Thursday, June 18, 2015

  |   No comments   |  

Gembrang: Di Balik Kacamata Seorang Anarkis dan Pegiat Pers Mahasiswa





AUVIAR RIZKY WICAKSANTI nama aslinya. Mahasiswa Antropologi Universitas Gadjah Mada ini saya temui Juni tahun lalu dalam sebuah pelatihan jurnalistik di Bandung. Tampilannya unik. Rambut panjang sampai punggung yang selalu dikuncir di belakang, kacamata yang menempel di hidung, pakaian sporty, suara medok. 

Gembrang, begitu ia mendeklarasikan dirinya akrab disapa, adalah salah satu peserta pelatihan yang sangat vokal dan gampang berbaur. Sungguh jauh beda dari saya. Saat itu dia adalah staf risetnya, Diaz Prasongko, salah seorang kawan dari pers mahasiswa Balairung milik UGM yang saya kenal tahun sebelumnya. 

Tak saya sangka, perempuan idealis dan sering mengunggah lambang Anarki di instagramnya ini akan menjadi Pemimpin Umum Balairung 2015. Sejauh sejarah mencatat, Balairung adalah salah satu pers mahasiswa yang getol dan baik dalam menjalankan perannya. Punya reputasi di kalangan pers mahasiswa se-Indonesia.

Karakter Gembrang yang unik dan beberapa kesamaan kami menyukai Beat Generation sedikit banyak memberi saya pantikan untuk berpikir-dalam terhadap beberapa hal. Simak jawaban menariknya.

Who are you?
Just nothing. 

Where did you grow up?
Dari kecil aku tinggal di Randublatung, Blora. Sebuah desa kecil yang terkenal dengan “Samin” (mungkin kamu bisa cari di Google, apa itu Samin dan siapa itu Samin). Dan ya, kalau Blora, kamu tahu Pramoedya Ananta Toer,  kan? Hehe…

What are you doing now? Tell us your late work
Baru saja balik diskusi buat workshop kedua. Tapi waktunya malah kesita buat mempersiapkan perjalananku ke makam Nietzsche. Tim risetku di sini (Jerman) menyiapkan segalanya dengan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. Dari tiket, hotel, dan ijin buat masuk ke makam Nietzsche. Hehe

What does a typical workday for you look like?
Aku prefer buat kerja di malam hari. Lebih tenang, tidak penat dengan kerumunan, dan tidak jenuh dengan lalu-lalang kendaraan—dan polusi.
 
Apa karya terdekat yang akan kamu kerjakan?
Hystexical Project, sebuah tulisan hasil riset di Jerman, dan nulis Survei di jurnal BALAIRUNG.

Sejak 2014, kamu sudah kasitau aku kalau akan pergi ke Jerman Juni 2015. Ini salah satu mimpimu ya?
Seriously, ini sebuah kecelakaan, Adam. Dan bisa dibilang aku “iseng” buat ikutan. Jadi, ada salah seorang temanku yang lumayan licik untuk menghadang seseorang agar ndak ikut program riset ini. Pertama, dia bilang ke aku, “Aku ga ikut kok Mbrang. Ga menarik.” So, aku pikir, program tersebut memang ndak menarik. Jadi aku lupakan begitu saja. Sampai pada akhirnya, sehabis kuliah, aku bertemu dengan kawan baikku, “Kamu ga ikut tandem research, Mbrang?” Aku jawab, “Enggak ah. Aku banyak kerjaan di B21. Emang siapa saja yang ikut, Mbak?” Dan kawanku menjawab, “A,” seseorang yang bilang ke aku kalau dia ga akan ikut program ini.
Well, bukan bermaksud balas dendam loh, Dam. Serius, bahwa aku ikutan ini murni iseng. Ternyata benar ya bahwa seseorang yang licik ndak akan pernah mendapatkan nikmat yang baik. Dari 30 mahasiswa hanya diambil 8 orang, dan seleksi pertama, aku lolos. Di bulan September tahun lalu, aku riset di Jogja sama partnerku dari Jerman yang bernama Sabina. Tahun ini, giliran mahasiswa dari Indonesia yang datang ke Jerman. Dari 8 orang tersebut hanya diambil 4 berdasarkan seleksi proposal riset, dan interview. Serius, waktu interview aku dibabat habis sama para dosen. Mungkin sudah tipikalku kali ya, ketika dibabat justru merasa tertantang dan menghabiskan banyak waktu untuk berdebat. Bisa dibilang, interviewku paling lama daripada yang lain.
Awalnya, aku ndak berharap begitu besar. Ikhlas saja, bahkan aku sempat lupa tentang kapan hari pengumuman. Sampai menjelang pagi, aku dikabari oleh temanku (yang ndak lolos ke Jerman) bahwa aku lolos. Gimana ya, aku senang—tapi juga sedih. Aku sedih—tapi juga senang. Benar-benar dilema. Ah ya, well. Sebelum dapat pengumuman kabar aku bakal ke Jerman, aku dikabari temanku buat ngajar di sebuah kelas di Belanda. Aku menolaknya dengan alasan masih bulan Februari, dalam iklim di BALAIRUNG belum begitu stabil. Dan di bulan Maret, aku dapat kabar kalau aku lolos buat riset di Jerman. Aku cerita dengan orang-orang di B21, dan mereka memperbolehkanku buat berangkat ke Jerman. Walaupun sebenarnya sangat berat hati buat ninggalin lembaga yang punya begitu banyak pekerjaan.

