Friday, March 6, 2015

,   |   1 comment   |  

Kuning, Sebuah Warna Baru



Kemarin Oktober cerita pada saya. Kami bertemu di sebuah sore pengap, karena matahari belum kembali ke ufuk barat. Langit juga masih oranye. Bocah berkacamata itu masuk ke kamar saya. muka dia juga pengap. Singkat cerita, rupanya dia habis pulang olahraga sore-sore: lari-lari kecil, push up, sit up, dan semacamnya.

“Sejak kapan, O?” saya, tentu, kaget. Setengah. Mati.

“Baru dua hari ini,” kata Oktober. “Harusnya sih sejak dua bulan lalu,” tambahnya sambil melempar handuk basah bekas keringat ke arah saya. Untungnya meleset.

Saya menyumpah, tapi dia tak peduli. Beberapa menit berlalu dengan jeda panjang, akhirnya dia buka mulut duluan. Soalnya, saya sibuk menonton dengan earphone terpasang sebelah saja, hanya di telinga kiri. Jaga-jaga kalau Oktober hendak mengobrol. Dan ternyata benar.

Kali ini Oktober menceritakan orang baru. Sebenarnya tidak terlalu baru, karena orang yang diceritakan Oktober ini sudah kami kenal sejak pertengahan tahun lalu. Tapi, Oktober baru menyadari kalau dia punya interaksi yang aneh dengan orang tersebut.

Sebut saja namanya Kuning. Tentu bukan nama sebenarnya. Kenapa Kuning? Karena di sepenggal cerita panjang Oktober ada sekali ia bilang, “entah kenapa, warna kuning melintas di pikiran saya waktu mengingat gadis ini.”

Kuning adalah junior Oktober di jurusan dan fakultas yang beda. Kenalnya di organisasi. Tapi tak terlalu lama, karena Kuning punya masalah yang buat dia jadi harus keluar dari organisasi itu.

Tapi yang aneh adalah interaksi yang dilakukan Oktober dan Kuning. Mereka berdua jarang bertemu. Pernah sekali di sebuah KFC depan Gramedia. Dan tentu saja yang terjadi adalah, Kuning jadi orang yang paling ramah dan protagonis. Sementara Oktober adalah si canggung yang tolol dan bodoh dalam berinteraksi. Padahal, beberapa kali mereka terlibat perbincangan dalam tentang filosofi hidup dan segala tetek-bengeknya.

Kuning selalu memulai perbincangan melalui Line, dan curhat tentang beberapa kasus. Oktober selalu diminta jadi orang yang menanggapi dan memberi solusi. Si bodoh itu kadang keseringan bingung. Dan karena dia bodoh, dia sering terkejut dengan respon Kuning yang ternyata senang dengan jawabannya.

Ini jadi unik karena Kuning dan Oktober hampir tak pernah bertemu. Tapi obrolan mereka dalam.
Dalam hidup si bodoh Oktober, ini kali pertamanya dia punya interaksi aneh begini. Katanya, dia berasa jadi bimbingan konseling. “Tapi seru,” kata Oktober. Di saat yang sama ia merasa punya teman pena. Meski tanpa harum kertas atau tinta.

Kuning jadi semacam warna baru dalam hidup aneh Oktober.

Friday, February 13, 2015

,   |   No comments   |  

Tahukah Kau? Tahukah Aku?





Dear… Rahasia.

Tahukah kau, apa yang kulakukan sepanjang hari kemarin? Hari di mana kita tak bertemu seharian karena perselisihan kecil di hari sebelumnya. Atau, tahukah kau apa yang kulakukan di hari-hari begitu? Saat kita tak bertemu seharian. Tahukah kau apa yang kulakukan saat aku sendiri? Kupastikan kau tak tahu. Sebab kau tak pernah bertanya tentang hal ini, sehingga kita tak pernah berdiskusi tentangnya. Tapi tahukah kau kalau sebenarnya, terkadang aku ingin kita mendiskusikannya. Kupastikan kau tak tahu. Sebab aku tak pernah meminta hal itu.

Kau tahu kenapa? Kau pasti tahu, aku tak pernah ingin meminta banyak. Tapi sesungguhnya aku sangat menyukai ketidaktahuanmu yang satu ini. Tahu kenapa? Karena aku tahu kita membutuhkan ruang untuk diri kita sendiri, terkadang. Dan ketidaktahuan satu ini memberikan ruang itu.

Mmmm… tahukah kau, apa yang membuatku marah tempo hari? Kau hampir membuat tanganku terkilir tanpa sengaja, lalu kau pergi dan tak hirau padaku yang terus mengaduh. Tanganku memang tak jadi terkilir, atau patah, tapi kebasnya terasa hingga sore hari. Kemudian aku marah padamu dan bertingkah gila. Percayalah, aku menyesal. Aku selalu menyesal setelah melakukan hal bodoh padamu. Itu kutukanku yang akan selalu terjadi. Tapi tahukah kau, apa yang terjadi saat setelah aku mengaduh dan sebelum aku bertingkah gila? Aku berpikir.

