Tuesday, March 17, 2015

  |   2 comments   |  

Seorang Bocah dan Pertanyaannya



Halo, semua.



Ini Oktober yang sedang menulis. Kali ini, ada sesuatu yang ingin saya ceritakan, dan hanya saya yang bisa menceritakannya. Untuk kehadiran pertama saya di sini, saya mohon maaf jika Anda kurang suka. Tapi, kalau tak masalah, saya ucapkan terima kasih.

Di kali pertama ini, saya ingin menceritakan sebuah perjalanan tanya-jawab hidup seorang kawan. Entah ini penting atau tidak, biarlah Anda hakimi setelah membaca kalimat terakhir.

Sebagai perkenalan, saya beritahu sedikit karakter kawan ini. Dia seorang pria, lahir dengan rasa penasaran besar dan penyakit paru-paru basah. Sampai usia dua tahun, ia harus menjalani berbagai macam pengobatan; mulai dari bersama dokter berijazah sampai beraneka dukun yang punya beraneka obat nyentrik pula. Jadi kelak, saat ibunya mulai menyadari kalau IQ anaknya di atas rata-rata, ia akan menjuluki putra pertamanya sebagai “anak obat”, sebab vitamin dan segala macam obat yang dimakannya sejak lahir hingga berusia dua tahun. 

Dia dilahirkan di keluarga muslim kental. Meski ibunya adalah seorang mualaf. Baru masuk Islam setahun setengah sebelum kelahirannya.

Jadilah ia dididik dengan segala macam ajaran Islam. Ia salat sejak usia lima, memang belum penuh lima waktu, paling sering tinggal subuh dan isya, tapi diimbangi dengan kepintarannya membaca Iqra. Di usia itu pula dia sudah bisa membaca dan menuliskan 26 alfabet dan angka satu sampai lima ratus. Meskipun sebenarnya dia menderita disleksia ringan yang membuat beberapa alfabet dan angka yang ditulisnya tertukar-tukar atau terbalik garisnya. Untungnya, disleksia itu tak berlangsung lama. Karena di usia enam ia sudah bisa menulis dikte dari gurunya.

Dia memang dikenal sebagai anak pintar. Neneknya—yang Kristen, dari pihak Ibu—pernah bangga sekali padanya yang masih berusia empat tahun karena sudah paham membaca jam dengan tepat.
Diam-diam, bocah ini senang dengan kepintarannya sendiri. Kepintaran-kepintaran yang ia buat selalu beroleh hadiah dari orang sekitarnya. Seperti saat dia pertama kali dapat peringkat pertama di kelas I SD. Waktu itu, sang kakek—yang muslim, dari pihak Ayah—membelikannya sepeda pertama, sesuatu yang membuat sepupu-sepupu sebayanya iri hati. Kala itu, dia juga sering dijadikan tolok ukur anak yang baik bagi sepupu-sepupunya yang bandal. Sebab ia sudah bisa salat lima waktu dan puasa penuh saat Ramadan. Ia juga sudah bisa baca Al-Quran dan juara dua dari delapan puluh anak di Madrasah tempatnya belajar mengaji.

Semua dilakukannya demi menyenangkan orang-orang di sekitarnya. Demi beroleh pujian-pujian yang membuatnya semangat mengerjakan salat, puasa, mengaji, bahkan puasa-puasa sunah di luar Ramadan. Sebab ia sepenuhnya belum paham dengan semua yang dikerjakannya hingga usianya tujuh tahun. Hingga usia segitu, ia masih paham kalau semua yang dilakukannya untuk menyenangkan orangtua, pakcik-makcik, kakek-nenek, sanak-saudara, para tetangga, bahkan teman-teman Ayah dan Ibu yang kadang singgah ke rumah di akhir pekan. Sebab jika orang-orang itu senang, maka ia akan beroleh pujian-pujian yang juga membuatnya senang.

Tapi suatu waktu, saat usianya delapan tahun, ia menemukan sesuatu mengganjal pikirannya untuk waktu yang cukup lama. Ia temukan sesuatu itu saat membaca tafsiran Al-Quran di waktu senggang. Sebab Bobo yang ia baca tujuh kali sudah mulai membuatnya bosan. 

Di Al-Quran, ia menemukan ayat yang bilang kalau beribadah kepada Allah tidak boleh berdasarkan hal lain selain karena Allah SWT semata. Ya, kalau tidak salah artinya serupa demikian, tentu tidak dengan kalimat yang persis.

Maka, ayat itu tersangkut di kepalanya berhari-hari.

Ia berdialog dengan batinnya sendiri; ia menanyakan apakah salat yang selama ini dikerjakannya semata-mata karena Allah? Tentu tidak, Allah tahu aku bohong kalau kujawab iya. Dia kan Yang Maha Mengetahui.

Lalu? Sah-kah salatnya selama ini? Berdosakah iya karena salat-salat yang tidak sah itu? Jika dihitung-hitung, maka ia akan masuk neraka untuk waktu yang lama, sebab seorang ustadz pernah bilang di sebuah dakwah salat Jumat kalau sekali meninggalkan salat berarti akan disiksa di neraka selama 40 tahun. Sementara satu hari di neraka sama dengan empat puluh tahun di dunia. Maka bocah itu stres alang kepalang.

Waktu itu dia diajarkan ibunya kalau dosa seseorang dihitung sejak dia baligh. Tapi baligh didefinisikan sang Ibu sebagai kesadaran seseorang tentang mana dosa dan mana yang tidak. Maka sejak berusia enam tahun, ia sudah diingatkan kalau ia sudah menanggung dosa sendiri: maka dari itu, berhati-hatilah dalam tutur dan perilaku, kata Ibunya.

Belakangan sekali, saat usianya dua belas tahun, baru sang bocah tahu kalau baligh berarti sudah mimpi basah bagi pria, dan sudah menstruasi bagi perempuan. Jadilah ia terjebak dalam ketakutan yang tak semestinya datang di usia segitu. Salah kaprah ‘baligh’ itu didasarkan kepada keengganan ibunya menjelaskan definisi mimpi basah pada anaknya yang baru berusia delapan tahun. Sebab seks tabu: sesuatu yang kasat mata terpatri di setiap keluarga muslim-taat (kalau tak mau dibilang moderat) di Indonesia.