What is your dream job?
Dosen. Soalnya aku pengin memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia.

What is you hate the most about Indonesia?
Those who on the government inside.

You love reading. What book are they?
Philosophy, Anthropology, and literature books.

Kamu seorang Anarkis ya? Apa itu dan bagaimana ceritanya?
Well, bahkan aku sendiri ga berani melabeliku sebagai seorang Anarkis, Adam. Pertama, aku hanya bertindak selaras dengan naluri dan nurani(ku) sebagai manusia. Kedua, masih dalam proses pencarian (yang mungkin tidak akan pernah berakhir). Ketiga, aku ga mau “hidup” hanya untuk menuruti asa yang tak terbendung. Keep on realistic, keep on idealistic. Bisa dibilang, ya, aku benci Negara (lebih tepatnya manusia yang berada pemerintahan Negara ini). Negara pada akhirnya akan korup (hukum alam, mungkin). Indonesia menurutku sebuah konsep yang belum clear, atau didefinisikan secara ngawur oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Perlu didefinisikan kembali Indonesia itu apa, siapa, untuk apa, dan mengapa harus ada Indonesia? Jika tidak, ya, bisa dibilang Negara (dipastikan) akan korup. Apalagi Indonesia yang terdiri atas beragam macam pulau yang tentu tidak bisa dengan mudah untuk “dipersatukan”. Bahkan representasi atas “persatuan” tersebut terkadang amat politik. Tergantung pada siapa yang sedang punya power untuk mengendalikan persatuan tersebut; tentu siapa adalah seseorang yang memiliki kepentingan. Sebab, tidak ada kepentingan di atas kekuasaan. Pun sebaliknya, keduanya selalu berjalan beriringan.

What labels stick to yourself?
One kind, is RebelLuna. 

What is it?
RebelLuna itu karena aku suka banget bukunya Albert Camus yang berjudul The Rebel. Kalau Luna, artinya bulan. Bila digabung, artinya Bulan Pemberontak. So, that’s why aku suka banget aktivitas di malam hari dan bisa dibilang aku sangat terinspirasi oleh bukunya Camus.

Semacam filosofi hidup ya?
Ah, ya. Bisa dibilang seperti itu.

Apa kamu membenci manusia?
Iya, aku sangat benci dengan manusia-manusia yang rakus, egois, dan materialistis.

Kamu juga aktivis pers kampus, Pemimpin Umum Balairung pula. Apa rasanya?
Biasa saja, bahkan sampai hari ini aku ga merasa bahwa aku adalah Pemimpin Umum BALAIRUNG. Really, biasa saja, Adam. Nothing special for this position. Tapi, aku ngerasa beruntung punya keluarga yang amat “lekat” di B21 (Rumah secretariat BALAIRUNG). Aku menjalankannya dengan senang, sebab banyak orang yang bisa diajak berbagi. Bisa dibilang mungkin aku amat sayang dengan orang-orang di B21, dan mengingat tidak mudah pemilihanku tahun lalu. Butuh waktu hampir 6 jam untuk menentukan siapa PU BALAIRUNG, dan itu yang membuatku sedih. Beberapa kawan berniat untukku naik jadi PU. Padahal, seperti yang kamu ketahui, tahun lalu aku berniat untuk keluar dari BALAIRUNG. Ternyata takdir berkata “lain”.

