letaknya di Pulau Samosir, di tengah-tengah Danau Toba.

Kisah Ichon dimulai saat usianya baru 12 tahun di tahun 1990. Hari itu ia pertama kali mendengar bapaknya bermain gondang secara penuh. Gondang sendiri adalah musik ansambel Batak yang dipadu dengan Tari Tor-Tor, dimainkan pada upacara atau perayaan khusus. Waktu itu, ada seorang warga dari desanya yang mau jadi anggota DPR.

Di hari itu Ichon merasakan sakit kepala pertamanya yang tak biasa. Di gulita kampungnya karena upacara itu, sesosok makhluk gelap bersayap dan bermata kuning runcing masuk ke rumahnya. Berdiri di pojokan dan menatapnya langsung.

Orang-orang bilang itu sosok Raja Uti, salah seorang Raja dari Bangsa Batak.

Tak jelas kemauan si makhluk menampakkan diri pada Ichon seorang. Tapi, sejak itu ia jadi sering bermimpi buruk. Mimpi tentang makhluk itu. Sosok yang kemudian dikenal sebagai Si Jaga Portibi.
Sejak itu pula, orang-orang sakti mendatangi Ichon. Minta ia jadi murid. Ichon diramalkan kelak jadi orang sakti pula. Tapi perebutan itu berbuah pahit. Salah seorang dukun, Ompu Togu Urat, yang meminang Ichon jadi muridnya, justru lenyap dalam upayanya membunuh Ichon di Danau Toba. Oleh dukun lain yang juga ingin dia jadi murid, Ichon justru diberi dua buah batu bersimbolkan sesuatu. Si dukun bilang, batu itu yang akan mempertemukan Ichon dengan teman sekelompoknya, orang-orang yang punya kehebatan serta takdir sama dengannya.

Peringatan itu tak terlalu diambil pusing Ichon, tapi ia tetap menyimpan batu-batunya. Bocah Batak itu justru fokus memperbaiki nasib keluarganya yang tak senang-senang amat. Dari Sianjur Mula-Mula di Pusuk Buhit, keluarganya pindah ke Jakarta.

Di saat-saat itu, Ichon mulai terbiasa dengan kebiasaan bergadangnya. Setelah bertemu Si Jaga Portibi, Ichon jadi tak pernah tidur. Ia akan bergadang semalaman sambil bermain gitar, membaca, atau belajar. Sebab, tiap tidurnya jadi pertaruhan nyawa. Si Jaga Portibi menunggunya di alam mimpi.

Tapi kebiasaan imsonia ini ia rahasiakan. Meski semua orang akhirnya selalu bertanya, “kau tak tidur-tidur ya, Chon?”

Petualangan Ichon di Jakarta tak lama-lama. Nasib membawanya jadi imigran gelap di Hoboken, Amerika Serikat. Di sana ia mulai belajar keras mewujudkan mimpinya, melunasi hutang Bapak yang membiayai tiketnya ke Amerika.

Ichon ternyata memang bocah mujur. Ia dapat beasiswa di SMA Amerika, kemudian lulus di Princeton, Columbia, dan Cornell. Lantas memilih kuliah di Cornell karena ditampung beasiswa penuh. Nasib mujur berikutnya, ia magang di Wall Street dan kaya raya setelah jadi karyawan tetap di sana. Semua hutang, semua mimpi, dibayarnya lunas.

Baru, setelah angka di rekeningnya terus membukit, petualangan sebenarnya ia mulai. Nicky, seorang dokter (hampir) spesialis mimpi, membuka gerbang perjalanan mencari jati diri bagi Alfa Sagala, nama baru Ichon setelah pindah ke Amerika.

Petualangan Alfa bakal mirip petualangan Bodhi di Akar, Elektra di Petir, dan Zarah di Partikel. Ia akan menemukan banyak orang yang membantunya semakin dekat mengingat kembali siapa dirinya. Bedanya, kisah Alfa tak akan menggantung seperti kisah Bodhi, Elektra, dan Zarah. Alfa berhasil menemukan dirinya, yang ternyata bernama Gelombang di suatu dimensi lain.

Sebuah dimensi yang disebutnya Asko. Tempat ia bertemu Bintang Jatuh, atau yang lebih kita kenal sebagai Diva di seri pertama Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh (KPBJ).

