Monday, January 25, 2016

  |   No comments   |  

Meluruskan Kembali Pikiran



Sebenarnya, tak ada seorang teman pun yang menawarkan sebuah nasihat untuk pergi ke psikolog. Pun, tak pernah sekali pun terbersit di pikiran sempit saya untuk mendatangi seorang sarjana psikologi dan semena-mena curhat padanya, tentang drama hidup yang saya bikin sendiri, saya jalani sendiri, kemudian saya over-thinking-kan sendiri. Rasanya tidak adil saja pada si psikolog yang malang. Siapa saya, berani-beraninya merunyamkan kehidupan dia.

Tapi, seorang kawan, yang rajin menulis di blog-nya (tentu saja perbandingan ini dibuat antara dia dan blog sampah ini), dan tulisannya sangat bagus, pernah beberapa kali bercerita tentang saran yang diberikan psikolog pribadinya, saat ia punya masalah tertentu. Tulisan-tulisan itu lantas mengajak saya berpikir, kemudian membulatkan sebuah niat untuk mendatangi seorang psikolog untuk pertama kalinya dalam hidup saya.

Setelah bertemu dengannya, saya disuruh untuk menuliskan hasil perbincangan kami di blog ini. Tentu setelah dia tahu, saya suka menulis, dan bahkan sekarang saya menghidupi diri ini dari sana. Kurang lebih, begini ceritanya:

***

Psikolog:
Silakan...
(Sebelumnya kami berbasa-basi. Dia tanya secuil informasi dasar tentang siapa saya. Saya menjawab dengan kalimat-kalimat pendek dan seperlunya)

Saya:
Rasanya ada yang berubah dengan diri saya. Mungkin cerita ini sangat random, tapi sepertinya memang tak ada lagi yang lurus di kepala saya. Rasanya ada sesuatu yang bergulung-gulung di dalam sana. Dan ia sangat berat. Sungguh. Mungkin ada gulungan benang kusut yang terbuat dari platina di sana.

Psikolog:
Tak apa. Kamu bisa mulai cerita dari mana saja.
(Ia tersenyum. Sangat tulus. Tapi saya yakin, dia sudah melatih senyum tulus itu ribuan kali di hadapan ribuan pasiennya, sebelum saya)

Saya:
Saya sesungguhnya sangat tidak nyaman bercerita apa pun pada kamu... Jangan tersinggung dulu (Ia buru-buru menggeleng sambil tetap tersenyum tulus), saya memang tak pernah nyaman cerita apa pun kepada siapa pun. Jadi saya benar-benar bingung mau cerita apa.

Psikolog:
Lantas, kenapa kamu datang ke saya hari ini?

Saya diam. Bukan tak tahu jawabannya. Tapi heran, karena saya yakin, entah bagaimana, si psikolog sudah tahu jawaban saya. Meskipun begitu, saya tetap menjawab.

Saya:
Mungkin, karena saya pikir saya butuh kamu. Karena saya pikir, ini adalah sebuah jalan keluar. Atau mungkin, karena saya sebenarnya tidak berpikir apa-apa, sehingga akhirnya melenggang tak sengaja untuk bertemu kamu. Entahlah... kepala saya masih terlalu berat untuk mencari jawabannya. Tapi, rasanya sekarang saya tahu mau bercerita apa ke kamu. (Ada jeda sesaat). Saya ingin cerita tentang keinginan saya untuk bunuh diri. (Saya tersenyum). Dan ini bukan yang pertama kalinya. (Senyum saya masih lengket di wajah).

Dia hanya tersenyum. Mengisyaratkan untuk meneruskan cerita.

Saya:
Sedari kecil saya senang melamun. Atau orang-orang zaman ini menyebutnya over-thinking, sekarang. Tapi saya masih lebih senang menyebutnya sebagai melamun. Dari kegiatan itu, saya biasanya akan merasa lebih produktif. Sebab melamun tak jarang memaksa otak saya untuk menelurkan sebuah pemikiran. Tentu, dengan terlebih dahulu melaga pemikiran-pemikiran yang saya adopsi dari banyak sekali orang, banyak sekali tragedi, dan banyak sekali kejadian. Hasilnya, biasanya, memang saya koleksi sendiri. Jadi pil-pil yang saya konsumsi untuk makan batin sendiri. Kadang, pil-pil itu saya tuliskan jadi beberapa potong cerpen, atau tak jarang jadi coretan gambar di sebuah HVS. Ya, saya memang melodramatis, dan dangkal, dan melodramatis seperti para seniman awamnya. Tapi saya benar-benar nyaman dengan kegiatan pribadi untuk konsumsi pribadi itu. Seolah dari sana, ada kedamaian yang tercipta dan membuat hidup saya layak untuk setidaknya, dijalani, kalau kata 'diperjuangkan' dirasa terlalu berlebihan.

(Ada jeda).

Tapi, waktu bekerja semisterius cara Tuhan bekerja. Belakangan, karena tuntutan umur, yang tentu saja adalah dampak dari cara kerja waktu yang sungguh misterius, ada yang berubah dalam hidup saya. Alih-alih itu juga berdampak besar hingga mengubah siapa saya. Ada kenyamanan-kenyamanan kecil yang mulai terenggut. Ada kedamaian-kedamaian yang kian lama kian saya abaikan. Hingga yang muncul, tak jarang adalah rasa sesak.

Melamun mulai jarang saya lakukan. Menulis memang tak bisa saya tinggalkan. Bahkan di satu sisi, ada yang berkembang dari cara saya menulis. Meski bila ditilik dari sisi lain, ada yang hilang juga. Tapi ada yang berubah dari cara saya mengagumi melakukan praktik menulis. Dan perubahan itu terasa memuakkan. Awalnya saya tak menyadari perubahan itu. Sehingga, ketika suntuk datang, saya benar-benar lupa bahwa menulislah yang biasanya menyelamatkan saya dari situasi itu. Bahwa menulislah kadang yang membuat saya kembali damai. Sampai... datanglah sepucuk pikiran sederhana yang begitu menyeramkan, tapi terasa masuk akal itu... bahwa bunuh diri adalah jalan keluar.

(Ada jeda lagi. Kali ini ditambah senyum saya).

Seperti saya bilang sebelumnya, bunuh diri bukanlah ide baru. Iya sudah akrab dengan saya sejak remaja. Dan seringnya, ia harus undur diri sambil tertunduk, saat saya bisa menakhlukannya telak dengan argumen yang lebih masuk akal. Kadang saya berterima kasih  dengan cokolan agama yang begitu mengakar dari orang tua saya. Karena saya tahu, kalau bunuh diri sebenarnya adalah tindakan yang dangkal. Tapi, batu pun akan lapuk dibantai hujan terus menerus. Ketika ide bunuh diri terlalu sering unjuk gigi, hati pun bisa takhluk dibuatnya. (Saya berhenti, ada banyak sekali entah pikiran-pikiran aneh atau sejumlah kenangan yang mendadak berkelabat di kepala saya. Si psikolog menyadarinya, lalu memberiku pertanyaan).