Memangnya pekerjaan Pemimpin Umum sebuah pers mahasiswa itu apa sih?
Paling utama adalah menciptakan “karakteristik” lembaga, sebab dari sanalah bisa dibilang pers kampus “eksis”. Atau menjadi media alternatif di tengah ketidakwarasan sosial. Itu secara idealnya lembaga loh, ya. Tapi, seorang PU juga bertanggung jawab buat menjadi monitor dan moderator buat seluruh iklim (kerja?) lembaga. 

Apa yang membuat aktivis pers kampus istimewa? Dan menurut pengalamanmu, apa yang kurang dari aktivis pers kampus era-mu?
Andai mahasiswa hari ini benar-benar gila, aku pikir mereka bisa gila-gilaan secara total. Gila-gilaan dalam arti mereka bisa bebas dengan segala ide-idenya. Pers umum hari gila—dalam arti money oriented, dan pers kampus mestinya menjadi dan mencari alternatif dari kondisi mainstream yang ada. Ya, gila-gilaan buat idealis. Sayangnya, yang idealis selalu berbenturan dengan rezim yang sudah mapan. Dan hari itu tidak banyak mahasiswa yang “gila”, kebanyakan normal. Normal lebih baik, mungkin? Kekurangannya, financial support. Mana ada orang mau ngasih uang untuk mendanai misi pembunuhan?—membunuh si pemberi uang.

What is the hardest stuff in life so far?
I can say, all about love (relation). Bahkan ada orang yang bilang bahwa aku beruntung di berbagai hal, tapi tidak untuk asmara. Iya, but itu mungkin.

Bagaimana hidupmu sepuluh tahun mendatang?
Fokus belajar hingga PhD, bukan mengejar gelar tapi ingin mendapat pengalaman dari berbagai macam sisi kehidupan. Entah bakal stay di Indonesia, atau kuliah di luar negeri, tergantung takdir ke depannya seperti apa. Ndak terlalu ngoyo juga dengan duniawi, toh hidup ending-nya buat mati kok. Bukan untuk apa-apa, bukan untuk siapa-siapa.

Ceritakan tentang Suketi!
Mungkin banyak orang tidak percaya dengan apa yang aku percayai. Dan aku pun tidak mewajibkan mereka untuk memercayai apa yang aku percayai. Bisa dibilang untukmu agamamu, untukku agamaku. Tapi Suketi bukan agama loh ya. Hehehe… Suketi bisa dibilang demit/hantu/penjaga kosku. Aku merawatnya sejak pertama aku menemukan “totem”-nya Suketi. Suketi adalah bagian yang terpisah dari totem materialnya (seperti boneka yang mungkin kamu sudah tahu). Sampai hari ini, aku belum bisa berkomunikasi dengannya sebab sering aku tinggal pergi, dan jarang aku ajakin jalan. Ah ya, Suketi. Tetiba aku rindu dengan kondisinya di kosan. Mungkin dia sedang hunting makanan.

Who is your favorite artist?
Beat Generation :)

So I do! They’re God! But could you tell us who the ‘h’ are they and why were they so ‘f’ cool?
Adam, aku percaya bahwa seseorang yang lahir dari kondisi ketertindasan adalah orang yang besar, mahabesar mungkin. Jika dibumikan sama konteks Indonesia, kamu tentu menemukan perbedaan antara Gunawan Mohammad dan Pramoedya Ananta Toer. GM itu manusia yang lahir dari teks, sedangkan Pram, dia lahir dari kondisi ketertindasan yang sebenar-benarnya. Ia dikucilkan, dibuang, dan ditindas sama pemerintah saat itu. tapi buktinya, dia bisa menghasilkan karya yang besar dan mengagumkan. Beat Generation, semacam Pram di Amerika. Mereka (Beat) bukanlah orang yang lahir dari teks.

Sebentar lagi lebaran, apa yang ingin kamu bilang ke orang-orang muslim di Indonesia?
Jujur, aku seseorang yang tidak begitu peduli dengan lebaran. Bagiku, minta maaf bukan hanya di momen lebaran. So, aku bingung mau menjawab pertanyaan ini seperti apa. Yang jelas, jika harus menjawabnya, aku cuma mau bilang, “Agama bukan lah tentang apa yang kamu pakai, namun kebaikan yang selalu kamu lakukan”
 
Setelah selesai S1, apa rencana terdekatmu?
Mungkin mencari pengalaman; kerja sekaligus gabung di salah satu komunitas selama satu tahun. Lantas melanjutkan studi. Aku ga bisa dan ga mau langsung melanjutkan studi, kesannya kok ndak bisa hidup susah. Hehehe… but, ya, let we see!