Hal ini menjawab mengapa Alfa adalah tokoh yang harus hadir di buku kelima. Sebab di keping inilah, siapa sebenarnya Bodhi, Elektra, dan Zarah mulai terkuak. Mereka disebut Peretas, tapi apa itu Peretas? Sepenuhnya belum dijawab gamblang Dee di sini. 

Pembaca juga mulai bisa menerka siapa Gio Alvaro, pemuda tampan yang selalu jadi cameo di KPBJ, Akar, dan epilog Gelombang sendiri. Ataupun cameo-cameo lainnya, seperti Isthar Summer dan Kell si tukang tato. Tapi hanya batas menerka. Sebab, sama seperti buku-buku sebelumnya dari seri Supernova, Gelombang pun meninggalkan teka-teki. Dahaga baru yang harus kita tunggu di buku terakhirnya, Intelegensi Embun Pagi.

Sukar membahas ekstrensik novel ini, sebab Supernova memang selalu menyajikan plot aneh yang mengusik batin dan logika. Demikian pula buku kelimanya ini. Gelombang hadir dengan alur unik yang hebat, karakter kuat, serta kematangan menulis Dee yang semakin terasa.

Ini pula jawaban kenapa Gelombang jadi begitu penting. Ia hadir sebagai ‘ejakulasi pertama’ sebelum ‘orgasme yang sesungguhnya’ dihadirkan Intelegensi Embun Pagi. Kita tunggu saja.