Psikolog:
Jadi, kamu melakukannya?

(Ada jeda yang lama. Saya berpikir keras apakah akan menjawabnya atau tidak).

Saya:
Selalu hampir. Dan saya menyesal karena tidak jadi. (Saya tertawa). Sesungguhnya, kematian adalah salah satu hal yang paling saya idamkan dalam kehidupan ini. Tapi saya memang tak pernah terpikir, bahwa bunuh diri adalah cara untuk mendapatkannya. Hingga yang terakhir kemarin, rasanya mengakhiri hidup tak ada salahnya. Bahwa melanjutkan hidup pun tak ada gunanya. Sesederhana itu. Dan saya tak punya pikiran lain selain ingin mati. Mungkin segalanya punya puncaknya sendiri. Saya tidak bangga karena pernah hampir mati konyol. Tapi, setelah momen itu, ada banyak pencerahan yang muncul. Dan segalanya terjadi atas sebuah alasan.

Psikolog:
Kamu benar...

Dia hanya memberikan respon itu. Tapi rasanya lega sekali... rasanya dia benar-benar mengerti.

Saya:
Memangnya kamu pernah berada di kondisi itu?

Psikolog:
(Dia tertawa. Ada spektrum malu yang tersampir di senyum itu). Siapa yang tidak pernah depresi di zaman ini? Semua orang punya masalahnya... maksud saya, dramanya sendiri... (Ia tertawa). Saya paham benar rasanya. Tapi saya tak berani membanding-bandingkan pengalamanmu itu dengan saya... Rasanya pasti sangat tidak adil.

Saya:
Kamu baik sekali. Terima kasih, Cameo, sudah mau jadi psikolog dadakanku. 

Friday, November 6, 2015

  |   No comments   |  

Ibu



Kali ini saya ingin menulis tentang Ibu. Soalnya, seumur-umur blog ini ada, kerjaan saya cuma puja-puji orang yang saya taksir: yang mikirin perasaan saya saja belum tentu, apalagi mikirin saya sudah makan apa belum siang ini. Beda dengan orang yang ingin saya ceritakan kali ini. Dia satu-satunya perempuan di dunia ini yang paling peduli dengan eksistensi saya, bahkan lebih peduli ketimbang saya sendiri. Saya panggil dia, Ibu.



***
Belakangan, Ibu setiap hari telepon. Kalaupun kadang tidak saya angkat dan jadi satu atau lima panggilan tak terjawab, dia akan sms. Tanya kabar asam lambung saya. Maklum, beberapa hari lalu saya kena tifus, selain selalu lemas, efeknya perut saya sakit terus karena asam lambung yang juga ikut bikin repot. Belum pulih benar, saya ngotot untuk balik ke kontrakan karena ada beberapa kerjaan yang memang tidak bisa ditinggal.

Duh, kok kesannya metropop sekali hidup bujang ini ya. Tapi, ya kadang hidup ini memang ikut-ikutan drama macam novel metropop yang dipajang di Gramedia.

Tapi sesungguhnya, Ibu adalah salah satu drama paling drama yang Tuhan berikan di hidup saya yang singkat ini. Dia adalah salah satu alasan kenapa saya sentimental terhadap hidup yang kepalang saya pandang sinis.

“Apa sih kelakuan Ibu yang enggak kau anggap drama, Dam?” tiba-tiba kalimat yang sering Ibu katakan ini terlintas di kepala saya; persis dengan suara bosan khasnya saat bilang kalimat rengekan ini.

Ya, begitulah hubungan kami. Saya akan selalu jujur pada Ibu. Bahkan jika saya tak suka dengan sikap perhatiannya yang sebenarnya mungkin tak berlebihan bagi orang lain, selain saya. Kami di rumah saja menyebutnya sebagai Drama Queen, julukan yang sebenarnya berasal dari saya, anaknya yang paling kurang ajar, yang kemudian diamalkan sebagai panggilan sehari-hari oleh adik-adik saya yang tak kalah kurang ajar.

Kasihan benar Ibu. Memang.

Padahal kalau dipikir-pikir, ia cuma menjalankan pekerjaannya sebagai Ibu. Bukankah seorang Ibu memang harus bawel, bising, dan ribet terkait semua hal tentang anak-anaknya? Mulai dari kesehatan, pergaulan, sampai perkara iman.

Ibu memang orang yang paling bising mengingatkan saya ini-itu. “Jangan tinggalkan salat!”, “Sudah makan belum?”, “Obatmu masih ada?”, “Paspormu simpan di map tempat ijazahmu saja!”, “Jangan begadang terus!”, “Sudah bolos kerja saja hari ini, pulang dulu ke rumah.” Ibu memang bisa bawel tentang apa saja. Tapi yang dilakukannya selalu sesuai porsi, dan itu yang membuat saya makin cinta pada Ibu.

Ibu sebenarnya tidak termasuk salah satu orang yang mengenal baik diri saya. Memang, tak banyak orang yang tahu saya ini sebenarnya bagaimana, sederhananya, tak banyak orang tau apa yang saya sukai dan tidak. Sesungguhnya saya tak peduli itu, tapi saya harus bilang kalau Ibu memang tidak terlalu kenal saya, anak pertamanya. Ia tak banyak tahu tentang siapa teman saya, dengan siapa saya sering menghabiskan waktu, dan bagimananya. Dan itu sama sekali bukan salahnya.

Bukan berarti Ibu tak perhatian pada anaknya, tapi saya yang membiasakannya begitu. Saya memang sangat mencintai privasi, dan membutuhkannya untuk tetap hidup seimbang. Ibu yang sebenarnya sangat paranoia lama-kelamaan menerima sikap alamiah saya ini dan berhasil mengimbangi saya. Feedback-nya? Saya akan selalu jujur pada Ibu. Tak ada rahasia di antara kami. Dia bisa bertanya apa saja tentang saya, dan akan saya jawab jujur selama pertanyaan itu tidak terlalu jauh masuk ke ruang privasi.

Ibu tahu kalau saya memang jarang salat dan meragukan fungsi institusi agama, padahal Ibu sangat teguh pada agamanya. Ibu tahu kalau saya tidak mau menikah, meskipun dia selalu bilang dengan santai, “Enggak usah takabur,” tiap kali saya bilang begitu. Dan dia tahu kalau saya orang yang terbuka dengan isu kemanusian, seperti LGBT, konflik agama, dan semacamnya.