Well, sukses, Gembrang! Terima kasih!

Saturday, June 13, 2015

  |   No comments   |  

Semua Orang Adalah Guru, Semua Tempat Adalah Sekolah





Kemarin, saat saya sedang duduk sendiri di sebuah mini market 24 jam, mendadak seorang pria, mungkin 24 atau 25 tahun, duduk di samping saya. Sebelum duduk, tangannya menepuk ringan pundak saya.

“Hei, kamu!” saya kaget, tapi langsung mengenalinya.

“Sendiri saja?” dia tersenyum.

“Iya nih. Kamu?”

“Iya. Sedang sendiri juga,” katanya.

Pria itu adalah Rudi, bocah yang diceritakan Naomi pada saya dua tahun lalu. Naomi adalah gadis yang bekerja sebagai Teman Khayalan dalam 31Desember.

“Kamu sibuk?” tanya Rudi pada saya. Dia tampak begitu gelisah.

“Tidak juga. Cuma sedang me-time.” Saya tertawa.

“Wah, berarti saya mengganggu.”

“Oh, tidak-tidak… me-time yang saya maksud ya begini ini. Biasanya didatangi orang-orang seperti kamu.”

“Oh,” katanya. Lalu kami berdua tertawa.

Rudi, setahun belakangan, memang sering menjumpai saya. Terakhir kali Desember tahun lalu. Dia yang kini sudah tak remaja lagi sedang sering mengalami disorientasi. Katanya, dia sering membayangkan sosok seorang gadis yang sama sekali tak ia kenal. Tapi, bayangan gadis itu kelewat sering muncul di mimpi ataupun lamunannya untuk bisa disebut kebetulan lalu diabaikan.

Di umurnya yang sudah 25 tahun, tentu saja Rudi telah mengenal banyak sekali gadis. Tapi dia tak ingat pernah dekat dengan yang satu ini. Dari ciri-ciri yang disebutkan Rudi, saya bisa pastikan kalau gadis itu sebenarnya adalah Naomi. Tapi saat saya beritahu tentang siapa Naomi, Rudi tidak percaya, dan malah menganggap saya bercanda. “Mana ada yang seperti itu,” kata Rudi suatu waktu di pertemuan pertama kami. Saya tak ambil pusing respon Rudi. Ia malah yakin kalau gadis yang ada di visinya itu adalah seseorang yang akan dijumpainya di masa depan; bahwa entah bagaimana, kepalanya bisa memproyeksikan citra gadis yang akan jadi jodohnya di masa depan, seperti cenayang. Saya berusaha menahan tawa, membiarkannya memercayai apa yang ingin dia percayai.
Tapi suatu siang di pertengahan tahun lalu, Rudi tak sengaja membaca 31 Desember, dan perlahan mulai membuka diri untuk percaya. Itu sebabnya dia jadi sering datang menemui saya. Berharap Naomi juga datang menemui saya, saat kami sedang mengobrol begini. Tapi, Naomi memang tak pernah datang lagi setelah dua tahun lalu. Dia lenyap begitu saja seperti semua orang yang bekerja sebagai Teman Khayalan. Tipikal.

“Masih belum bertemu Naomi?” Rudi tersenyum. Tapi senyuman yang terasa getir.
Saya hanya menggeleng. Lalu terdengar helaan nafas berat yang panjang dari Rudi.
Tampaknya pria ini sudah sampai pada suntuk beratnya. Dia mungkin setengah mati ingin tahu cerita sebenarnya dari Naomi, gadis yang menjajah pikirannya belakangan ini.

Lalu kami berdua diam untuk waktu yang cukup lama. Rudi sibuk melamun dengan sesekali menyesap kopi dingin miliknya. Sementara saya kembali larut dalam selembar jendela microsoft word yang sedang terbuka.

“Kamu sedang menulis apa?” tiba-tiba Rudi kembali membuka perbincangan.

“Ah ini,” saya tertawa. “Aku sedang kena writer’s block. Jadi sedang berusaha menuliskan sesuatu.”