Wednesday, November 5, 2014

, ,   |   No comments   |  

Tadi Senja, Saya Mampir ke Gerbang Surga

Saya sedang berpikiran liar. Maksudnya, pikiran liar tentang diri saya sendiri. Bukan tentang buah dada menggiurkan milik Scarlett Johansson; atau bokong bahenol milik Beyonce Knowles (terkutuklah si jelek Jay Z yang sialnya sangat beruntung itu). Kali ini pikiran liar saya berisi semua apa-apa yang baunya negatif. Sedikit magis. Tapi sebenarnya sangat religius, tentang diri saya sendiri.
Pikiran-pikiran itu tentang kematian saya. Saya berpikir tentang bagaimana saya akan mati. Kapankah hal itu terjadi? Atau bagaimana orang-orang akan menyemayamkan jasad saya: akankah dikremasi, dipetikan, atau dibungkus kain kafan. Tapi yang jelas, orang-orang akan membongkar dulu isi dompet saya untuk mencari KTP, dan berakhir kecewa karena mereka hanya akan menemukan tanda garis penghubung di kolom agama. Dan karena pikiran ini saya tertawa.
Tak ada orang yang tahu kalau saya ini seorang agnostik. Orangtua saya juga sudah sejak lama memutuskan hubungan dengan cara mengusir saya, waktu saya masih duduk di bangku sekolah menengah. Sehingga identitas ini hanya diketahui oleh saya seorang. Karena saat memutuskan untuk jadi seorang agnostik, saya sedang sendiri, dan tak merasa punya tanggung jawab moral untuk memberitahu keputusan ini pada orang-orang.
Dan sebenarnya, identitas saya sebagai agnostik inilah yang membawa pikiran-pikiran tadi ke kepala saya. Semua pertanyaan-pertanyaan aneh yang harusnya tuntas di pikiran kita semua saat berusia delapan tahun. Saat pertanyaan tentang eksistensi Tuhan juga selesai kita jawab. Tapi, kita yang saya maksud adalah orang-orang yang meyakini agama. Agnostik seperti saya tak termasuk.
Kami dibuat bingung dengan tradisi-tradisi yang diciptakan agama. Tapi beruntung, abad 21 memberikan kita banyak sekali pilihan hidup. Dan lagi beruntung, karena salah satu pilihan itu adalah ‘memilih untuk tidak peduli dengan segala apa yang tak ingin kita pedulikan’. Tapi sekarang saya jadi mempedulikan satu hal yang selama ini tak saya pedulikan: tentang bagaimana kematian saya nanti? Tepatnya, bagaimana keadaan jasad saya nanti? Akan diapakan dia?
Semua pikiran ini akhirnya saya bawa ke Mas Dhan, flamboyan keparat yang sialnya adalah editor saya. Bujang lapuk-cerewet ini sialnya (lagi) adalah teman diskusi yang asyik. Dia mahatahu. Bukan sekadar serbatahu. Politik, ekonomi, sastra, hukum. Trias politika kacau yang dimiliki Indonesia, redenominasi yang ia sebut sebagai penanda berfungsinya otak manusia Indonesia, prosa-prosa beatnik yang gelap itu, bahkan hingga undang-undang desa termutakhir yang ia bilang sebagai, “undang-undang penipuan”.
“Penipuan?” tanyaku di sepotong sore, di Dunkin Donuts, saat gajiku atas lima artikel baru saja ditransfer bagian keuangan, dan sepertiganya dihabiskan si bujang lapuk keparat, Mas Dhan, sore itu juga.
“Pemerintah bilang di undang-undang itu, setiap desa di Indonesia akan dapat satu miliar. Tapi syaratnya dipersulit. Yang mereka anggap desa di Jawa harus punya enam ribu penduduk, Bali harus punya lima ribu penduduk. Sumatera harus punya empat ribu. Di Papua minimal 500 penduduk. Dari 72 ribu desa di negeri ini, sedikit sekali dong yang bisa dibilang desa,” ia tertawa sambil mengisap lintingan rokoknya.
Dan sialnya (untuk kesekian kali), si bujang lapuk memang selalu benar. Dan sangat rasional.
Begitu rasional pula menanggapi pertanyaan yang kubawa padanya sore tadi. Ia mengawali jawabannya dengan senyuman.
“Kamu maunya disemayamkan gimana?”
“Ha?” aku malah bingung, pertanyaan itu lupa kutanyakan pada diriku sendiri.
“Sudah kutebak, kau lupa pertanyaan satu ini.”
“Dikremasi!” tiba-tiba gagasan untuk tak punya kuburan sebagai tempat bersemayam, terdengar sangat… damai. “Aku tak mau sepuluh atau dua puluh tahun pascakematianku, kuburan yang menyimpan jasadku harus ditimbun bangunan apartemen atau mal. Ruhku pasti bakal sakit hati.”
“Pilihan bagus.”
Lalu, ada jeda. Ia mengisap linting rokoknya. Bujang lapuk ini memang perokok berat. Dalam sehari ia bisa menghabiskan tiga bungkus rokok.
“Lalu bagaimana?” jedanya terlalu lama. Aku butuh jawabannya lagi.
“Bagaimana apa?”
“Apa yang harus saya lakukan? Mayat saya pasti tidak akan bisa menjawab kalau ada yang tanya, hei kamu mau kami apakan? Bakar? Diikat tali pocong? Atau mau dicincang sekalian saja?”
Mas Dhan tertawa mendengar lelucon sarkastik saya. “Aku yang bakal jawab, Bodoh!” tangannya melemparkan kotak rokoknya yang sudah kosong ke kepalaku. Dan jitu!
Tapi lagi-lagi dia benar. Sekarang sudah ada orang yang tahu tentang identitas saya sebagai agnostik. Sudah ada orang yang akan mengkremasi tubuh jelek saya ini. Dan… saya tertawa karena kebodohan saya ini.
***
Saya sedang tidur siang di Kamis Legi saat dikabari kalau Mas Dhan tewas karena kanker paru-paru, dini harinya. Semua orang terkejut dengan kanker itu. Pasalnya tak ada yang tahu kalau tubuh si bujang lapuk sedang memakan dirinya sendiri. Tapi satu-dua orang sudah menduga, kalau Mas Dhan bakal koit digerogoti kanker. Dia kan pecandu akut rokok.
Kematiannya jadi sebuah ironi bagi saya. Sebabnya, perbincangan kami tiga minggu lalu adalah tentang bagaimana saya akan disemayamkan setelah bertemu kematian. Dan Mas Dhan berjanji bakal mengkremasi jasad saya. Sialnya, si bujang lapuk ini mencurangi saya dengan lebih dulu menemui Ezekiel. Betapa beruntungnya dia. Karena orang yang mati muda selalu dianggap keren, setidaknya saat pemakamannya para pelayat akan bicara hal-hal baik tentangnya. Bahwa yang bisa mati muda hanya orang-orang baik; orang-orang yang sangat dicintai Tuhan, orang-orang yang dirindukan-Nya.
Sial! Kenapa selalu saya yang sial dan Mas Dhan ini selalu beruntung! Bahkan saat dia sudah mati.
Di perbincangan itu, kami tak membahas pilihan alternatif kalau-kalau Mas Dhan yang mati lebih dulu. Dan karenanya sekarang saya kembali memikirkan bagaimana nanti saya akan disemayamkan? Siapa yang akan mengurus jasad saya?
Aduh, Mas Dhan. Kenapa kamu mati begitu cepat sih?
“Tidak usah bingung begitu. Mau diapakan pun jasadmu, ternyata itu tidak ada pengaruhnya. Kamu bisa tetap damai, Cameo.” Itu suara Mas Dhan. Dia tiba-tiba muncul di depan saya yang sedang singgah di makamnya, senja tadi.
“Kamu… jadi… hantu…, Mas?” saya memang tidak teriak, tapi Mas Dhan itu hantu pertama yang saya lihat.
“Aku tetap aku, Cameo. Cuma bedanya sekarang aku sudah tidak punya jasad lagi.” Dia tersenyum. “Oh, ya. Kamu harus cepat-cepat ke surga, Cam. Di sana benar-benar… aduh, tidak ada kata yang bisa benar-benar mendeskripsikannya.”
“Kamu editor, Mas. Cari kata yang tepat!” aku jadi penasaran.
Dia tertawa.
“Heh, tapi tunggu dulu. Jadi perokok akut seperti kamu bisa masuk surga? Kamu orang baik, ya, sampai-sampai neraka tidak mau menerima kamu.”
“Siapa bilang neraka ada.” Itu pernyataan bukan pertanyaan.
Aku menganga. Dan perbincangan kami berlanjut. Aku jadi seperti bocah lima tahun yang diajak mamanya belanja ke mal: jadi banyak tanya. Antusias, bising, dan banyak tanya.
Dan sejak hari itu, makam Mas Dhan jadi seperti surga bagiku. Aku akan datang ke sana jika butuh mendiskusikan sesuatu dengannya. Dan dia akan selalu datang saat senja, dan menjawab pertanyaan-pertanyaanku.