Di keluarga sang bocah memang banyak sekali yang tabu. Selain seks, pertanyaan-pertanyaan tentang Tuhan juga sangat diminimalisir keberadaannya oleh orang tua si bocah. Hal ini tak disadarinya sebelum ia menemukan ayat tentang ibadah yang riya. Sebab, sebelum menemukan ayat itu, pertanyaan: siapa sebenarnya Allah itu? Kenapa ia yang jadi Tuhan? Tak pernah singgah di kepalanya.

Tapi kini… kepalanya pusing dan berputar-putar dibuat pertanyaan-pertanyaan itu.
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul karena ia merasa salatnya tak pernah ia persembahkan dengan sangat rela hanya untuk Allah saja. Biasanya agar terlihat patuh saja di depan orang tuanya. Ia tak mau ayahnya yang galak sampai harus ambil potongan selang di atas lemari untuk memaksanya salat. Ia tahu kalau cambukan selang itu bisa jadi birat menyakitkan di pahanya.

Maka, pertanyaan: siapa sebenarnya Allah itu? mulai muncul. Sebab, logikanya berkata, bagaimana bisa ia salat—menyembah—mempersembahkan sesuatu—pada sesuatu yang belum dikenalnya. Apalagi ia punya nenek kandung yang Kristen, yang sehari-harinya tak perlu salat lima waktu, puasa, atau apa pun yang dilakukan seorang muslim untuk bisa mendapat surga milik Allah.

Neneknya juga menyembah Allah, tapi pelafalannya saja yang berbeda. Neneknya menyebut Allah sebagaimana ajaran alfabet di Indonesia. Sementara ia dan seluruh keluarganya yang muslim, membaca Allah dengan tajwid. Sebab ada tanda tasydid di atas huruf lam. Tapi semua keanehan yang menggelisahkan batinnya itu masih ia tahan sendiri.

Imajinasi liarnya mulai membayangkan bentuk Allah. Dan sosok Atok Zakwan—sepupu neneknya dari pihak ayah, yang tinggal di depan rumah mereka—terpilih mewakili sosok imajiner Tuhan versi si bocah. Atok Zakwan (sekarang mendiang) adalah pria gemuk yang sehari-harinya cuma pakai singlet dan sarung duduk di teras depan rumahnya. Suaranya berat, jarang tertawa, dan terlihat sangat wibawa. Mungkin sebab itu dia diam-diam menjadikan sosok Atok Zakwan sebagai Tuhan yang mengambang-ambang di gelapnya jagat raya. Belakangan, saat ia menemukan ayat lainnya, ia tahu bahwa Allah tidak berkelamin seperti makhuk yang diciptakan-Nya.

Pertanyaan-pertanyaan itu merambat ke asal-mula Allah. Dan si bocah malah jadi semakin pusing. Sebab orang tuanya hanya menjawab, “enggak boleh membayangkan yang enggak-enggak tentang Allah. Kita harus mengimani-Nya. Cuma Dia Tuhan semesta ini. Tidak beranak dan diperanakan,” saat ia akhirnya berani mengeluarkan pertanyaan itu dari kepalanya. Bocah itu memang pernah mendengar entah sebuah ayat di Al-Quran atau sebuah hadist, yang menjelaskan bahwa Allah tidak beranak dan diperanakan.

Seiring waktu berjalan, dan pertanyaan-pertanyaannya terus berkembang (misalnya, siapa Muhammad? Kenapa Islam yang rahmatan lil alamin? Apakah benar orang Kristen yang paling banyak jumlahnya cuma bakal jadi kayu bakar di neraka bersama kafir lainnya?), ia jadi jarang salat. Dan membuat orang tua serta pakcik-makciknya harus merepet dulu untuk mengingatkannya salat.
Di saat yang sama, si bocah terus belajar tentang Tuhan dan agama. Ia membaca sejarah, kitab-kitab. Ia berusaha keras mengenal Allah, Tuhan pertama yang ia kenal karena terlahir dari keluarga muslim.
Diam-diam, ia jadi jarang salat karena takut salatnya hanyalah perbuatan riya. Itu jika Allah yang dikenalkan Islam padanya adalah benar-benar Tuhan yang menciptakan dunia ini. Tapi kalau yang terjadi adalah sebaliknya, maka ia tak mau melakukan hal yang sia-sia.

Tapi, dalam hati, ia juga berharap kalau Allah itu adalah Tuhan  yang memang harusnya ia sembah. Sebab, tujuh tahun hidup dikelilingi orang-orang yang beriman pada-Nya, tentu saja sudah cukup mengikat hati si bocah. Diam-diam, ia juga takut jadi kafir, dan masuk neraka. Ia sadar, jika Tuhan memang ada, maka pikiran-pikiran ini tak bisa disembunyikannya.

Tapi semua pikiran ini bisa disembunyikannya dari semua orang terutama orang tuanya. Sebab, selain takut jadi kafir, si bocah alih-alih lebih takut dimarahi ayah dan ibunya karena punya pikiran-pikiran ekstrem.

Ia simpan semuanya hingga remaja. Di sela-sela itu, ia masih salat dan puasa di depan orang tuanya. Takut dimarahi. Tapi terkadang memang karena ingin berdialog dengan Tuhan. Di sela-sela itu pula, ia mulai percaya bahwa di dunia ini, tak seorang manusia pun bisa bertahan tanpa berpegangan pada sesuatu; sesuatu spiritual yang ia sendiri sebut sebagai Tuhan (sebab seorang ateis mungkin menyebutnya lain). Tapi, melalui sejarah-sejarah dan pengalamannya sendiri, ia mengalami krisis kepercayaan kepada agama.

Mempelajari sejarah dan agama membuatnya mengalami hal ini.