Aku berpikir tentang rasa sakit dan amarah yang sedang kurasakan. Aku berpikir untuk bertingkah gila. Kemudian, aku berpikir dan menimbang-nimbang. Apakah aku akan bertingkah gila? Akankah kulampiaskan amarah itu? Hal ini sering sekali terjadi. Aku harus menimbang-nimbang akan melakukan apa, sebab kau tahu sendiri kalau kau tukang merajuk. Aku harus menimbang-nimbang, apakah bertingkah gila tidak akan jadi simalakama sendiri padaku? Tapi siang itu, aku tak tahan. Rasanya kau sudah keterlaluan sekali. Dan aku marah. Tapi seperti yang sama-sama bisa kita tebak, kau malah jadi yang lebih marah karena aku marah padamu. Kau diam, tapi sedang memborbardirku dengan amarahmu dalam diam itu.

Saat itu aku kembali berpikir. Apa yang harus kulakukan? Membiarkan diriku jadi tertuduh? Membiarkan perselisihan itu jadi kesalahanku sendiri? Aku, yang tangan kirinya hampir terkilir? “Oh, tentu saja tidak!” itu yang kupikirkan saat itu. Aku memutuskan pergi. Meskipun aku tahu kalau masalah tak akan selesai di sana. Malah akan lebih panjang jadinya.

Tapi tahukah kau? Yang sebenarnya kulakukan adalah memberi ruang pada diriku sendiri. Saat itu aku benar-benar lelah untuk jadi orang yang selalu berpikir untuk orang lain di atas diriku sendiri. Saat itu aku lelah untuk jadi yang selalu salah. Waktu itu, aku sadar masalah akan lebih panjang jadinya, tapi aku tetap butuh lari sebentar. Waktu itu, sakit di lengan kiriku hanya pemicu sakit yang sudah lebih lama kupendam. Maka, aku memutuskan pergi. Aku tak marah, hanya butuh lari. Butuh ruang sendiri.

Tentu saja kau tak tahu hal ini. Aku belum memberitahu sesiapa pun perkara ini. Tapi kini kautahu setelah membacanya.

Omong-omong, tahukah kau, apa yang kupikirkan saat menulis tulisan ini? Well, banyak sekali yang melintas. Tapi kuberitahu satu hal: alasan kenapa tulisan ini bisa sampai ada. Sebab aku tak akan pernah bisa mengungkapkan semua ini lewat kata-kata. Aku tak bisa menepuk bahumu, lalu membuka mulut untuk memulai sebuah perbincangan. Ada banyak hal yang membuatku takut melakukannya. Banyak hal yang belum kauketahui. Salah satunya adalah karena kau belum menegurku lebih dulu seharian ini, bahkan lewat pesan saja. Padahal aku ingin sekali. Tapi aku tak bisa, aku hanya bisa menuliskannya di sini

Oh ya, tahukah kau apa yang belakangan ini kupikirkan? Sebenarnya ini adalah rahasia untukmu, Rahasia. Tapi kuberitahu saja sedikit ya, aku sedang menyiapkan sesuatu untukmu. Yang kuharap akan kau sukai nantinya.

(mungkin bersambung).

P.S. tulisan ini saya curi dari jurnal Oktober.

Sunday, January 4, 2015

  |   No comments   |  

Hari Ini dan 16 Tahun Lalu






AKU DULU persis bocah di depanku ini. Tinggi, ceking, punya tatapan dungu, irit sekali bicara, tapi punya daftar bacaan bagus, meski wajahnya masih gamblang menggambarkan usia yang belia, namun pikirannya sudah menua lima sampai enam tahun dari usianya. Tergambar dari kata-kata yang keluar dari mulutnya, yang sepertinya memang diatur keluar satu kalimat per dua jam saja.

Dia juga pegiat pers mahasiswa, sama seperti aku dulu. Tapi bocah ini lebih hebat, dia masih 19 tahun dan sudah jadi pemimpin redaksi di medianya. Aku dulu hanya reporter selama 3 tahun, baru jadi redaktur di tahun terakhir. Mungkin bisa juga jadi pemred kalau aku masih mau tambah setahun lagi saja tinggal di pers mahasiswa-ku, alih-alih bertindak bodoh menyelesaikan skripsi. Kalau tidak kan aku bisa sedikit menyombong, pura-pura pintar memberi saran pada bocah ini tentang bagaimana jadi pemred pers mahasiswa yang baik.

Tapi, begitulah Takdir. Dia bukan tipikal karib baik yang mengingatkanmu  akan ada apa di detik berikutnya hidupmu. Dia tipikal teman yang selalu hadir dan menemanimu dalam keheningan. Anehnya, teman bernama Takdir tadi dimiliki semua orang dengan rupa berbeda-beda.

Seperti aku dan bocah ini. Aku merasa punya banyak kemiripan dengannya, seolah-olah melihat diriku sewaktu muda, jelas di depan mata, berwujud dalam rupa orang lain. Kemiripan-kemiripan ini juga mengingatkanku kejadian 14 tahun lalu.