Tuesday, June 24, 2014

,   |   1 comment   |  

Kita yang Penulis Lepas Ini



Penulis Lepas! Kepalaku langsung berdenting ketika ekor mata ini menangkap kehadiranmu. Pemuda kusut yang karena takdir Tuhan lewat di depanku beberapa detik lalu. Entah kenapa kepalaku punya kekuatan gaib untuk menandai penulis lepas sepertimu. Mungkin karena perawakanmu yang khas sekali, bak penulis lepas di seluruh dunia ini: kaos berwarna muram, jins belel yang sobek di lutut, cambang-kumis-janggut yang tak dicukur karena tak sempat, bukan karena ikut-ikut tren; serta ransel buluk yang isinya (teramatlah pasti) komputer jinjing yang baterainya sudah soak sehingga ke mana pun kau pergi pasti menginting pengisi daya-nya.

Terlebih lagi kita bertemu di tempat ini, swalayan mini yang buka 24 jam. Tempatnya para penulis lepas bergadang, mengejar tenggat demi transferan di rekening. Kopi botolan dan kudapan ringan yang kau bawa semakin menguatkan tebakanku tentang siapa dirimu.

Eh... Kau melirik, lalu mengangkat sebelah alismu. Sapaan buatku yang lancang menatapmu lebih dari sepuluh detik. Sungguh memalukan.

Bukannya membalas sapaanmu, aku malah tunduk. Pura-pura tak lihat. Sungguh. Aku. Malu.

***

Penulis Lepas! Kepalaku berdenting. Setiap bertemu orang yang memakai kaos berwarna muram, jins belel yang sobek di lutut, dan tampang bantal, kepalaku langsung berdenting seperti sekarang ini. Mungkin juga karena tempat ini. Swalayan mini yang buka 24 jam biasanya adalah tempat tongkrongan mahasiswa semester awal mengerjakan tugas, atau mahasiswa akhir mengerjakan revisi bab dua skripsinya, dan makhluk seperti kita: penulis lepas yang dikejar tenggat.Walaupun yang terlihat di atas mejamu adalah bir dengan nol alkohol, tapi garis hitam di bawah matamu menunjukkan seberapa banyak kafein yang telah kau sedu dengan air hangat. Semakin meyakinkanku tentang siapa dirimu.