Awalnya, ia menemukan ketenangan saat membaca kitab-kitab. Tak ada hal lain yang diajarkan agama-agama selain kedamaian, begitu pikir sang bocah. Tapi lama-kelamaan dirinya sadar bahwa itu semua, yang ia pikirkan, hanyalah kesimpulannya sendiri belaka. Sebab setelah membaca kisah-kisah di kitab itu, ia jadi punya pandangan sendiri tentang dosa dan tidak. Semuanya tak pernah jadi sangat teknis, seperti yang selama ini keluarganya ajarkan. Contohnya tentang hitung-hitungan hukuman di neraka bagi yang melalaikan salat yang didengar bocah dari seorang ustadz saat salat Jumat. Ternyata itu hanyalah kesimpulan yang dibuat dari potongan-potongan informasi di Al-Quran.

Ia jadi sadar kalau semua orang bisa menafsirkan hal yang berbeda sesuai dengan perspektifnya sendiri. Dan ia melihat itu terjadi di sekelilingnya. MUI memfatwakan rokok haram, tapi Ayah si bocah dan Ayahnya Ayah si bocah berhenti merokok bukan karena fatwa itu. Tapi karena sakit paru-paru yang akhirnya mereka derita karena ribuan batang rokok yang mereka isap, bahkan setelah mendengar fatwa itu. Yang terjadi adalah perbedaan tafsir. MUI dan Ayahnya sama-sama mengaku Islam. Dan keduanya sama-sama merasa melakukan hal yang benar.

Akhirnya si bocah berkesimpulan, bahwa agama pada akhirnya hanyalah persepsi yang terbentuk dari lingkunganmu-sejak-lahir dan dirimu-sendiri-selama-menjalani-hidup.

Tapi karena definisi ini, agama bisa menjadi salah satu hal paling merusak dunia. Hal inilah yang dirasakan sang bocah saat melihat para teroris menjual nama agama sebagai tindakan menghalalkan mereka membunuh. Ia juga melihat dengan mata kepalanya betapa manusia bisa begitu membenci sesamanya hanya karena berbeda agama.

Belum lagi melihat manusia-manusia yang memanfaatkan agama sebagai alat untuk mencapai kekuasaan atau lebih parah: untuk berkuasa.

Tapi pikiran begini bisa didebat dengan pertanyaan retoris: kenapa agama yang dibenci? Bukannya yang dari tadi kau bahas adalah manusia yang melakukan inilah-itulah?

Maka si bocah sepakat untuk mengedit bahasanya. Ia tak curiga pada agama. Tapi ia mencurigai institusi agama. Ia memusuhi intitusi agama, yang katanya hadir sebagai medium tercapainya kedamaian, tapi adanya sebagai sumber kekisruhan duniawi.

Tapi, jikalaupun manusia yang salah, dan agama tak berdosa atas eksistensinya, bayangkan jika tak ada surga dan neraka? Seperti yang pernah Lennon nyanyikan dalam lagunya Imagine. Begitu pikir si bocah.

Sayangnya, diskusi-diskusi tentang agama begini jarang sekali ia cicipi. Kebanyakan temannya, yang ia yakini juga mengalami kegelisahan yang sama dengannya, malah tak punya nyali besar untuk mau diajak diskusi.

Rasanya wajar. Sebab di negeri ini sendiri ada latar politik dan budaya yang membentuk simulacra sendiri. Sejak 1965, pemerintah negeri ini di bawah kuasa Diktator Soeharto mulai membenci komunisme. Tak sekadar benci, tapi juga dimusuhi. Di orde itu sebuah partai berbasis komunisme, Partai Komunis Indonesia ditumpas atas tuduhan sebagai dalang terbunuhnya tujuh perwira Angkatan Darat pada 30 September tahun itu. Setelahnya, pemerintah menyamakan komunisme dengan materialisme dan ateis. Siapa yang ateis akan dituduh komunis. Siapa yang komunis, maka boleh dipenjarakan.

Dan semua hal ini benar-benar dinasionalkan dengan baik oleh pemerintah Orde Baru, nama orde tersebut. Ayah dan Ibu si bocah adalah generasi kedua yang benar-benar membenci dan ketakutan setengah mati pada komunis. Sebab kakeknya dari ayah adalah seorang pegawai negeri di dinas sosial, sementara kakek dari ibunya adalah Tentara Nasional Indonesia.

Hal inilah yang jadi sebuah simulacra lucu di sini, di Nusantara. Dengan latar belakang politik demikian, manusia-manusianya dididik dengan teror: sebab menyangkal atau mempertanyakan Tuhan bukan hanya mengirimmu ke neraka setelah mati, tapi juga bui sebelum kematian itu datang.
 Simulacra adalah istilah yang ditemukan sosiolog Jean Baudrillard. Artinya, realitas tiruan, realitas semu yang tidak lagi mengacu pada realitas sesungguhnya. Istilah ini hanya saya pinjam lalu pakai untuk menggambarkan apa yang dirasakan si bocah.

Stigma masyarakat itu memang kuat sekali dampaknya. Bocah itu ingat betapa takutnya ia bertanya pada sang ayah perkara hal-hal begitu. Takut divonis kafir dan dianggap sesat. Ia berasumsi kalau banyak temannya juga mengalami hal yang sama, dan pada akhirnya memilih diam. Diam mengikuti ketentuan yang telah dunia ini tetapkan.

Ia melihat sendiri beberapa teman juga mencari-cari tahu siapa sebenarnya Tuhan? Tapi tak banyak yang melanjutkan pencarian itu dengan serius, sebab takut stigma kafir dan sesat. Kadang, kata-kata memang jauh lebih runcing dari pedang mana pun, dan lebih kencang dari peluru apa pun.
Banyak temannya yang tetap mengenakan jilbab meski tak salat lima waktu, tetap memakai kalung salib meski jarang ke gereja. Agama jadi begitu fleksibel bagi beberapa orang.

Tapi beberapa temannya justru begitu alim mengikuti syariat.

Diam-diam ia senang melihat beberapa temannya yang semakin taat pada agama yang mereka yakini. Mereka melakukan semua ritual yang disuruh agama seperti karena kehendak sendiri. “Mungkin mereka telah memahami dan memilih hidup rukun dengan agamanya,” pikir si bocah. “Mungkin perjalananku sampai sana masih perlu waktu lagi.”