Kejadiannya persis seperti hari ini. Aku yang masih berusia 16 tahun, lebih muda dari si bocah beberapa tahun, sedang mengintil seorang teman, persis seperti bocah ini mengintilku pagi ini. Temanku itu juga wartawan, sama seperti aku hari ini. Namanya Prayoga, usianya lebih tua lima tahun dariku.

Bedanya, waktu itu aku hanya ikut-ikut saja ke mana Prayoga pergi, sementara si bocah ini magang di kantorku dan disuruh ikut aku. Aku dan Prayoga semacam karib yang dipersatukan teman bernama Takdir tadi di sebuah panti asuhan. Kala itu, 12 mei 1998, Prayoga baru diterima dua minggu sebuah media bagus yang beritanya melawan Soeharto.

Di hari terik itu, ribuan mahasiswa turun ke jalan, mereka berdemontrasi menuntut banyak hal yang belum sepenuhnya kupahami betul. Saat itu, yang kuketahui semua mahasiswa membenci Soeharto dan ingin menurunkannya dari kursi Presiden. Prayoga adalah salah satu orang yang benci sekali pada Soeharto meski dia bukan anak kuliahan. Katanya, “Soeharto itu diktator yang bakal buat hidup cucumu sama menderitanya sama hidupmu sekarang kalau tidak diberantas dari sekarang.”

Entah darimana pikiran seperti itu bisa muncul dari mulut Prayoga. Mungkin dari teman-temannya yang kuliah di UI dan buku-buku bagus, sumbangan mereka, yang dilahapnya tiap sebelum tidur. Oleh karenanya, semangat Prayoga berapi-api sekali pagi itu. 

Aku ingat betul muka sumringahnya kala mendengar kematian enam orang mahasiswa Trisakti di hari itu. Dia bilang, “Sudah mulai, Bro. Soeharto bakal berakhir hari ini. Dia cuma bakal jadi sejarah kelam!” sambil tertawa girang.

Sementara Jakarta berubah bising, bau keringat, dan mencekam hari itu. Polisi dan mahasiswa saling lempar botol, ada juga yang lempar batu. Sebagian mahasiswa lainnya menyanyikan mars anti Orde Baru saat dua orang kawannya sedang berorasi. Di saat yang sama pula gas air mata disemprotkan ke udara. Aku merasa posisiku hari itu sudah cukup aman dari jangkauan kekisruhan. Tapi gas air mata yang disemprot membabi buta sampai juga ke mataku. Membuatnya perih dan berlinangan air mata. Pandanganku mengabur, dan di saat itulah aku mendengar suara terakhir Prayoga. Katanya, “tunggu di sini, Bro. Jangan ke mana-mana.”
Lantas dia berlari ke arah kerumunan dan tenggelam  di sana. 

Aku menunggu di situ. Menepati janji pada Prayoga sampai kerumunan itu hilang di malam hari, mungkin subuh. Karena tak kunjung dijemput, aku akhirnya beranjak. Pergi ke kantor Prayoga sambil berjalan kaki. Dan pemandangan neraka tak mungkin lebih seram dari pemandangan yang kulihat malam itu.

Api menyala-nyala membakar ruko-ruko sekitar. Dinding-dinding sebagian ruko sudah jebol. Mungkin dijarah. Jalanan sepi, tapi banyak sekali bangkai mobil dan sepeda motor gosong yang berserakan di jalan raya. Aku bahkan melihat dua orang bersimbah darah tergeletak tak bernyawa di sebuah simpang.

Kupikir hari itu adalah hari kiamat, yang orang-orang bilang akan segera datang. Untung, aku bertemu Suci, pacar Prayoga yang adalah wartawan senior di tempatnya bekerja. Olehnya, aku dibawa ke kantor mereka dan dibuat sadar dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Kerusuhan ini karena enam mahasiswa Trisakti yang mati tadi. Prayoga benar. Ternyata tak hanya mahasiswa yang membenci Soeharto. Semua orang benci dia dan pemerintahannya yang korup.

Wartawan-wartawan inilah saksi hidup segalanya yang tiran terjadi di negeri ini. Merekalah yang menyimpan banyak sekali tumpukan arsip pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan pemerintah, yang tak pernah kulihat di TVRI, atau stasiun TV swasta yang mulai menjamur itu. Yang aku dan warga Indonesia lihat hanyalah yang pemerintah ingin kami lihat, ternyata.

Sampai dua hari berikutnya, tepat tanggal 14 Mei, aku masih di sana. Melihat langsung neraka yang belum meninggalkan Jakarta. Makin banyak mayat yang dibiarkan saja tergeletak di pinggir jalan. Ruko, mal, segala tempat yang mungkin menyimpan harta benda dijebol dan dijarah. Demonstrasi masih terjadi. Baku hantam polisi-mahasiswa seolah jadi makanan sehari-hari. Seperti yang kubilang, neraka masih di sini.