Padahal, Ibu bukan aktivis yang mengerti arti sekularisme, agnostik, HAM dan lainnya. Makan bangku kuliahan saja ia tidak. Dia hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang sangat teguh pada imannya terhadap Islam, sehingga seperti Sunni lainnya, ia menganggap tidak percaya kepada agama adalah perbuatan sesat, mendukung LGBT akan dipanggang di neraka, membela orang berbeda agama akan dilaknat Allah, tidak salat akan mendapat siksa kubur, dan Amerika adalah kiblat para kafir. Yang bikin saya bangga atas sikap Ibu itu adalah, karena sesungguhnya ia tidak terlalu mengerti apa pun itu yang saya sebutkan di atas. Tapi ia tetap menjadi Ibu bagi saya.

Ia tetaplah perempuan yang paling peduli pada seorang manusia kurang ajar seperti saya; yang bersikap seolah lebih pintar dari orang tuanya dan lebih banyak memilih pikiran-pikiran berbeda dari apa yang telah mereka ajarkan padanya sejak kecil.

Ibu tetaplah orang yang paling mencintai saya, bagaimanapun bentuk saya setelah ditempa hidup yang fana ini.


P.s Ibu tetap selalu jadi orang yang mengetuk kamar saya tiap subuh kalau saya menginap di rumah, untuk membangunkan saya supaya salat. Tapi ia juga orang yang akan membiarkan saya tidur, kalau saya mengeluh kelelahan dan butuh tidur dengan suara mengkek. Meskipun, ia juga orang yang akan marah-marah besok paginya, saat sarapan, karena saya lebih memilih lanjut tidur ketimbang salat subuh.

Thursday, November 5, 2015

  |   1 comment   |  

Perbincangan dengan Diam (Pt. I)

P.s. perbincangan di bawah sedikit banyak akan mengungkapkan siapa sebenarnya kau, Diam. Maaf kalau aku belum sempat bilang padamu langsung, bahwa kau adalah Diam.

Latar: sebuah kafe sederhana yang menyediakan menu terjangkau. Suasananya tidak terlalu ramai, pun tidak terlalu sepi. Cukup tenang untuk kita berdua yang introvert. Saat itu senja hampir malam.

Tokoh: aku dan kau, Diam.

***



Aku: sudah lama? (Telat datang dengan tampang gugup yang sukar disembunyikan)

Kau: tidak juga. (Tampangmu berusaha lurus-lurus saja, tapi aku berhasil menangkap sebaris ekspresi salah tingkah yang lewat).

Ada jeda saat aku ambil kursi dan duduk di sampingmu. Aku sengaja tak ambil kursi di depanmu, takut menghadapi tatapan langsung dengan matamu. Kita sama-sama bersiap diri, mencoba tidak terlihat salah tingkah. Mencoba menutupi kegugupan, yang sebenarnya telah menguasai atmosfer antara kita berdua.

Kau: sudah nonton ♜♔♞♝ (judul film terbaru)? (Kau berhasil duluan mengenyahkan kegugupan).

Aku: belum. Kamu sih ndak ngajak aku? (Aku berhasil melemparkan lelucon-setengah-lelucon pertamaku).

Kau: (Diam saja, bahkan tidak tersenyum. Kita berdua tahu, kau sedang membranding dirimu sebagai pribadi yang dingin).

Ada jeda lagi. Aku masih mati kutu dimakan kegugupan. Jantungku bahkan rasanya terlalu bising dengan bunyi bum-bum-bum yang membuatku makin susah fokus untuk tidak gugup.

Kau: jadi, apa yang ingin kaubilang?

Aku: (Diam. Masih mencoba mengatur ritme jantung yang berantakan).

Ada jeda lagi. Kali ini kau mengecek selulermu.

Kau: sudah. Bilang saja. Aku tau ada yang ingin kaubilang sejak lama.

Aku: apa itu?

Kau: ya mana aku tahu. Kau yang pengin bilang.

Aku: (ingin mendebat. Tapi berdebat denganmu adalah hal terakhir yang ingin kulakukan saat itu). Kau sedang suka orang, tidak? (Jantungku makin tak keruan).

Kau: (menggeleng, berusaha sesantai mungkin. Tapi matamu tak bisa menyembunyikannya).

Aku: wah. Kalau aku suka kamu gimana? (Jantungku mencelos dari sangkarnya).

Kau: terus gimana? Ya aku bisa apa.

Aku: (tak tau harus beri respon apa. Jantungku sendiri berhenti dua detakan). Kau bisa jadi pacarku? (Otak dan mulutku belum seratus persen bekerja sama saat kalimat itu melompat begitu saja dari tempatnya keluar).

Kau: ya, kalau maumu begitu, ya sudah.

Ada guntur yang tiba-tiba memekakkan telingaku. Duh rasanya... Darahku mendidih. Naik semua ke pipi. Duh... Aku enggak tau seberapa merah mukaku Sekarang...


Duh...
Sebaiknya perbincangan imajiner ini tidak kulanjutkan.

Wednesday, November 4, 2015

  |   No comments   |  

Hidup Kadang Terlalu Indah




Beberapa malam ini tidur saya nyenyak. Kadang bahkan, bila beruntung, saya mendapati diri saya sedang menari-nari dalam tidur. Menari-nari secara harfiah. Tangan goyang kanan-goyang kiri, kaki gerasak-gerusuk sana-sini di tepi bawah selapis tilam busa tipis yang jadi peraduan saya tiap malam di kontrakan.

Mungkin karena terbawa suasana menggembirakan dari salah satu lagu di daftar musik saya yang terputar melalui sepasang headset. Ya, saya memang tipikal orang aneh yang selalu sumbat kuping dengan headset menyala sebelum tidur. Dari artikel-artikel kesehatan receh yang bisa dijumpai di tumpukan teratas sampah-sampah di Google, saya tahu kalau tindakan tersebut bukanlah sesuatu yang bijak bagi kesehatan telinga. Tapi, dari pengalaman pribadi saya yang bebal ini, memekakkan telinga dengan musik pengantar tidur begitu sungguh bikin sehat psikologi saya. Sederhananya, batin ini tenang. Buktinya, bisa sampai menari-nari saat tidur.

Tapi, bisa saja nyenyaknya tidur saya beberapa malam ini bukan cuma karena selera musik saya yang bagus. Mungkin saja ada faktor tambahan seperti beberapa nasib baik yang belakangan sering menyambangi hidup bujang terkutuk ini; nasib-nasib baik yang belakangan juga jadi pikiran-pikiran positif, sehingga pada akhirnya mengakumulasi jadi ketenangan tersendiri bagi kalbu saya, my state of mind.