Denting di kepalaku semakin kencang saat ekor mata ini menangkap lirikan lancangmu. Dari sepuluh detik lalu, kau tanpa sadar memandangiku.

Iseng, kuangkat saja alis kiriku sambil membalas pandanganmu. Hitung-hitung sapaan buat rekan senasib. Tapi kau malah tunduk, malu, mungkin. Darah naik ke pipimu, membuatnya bersemu merah. Lucu. 

Tampangmu lucu. Apa aku kerjain sekalian saja?

Aku sengaja pindah meja, duduk di kursi kosong di kirimu. Lalu bilang, "Penulis lepas, kan?"

Sengaja pakai 'kan', karena sesungguhnya yang barusan hanya pertanyaan retorik.

***

Eh... Eh... Kau kok malah pindah meja? Kok jadi duduk di kursi kosong di kiriku?

Dan dengan senyum jail kau malah lancang bertanya padaku yang asing ini, "Penulis lepas, kan?" Sengaja pakai 'kan', seolah-olah melemparkan pertanyaan retorik.

Aku mengernyitkan dahi. Pasang muka terganggu. Pura-pura terganggu. Tapi aktingku hanya sebatas ekspresi saja, tak keluar melalui dialog. Sejujurnya aku gugup, mendadak aku sadar kalau kau bukan penulis lepas biasa. Wajahmu terlihat tampan dari jarak segini. Kau penulis lepas yang tampan! Dan mungkin saja kau itu penulis lepas-tampan yang cenayang juga.

"Hei, kau penulis lepas, kan?"

Eh, ternyata itu bukan pertanyaan retorik ya? "Tahu dari mana?"

Kau hanya tersenyum. Lantas menenggak kopi botolanmu.

***

Wajahmu makin merah. Makin lucu saat aku sudah duduk. Kau mengernyitkan dahi. Pasang muka terganggu. Atau pura-pura terganggu? Tapi aktingmu hanya sebatas ekspresi saja, tak ada dialog yang keluar. Kelihatan sekali gugup. Kau kelihatannya sadar sesuatu. Kenapa? Wajahku tampan? Atau kau mulai berpikir kalau aku cenayang?

Daripada kau diam saja, maka kutanyakam sekali lagi pertanyaan retorik tadi, "Hei, kau penulis lepas, kan?"
Kau mulai ragu kalau itu tadi retorik belaka, maka kau sahut dengan, "Tahu dari mana?"

***

Setelah ada jeda sejenak, kau mulai cerita. Kau memulainya dengan sebuah tanya, "Percaya takdir, tidak? Mungkinkah dua orang berbeda, yang tak pernah jumpa bisa punya pikiran yang sama? Seolah-olah pikiran mereka adalah kembar identik?"

Oke, itu tadi bukan satu pertanyaan. Itu tiga. Tapi jawabannya kan cuma satu: bisa saja iya, tidak, atau mungkin. Tapi aku memilih menjawab: tidak. Kau diam, tapi seperti ingin mendengar argumen dari alasanku. Maka aku berargumen. Setelah mendengarnya, kau bilang "Coba kau tuliskan kronologi pertemuan kita tadi. Lengkap dengan seluruh pikiran yang berkecamuk di sana," kau menunjuk kepalaku. "Aku juga tuliskan hal sama di laptop bututku," tambahmu seraya tersenyum. Anehnya, aku merasa ada yang ganjil di senyummu; dan di wajah tampanmu yang kelewat tampan tiap detik berdetak. Sayangnya, kelak baru kusadari alasannya.

Lima belas menit berlalu. Kau sudah selesai duluan menulis. Aku kebanyakan gugup. Tapi saat aku selesai dan kita bertukar laptop untuk membaca tulisan masing-masing, aku kaget kepalang alang. Mungkinkah ada manusia yang pikirannya kembar identik?

Tapi mendadak bulu-bulu di tengkuk leherku meremang hebat. Mungkin karena senyummu. Senyum yang memperlihatkan gigi-gigi taringmu bertumbuh cepat.


Sekarang kau bertanya, "Percaya kalau vampir itu ada?"