Dan di malam itu, aku ingat sekali, kala sekitar dua puluh orang pria bertubuh rupa-rupa: gemuk, ceking, berotot, bertato, muka bekas tersayat parang, datang ke kantor Suci. Mereka mengobrak-abrik semua kabinet yang ada di kantor itu. Menjungkir-balikan meja dan sofa di ruang tamu. Dan sempat menarik kerah kemeja Mas Handy, reporter senior di sana. Salah satunya, yang pegang kerah Mas Handy bilang, “Kalau sampai kita lihat yang enggak-enggak keluar di koran lo, lo pikir baik-baik aja deh!”

Ketegangan itu berlangsung sekitar dua jam. Dan anak bau kencur sepertiku sudah setengah mati ketakutan. Tapi merasa takut di tengah neraka membuatku merasa masih hidup, masih punya harapan, dan mulai terbakar semangat revolusi yang masih bernyala garang di hati semua wartawan ini.

Sampai tanggal 21 Mei, sampai Soeharto menyatakan pemundurannya sebagai Presiden di Kairo sana, neraka masih ada di sini. Bahkan sampai Desember, hal ini jadi makanan sehari-hari. Demonstrasi masih berlangsung. Semuanya kuikuti bersama Suci dan Mas Handy, dan teman-teman mereka yang seolah-olah punya kekuatan lebih menghadapi neraka ini karena profesi mereka sebagai wartawan.

Meski kantor itu seperti kapal pecah, apalagi setelah penyerangan di malam 14 Mei kemarin, dan semua wartawan di sana memang tak punya waktu senggang sedikit saja untuk merapikannya karena dikejar-kejar tenggat, tapi kantor itulah rumah pertama yang kurasakan. Di sanalah aku benar-benar merasakan hidup. Di tengah arus informasi yang keluar-masuk setiap saat ke telinga, menjadikan aku orang pertama yang tahu segalanya.

Meski risikonya ternyata tak main-main: kehidupan orang-orang ini jadi ikut-ikutan tak rapi, karena tekanan pekerjaaannya. 

Seperti Suci yang benar-benar tak punya teman karib lagi setelah menghilangnya Prayoga, atau Mas Handy yang bercerai dengan istrinya karena tak mau diajak eksodus ke Singapura. Maklum saja Mas Handy dan istrinya masih keturunan Tionghoa kental.

Di antara mereka, memang jarang ada yang ingat untuk merapikan hidupnya masing-masing. Tapi, bukankah itu syarat jadi andal seperti mereka? Mengabdi pada apa yang mereka kerjakan. Dengan sangat profesional dan jujur. Mereka hanya tidur empat-lima jam sehari. Itu sudah paling banyak. Malah lebih sering bergadang tiga hari, ditemani literatur pendukung liputan dan sepeda motor ringkih merk Astrea yang disiapkan kantor untuk menemui narasumber, kapan saja. Untung ada beberapa office boy yang disiapkan untuk merawat perut kami—kini aku juga jadi penghuni kantor itu sepeninggal Prayoga.

Kehidupan-beradu-cepat-dengan-waktu begitu ternyata yang akhirnya kuputuskan untuk dipilih. Itulah satu-satunya alasanku berkuliah: ingin jadi wartawan seperti Mas Handy dan Suci, juga Prayoga, temanku yang gagah berani. Jadi, ketika ada kesempatan bisa bergabung dengan pers mahasiswa di universitas, aku tak menyia-nyiakannya.

“Massa sudah ramai, Mas. Katanya yang di Monas sudah kisruh. Ada FPI di sana.” Si bocah menggangu lamunanku. Dia daritadi bersenggama dengan gadget-nya,  mengumpulkan informasi terbaru dari semua media sosialnya. Aku yang suruh.

“Kamu pakai saja helm-ku. Oh ya, pegang kamera ini. Hari ini aku mau ikuti kronologis saja. Kamu yang cari momen. Kita pisah di sini ya,” kataku.

“Loh, kok begitu, Mas?”

“Kamu pernah dengar Tragedi Mei 1998, kan? Pastilah. Pemred pasti tahulah.” Aku tersenyum sambil pegang pundaknya. “Percayalah, Bro. Hari ini, 22 Juli, 16 tahun setelah tragedi itu, bakal jadi hari yang jauh lebih keren. Itu kalau elo masih hidup setelah hari ini.”

Bocah itu malah senyum. Dan aku mendapatkan satu perbedaan di antara kami. Dia, tak bisa dipungkiri, jauh lebih siap daripada aku dulu untuk neraka hari ini.

Wednesday, December 31, 2014

  |   No comments   |  

2014 dalam Sepotong Percakapan



Saya sedang jaga ayah di rumah sakit, saat Cameo datang mengunjungi saya. Dia memang ke sana untuk bicara dengan saya. Bukan untuk melihat kondisi ayah, karena kemarin Cameo sudah menginap di rumah sakit bersama ibu. Bahkan dalam dua minggu ayah diinapkan di rumah sakit, Cameo sudah tiga kali ‘jaga malam’. Sementara saya sendiri, baru nanti malam sempat menginap menjaga ayah untuk pertama kalinya.