Tahun lalu, pada akhir-akhirnya, ada sebuah kejadian yang sekarang saya sadari sebagai salah satu titik balik terberat dalam hidup saya, terjadi. Kejadian itu menyadarkan saya tentang banyak hal dalam hidup; baiknya, membuat saya lebih mengenal diri sendiri. Tapi trauma yang ditimbulkan kejadian itu sungguh besar. Saya yang terbiasa berpikir tanpa dakwaan, dan cenderung ceplos-ceplos saja dalam berpikir dan bertindak mulai berubah menjadi pribadi negatif, curigaan, dan kikuk dalam berpikir. Praduga-praduga yang biasanya berbentuk negatif, menjadi basis saya dalam berpikir dan berperilaku. Itu semua semata-mata saya lakukan untuk tidak jatuh lagi, dan merasa sakit lagi sama seperti sakit yang ditimbulkan kejadian itu,

Sehingga, sejak kejadian itu hingga pertengahan tahun ini saya selalu merasa tidak tenang. Parahnya, pada beberapa sahabat saya sering bilang kalau saya kehilangan diri saya sendiri, Dan saya merindukannya. Pernahkah kau merasa kosong sekosong-kosongnya, hingga kau merasa ada sebuah lubang besar di dadamu, yang tak peduli seberapa kuatnya tanganmu mencengkram dadamu sendiri, lubang itu tetap terngaga. Dan menimbulkan sensasi sunyi dan dingin, yang usahkan kaulenyapkan, tapi hiraukan saja tak bisa.

Akibat kejadian itu, saya memang kehilangan diri sendiri. Ada banyak pola pikir baru yang muncul yang beradu dan berusaha membunuh pola-pola pikir lama saya.

Bukannya tak suka pada suatu hal yang baru, justru saya tak pernah bisa benar-benar hidup dengan sebuah kerutinan. Tapi pikiran-pikiran baru yang muncul pasca-kejadian itu sungguh-sungguh menabrak apa adanya saya yang pernah ada. Yang terjadi adalah semacam pemograman ulang otak saya. Sebab kejadian itu, saya memang kehilangan diri saya sendiri, sesuatu yang paling berharga dalam hidup saya yang singkat ini.

Mungkin beberapa teman dekat bisa merasakannya. Saya jadi jarang bertemu para alterego, jadi terlalu waras dan membosankan. Kaku, bahkan jadi lebih rewel dan sangat-sangat sensitif. Saya juga heran, betapa hebatnya dampak yang diberikan kejadian tahun lalu itu. Betapa sebuah kejadian bisa merombak banyak hal dari seseorang.

Tapi, belakangan, sejak tidur-tidur nyenyak itu kembali akrab dengan saya, semuanya terasa seperti apa ia di sedianya.

Saya tanpa sadar mulai melakukan beberapa hal yang sudah hampir setahun tidak saya lakukan. Semacam menjadi diri saya yang perfeksionis (ya, sesungguhnya sifat perfeksionis adalah sesuatu yang lahir bersama saya, seperti gen, sehingga kalau kamu pernah berdekatan dengan saya dan merasa kalau saya ini menye-menye dan orang yang santai, percayalah kamu belum mengenal saya yang sebenarnya).

Cameo dan October yang hampir setahun ini juga merajuk, beberapa hari lalu kembali datang dan menegur saya.

Pikiran-pikiran negatif itu juga lamat-lamat tergantikan pikiran-pikiran positif lagi. Saya yang rewel itu diam-diam mati kutu dibantai keindahan hidup belakangan ini. Pikiran-pikiran itu juga mengajak saya bersyukur pada rute hidup saya belakangan yang ternyata betul-betul mengasyikan. Mulai dari berjalan lancarnya proses skripsi saya (harus ada tulisan khusus untuk keberuntungan satu ini), hingga beberapa pekerjaan yang membuat saya bisa menjalankan hidup ini dengan kebahagiaan. Akhirnya, saya yang selalu merutuki apa pun yang terjadi sepanjang tahun ini, menjelang berakhirnya tahun ini, mulai mensyukuri apa pun itu yang terjadi.

Tahun ini, saya menamatkan bab hidup saya sebagai mahasiswa, berpelesir ke beberapa tempat yang saya sendiri tak pernah bayangkan, bertemu beberapa orang baru yang sungguh memperkaya batin saya, juga memperdalam perkenalan dengan diri saya sendiri. Oh ya, saya juga pergi ke luar negeri, tanpa perencanaan, dan tak terduga sama sekali. Rasanya, tombol 'mulai' sudah dipencet untuk mengaktifkan keseruan hidup singkat bujang ini!

Monday, September 14, 2015

No comments   |  

For A Very Good Friend of Mine, Kartini Zalukhu

Kami kenal sejak 2011 silam. Dia senior saya di sebuah organisasi, orang pertama yang ajarkan saya dasar-dasar jurnalisme dalam sebuah kelas, orang pertama yang mengedit berita lempang saya, sekaligus orang pertama yang mengunggahnya pada portal berita pers mahasiswa yang kami naungi kala itu.

Kartini Zalukhu, namanya.

Sosoknya ramah, hangat, tapi esentrik. Dulu, di awal kenal, ia selalu pakai kaus lengan panjang berlapis jaket hoody, rok kembang, jilbab besar, dan headset di telinga. Ia begitu gemar dengan dunia maya, tak hanya gemar, tapi ia juga jago mendalaminya. Tak heran kalau ia lebih senang mojok di sudut sekret dan bisa diam seharian tak bergerak ataupun bersuara. Hal ini yang membuat karakternya berbeda dari kawan-kawan lain di organisasi itu,

Mungkin, karena jauh di dalam diri ini saya juga memelihara keesentrikan tersendiri, maka dengannya saya jadi mudah akrab.

Ia juga sangat kreatif dan pekerja keras. Saya tak bisa sebutkan satu per satu prestasinya, tapi dia memang tipikal orang yang membuktikan eksistensi dirinya dengan terus berkarya. Terutama pada bidang multimedia. Banyak hal yang dilakukannya begitu menginspirasi saya pribadi.

Kami memang bukan tipikal kawan yang selalu bertemu tiap akhir pekan, lalu bercerita panjang lebar tentang masalah hati ke hati, ataupun hanya sekadar berkelakar kocak, ketawa-ketawa sampai pagi. Kami juga bukan tipikal kawan yang akan bertanya kabar jika sudah lama sekali tidak bertemu. Kami hanya akan bertanya kabar kalau sudah bertemu. Kami tipikal kawan yang yang pintar mengatur jarak, pintar memberi ruang. Meski berkesan tak terlalu saling tahu, tapi kami selalu tenggelam dalam obrolan 'berapi-api' tentang karakter kami masing-masing.

Ya, satu lagi keasyikan bersama Kartini Zalukhu adalah, kami tidak akan sibuk membahas orang lain saat sedang bertemu lalu mengobrol. Khas yang dilakukan kebanyakan orang. Tapi, dengan kakak satu ini, rasanya sesekali menjadi pemeran utama dalam kehidupan sendiri sungguh menyenangkan. 