Tapi untuk saat ini, si bocah masih tidak bisa percaya pada institusi agama. Seperti gereja yang kehilangan kekuasaannya di abad ke-15, bocah itu juga kehilangan kepercayaannya pada agama di usia 7-10 tahun. Jika di Eropa sana orang-orang mulai meninggalkan gereja karena zaman rasionalitas mulai masuk, maka sama halnya yang terjadi pada si bocah. Dia dia-diam mengerti kenapa paham sekularisme itu perlu. Sekularisme sendiri adalah paham yang memisahkan negara dan agama. Kelak, saat kuliah di jurusan Ilmu Politik, si bocah jauh lebih paham kenapa negara yang bijak harus memisahkan antara kepentingan negara dan agama-agama. Sebab agama-agama telah berubah jadi sesuatu yang sensitif.

(Bersambung…)

Tuesday, March 10, 2015

,   |   2 comments   |  

Ketika Pria-pria Patah Hati Berkumpul



Pertemuan kami kemarin siang ditakdirkan tanpa kesengajaan. Maksudnya, ya namanya takdir pasti sudah direncanakan dan pasti disengajakan. Tapi itukan cuma Yang Maha Kuasa yang tahu. Bagi kami berempat yang menjalankan, pertemuan semalam sama sekali tanpa kesengajaan.



Awalnya saya cuma rindu makan sepotong sayap ayam krispi yang dibuat dalam paket termurah di KFC. Jadilah siang kemarin saya santai, pakai kaos santai, celana santai, untuk santai-santai makan siang di KFC. Sendiri.

Tapi tanpa sengaja, ekor mata saya menangkap kehadiran seorang bastard buluk yang pakai kaos buluk, jins belel yang buluk, tas buluk, dan tampang buluk. Otak saya langsung mengidentifikasi bocah itu sebagai Cameo. Atas nama pertemanan, saya akhirnya duduk di sebelah kursi yang diduduki Cameo. Bocah itu tak kaget sama sekali. Mungkin lewat ekor matanya, dia juga sudah lihat kedatangan saya sejak saya parkir. Karena Cameo memang duduk menghadap halaman parkir KFC itu.

Awal perbincangan kami berdua dibuka dengan basa-basi paling basi tentang kabar keduanya. Saya bilang pengin sibuk skripsi, sementara Cameo bilang dia sibuk mikir. Entah apa pun maksudnya, saya hanya membalas dengan tersenyum.

Sekitar empat menit seperempat (kalau tidak salah, soalnya saya tidak ingat kalau saya melihat jam kemarin), ayam yang saya pesan sudah tinggal tulang-belulang yang sum-sumnya disedotin. Lebih lima puluh detik kemudian (yang ini juga hanya terka-terkaannya saya saja) Orion dan Oktober datang duduk di meja kami. Oktober bilang dia lewat di depan KFC ini dan lihat ada kami berdua duduk di sini. Sementara Orion bilang, dia dari tadi keliling-keliling di jalanan dan enggak sengaja ketemu Oktober dan mengikutinya sampai kemari.

Mendengar alasan Ion, panggilan Orion, singgah ke sini, kami semua menganga. Termasuk Cameo yang sebenarnya lagi sibuk mengunyah kulit ayam krispinya.

Bertahun-tahun berteman dengan Ion, kami tak pernah tahu kalau Ion punya kebiasaan aneh begitu. Oktober bahkan langsung berkomentar sarkas, “Jadi selama ini kamu itu penguntit saya?”
Meskipun enggak ada kata negatif di kalimat Oktober barusan, tapi telinga kami semua terasa bernanah. 

“Bukan! Tadi itu cuma enggak sengaja kok,” kata Ion buru-buru.

“Kamu sebenarnya kenapa, Yon?” Cameo akhirnya menanyakan pertanyaan yang pas.
Sejenak bocah paling tampan di antara kami semua itu diam. Tapi seperti biasa, akhirnya dia menceritakan apa yang membuat kepalanya resah sebulan-dua bulan belakangan.

Dia bilang, dia kembali dekat dengan Senja, gadis oriental super keras kepala yang tempo hari pernah diceritakannya waktu kami lari pagi. Menurut cerita Ion, gadis itu kembali mendekat ke arahnya. Awalnya ia kira itu hanya semacam nostalgia belaka di antara keduanya. Sebab, mereka berdua memang jadi teman dekat selama setahun terakhir. Tapi di saat yang sama, Ion memutuskan untuk memendam rasa pada Senja, orang pertama yang bisa membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.

Kenapa? Sebab selama itu pula Orion tak yakin dengan perasaannya. Jujur, katanya dia memang mengagumi Senja. Dan ‘mengagumi seseorang’ saja merupakan hal yang tidak biasa bagi seorang Orion. Dia itu si superegois. Tak ada yang bisa membuatnya menghamba cinta selain dirinya sendiri. Dia memang supernarsistik di saat bersamaan. Tapi, sulit bagi Orion untuk mengakui betapa dia senang melihat cara Senja tersenyum, berjalan, diam dalam bacaannya, tenggelam dalam apa yang ditontonya, dan terutama cara Senja menatap matanya secara sembunyi-sembunyi. Orion tak bisa bohong, ada sesuatu yang bergetar jauh di dasar hatinya yang paling dasar.

Sebenarnya, mendengar Orion mengoceh begitu saja sudah sangat aneh. Kami semua jadi penasaran seperti apa sebenarnya sosok Senja itu. sosok seseorang yang bisa membuat si superegois cum supernarsistik bisa bertekuk lutut. Yang menjadi tidak aneh adalah bahwa Orion masih terlihat begitu menyangkal semua perasaan yang dimilikinya untuk Senja. Masih ada sebagian diri Orion yang tak rela kalau dia ternyata harus menyukai orang lain selain dirinya sendiri.

“Tapi, sebenarnya ada satu alasan lagi,” kata Orion di tengah obrolan. Ia bilang, dia sendiri tak yakin kalau Senja juga menyukainya. Tapi kadang, ia juga merasa kalau Senja punya perasaan tersembunyi juga untuknya. Perasaan dilematis ini yang akhirnya membuat Orion menyerah. Ia belum pernah hidup di sebuah ketidakpastian yang ternyata begitu menyiksa.