Ya, selama September-November kemarin saya memang sangat-sangat sibuk.
Itulah alasan mengapa saya bahkan tak punya waktu menjaga ayah. Itu juga alasan Cameo mengunjungi saya siang itu.

Long time no see, bro!” Cameo memukul pundak saya sambil tersenyum. Senyum yang di dalamnya banyak sekali tanda dan makna. Sesuatu yang membuat saya tak kuat membalas senyumnya.

Memang benar kami sudah tidak bertemu lama sekali. Mungkin sudah enam bulan lebih. Terakhir kali di Maret, saat saya traktir dia segelas cappucino dan kentang goreng. Waktu itu saya butuh kupingnya.

Selepas itu, banyak hal yang membuat saya akhirnya sibuk dengan diri sendiri dan masalah organisasi.

Sesuatu yang akhirnya menarik saya dari Cameo dan alterego lainnya.

“Mari keluar sebentar, bro? Biarin ayah istirahat sebentar,” kata Cameo.

Lalu, kami berdua pergi ke warung nasi padang di depan rumah sakit. Makan siang. Dan di sanalah terjadi sebuah percakapan yang membuat saya berefleksi atas diri sendiri. Ia terjadi awal November kemarin, tapi sengaja baru saya tulis sekarang.

Karena rasanya, akhir tahun adalah waktu yang tepat untuk membaginya.
Kira-kira beginilah penggalan percakapan itu:

Cameo: Ke mana saja belakangan ini?

Saya: (tersenyum) tidak ke mana-mana. Biasa. Organisasi jadi sedikit butuh perhatian di tahun terakhir ini.

Lalu ada jeda. Pikiran saya sendiri kosong waktu itu.

Cameo: Tahun yang sulit ya… (tersenyum).

Saya bahkan tak bisa tersenyum. Cameo benar. Tahun ini benar-benar sulit, sebenarnya. Tak peduli seberapa besar saya berpikiran positif tentangnya.

Cameo: Berapa resolusimu yang sudah terlaksana?

Saya: (terkejut kemudian tertawa) Saya belum menghitung. Tapi sepertinya tinggal satu yang tidak terlaksana.

Cameo: Apa itu?

Saya: Jadi lebih produktif sebagai penulis lepas. Tahun ini saya jadi susah atur waktu. Termasuk waktu untuk menulis demi diri saya sendiri. Kau pasti paham maksudku, Kem. (tertawa)

Cameo: Ya… ya.. masalah atur waktu lagi ya (tersenyum getir).

Ada jeda lagi. Kali ini lumayan panjang.

Cameo: Lalu, kalau saya tanya apa kabarmu sekarang, kau mau jawab bagaimana?

Saya diam. Pertanyaan Cameo berhasil menohok ulu hati. Entah kenapa pahitnya empedu iba-tiba terasa hingga ke lidah. Membuat mulut ini berat untuk bergerak. Pikiran saya tiba-tiba meloncat-loncat di saat yang sama. Kembali mengenang bagaimana tahun ini dimulai.

Sebuah tanggung jawab besar saya emban di organisasi. Waktu itu keadaan memang tidak nyaman bagi beberapa orang, termasuk saya. Masalah juga datang dari rumah. Ibu dan ayah ‘berdebat hebat’ hahaha… kalau saya boleh pakai istilah itu. Semuanya dimulai dengan perasaan berkecamuk tahun ini. Lalu, seiring berjalan, masalah-masalah lain mulai muncul.

Sulit menjabarkannya tanpa kembali merasa getir di ulu hati dan sekujur tubuh. Tapi masalah-masalah itu terasa begitu kentara sehingga sulit mengingat momen-momen yang membuat bahagia.

Perkara cinta masih sama. Tahun ini saya masih tuna asmara. Tak bisa menemukan orang sebaik Rahasia, sehingga sadar atau tidak sadar saya masih berkeliling di lingkaran hidupnya. Berpindah hati ternyata bukan perkara gampang. Sampai… ah ya! Saya punya satu momen bahagia yang rasanya menutup kenangan atas beberapa masalah yang terjadi setahun ini!

Momen itu saya sebut sebagai ‘momen damai’. Terjadi saat saya sedang berdua dengan Rahasia, dalam sebuah perjalanan pulang ke rumah. Sulit menjelaskannya dengan kata-kata, tapi malam itu terasa sangat damai. Kami berdua terlibat percakapan ringan tentang hidup, seperti yang sebenarnya biasa kami lakukan, tapi beberapa saat kemudian kami berdua diam. Malam juga tiba-tiba ikut diam. Hening itu kemudian menyusupkan damai ke dalam hati kami berdua. Rahasia tersenyum di boncengan. Saya juga, kemudian bertanya, “Kamu juga merasa apa yang saya rasa sekarang?”. Dia menjawab, “Iya, sulit menjelaskannya tapi saya paham maksudmu.”