“Oh,” kata Rudi sambil mengintip ke jendela komputer jinjing saya. “Siapa itu Diam? Tokoh baru?” tambahnya.

“Eumm… Bukan… bukan…,” sahut saya. Sekonyong-konyong rasanya darah mengalir naik ke pipi saya. Menyebabkan sensasi malu di sekujur tubuh.

“Dia orang sepertiku—Naomi dan aku?” Rudi kembali menambahi pertanyaannya.
Lama diam, baru saya menjawab, “Bukan. Dia salah seorang teman.”

“Dan kamu sedang suka dia ya.” Rudi tidak melontarkan pertanyaan. Nada suaranya bilang kalau yang tadi itu adalah pernyataan.

Saya kembali diam. Kali ini tertohok malu yang lebih besar. Saya memang tipikal orang yang tak nyaman membahas dirinya sendiri. Apalagi di depan orang asing seperti Rudi. Saya memang jauh lebih nyaman untuk jadi pendengar, bagi mereka yang mau berbagi kisahnya. Dan sungguh, rasanya tidak nyaman sekali saat Rudi sadar kalau saya sedang jatuh cinta pada seseorang.

“Eh, Rud,” mendadak saya punya satu hal yang bisa dijadikan pengalih perhatian Rudi. “Saya sepertinya akan buat sesuatu yang baru di blog saya.”

“Ha? Apa itu?”

“Selama ini, saya belajar banyak sekali dari mendengar cerita orang-orang—kamu, Naomi, Attaria, M, Celia, dan banyak lainnya. Saya juga dapat pelajaran banyak dari melihat dan mendengar langsung cerita beberapa kawan saya yang tak pernah masuk di blog. Jadi, saya akan mulai memasukkan mereka ke sana. Saya ingin orang lain juga belajar dari cara berpikir mereka,” kata saya panjang lebar.

“Wah, bagus itu. Kapan rencananya?”

“Secepatnya. Saya sudah wawancara dua kawan baik. Yang satu sudah hampir selesai, dan sedang menunggu yang satunya lagi. Dua orang ini, somehow, memengaruhi pola pikir saya di beberapa momen hidup saya. Dan saya ingin orang lain tahu kalau mereka keren.”

“Aku jadi pengin baca, tapi apa mereka mau kisahnya ditampilkan di blog?”

“Mereka berdua mau. Tapi beberapa kawan lainnya belum saya tanyai. Semoga saja mau. Sebab, bagi mereka yang mau, saya akan mengahadiahinya sketsa wajah mereka.” Saya tertawa. “Bukan sogokan, hanya seperti ucapan terima kasih.”

“Wah. Bagus… bagus… konsep yang bagus.”

“Terima kasih,” kata saya.

“Seperti pepatah lama ya, semua orang adalah guru, semua tempat adalah sekolah,” kata Rudi sambil tertawa.

Saya juga tertawa bersama Rudi. Entah kenapa kalimat terakhirnya itu benar-benar mengena. Saya selalu paham istilah itu, tapi belum pernah menemukan kalimat pas yang bisa membungkusnya. Dan terima kasih kepada Rudi yang telah membahasakannya untuk saya.

Sayang, beberapa menit setelah perbincangan itu Rudi harus kembali ke kantornya. Ahya, dia sudah lama tidak jadi penari jalanan lagi. Kini dia bekerja sebagai seorang dosen muda di salah satu universitas negeri. Entah kenapa, dalam hati saya berjanji pada diri sendiri untuk menuliskan cerita Rudi suatu saat nanti, meski ia tak memintanya. Mungkin saya bisa menggabungkan cerita dari Naomi dan versi Rudi. Mungkin cerita mereka akna hebat. Siapa tahu. Kan semua orang adalah guru, dan semua tempat adalah sekolah.

Friday, June 12, 2015

  |   No comments   |  

Bercumbu Dalam Diam





Kata orang, mulailah menulis dengan sesuatu yang kau suka.

Belakangan otakku memang buntu; tak ada siapa-siapa yang muncul di kepalaku, minta dituliskan ceritanya. Kalau kau menebak “siapa-siapa” itu sebagai tokoh-tokoh yang ada di cerita-ceritaku, kau benar. Biasanya memang begitu. Dalam sehari, bisa  saja ada satu atau dua tokoh yang datang kepadaku, menceritakan siapa mereka dan bagaimana latar belakang hidupnya. Lalu, bersama-sama kami memilah potongan cerita mana yang akan kutuliskan untuknya. 