Thursday, May 15, 2014

,   |   No comments   |  

Surat (Terakhir?) untuk Rahasia





Akhirnya tulisan ini kumulai… percayalah, aku tersenyum sekarang.

Sebelumnya, aku ingin menegurmu, Rahasia. Apa kabar? Masih kasmaran pada orang asing yang kau temui di salah satu festival kampus? Kupikir, jawabannya pasti ya. Semoga kau menemukannya dan berhasil menanyakan, “Siapa namamu?”

Aku berdoa sungguh-sungguh.

Ah ya. Aku baru saja membaca tulisan seorang teman, seorang kakak. Dia menulis sebagai hadiah ulang tahun pacarnya. Mereka ternyata sudah jadian enam bulan! Jujur saja, aku tahu banyak cerita mereka dari tulisan tersebut. Sebab, kami berdua memang sudah jarang sekali berbincang. Terlalu banyak perihal pekerjaan. Sedikit sekali tentang perasaan. Dan ketika menyadari hal ini, aku merindukannya. Well, kau pasti mengerti kenapa aku merindukan kakak yang satu itu.

Tapi sebenarnya aku bukan ingin mengadu padamu tentang kerinduan ini. Mungkin nanti, suatu waktu di sepotong sore.

Yang ingin kuceritakan sebenarnya adalah kita. Sorry, kalau pakai ‘kita’. Aku tahu, ‘kita’ bagimu hanya sebatas kemarin. Bagiku, sulit sampai ke sana. Sekarang pun mungkin belum seratus persen.

Sebenarnya, aku ingin menulis tentang ‘kita’ sejak minggu pertama kita jujur pada perasaan masing-masing. Saat kakiku selalu lemas melihat senyummu. Dan kau selalu berubah gugup—hingga sulit berkata saat mata kita beradu. Aku tahu kau istimewa. Itu sebabnya, aku ingin kau abadi dalam tulisan-tulisanku. Karya yang tujuan utamanya memuja-muji sosokmu, Rahasia.

Tapi di saat yang sama aku ragu.

Jujur, saat itu aku tak yakin kalau kau adalah yang terakhir bagiku. Karena sebelum kau datang, aku sedang kasmaran. Pada orang lain.

Tapi, kau merubah segalanya. Tak perlu kuceritakan lagi bagaimana berpengaruhnya kau dalam beberapa tahun terakhir ini.

Pernah, sesekali bahkan, aku berusaha menceritakannya, tapi kau menolak dengar. “Babababa... udah deh, enggak nyaman,” katamu.

Entah kau dengar atau tidak saat itu, tapi sesuatu patah di rongga dadaku. Dan nyerinya keterlaluan. Tapi dari luka itu, aku berusaha mencari hikmah. Bahwa usahamu melupakanku begitu keras. Bukti bahwa yang ‘kita’ lalui kemarin Mei hingga September, memang membekas lekat di dirimu.

Tapi... benarkah? Atau aku yang tolol ini terlalu mencari-cari sesuatu yang tak seharusnya kucari? Entahlah, walaupun salah, biarkanlah aku berpikir demikian.

Dahulu, kupikir: bagaimanapun akhir kisah kita, kau akan tetap kutulis dalam beberapa judul. Kupikir, kisah kita istimewa. Terlalu berharga jika dilupa begitu saja. Kupikir, aku yang tak mau melupakanmu, melupakan kita. Tapi beberapa bulan terakhir, pikiranku meliuk-liuk. Melilit-lilit jadi benang kusut. Dan pikiran-pikiran kusut ini benar-benar menguras tenaga, waktu, dan perhatianku.

Aku harus selesaikan urusan kita, segera!

Kalimat ini kepalang sering menerorku. Mencak-mencak di kepalaku. Kau makin sibuk. Makin jahat pula padaku. Makin sering marah-marah. Makin sering merajuk tak bersebab. Sebenarnya, aku tak masalah dengan semua perilaku burukmu padaku. Kau tau, kau selalu bisa menguasaiku. Aku pun tau.

Tapi pernah dalam beberapa malam, kau kembali manis. Memporak-porandakan pertahananku. Membuat jantungku pengin loncat lagi dari rongganya.

Sejujurnya, terselip pula keraguanku dalam setiap sikap manismu. Raguku adalah tentang ragumu. Jika kau mengerti maksudku.