Saya memang jarang betul menuliskan sebuah postingan yang fokus pada satu sosok saja, yang namanya tak disamarkan. Tapi kepada salah seorang teman yang begitu baik ini, saya ingin mempersembahkan tulisan ini. Mungkin ini hanya sekadar rindu yang diluaskan dalam jabaran kata.

See ya soon, Kak.


Wednesday, July 1, 2015

  |   2 comments   |  

Ucapan Selamat #2Dekade untuk SUARA USU






Seorang kawan di ask.fm baru-baru ini tanya begini ke saya: Prestasi yang paling berkesan pernah diraih dari kecil sampai sekarang? Dan paling ingin diraih? Lantas, untuk pertanyaan pertama saya menjawab: jadi Koordinator Online SUARA USU 2013.

 Kemarin, 30 Juni 2015, sebuah pesawat Hercules punya TNI jatuh di Simpang Simalingkar, Medan. Jaraknya hanya beberapa menit perjalanan dengan angkot dari USU, kampus saya. Tapi kebetulan saya sedang tidak di Medan, saya di rumah di Binjai, sekitar sejam dari Medan.

Tentu kabar ini mengejutkan. Ada beberapa orang yang perlu dikhawatirkan kabarnya karena tinggal di daerah tersebut. Beberapa kawan dan famili.

Kabar ini ternyata menyebar cepat. Beberapa kawan yang mengkhawatirkan orang yang sama lantas bertanya kabar mereka di salah satu grup Line yang saya ikuti. Grup itu namanya SUARA USU, tempat semua anggota dan alumni organisasi Pers Mahasiswa di USU itu berdiskusi, bertukar kabar, atau kadang hanya saling bertukar canda. Ada juga beberapa mantan anggota yang tidak jadi alumni juga sih. Intinya, melalui grup itulah kawan tadi bertanya kabar kawan lain yang tinggal di sekitar daerah tersebut.

Maklum, pada saat itu, berita tentang tempat jatuhnya pesawat masih belum terverifikasi, MetroTv hanya bilang kawasan Padang Bulan, Jalan Jamin Ginting. Wajar kalau kekhawatiran membuncah. Bahkan, seorang kakak dari Jakarta juga turut menanyakan kabar, saking khawatir.

Tapi seorang kawan yang tinggal di daerah Simalingkar menjawab. Dia bilang kejadiannya di Simpang Simalingkar. Dan setahu saya, tanpa mengurangi empati saya kepada korban dan keluarganya, tak ada yang saya kenal di sana. Itu kabar baik buat kami.

Karena grup itu adalah media yang mempertemukan alumni seperti saya dengan anggota, maka saya berceletuk, “sudah ada di suarausu.co berita atau videonya?”

Saya pikir, sebagai satu-satunya Pers Mahasiswa di USU yang kedudukannya sebagai UKM Universitas, SUARA USU tak boleh kehilangan momen memberitakan kejadian ini. Apa lagi mereka punya portal berita online yang bisa dibuka seluruh dunia. Bernama suarausu.co. Kalau bisa mengabarkannya dengan cepat, tentu hal ini jadi area pembelajaran yang besar bagi awak-awaknya.
Salah seorang anggota beberapa saat kemudian menjawab pertanyaan saya, “Lagi diliput, Bang,” katanya. Tak berapa lama, twitter @SUARAUSU memang sudah mengicaukan #livetweet dari lokasi jatuhnya pesawat. Beberapa awak tampaknya diturunkan ke sana. Tebakan saya, mungkin empat sampai lima orang. Tebakan ini muncul dari pengalaman saya dulu bergabung di organisasi ini. Mereka biasanya akan dibagitugaskan, beberapa orang meliput untuk nanti dituliskan sebagai straight news di suarausu.co, yang lainnya mengejar gambar, dan satu orang biasanya akan melaporkan langsung lewat twitter resmi SUARA USU. Ah ya, sekarang suarausu.co juga punya rubrik video. Pasti juga ada awak yang diturunkan untuk rubrik ini.

Mendadak adrenalin saya mengalir kencang di sekujur epidermis. Teringat masa-masa kejayaan saat masih bisa meliput peristiwa serupa. Tentu bukan pesawat jatuh, tapi sama besarnya. Semisal demo buruh pada Mei 2012 yang berhasil merusak Bandara Polonia.

Mendadak saya terkenang betapa menyenangkannya jadi anak SUARA USU. Betapa membanggakannya jadi Jurnalis Kampus.

***

Hari ini, 1 Juli 2015, SUARA USU berulang tahun yang keduapuluh. Genap dua dekade usianya. Saya belum dapat kabar dari anggota tentang bagaimana usia dua dekade ini akan dirayakan. Pesta besar yang dilakukan terakhir seingat saya waktu SUARA USU merayakan dekade pertamanya, dan tahun kemarin saat ulang tahunnya yang ke-19 diserentakkan dengan perayaan pembukaan acara tahunan mereka, SALAM ULOS.

SALAM ULOS ini adalah acara pelatihan jurnalistik bagi anggota pers mahasiswa se-Indonesia. Biasanya mengundang jurnalis skala nasional untuk jadi pemateri dan diadakan di luar Medan. Sebuah acara besar yang jadi kebanggaan SUARA USU dan anggotanya.

Mungkin tahun ini ulang tahun akan dirayakan besar-besaran, dengan melakukan beberapa perlombaan seperti tahun kemarin, atau bisa jadi tidak. Saya masih belum tahu sama sekali.

Tapi, yang pasti ulang tahun hari ini dirayakan oleh semua anggota dan alumni. Grup Line itu sudah ribut sejak dini hari. Semua orang suka cita mengucapkan selamat. Di instagram, anak-anak SUARA USU juga merayakan hari ini dengan gambar-gambar serta caption sentimental.

Kami, biasanya menyebut SUARA USU sebagai Rumah Tanpa Jeda.

Ia dijuluki demikian sungguh dengan alasan yang tak berlebihan. SUARA USU memang rumah kedua bagi para anggotanya, tempat yang akan selalu dituju saat tiga tahun menghabiskan masa bakti. Bahkan bagi mereka yang anak kos, bisa jadi SUARA USU ini adalah rumah pertama. Sebab, kegiatan di rumah ini memang tak ada habis-habisnya. Wajar saja sebenarnya, sebab SUARA USU adalah sebuah media. Sekarang saja dia punya empat produk: majalah, tabloid, koran dinding, dan sebuah portal berita online.