Saya sih mafhum. Orang sekeren Orion pasti akan sangat jetlag dengan sebuah ketidakpastian. Ketidakpastian hanya pernah dijalankan oleh manusia normal. Manusia yang tak punya kesempurnaan seperti Orion. Ketidakpastian adalah sesuatu yang muncul dari ketakutan manusia terhadap rejeksi—penolakan. Orion yang seumur hidupnya selalu dipuja-puji pasti pada akhirnya akan menemui jetlag pertamanya terhadap penolakan. Dan Tuhan menakdirkan Senja sebagai penyebabnya.

Perbincangan tentang Senja berhenti di sana. Kami tak bisa berkomentar banyak, karena benar-benar tak pernah ketemu si Senja ini. Tapi menurut deskripsi Orion, Senja itu adalah ia versi seorang gadis. Senja juga superegois dan supernarsitik. Bedanya, Orion akan selalu tampak menonjol tanpa perlu berusaha karena ia punya karisma. Sementara Senja sebenarnya juga punya karisma, tapi anehnya karisma itu muncul dari kesederhanaan Senja. Kesederhanaan itu yang membuatnya menonjol.
Oktober juga akhirnya cerita tentang kisah patah hatinya. Kisah patah hati yang katanya, berhasil dilaluinya.

Beberapa bulan lalu bocah berkacamata itu memang terlihat sangat mengenaskan. Dia baru patah hati, tentu dengan Rahasia, mantan pacarnya Orion. Tapi hanya aku yang mengetahui rahasia ini. Di pertemuan kemarin itu, Oktober masih merahasiakan Rahasia. Cameo dan Orion tak terlalu curiga tentang siap gadis yang diceritakan Oktober. Karena O memang terlalu puitis. Dia yang paling puitis, jadi wajar kalau dia berlagak romantis dengan tidak menyebutkan nama gadis yang disukainya itu.
Tapi dari cerita si bastard ini, dia sepertinya mengalami masa transisi paling besar dalam hidupnya. Rahasia membolak-balikan dunia Oktober. Ia menganggap jatuh cintanya pada gadis itu bukanlah perkara biasa. Ia telah mencintai Rahasia dengan cara yang paling ekstrem. Sehingga ia jadi sulit untuk membenci cinta pertamanya itu agar bisa melangkah keluar dari hubungan yang sebenarnya tidak sehat bagi jiwanya. Ia bahkan sampai menulis sebuah surat terakhir untuk Rahasia. Surat yang cuma aku sendiri pernah baca.

Tapi itu beberapa bulan lalu. Oktober bilang kini dia sudah jadi manusia bebas lagi, tanpa harus kehilangan cinta untuk Rahasia. Dia ternyata tak perlu membenci Rahasia, untuk bisa keluar hidup-hidup dari rasa sakit patah hatinya pada Rahasia.

“Kuncinya cuma waktu,” kata Oktober. Hubungannya dengan Rahasia masih baik-baik saja sampai sekarang. Mereka tetap makan siang bersama. Bahkan Oktober masih bisa tersenyum saat Rahasia menceritakan pemuda yang ia taksir sekarang.

Cerita Oktober memang menginspirasi kami. Bahwa patah hati mungkin tidak akan terelakan bagi semua pria, bahkan untuk cecunguk seperti saya dan Cameo. Karena faktanya, pemuda sesempurna Orion saja bisa patah hati karena jetlag pertamanya atas penolakan.

Tapi sesungguhnya, saya dan Cameo juga sedang patah hati meski kami tak punya cerita sejelas cerita Oktober dan Orion. Diam-diam saya sedang patah hati dengan nasib sendiri. Belakangan ada yang berubah dari diri saya, dan karenanya saya patah hati. Diam-diam merindukan diri yang lama. Sementara Cameo, dia juga sesungguhnya sedang patah hati. Cameo adalah yang paling tidak memiliki rasa di antara kami. Dia sama sekali belum pernah menyukai seorang pun dalam hidupnya yang memang baru sebentar. Tapi Cameo adalah orang tua yang terjebak di tubuh remaja. Meski ia tak bicara, tapi saya bisa melihat jelas di wajahnya: dia sedang patah hati. Dia patah hati pada dirinya yang tak pernah merasakan cinta.


p.s Perbincangan it uterus berlanjut sampai malam hari. Tapi kami tak melanjutkan kisah-kisah patah hati. Semuanya sepakat untuk menghibur diri. Kami lebih banyak cerita tentang film dan rencana naik gunung setelah aku seminar proposal. Semoga rencana ini bisa sampai. Anyway, kami memang kehilangan jejak Narajata belakangan ini. Kabarnya kemarin dia terkena masalah berat yang tak satu pun dari kami mengetahuinya. Tapi, Narajata memang pribadi yang begitu. Dia tak akan datang dengan tampang murung atau wajah kusut. Dia tak senang kalau orang lain tahu kalau dia sedang ada masalah. Semoga saja masalahnya bisa cepat selesai dan dia kembali bahagia.

Friday, March 6, 2015

,   |   1 comment   |  

Kuning, Sebuah Warna Baru



Kemarin Oktober cerita pada saya. Kami bertemu di sebuah sore pengap, karena matahari belum kembali ke ufuk barat. Langit juga masih oranye. Bocah berkacamata itu masuk ke kamar saya. muka dia juga pengap. Singkat cerita, rupanya dia habis pulang olahraga sore-sore: lari-lari kecil, push up, sit up, dan semacamnya.

“Sejak kapan, O?” saya, tentu, kaget. Setengah. Mati.

“Baru dua hari ini,” kata Oktober. “Harusnya sih sejak dua bulan lalu,” tambahnya sambil melempar handuk basah bekas keringat ke arah saya. Untungnya meleset.

Saya menyumpah, tapi dia tak peduli. Beberapa menit berlalu dengan jeda panjang, akhirnya dia buka mulut duluan. Soalnya, saya sibuk menonton dengan earphone terpasang sebelah saja, hanya di telinga kiri. Jaga-jaga kalau Oktober hendak mengobrol. Dan ternyata benar.