Abstrak? Begitulah yang kami rasakan. Entah dari mana perasaan damai itu datang, tapi bahagia yang diciptakannya benar-benar menyentuh kami secara abstrak.

Tapi, seminggu ini saya sudah tidak berhubungan lagi dengan Rahasia. Ada masalah yang mengganggunya. Tentang eksistensi diri saya, dan eksistensi dirinya sendiri. Masalah filosofi dalam hidup kami. Ada benturan pikiran, yang sebenarnya biasa terjadi antarkami berdua. Tapi kali ini sudah ditumpuk-tumpuk tanpa ada komunikasi lancar sebelumnya. Sehingga beginilah: masalah dengan Rahasia juga jadi salah satu masalah terberat setahun ini.

Sejumlah orang yang punya tempat istimewa tersendiri di hati dan pikiran saya anehnya juga terdepak begitu saja dari hidup saya. Beberapa karena masalah yang seumur hidup belum pernah saya alami di tahun-tahun sebelumnya. Saya memang tak pernah punya masalah personal seberat semua masalah personal yang terjadi di 2014 ini. Tak pernah kehilangan teman karena masalah begini, dan karena ini yang pertama kali, maka rasanya begitu berat dan sakit.

Tapi masalah ini berhasil membawa saya tiga langkah lebih mengenal diri saya sendiri. Lagi.
Tahun ini juga membawa jarak yang sangat panjang sebenarnya pada seorang kakak. Kakak yang belakangan saya rindukan alang kepalang. Sempat bertemu di tahun ini, jadi sedikit bersyukur. Semoga tahun depan bisa punya waktu untuk bertemu lebih lama. Bercerita lagi di sore-sore bersenja cantik, sambil minum espresso paling pahit.

Ah ya, betapa buruknya kesan yang ditinggalkan tahun ini, masih ada ‘semoga’ yang bisa terlontar untuk tahun berikutnya. Masih ada harapan yang mampu melambungkan perasaan getir.
Jadi kalau ditanya, apa kabar saya sekarang? Maka jawabannya adalah, “Pada akhirnya saya masih saya. Tentu dengan segala yang hilang dan apa pun itu yang bertambah. Dengan segala kesenangan dan kegetiran di dalamnya, saya baik-baik saja.”

P.S. Sebenarnya ada lagi yang terjadi di Desember, sesuatu yang saya pikir tak mungkin lagi terjadi. Maksudnya, bagaimana mungkin kegetiran masih berani menyelinap masuk ke bulan terakhir tahun ini? Dan ternyata ia berhasil menyusup sehingga benar-benar menutup tahun ini dengan kegetiran yang sempurna.

Hal itu adalah ketika melihat adik-adik, saudara, keluarga, atau apalah julukan yang pas saya berikan pada beberapa orang yang berhasil membuat saya jatuh cinta pada mereka tahun ini, menangis karena jatuh ke dalam prediksi meleset mereka. Prediksi yang kelewat jauh jatuhnya memang akan merusak orientasi yang sudah rapi disusun.

Sejak awal saya memang menarik diri jauh-jauh dari keputusan besar yang mau mereka pilih sendiri. Kepada adik-adik ini, saya bilang saya tak bisa bantu untuk pilihan mereka kali ini. Karena mereka sudah dewasa dan harus belajar berpegang pada apa yang telah mereka putuskan dan pilih. Tapi yang terjadi mereka malah sedih, karena lupa opsi lain yang sudah dicadangkan takdir.

Namun demikian, karena takdirlah yang sudah mencadangkan tentu saja yang terjadi bukanlah sesuatu tak ber-jalan keluar. Seperti yang salah seorang adik pernah bilang, kiranya sama seperti momen-momen mengejutkan lainnya, setelahnya menjadi soal terima-tidak terima dan mulai kembali berirama. Semuanya memang akan kembali berirama, maka beranilah untuk mengontrol iramanya agar tak berujung jadi irama yang bising alang kepalang.

Untuk tangis yang pernah jatuh, percayalah saya benar-benar minta maaf.

P.S.S. Kalau matamu sudah sampai ke paragraf ini, dan kau tak mengerti sepenuhnya apa isi tulisan ini, maka tetaplah di sana. sebab ini hanya catatan pribadi tentang tahun ini. Hanya sesuatu yang personal oleh seorang pribadi. Hanya sebatas itu.

Saturday, December 27, 2014

  |   No comments   |  

Kata-kata Miris dan Kalimat Patah Hati



I'm a mess right now
Inside out
Searching for a sweet surrender
But this is not the end

I can't work it out
How going through the motions
Going through us
I've known it for the longest time
And all of my hopes
All of my words
Are all over written on the signs
When you're on my road
Walking me home
See the flames inside my eyes
It burns so bright I wanna feel your love, no
Easy baby maybe I'm a liar
But for tonight I wanna fall in love
And put your faith in my stomach

I messed up this time
Late last night
Drinking to suppress devotion
With fingers intertwined

I can't shake this feeling now
We're going through the motions
Hoping you'd stop

And though I've only caused you pain,
You know but all of my words will always be low
Although all the lies we spoke
When you're on my road
Loving can hurt, loving can hurt sometimes
But it's the only thing that I know
When it gets hard, you know it can get hard sometimes
It is the only thing that makes us feel alive
Loving can heal, loving can mend your soul
And it's the only thing that I know, know
I swear it will get easier,
Remember that with every piece of you
And it's the only thing we take with us when we die


*Ini dikutip dari dua lagu Ed Sheeran. Pemuda Oranye ini memang jago memasangkan dua kata miris jadi kalimat mematikan bagi mereka yang selalu patah hati.