Semuanya dikerjakan dalam waktu bersamaan. Tak hanya di keredaksiaannya saja, semisal liputan, menulis berita, mendesain halaman produk cetak, mengambil gambar, mengilustrasikan berita, atau menyunting semuanya. Tapi anggotanya juga disibukkan kegiatan lain seperti sirkulasi (istilah untuk menjual produk cetak langsung ke pembeli), menyebar kuesioner riset, mencari iklan, atau bahkan membentuk kepanitiaan dalam berbagai macam acara. Bayangkan! Semua hal ini dilakukan dalam waktu bersamaan, sebab semua anggota, apa pun jabatannya, punya tanggung jawab yang sama.

Jadi, wajar kalau Anda yang berkawan dengan anak SUARA USU, sering menggoda mereka sebagai ‘mahasiswa sok sibuk’. Program kerja organisasi ini memang setumpuk. Itu yang membuat mereka produktif.

Itu yang membuat mereka jadi lebih ‘kaya’ ketimbang mahasiswa biasa-biasa saja. 

Kalau mahasiswa biasa sudah mengeluh karena menjalankan beban SKS dari kampus, maka awak SUARA USU malah akan dimarahi di rapat harian kalau berani-beraninya mengeluh karena program kerja yang biasanya sudah disepakati bersama. Jadi, mereka tak akan sempat mengeluh tentang beban SKS dari kampus.

Sebagai Jurnalis Mahasiswa, awak SUARA USU memang jadi punya tanggung jawab lebih. Mereka jurnalis, tapi mereka juga mahasiswa. Mereka mahasiswa, tapi juga jurnalis. Keduanya punya peran penting yang sebenarnya susah diselaraskan. Sebab keduanya punya beban masing-masing. Tapi begitulah SUARA USU mengajarkan awak-awaknya. Jadi anak SUARA USU tak berarti harus keteteran kuliahnya. Ada beberapa anak SUARA USU yang menyabet gelar Mahasiswa Berprestasi di fakultasnya. Bahkan pernah ada yang jadi Mahasiswa Berprestasi USU tahun 2011.

Hal ini saya pikir, adalah salah satu hal besar yang ditanamkan budaya organisasi ini kepada anggota-anggotanya.

Kepada saya sendiri, kesempatan menjadi Koordinator Online pada 2013 adalah salah satu hadiah besar dari organisasi ini.

Koordinator Online adalah jabatan untuk kepala produk online. Kurang lebih tanggung jawabnya memimpin semua redaktur, baik redaktur tulisan, redaktur foto, dan redaktur artistik, di bagian online untuk membuat suarausu.co bernafas setiap harinya. Ia semacam tangan kanan Pemimpin Redaksi. Kalau di media cetak, jabatan ini biasa dikenal sebagai Redaktur Pelaksana.

Melalui posisi ini saya belajar banyak sekali hal tentang media. Terutama kondisi media hari ini. Baik yang kami—Pers Mahasiswa se-Indonesia—alami, pun yang dialami media mainstream. Seperti, betapa potensialnya media online ini di era digital begini, bagaimana jurnalisme online itu, atau bagaimana rasanya jadi yang paling terdepan dan tercepat dalam memberitakan. Di sini saya juga mulai mempelajari apa-apa saja yang bisa membuat sebuah media maju, dan apa yang bisa menjatuhkannya. Di tahun itu, idealisme saya makin terasah.

Secara pribadi, bahkan saya, tanpa melangkahi kehebatan Koordinator Online-Koordinator Online pendahulu saya, mulai dari Bang Pur sampai Bang Muslim, menganggap suarausu.co sebagai salah satu karya terbaik saya selama hidup. Mengelolanya membuat saya bangga alang kepalang.

Makanya saya merinding saat melihat semangat awak SUARA USU terjun ke lapangan, kemarin, ke tempat Hercules itu jatuh. Pasalnya, pengalaman saya dua tahun sebagai Dewan Redaksi SUARA USU bilang kalau bukan hal mudah untuk berharap anggota sadar liputan mengisi suarausu.co di masa Ramadan begini. Sebab, tak peduli sebesar atau selama apa pun sebuah organisasi berdiri, ia pasti punya masalahnya sendiri. Demikian pula SUARA USU.

Ramadan biasanya jadi masa-masa puncak tersendatnya update berita di suarausu.co. Kalau boleh bilang maklum, saya mau bilang, maklum anggotanya kebanyakan pulang kampung. Ini biasanya akan jadi masalah sendiri di kepala Koordinator Online yang bikin pening. Sebab sebagai media online yang memang seharusnya terbit setiap saat, SUARA USU tak boleh beralasan apa pun atas ketersendatan tersebut. SUARA USU tahu konsumen tak mau dengar masalah-masalah internal begitu. Mereka hanya ingin berita, haus informasi.

Itu hanya sedikit contoh masalah yang dihadapi organisasi Pers Mahasiswa seusia SUARA USU. Saya bisa saja jabarkan lebih banyak, tapi bukan ini tujuan tulisan ini. Bukan untuk cari-cari masalah.
Tulisan ini hanya ingin mengucapkan selamat kepada SUARA USU atas eksistensinya yang sudah genap dua dekade. Tentu usia segitu sangat mengharukan bagi para pendahulu-pendahulu kita, yang berjuang hingga SUARA USU yang sekarang bisa kita nikmati. Saya juga tahu kalau kawan-kawan pengurus sekarang juga tengah berusaha demi SUARA USU yang lebih baik di kemudian hari, sama seperti yang saya dan alumni lain lakukan di masanya. Maka untuk itu, saya ucapkan terima kasih untuk kita semua.

Tapi, melalui tulisan ini juga saya ingin bilang sesuatu kepada para anggota sekaligus para alumni. Mumpung saya masih alumni muda yang sesekali pikirannya masih sentimental memikirkan kemajuan SUARA USU. Belum jadi alumni yang harus berpikir serta bekerja keras demi memuaskan sejengkal perut ini, serta tuntutan moral menaikkan haji orangtua. Hihihi

Saya ingin bilang kalau, bijak kiranya jika kita semua memaknai umur dua dekade ini dengan tidak sembarang. Saya pikir, Bang Yulhasni dan Bang Rusli selaku Pemimpin Redaksi dan Pemimpin Umum pertama SUARA USU pasti setuju kalau saya bilang organisasi ini sungguh sudah lebih maju dari dulu ketika mereka memulainya. Tapi, saya pikir beberapa orang juga setuju kalau yang dihadapi anggota periode ini tak terlalu jauh berbeda dengan apa yang dialami anggota (setidaknya) empat periode sebelumnya (saya hanya bisa meraba sejauh itu). Maksud saya, wajar kalau apa yang dirasakan Pemimpin Redaksi sekarang sama dengan apa yang saya alami saat jadi Pemimpin Redaksi tahun lalu. Sebab kami tak berjarak. Tapi masalahnya, yang dihadapi Pemimpin Redaksi tahun ini masih sama dengan yang dihadapi Pemimpin Redaksi 2010. Misalnya, harus kehilangan Redaktur Pelaksana.