Tapi akhirnya aku tersadarkan oleh kadomu di ulang tahunku minggu lalu. Saat kau bilang kau punya seseorang baru. Yang kau temui di festival budaya itu. Percayalah, hatiku remuk-redam-hancur-lebur kala itu. Bunyi patahnya memekakkan telingaku. Hingga, maaf saja kalau aku tak bisa lagi berpura-pura baik-baik saja seperti biasanya. Maaf kalau aku menyebalkan saat itu. Tapi, aku butuh hal itu.

Terima kasih telah jujur. Kejujuranmu membuka mataku. Sangat lebar.

Aku sadar kalau berharap jadi halaman terakhirmu dan kau jadi halaman terakhirku, bukan berarti harus menjerumuskan diri dalam cinta semu yang tak sehat.

Aku sadar bahwa selama ini, selepas September, aku memang telah melepaskanmu. Membiarkanmu bertindak semaumu. Seperti sebelum kita bersama. Intinya, aku berhenti mengekangmu dalam istilah ‘kita’. Aku membiarkanmu menjadi dirimu lagi. Dirimu yang tanpa aku. Meski di saat yang sama aku merasa dirajam.

Tapi aku lupa satu hal.

Dalam proses itu, seharusnya aku juga berhenti mengekang diriku dalam istilah ‘kita’. Aku lupa kalau ‘kita’ hanyalah sebuah konsep di kemarin hari. Diam-diam aku berharap masih ada ‘kita’ di kemudiannya.

Tapi kau telah menyadarkanku. Terima kasih. Sekali lagi. Aku takkan mengubah pikiranmu tentang hal tersebut. Aku akan menyimpannya sampai nanti. Tapi, kali ini aku akan benar-benar menyimpannya, bukan malah memikirkannya tiap hari, tiap detik.

Akan kubuka kalau tiba saatnya.

Mungkin ini jenis cinta yang paling sesuai buat kita. Cinta yang tak perlu saling kekang. Biarkan masa muda tak dikekang janji-janji setia selamanya. Ya, kita memang terlalu muda. Setidaknya kau begitu. Hahahha... pasti kau mengerti maksudku.

Semoga ini bukan sebuah akhir. Karena seperti kubilang, aku tidak membuanh konsep ‘kita’, hanya menyimpannya.

Jika tak bisa temukan pengganti yang persis seperti aku, datanglah kembali. Ketuk pintu itu. Ruang di mana aku menyimpan ‘kita’. Kau pasti tahu di mana.

Kalau kau sudah sedikit tua dan dewasa, paham kalau muda bukan segala-galanya, dan takkan pernah jadi selamanya, ingat saja: aku ada. Setidaknya pernah ada.

***

Ah ya, sebenarnya aku punya rahasia ketika menamaimu Rahasia. Diam-diam, aku menebak ujung kisah ‘kita’. Tebakan pertamaku, suatu saat Rahasia akan terkuak. Persis sebagian rahasia lain di dunia ini.

Yang kedua, kupikir kau akan menjadi Rahasia yang tetap jadi rahasia. Persis sebagian rahasia lain di dunia.

Mungkin saat ini kau adalah Rahasia yang kedua. Tapi mungkin saja kau berubah jadi Rahasia yang pertama. Siapa sangka? Hahaha...

Akhirnya tulisan ini kuakhiri... percayalah, aku sedang tersenyum saat ini.
Aku tetap melanjutkan tulisan ini karena pada akhirnya aku yakin kalau kau memang saat istimewa, 

Rahasia. Tak peduli sebesar apa kepalamu setelah membacanya. Maaf kalau aku terlalu terbuka. Tapi aku hanya berusaha jujur pada diri sendiri. Hal yang sebenarnya bukan perkara ringan.

Rahasia, mari berteman saja!

Teman karib yang tetap selalu ada di setiap kala. Kau tahu, kupikir cinta jenis ini yang cocok dengan kita.

P.S. Tulisan ini sejujurnya kubuat 11 Mei lalu. Tapi sengaja kupublis di hari ini, tepat sehari sebelum kau menyatakan sesuatu yang mengubah duniaku di tahun lalu. Hari yang kini kau lupa hari apa. Ah ya, kau kira ia hanya Sabtu biasa.