Thursday, December 25, 2014

,   |   No comments   |  

Sudahkah Kau Memberi Makan Batinmu, Alia?


Dahulu kala, kata ibuku, miliaran tahun sebelum manusia ada, bahkan jutaan tahun sebelum dinosaurus pertama lahir di dunia, dan sekitar dua ribu tahun sebelum jagat raya ini terbentuk, Tuhan lebih dulu menciptakan sesosok makhluk yang kini masih ada, tapi tak lagi bisa kaulihat bentuknya.
Kala itu, malaikat dan iblis masih hidup di surga bersama-sama. Tapi makhluk ini diasingkan Tuhan dari tanah surga. Ia tak mau malaikat dan iblis menganggu makhluk-makhluk yang ia beri nama Bath ini.
Sebabnya sederhana. Makhluk ini sangat rapuh. Mereka diciptakan dari zat ringan semacam asap bernama Bath. Zat ini hanya bisa kautemukan di atas sebuah sungai cahaya di tanah surga tingkat empat. Mereka sengaja diciptakan Tuhan untuk mengisi sebuah bejana bernama Dunja. Bejana ini letaknya sangat jauh dari surga, kira-kira delapan ratus triliun kali kau mengelilingi setiap inci Bumi.
Kelak, bejana bernama Dunja ini yang akan jadi cikal-bakal jagat raya yang sekarang kautinggali.
Di Dunja, Bath pertama diciptakan Tuhan. Bentuknya seperti ameba yang kaukenal sekarang, namun tidak hijau dan tidak sekecil itu. Ia menggeliat-liat di udara Dunja. Lebih tepatnya melayang. Bath tak punya mata, telinga, atau organ lainnya seperti yang kau dan makhluk lain miliki. Ukuran Bath hanya sebesar jantungmu. Sementara besar Dunja hanya sebesar kepala Spinx di Mesir.
Meskipun kecil, ternyata Dunja terasa sangat luas bagi Bath pertama. Sehingga ia berdialog dengan Tuhan. Jangan tanya bagaimana, karena Tuhan punya cara-cara berdialog yang otak manusia tak bisa jangkau caranya. Jadi, percaya sajalah.
Bath pertama cerita pada Tuhan, bahwa ia merasa benar-benar kesepian hidup sendiri di Bejana Dunja. Kerjanya hanya makan dan melayang seharian di Dunja, sendirian.
Ah ya, aku lupa bilang, kalau Bath bisa makan meski ia tak punya mulut. Tentu kau sudah tahu, meskipun aku belum bilang, kan?
Seperti malaikat yang membutuhkan asupan cahaya setiap hari, serta kasih Tuhan yang jadi makanan utamanya tiap hari, atau iblis yang membutuhkan amarah, dengki, dan kebencian sebagai santapannya, Bath juga butuh makan.
Dan semua makanan malaikat-iblis adalah makanan Bath.
Sebenarnya, kesepian yang dirasakan Bath pertama adalah hasil dari makanannya. Semua yang ia makan menjalari tubuhnya dan berubah jadi bermacam keinginan. Hal inilah yang kemudian, saat manusia sudah menemukan bahasa, disebut sebagai hasrat. Sesuatu yang kelak akan sangat dielu-elukan manusia, sesuatu yang akhirnya dikejar semua manusia untuk diwujudkan. Karena hasrat adalah apa yang dikejar manusia seumur hidupnya.
Malaikat dan iblis tentu saja tak memiliki hasrat, sebab yang ia makan tidak sebanyak yang Bath makan.
Sehingga malaikat dan iblis memang tak banyak minta pada Tuhan. Seperti Bath pertama yang akhirnya meminta satu lagi Bath diciptakan Tuhan untuk menemaninya di Bejana Dunja.
Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang tentu saja mengabulkan permohonan Bath pertama.
Namun, karena sudah ada dua Bath di dalam Bejana Dunja, maka Tuhan memberikan mereka nama. Supaya masing-masing Bath punya identitas. Bath pertama diberi nama Jiwa. Sedangkan Bath kedua diberi nama Roh. Pemberian nama ini ternyata asal mula terjadinya perdebatan tentang pembeda-bedaan di dunia kita sekarang. Inilah cikal-bakal dari kata rasis, nantinya.
Berjuta-juta tahun berlalu. Kehadiran Roh ternyata membuat Jiwa begitu gembira. Hidupnya di Bejana Dunja jadi lebih bersemangat. Roh juga merasakan hal yang sama atas eksistensi Jiwa. Kedekatan keduanya kemudian menimbulkan elemen baru yang kelak dikenal sebagai cinta. Cinta inilah yang kemudian merubah warna kedua Bath ini menjadi lebih terang. Kalau sebelumnya mereka lebih terlihat seperti asap, karena cinta, tubuh mereka lebih mengilat sekaligus lebih transparan. Mirip-mirip cahaya.