Kali ini Oktober menceritakan orang baru. Sebenarnya tidak terlalu baru, karena orang yang diceritakan Oktober ini sudah kami kenal sejak pertengahan tahun lalu. Tapi, Oktober baru menyadari kalau dia punya interaksi yang aneh dengan orang tersebut.

Sebut saja namanya Kuning. Tentu bukan nama sebenarnya. Kenapa Kuning? Karena di sepenggal cerita panjang Oktober ada sekali ia bilang, “entah kenapa, warna kuning melintas di pikiran saya waktu mengingat gadis ini.”

Kuning adalah junior Oktober di jurusan dan fakultas yang beda. Kenalnya di organisasi. Tapi tak terlalu lama, karena Kuning punya masalah yang buat dia jadi harus keluar dari organisasi itu.

Tapi yang aneh adalah interaksi yang dilakukan Oktober dan Kuning. Mereka berdua jarang bertemu. Pernah sekali di sebuah KFC depan Gramedia. Dan tentu saja yang terjadi adalah, Kuning jadi orang yang paling ramah dan protagonis. Sementara Oktober adalah si canggung yang tolol dan bodoh dalam berinteraksi. Padahal, beberapa kali mereka terlibat perbincangan dalam tentang filosofi hidup dan segala tetek-bengeknya.

Kuning selalu memulai perbincangan melalui Line, dan curhat tentang beberapa kasus. Oktober selalu diminta jadi orang yang menanggapi dan memberi solusi. Si bodoh itu kadang keseringan bingung. Dan karena dia bodoh, dia sering terkejut dengan respon Kuning yang ternyata senang dengan jawabannya.

Ini jadi unik karena Kuning dan Oktober hampir tak pernah bertemu. Tapi obrolan mereka dalam.
Dalam hidup si bodoh Oktober, ini kali pertamanya dia punya interaksi aneh begini. Katanya, dia berasa jadi bimbingan konseling. “Tapi seru,” kata Oktober. Di saat yang sama ia merasa punya teman pena. Meski tanpa harum kertas atau tinta.

Kuning jadi semacam warna baru dalam hidup aneh Oktober.

Friday, February 13, 2015

,   |   No comments   |  

Tahukah Kau? Tahukah Aku?





Dear… Rahasia.

Tahukah kau, apa yang kulakukan sepanjang hari kemarin? Hari di mana kita tak bertemu seharian karena perselisihan kecil di hari sebelumnya. Atau, tahukah kau apa yang kulakukan di hari-hari begitu? Saat kita tak bertemu seharian. Tahukah kau apa yang kulakukan saat aku sendiri? Kupastikan kau tak tahu. Sebab kau tak pernah bertanya tentang hal ini, sehingga kita tak pernah berdiskusi tentangnya. Tapi tahukah kau kalau sebenarnya, terkadang aku ingin kita mendiskusikannya. Kupastikan kau tak tahu. Sebab aku tak pernah meminta hal itu.

Kau tahu kenapa? Kau pasti tahu, aku tak pernah ingin meminta banyak. Tapi sesungguhnya aku sangat menyukai ketidaktahuanmu yang satu ini. Tahu kenapa? Karena aku tahu kita membutuhkan ruang untuk diri kita sendiri, terkadang. Dan ketidaktahuan satu ini memberikan ruang itu.

Mmmm… tahukah kau, apa yang membuatku marah tempo hari? Kau hampir membuat tanganku terkilir tanpa sengaja, lalu kau pergi dan tak hirau padaku yang terus mengaduh. Tanganku memang tak jadi terkilir, atau patah, tapi kebasnya terasa hingga sore hari. Kemudian aku marah padamu dan bertingkah gila. Percayalah, aku menyesal. Aku selalu menyesal setelah melakukan hal bodoh padamu. Itu kutukanku yang akan selalu terjadi. Tapi tahukah kau, apa yang terjadi saat setelah aku mengaduh dan sebelum aku bertingkah gila? Aku berpikir.

Aku berpikir tentang rasa sakit dan amarah yang sedang kurasakan. Aku berpikir untuk bertingkah gila. Kemudian, aku berpikir dan menimbang-nimbang. Apakah aku akan bertingkah gila? Akankah kulampiaskan amarah itu? Hal ini sering sekali terjadi. Aku harus menimbang-nimbang akan melakukan apa, sebab kau tahu sendiri kalau kau tukang merajuk. Aku harus menimbang-nimbang, apakah bertingkah gila tidak akan jadi simalakama sendiri padaku? Tapi siang itu, aku tak tahan. Rasanya kau sudah keterlaluan sekali. Dan aku marah. Tapi seperti yang sama-sama bisa kita tebak, kau malah jadi yang lebih marah karena aku marah padamu. Kau diam, tapi sedang memborbardirku dengan amarahmu dalam diam itu.

Saat itu aku kembali berpikir. Apa yang harus kulakukan? Membiarkan diriku jadi tertuduh? Membiarkan perselisihan itu jadi kesalahanku sendiri? Aku, yang tangan kirinya hampir terkilir? “Oh, tentu saja tidak!” itu yang kupikirkan saat itu. Aku memutuskan pergi. Meskipun aku tahu kalau masalah tak akan selesai di sana. Malah akan lebih panjang jadinya.

Tapi tahukah kau? Yang sebenarnya kulakukan adalah memberi ruang pada diriku sendiri. Saat itu aku benar-benar lelah untuk jadi orang yang selalu berpikir untuk orang lain di atas diriku sendiri. Saat itu aku lelah untuk jadi yang selalu salah. Waktu itu, aku sadar masalah akan lebih panjang jadinya, tapi aku tetap butuh lari sebentar. Waktu itu, sakit di lengan kiriku hanya pemicu sakit yang sudah lebih lama kupendam. Maka, aku memutuskan pergi. Aku tak marah, hanya butuh lari. Butuh ruang sendiri.

Tentu saja kau tak tahu hal ini. Aku belum memberitahu sesiapa pun perkara ini. Tapi kini kautahu setelah membacanya.