Saya tak punya tendensi apa-apa di sana, kecuali bahwa sistem SUARA USU masih sama setidaknya empat sampai lima tahun belakangan. Misalnya sistem sirkulasi, sistem proyeksi berita, sistem keanggotaan dan lainnya. Ada yang berubah tapi tak terlalu banyak. Tak seperti semestinya, saya pikir.

Sebab kalau mau melihat perubahan zaman yang cepat, masa 2010-2011, perkembangan online tak seperti sekarang. Media sosial belum bejibun seperti sekarang. Hemat saya, apa yang dilakukan anggota sekarang seharusnya tak sama dengan apa yang dilakukan anggota pada periode itu.

Saya langsung pada contohnya. Misal, rapat harian dan rapat lain-lain yang dimiliki SUARA USU. Saya tak tahu sejak kapan, tapi hingga saat ini belum ada pengurus yang berani merombak sistem rapat ini untuk jadi lebih efisien, meski sebenarnya yang dikeluhkan anggota adalah hal ini-ini saja. Saya tak bilang rahar tak penting, sebab dari sana saya belajar untuk berpikir runut, bahkan saya belajar bisa bicara di sana. Tapi kalau ada yang bilang tak efisien, saya pikir itu benar juga.

Saya pikir sistem sirkulasi yang langsung terjun face-to-face juga sudah sangat kolot. Sistem pelanggan seharusnya sudah lebih maju dari apa adanya yang terjadi hari ini. Seharusnya tenaga dan waktu anggota jauh lebih diperhemat oleh kemajuan zaman dalam hal sirkulasi ini.

Sistem pembagian kerja juga bisa lebih diefisienkan. Redaksi sebenarnya bisa fokus bekerja atas anggotanya sendiri saja, tak perlu lagi mengurusi anak Perusahaan, Litbang, bahkan Umum. Begitu juga sebaliknya. Maksudnya, seorang reporter tak perlulah dibebankan tanggung jawab mencari iklan atau menyebar kuesioner. Biarlah ia fokus dengan tugasnya meliput berita dan mengisi produk.

Pun begitu dengan staf perusahaan yang bisa fokus dan gencar mencari iklan, tanpa harus ribet dikenakan tanggung jawab mengambil berita. Sama dengan staf litbang yang bisa membantu koordinatornya memperbaiki riset-riset SUARA USU sehingga tak perlu mentah lagi, syukur-syukur kalau bisa menerbitkan jurnal ilmiah, seperti Balairung, UGM.

Bukan apa-apa, hal ini saya pikir jauh lebih baik bagi kesehatan anggota. Sehingga pekerjaannya bisa lebih efisien. Seluruh pekerjaan SUARA USU jadi lebih efisien.

Jangan takut tidak bisa belajar menulis bagi yang di luar redaksi. Sebab, redaksi bisa saja membiarkan seluruh anggota untuk mengisi produk, hanya saja tak ada tanggunggan beban seperti sebelum-sebelumnya. Biarlah yang menanggung beban itu bagian redaksi saja seperti semestinya. Sebagaimana pemasukan SUARA USU seharusnya jadi tanggung jawab Perusahaan dan Bendahara Umum bersama. Dan perkembangan anggota jadi tanggung jawab Litbang. Semua bagian bisa menerapkan sistem ini.

Sebab, dengan sistem sekarang di mana seluruh anggota punya tanggung jawab yang sama, sering sekali membuat kita kesulitan mencari pangkal utama masalah. Sebab semua orang berkontribusi melakukan kesalahan. 

Misalnya ketika seorang Manajer Sirkulasi terlambat mengirim tulisannya ke Redaktur sehingga memungkinkan terlambatnya Redaksi melalui Redpel mengirim bahan yang ingin dicetak ke Perusahaan yang harusnya diterima oleh Manajer Sirkulasi sendiri. Di sini kan ada dua masalah yang terjadi. Satu, Redaktur tidak bisa membuat reporternya yang mana adalah Manajer Sirkulasi untuk tepat waktu. Dua, reporternya yang padahal adalah seorang Manajer Sirkulasi tak sadar kalau keleletannya lah yang menyebabkan masalah.

Hal begini saya yakin masih terjadi hingga sekarang. Mungkin dengan kasus jabatan yang berbeda. Misalnya, redaktur cetak yang adalah reporter sebuah rubrik terlambat mengirim laporannya kepada Korlipnya yang adalah Bendahara Umum. Sehingga Bendahara Umum harus dimarahi Pemimpin Redaksi karena telat tenggat.

Ah ya satu lagi. Saya pikir Litbang juga kembali saja ke formasi awalnya dibentuk. Kalau saya tak salah, dulu Litbang berisikan orang-orang mapan dari Redaksi dan Perusahaan sebagai formasi awal. Sehingga anggota Litbang, yang notabene-nya adalah bagian yang paling bertanggung jawab atas perkembangan skill anggota dan regenerasi organisasi jadi punya banyak pandangan, terutama dari mereka yang pernah langsung berada di Redaksi dan Perusahaan ketika memikirkan masalah bagian lain.

Dengan format begini saya pikir pekerjaan Litbang bisa lebih berkualitas, ketimbang harus merekrut anggota mentah untuk langsung jadi staf. Kadang yang terjadi adalah, staf itu masih setengah tahun jadi anggota kemudian harus naik jadi koordinator. Misalnya Koordinator PSDM di dua periode terakhir. Bagaimana mungkin seorang anggota baru bisa mengonsepkan sebuah pelatihan yang benar-benar dibutuhkan anggota di periodenya, jika dia sendiri belum pernah dapat pelatihan dari SUARA USU dan masih ikut pelatihan yang dibuatnya.

Sungguh, opini terakhir saya tidaklah bertedensi apa-apa selain ingin yang terbaik untuk SUARA USU. Begitu pula dengan pokok-pokok pikiran yang saya sampaikan di atas.

Ini hanyalah bentuk kepedulian dari seorang alumni. Jadi anggota tak perlu baper dan tersinggung. Sekali lagi, murni muncul karena ingin yang terbaik untuk kita, untuk SUARA USU. Maka dari itu, semoga dapat diterima dengan baik. Mungkin, sesekali kita bisa diskusikan di grup, bersama alumni lain yang mungkin merasa sama seperti saya, atau pun yang merasa opini saya tak pas dengan pandangannya.

Akhir kata, saya tutup dengan Hidup Mahasiswa! HIDUP SUARA USU! SELAMAT #2DEKADE!