Misalnya, Attaria. Kalau kau tidak lupa, Attaria adalah wanita-pribumi-paling-beruntung-kisah-cintanya, yang jadi tokoh utama dalam Surat Cinta Perak. Ia datang pertama kali padaku saat aku masih abege SMA. Wajah teduh dan suara berwibawanya berhasil meyakinkanku untuk mendengarkan kisahnya. Kami duduk di ruang tamu rumah orangtuaku. Aku pegang secangkir milo hangat, saat Attaria berhasil membuatku menangis atas cerita cintanya yang begitu manis. Saking manisnya, milo hangat waktu itu malah mendadak terasa hambar.

Selain karena begitu manis, dan original, cerita Attaria dan Nik, suaminya, sedikit-sedikit menyerempet kisah cinta Ayah dan Ibu. Meski tak sama persis, ada isu berbeda keyakinan yang membuat kisah dua pasang ini punya proksiminitas tersendiri buatku.

Tak hanya Attaria, ada puluhan kadang ratusan tokoh yang datang padaku dengan hasrat berbagi cerita. Tapi biasanya tak semua bisa kudengarkan. Aku yang bloon ini kadang terlalu bloon untuk bisa mengatur waktu dengan mereka semua, sehingga tak jarang pula berakhir mengecewakan mereka. Seperti Chandlabra, seorang assassin cantik yang sungguh punya kisah hidup menarik. Atau Gemini, seorang nenek tua yang juga salah satu petinggi di Polda Metro Jaya, adalah salah satu contoh karakter-karakter yang sudah kujanjikan sebuah cerita, tapi sama sekali belum dimulai satu huruf pun.

Omong-omong soal janji, aku jadi teringat Savannah. Dia seorang jurnalis idealis yang kutemui beberapa bulan lalu, kalau tak salah di awal tahun ini. Padanya sudah kuikrarkan sebuah janji, bahwa sebelum tahun ini berakhir, aku sudah selesai menuliskan kisah panjangnya. Kami juga sudah berjanji untuk bertemu beberapa kali lagi, untuk mendiskusikan potongan mana saja yang ingin kutuliskan. Tapi, aku malah mangkir dari janji-janji itu. Sekitar dua bulan sudah aku menghindari pertemuan dengan Savannah. Padahal ceritanya bagus sekali.

Tahukah kau sebabnya? Sebab mengapa aku mendadak berhenti bertemu tokoh-tokoh itu? Bolehkah dengan suara lembut dan sopan-santun, kubilang bahwa kaulah penyebabnya?

Maaf, sebelumnya. Tapi kupikir aku jatuh cinta padamu.

Sebab, belakangan kepalaku hanya berisi citra-citra dirimu. Citra-citra yang terbentuk dari memoriku atas dirimu.

Ahya, sekali lagi, aku mau minta maaf. Dengan lancang, kunamai dirimu Diam. Sama seperti Rahasia, Senja, dan nama-nama lainnya yang ada di sini, Diam hanyalah panggilan intimku untukmu.
Nyaliku kepalang kecil untuk menuliskan namamu di sini. Ada banyak pertimbangan di balik itu semua. Tapi, sesungguhnya aku tak sedang ingin membahas perasaanku padamu. Aku hanya ingin menulis.

Tapi, kata orang, mulailah menulis dengan sesuatu yang kau suka. Maka, tanganku memilih untuk menulis ini, menulis ungkapan pertamaku untukmu, setelah berminggu-minggu diam-diam mencintaimu, Diam.

Sunday, June 7, 2015

  |   No comments   |  

Kepada Engkau yang Kuberi Nama Diam



Aku masih belum punya nyali
Ajak kau pergi, untuk minum kopi
Nyaliku hanya segini
Bikin puisi di dini hari
Aku masih belum punya nyali
Cerita padamu tentang isi hati
Nyaliku cuma segini
Tolong jangan ketawa-ketiwi
Memang nyaliku cuma segini
Tapi sumpah, cinta mati
Aku masih belum punya nyali
Cerita sampah begini, malah jadi puisi
Dasar bujang tak bernyali
Jatuh cinta saja, bikinnya cuma puisi
Bilang ke dia kan lebih laki
Tapi
Kan sudah kubilang, nyaliku hanya segini