Omong-omong, tahukah kau, apa yang kupikirkan saat menulis tulisan ini? Well, banyak sekali yang melintas. Tapi kuberitahu satu hal: alasan kenapa tulisan ini bisa sampai ada. Sebab aku tak akan pernah bisa mengungkapkan semua ini lewat kata-kata. Aku tak bisa menepuk bahumu, lalu membuka mulut untuk memulai sebuah perbincangan. Ada banyak hal yang membuatku takut melakukannya. Banyak hal yang belum kauketahui. Salah satunya adalah karena kau belum menegurku lebih dulu seharian ini, bahkan lewat pesan saja. Padahal aku ingin sekali. Tapi aku tak bisa, aku hanya bisa menuliskannya di sini

Oh ya, tahukah kau apa yang belakangan ini kupikirkan? Sebenarnya ini adalah rahasia untukmu, Rahasia. Tapi kuberitahu saja sedikit ya, aku sedang menyiapkan sesuatu untukmu. Yang kuharap akan kau sukai nantinya.

(mungkin bersambung).

P.S. tulisan ini saya curi dari jurnal Oktober.

Sunday, January 4, 2015

  |   No comments   |  

Hari Ini dan 16 Tahun Lalu






AKU DULU persis bocah di depanku ini. Tinggi, ceking, punya tatapan dungu, irit sekali bicara, tapi punya daftar bacaan bagus, meski wajahnya masih gamblang menggambarkan usia yang belia, namun pikirannya sudah menua lima sampai enam tahun dari usianya. Tergambar dari kata-kata yang keluar dari mulutnya, yang sepertinya memang diatur keluar satu kalimat per dua jam saja.

Dia juga pegiat pers mahasiswa, sama seperti aku dulu. Tapi bocah ini lebih hebat, dia masih 19 tahun dan sudah jadi pemimpin redaksi di medianya. Aku dulu hanya reporter selama 3 tahun, baru jadi redaktur di tahun terakhir. Mungkin bisa juga jadi pemred kalau aku masih mau tambah setahun lagi saja tinggal di pers mahasiswa-ku, alih-alih bertindak bodoh menyelesaikan skripsi. Kalau tidak kan aku bisa sedikit menyombong, pura-pura pintar memberi saran pada bocah ini tentang bagaimana jadi pemred pers mahasiswa yang baik.

Tapi, begitulah Takdir. Dia bukan tipikal karib baik yang mengingatkanmu  akan ada apa di detik berikutnya hidupmu. Dia tipikal teman yang selalu hadir dan menemanimu dalam keheningan. Anehnya, teman bernama Takdir tadi dimiliki semua orang dengan rupa berbeda-beda.

Seperti aku dan bocah ini. Aku merasa punya banyak kemiripan dengannya, seolah-olah melihat diriku sewaktu muda, jelas di depan mata, berwujud dalam rupa orang lain. Kemiripan-kemiripan ini juga mengingatkanku kejadian 14 tahun lalu.

Kejadiannya persis seperti hari ini. Aku yang masih berusia 16 tahun, lebih muda dari si bocah beberapa tahun, sedang mengintil seorang teman, persis seperti bocah ini mengintilku pagi ini. Temanku itu juga wartawan, sama seperti aku hari ini. Namanya Prayoga, usianya lebih tua lima tahun dariku.

Bedanya, waktu itu aku hanya ikut-ikut saja ke mana Prayoga pergi, sementara si bocah ini magang di kantorku dan disuruh ikut aku. Aku dan Prayoga semacam karib yang dipersatukan teman bernama Takdir tadi di sebuah panti asuhan. Kala itu, 12 mei 1998, Prayoga baru diterima dua minggu sebuah media bagus yang beritanya melawan Soeharto.

Di hari terik itu, ribuan mahasiswa turun ke jalan, mereka berdemontrasi menuntut banyak hal yang belum sepenuhnya kupahami betul. Saat itu, yang kuketahui semua mahasiswa membenci Soeharto dan ingin menurunkannya dari kursi Presiden. Prayoga adalah salah satu orang yang benci sekali pada Soeharto meski dia bukan anak kuliahan. Katanya, “Soeharto itu diktator yang bakal buat hidup cucumu sama menderitanya sama hidupmu sekarang kalau tidak diberantas dari sekarang.”

Entah darimana pikiran seperti itu bisa muncul dari mulut Prayoga. Mungkin dari teman-temannya yang kuliah di UI dan buku-buku bagus, sumbangan mereka, yang dilahapnya tiap sebelum tidur. Oleh karenanya, semangat Prayoga berapi-api sekali pagi itu. 

Aku ingat betul muka sumringahnya kala mendengar kematian enam orang mahasiswa Trisakti di hari itu. Dia bilang, “Sudah mulai, Bro. Soeharto bakal berakhir hari ini. Dia cuma bakal jadi sejarah kelam!” sambil tertawa girang.

Sementara Jakarta berubah bising, bau keringat, dan mencekam hari itu. Polisi dan mahasiswa saling lempar botol, ada juga yang lempar batu. Sebagian mahasiswa lainnya menyanyikan mars anti Orde Baru saat dua orang kawannya sedang berorasi. Di saat yang sama pula gas air mata disemprotkan ke udara. Aku merasa posisiku hari itu sudah cukup aman dari jangkauan kekisruhan. Tapi gas air mata yang disemprot membabi buta sampai juga ke mataku. Membuatnya perih dan berlinangan air mata. Pandanganku mengabur, dan di saat itulah aku mendengar suara terakhir Prayoga. Katanya, “tunggu di sini, Bro. Jangan ke mana-mana.”
Lantas dia berlari ke arah kerumunan dan tenggelam  di sana. 

Aku menunggu di situ. Menepati janji pada Prayoga sampai kerumunan itu hilang di malam hari, mungkin subuh. Karena tak kunjung dijemput, aku akhirnya beranjak. Pergi ke kantor Prayoga sambil berjalan kaki. Dan pemandangan neraka tak mungkin lebih seram dari pemandangan yang kulihat malam itu.