Friday, June 26, 2015

  |   1 comment   |  

Sepotong Pagi Kita




Aku terbangun dengan keringat dan muka kusut bekas jiplakan seprai. Sedetik sebelumnya, aku terlarut dalam sebuah mimpi buruk. Buruk sekali... hingga aku gelapan mencari-cari udara ketika sadar kalau semuanya mimpi.

"Mimpi buruk?" katamu, yang juga jadi harus terbangun karena suara gelapanku.

Aku hanya mengangguk, kemudian memelukmu. Membaui lehermu. Bau yang selalu membuat saraf-sarafku tenang.

Kemudian yang terjadi, api menjalar di mana-mana. Membakar epidermis kita berdua. Sebabnya? Kulitku bersentuhan dengan kulitmu. Aku masih sering heran, kenapa denganmu gairah itu tak pernah hilang? Lima belas tahun menikah denganmu tak membuat gairahku hilang setiap kali mencium bau tubuhmu, merasakan nafasmu meniup lembut bibir atasku. Dan kita selalu saja bisa terbakar.

***

Pagi itu kau memasak telur dadar untuk sarapan. "Tumben masak?" kataku, meledekmu. Seraya mengalungkan lenganku ke pinggul kecilmu, yang tetap saja kecil setelah bertahun-tahun kau menumpuk umur. Seolah tubuhmu memang tak bisa memproduksi lemak.

"Kau telat bangun karena mimpi buruk tadi pagi. Jadi, daripada membangunkanmu, lebih baik aku melatih bakat hebatku, kan," katamu, kemudian mengecup pipiku.

"Denting sudah bangun?" tanyaku.

"Sepertinya belum. Hari ini kan sekolah libur," sahutmu.

Lalu kita berdua sarapan di meja kecil di dapur kecil kita. Wajah tirusmu masih memesona. Membuat telur dadarmu yang biasa-biasa saja semakin tak menarik. Kau belum punya keriput di usia kepala tiga ini. Hanya saja, beberapa rambut perak mulai muncul di rambut pendekmu. Tapi, dari pertama kali kita berjumpa dulu, aku juga sering memperhatikan satu-satu rambut perak sudah berani muncul di kepalamu. Padahal waktu itu kau belum dua puluh tahun.

"Hari ini jadi ikut denganku?" mendadak kau berkata, membuyarkan lamunanku.

"Oh ya, seminar buku keempatmu, ya? Tentu, tentu. Tapi kau yang menyetir, kan?"

Kau merengut. "Kau ini. Laki-laki mana yang malas sekali menyetir sepertimu," kau meledekku. Tapi kita berdua tertawa setelahnya.

Aku benar-benar suka tawamu. Kau sangat manis saat memasangnya. Ya, Tuhan, kenapa aku hari ini? Kurasa aku jatuh cinta lagi padamu hari ini. Tapi aku malu mengatakannya. Rasanya, aku sudah terlalu tua untuk bilang, aku cinta kamu, lalu mengecup keningmu. Kita memang tak pernah begitu. Kau pemalu, begitu juga aku. Sudah sifat alamiah. Dan beginilah kalau dua orang pemalu jatuh cinta lalu menikah. Kedua-duanya akan jadi sangat canggung dengan hal-hal romantis yang seharusnya wajar saja di hubungan orang lain di luar rumah kita.

Aku tak bisa menahan tawa karena pikiran aneh barusan. Kita memang pasangan yang aneh. Tapi selalu asyik untuk jadi aneh berdua denganmu.

Mendadak mimpi tadi pagi terlintas lagi di kepalaku. Mimpinya tentang kita berdua, lima belas tahun lalu, saat kita masih sangat muda.

Aku bermimpi tentang Ibu yang pingsan berkali-kali saat aku pertama kali membawamu ke rumah orangtuaku, memperkenalkan kau sebagai kekasihku. Ia menjerit histeris, menyumpah-serapahi kita berdua. Kau hampir menangis, tapi aku udah lebih dahulu dibanjiri air mata. Tangan kita bergenggaman. Erat sekali, hingga aku merasa ada tenaga tambahan yang mengalir dari sana. Tenaga tambahan yang membuatku kuat menghadapi histerisnya Ibu.

Sebenarnya itu bukan mimpi. Itu adalah kenangan yang terus melekat di kepalaku. Kenangan yang tak mungkin bisa hilang.

"Ah ya, kau mimpi apa tadi pagi?"

Aku tertawa dengan pertanyaan pemecah keheningan darimu. "Kau membaca pikiranku ya?"

"Ha?" wajahmu melongo bingung.

"Aku baru saja memikirkannya." Aku masih selalu heran betapa kita berdua begitu terkoneksi. Ini bukan kali pertamanya kau benar-benar bisa membaca pikiranku. Sejak kita belum saling mengenal dan tak berani mengungkapan perasaan karena banyak hal, kita juga sering saling membaca pikiran. Sebenarnya ini sebab mengapa aku tahu kau adalah masa depanku. "Aku mimpi tentang Ibu," tambahku.

"Hai, Dads..." Denting muncul dari pintu dapur. Wajahnya kusut, rambutnya masai. Putri kita baru bangun. "Ini ada telepon dari nenek," katanya sambil menyerahkan selulernya kepadaku.

"Oh," kataku. Lalu aku menerima telepon Ibu. Suaranya riang sekali. Katanya Farid, anak pertama adikku, cucu pertamanya, dapat beasiswa di Amerika. Jadi dia ingin aku dan kau menyambut ponakan kita itu nanti setibanya dia di sini. Ibu juga cerita panjang lebar tentang kabarnya, sekaligus mencecarku pertanyaan tentang kabar kita di sini. Dia juga bilang sesuatu yang mengejutkanku. "Kata Denting, dia sedang naksir orang. Kau pasti belum tahu. Coba tanya sana, selidiki, nanti anakmu suka pada preman Amerika," katanya.

Atas secuil informasi itu, aku langsung mengajakmu main ke kamar Denting. Membangunkannya, lalu bertanya tentang hal itu.

"Ya ampun, seperti tidak bisa nanti-nanti saja bertanyanya," anak gadismu itu merajuk, pasang muka sangar.

"Kan kami cuma mau tahu, Dens. Masa nenek yang di Indonesia lebih dulu tahu daripada ayahmu sendiri," kataku membujuknya.

"Okay. Well, aku sebenarnya masih bingung, Dad," katanya. "There's a girl I like, and there's this boy I like. And I dont know which one I like more. I still dont know  what to do."

Kita berdua langsung bertukar pandangan. Ada dua reaksi yang terjadi, mata kita sama-sama hampir keluar, kemudian detik berikutnya kita sama-sama tersenyum.

Kau kemudian duduk di samping Denting dan berkata, "Which one is good person? Which one make you laugh more?"

"I think this boy, Dad," sahut denting padamu.