Karena cinta pula, Jiwa dan Roh akhirnya beranak-pinak.
Dalam berjuta-juta tahun itu, Bejana Dunja jadi sempit karena kelahiran ribuan Bath lainnya. Tubuh Bath yang terjebak dalam keabadian menjadi alasan penuhnya Bejana Dunja.
Akibat penuhnya Bejana Dunja ini, Jiwa akhirnya kembali mohon kepada Tuhan untuk membinasakan Bath-Bath lainnya. Ia minta Tuhan untuk membuat Bejana Dunja kembali kosong, seperti sedia kala, saat ia hanya hidup berdua dengan Roh.
Permohonan ini diketahui oleh Bath lainnya, termasuk Roh. Meski sangat mencintai Jiwa, tapi Roh tak ingin kehilangan anak-cucunya. Untuk dua ribu tahun selama permohonan Jiwa belum dikabulkan Tuhan, Bejana Dunja jadi tempat paling rusuh. Semua Bath yang memakan kebencian, amarah, dan makanan iblis lebih banyak ketimbang makanan malaikat, mengamuk dahsyat. Akibat kerusuhan ini, di suatu ketika Bejana Dunja pecah.
Ia berantakan jadi sebuah keadaan hampa berwarna hitam. Keadaan ini yang kemudian kita kenal sebagai jagat raya. Tapi waktu pertama kali ada, jagat raya masih kosong tanpa bintang ataupun planet. Yang ada hanya Bath-Bath yang tersesat. Termasuk Jiwa dan Roh.
Selama ribuan tahun, mereka terpisah. Di jagat raya yang begitu luas, kemungkinan satu Bath bertemu dengan Bath lainnya hanya satu berbanding satu juta cahaya. Sehingga Jiwa kembali merasa sepi. Dan ia akhirnya kembali memohon pada Tuhan, kali ini ia tak lupa menambahkan kata “segera” dalam dialognya pada Tuhan. Ia ingin sesegera mungkin dipertemukan kembali dengan Roh.
Sambil menunggu permintaannya dikabulkan, Jiwa mulai mendengar tentang keberadaan surga. Selama ini Jiwa pikir, hanya Bath-lah makhluk yang diciptakan Tuhan. Sambil menunggu bertemu dengan Roh, Jiwa melayang-layang menjauhi jagat raya dan mencari keberadaan surga.
Saat ia tiba di surga, saat itulah permintaan itu dikabulkan Tuhan. Jiwa kembali bertemu dengan Roh. Mereka berdua adalah Bath pertama yang akhirnya bisa sampai ke surga.
Di surga, Jiwa memang tak lagi sendiri. Ada banyak sekali malaikat yang cantik-cantik, juga iblis-iblis buruk rupa yang menyeimbangkan luasnya tanah surga. Tapi Jiwa cemburu. Malaikat dan iblis punya bentuk tubuh yang lebih lengkap daripada ia yang hanya terlihat seperti asap. Oleh karenanya, Jiwa meminta Tuhan menciptakan makhluk yang lebih sempurna bentuknya daripada malaikat dan iblis. Kali ini, Tuhan tak lama-lama mengabulkan permintaan Jiwa. Sebab di saat bersamaan, Tuhan sedang mempersiapkan Bumi, tempat tinggal baru untuk Jiwa dan Roh, makhluk kesayangannya.
Bentuk Bumi yang tak terlalu jauh berbeda dengan surga, memang akan jadi tantangan berat bagi bentuk tubuh Jiwa dan Roh. Sehingga Jiwa dan Roh ditiupkan ke sebuah tubuh yang kemudian dipanggil Adam.
Dalam tubuh itu, Jiwa dan Roh hidup saling melengkapi. Tapi bentuk baru tubuh mereka tak bisa lagi hanya memakan apa yang biasanya mereka makan. Kini, daging dan darah di tubuh itu perlu air dan daging buah serta daging hewan untuk tetap bisa bertahan. Tapi tubuh Adam, yang sebenarnya adalah Bath tetap membutuhkan asupan harapan, kebencian, amarah, kasih, cahaya serta kegelapan untuk tetap hidup.
Itulah mengapa manusia, butuh mengisi batin—nama lain Bath di masa kini—mereka. Sebab kebutuhan asli manusia adalah apa yang dibutuhkan batinnya. Di sanalah letak asal-mula segalanya yang ada di dunia ini. Bumi hanya menyediakan apa yang batin manusia minta.
“Alia!” ibu berteriak dari lantai bawah memanggilku.
“Ya, Bu?”
“Sudahkah kau memberi makan batinmu, Alia?”