Api menyala-nyala membakar ruko-ruko sekitar. Dinding-dinding sebagian ruko sudah jebol. Mungkin dijarah. Jalanan sepi, tapi banyak sekali bangkai mobil dan sepeda motor gosong yang berserakan di jalan raya. Aku bahkan melihat dua orang bersimbah darah tergeletak tak bernyawa di sebuah simpang.

Kupikir hari itu adalah hari kiamat, yang orang-orang bilang akan segera datang. Untung, aku bertemu Suci, pacar Prayoga yang adalah wartawan senior di tempatnya bekerja. Olehnya, aku dibawa ke kantor mereka dan dibuat sadar dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Kerusuhan ini karena enam mahasiswa Trisakti yang mati tadi. Prayoga benar. Ternyata tak hanya mahasiswa yang membenci Soeharto. Semua orang benci dia dan pemerintahannya yang korup.

Wartawan-wartawan inilah saksi hidup segalanya yang tiran terjadi di negeri ini. Merekalah yang menyimpan banyak sekali tumpukan arsip pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan pemerintah, yang tak pernah kulihat di TVRI, atau stasiun TV swasta yang mulai menjamur itu. Yang aku dan warga Indonesia lihat hanyalah yang pemerintah ingin kami lihat, ternyata.

Sampai dua hari berikutnya, tepat tanggal 14 Mei, aku masih di sana. Melihat langsung neraka yang belum meninggalkan Jakarta. Makin banyak mayat yang dibiarkan saja tergeletak di pinggir jalan. Ruko, mal, segala tempat yang mungkin menyimpan harta benda dijebol dan dijarah. Demonstrasi masih terjadi. Baku hantam polisi-mahasiswa seolah jadi makanan sehari-hari. Seperti yang kubilang, neraka masih di sini.

Dan di malam itu, aku ingat sekali, kala sekitar dua puluh orang pria bertubuh rupa-rupa: gemuk, ceking, berotot, bertato, muka bekas tersayat parang, datang ke kantor Suci. Mereka mengobrak-abrik semua kabinet yang ada di kantor itu. Menjungkir-balikan meja dan sofa di ruang tamu. Dan sempat menarik kerah kemeja Mas Handy, reporter senior di sana. Salah satunya, yang pegang kerah Mas Handy bilang, “Kalau sampai kita lihat yang enggak-enggak keluar di koran lo, lo pikir baik-baik aja deh!”

Ketegangan itu berlangsung sekitar dua jam. Dan anak bau kencur sepertiku sudah setengah mati ketakutan. Tapi merasa takut di tengah neraka membuatku merasa masih hidup, masih punya harapan, dan mulai terbakar semangat revolusi yang masih bernyala garang di hati semua wartawan ini.

Sampai tanggal 21 Mei, sampai Soeharto menyatakan pemundurannya sebagai Presiden di Kairo sana, neraka masih ada di sini. Bahkan sampai Desember, hal ini jadi makanan sehari-hari. Demonstrasi masih berlangsung. Semuanya kuikuti bersama Suci dan Mas Handy, dan teman-teman mereka yang seolah-olah punya kekuatan lebih menghadapi neraka ini karena profesi mereka sebagai wartawan.

Meski kantor itu seperti kapal pecah, apalagi setelah penyerangan di malam 14 Mei kemarin, dan semua wartawan di sana memang tak punya waktu senggang sedikit saja untuk merapikannya karena dikejar-kejar tenggat, tapi kantor itulah rumah pertama yang kurasakan. Di sanalah aku benar-benar merasakan hidup. Di tengah arus informasi yang keluar-masuk setiap saat ke telinga, menjadikan aku orang pertama yang tahu segalanya.

Meski risikonya ternyata tak main-main: kehidupan orang-orang ini jadi ikut-ikutan tak rapi, karena tekanan pekerjaaannya. 

Seperti Suci yang benar-benar tak punya teman karib lagi setelah menghilangnya Prayoga, atau Mas Handy yang bercerai dengan istrinya karena tak mau diajak eksodus ke Singapura. Maklum saja Mas Handy dan istrinya masih keturunan Tionghoa kental.

Di antara mereka, memang jarang ada yang ingat untuk merapikan hidupnya masing-masing. Tapi, bukankah itu syarat jadi andal seperti mereka? Mengabdi pada apa yang mereka kerjakan. Dengan sangat profesional dan jujur. Mereka hanya tidur empat-lima jam sehari. Itu sudah paling banyak. Malah lebih sering bergadang tiga hari, ditemani literatur pendukung liputan dan sepeda motor ringkih merk Astrea yang disiapkan kantor untuk menemui narasumber, kapan saja. Untung ada beberapa office boy yang disiapkan untuk merawat perut kami—kini aku juga jadi penghuni kantor itu sepeninggal Prayoga.

Kehidupan-beradu-cepat-dengan-waktu begitu ternyata yang akhirnya kuputuskan untuk dipilih. Itulah satu-satunya alasanku berkuliah: ingin jadi wartawan seperti Mas Handy dan Suci, juga Prayoga, temanku yang gagah berani. Jadi, ketika ada kesempatan bisa bergabung dengan pers mahasiswa di universitas, aku tak menyia-nyiakannya.

“Massa sudah ramai, Mas. Katanya yang di Monas sudah kisruh. Ada FPI di sana.” Si bocah menggangu lamunanku. Dia daritadi bersenggama dengan gadget-nya,  mengumpulkan informasi terbaru dari semua media sosialnya. Aku yang suruh.

“Kamu pakai saja helm-ku. Oh ya, pegang kamera ini. Hari ini aku mau ikuti kronologis saja. Kamu yang cari momen. Kita pisah di sini ya,” kataku.

“Loh, kok begitu, Mas?”

“Kamu pernah dengar Tragedi Mei 1998, kan? Pastilah. Pemred pasti tahulah.” Aku tersenyum sambil pegang pundaknya. “Percayalah, Bro. Hari ini, 22 Juli, 16 tahun setelah tragedi itu, bakal jadi hari yang jauh lebih keren. Itu kalau elo masih hidup setelah hari ini.”

Bocah itu malah senyum. Dan aku mendapatkan satu perbedaan di antara kami. Dia, tak bisa dipungkiri, jauh lebih siap daripada aku dulu untuk neraka hari ini.